Panggilan untuk Bermisi

Membangun kembali semangat misi yang pernah begitu masyhur sekitar abad pertama dapat dimulai dari Yerusalem, yang dikenang sebagai tempat di mana Yesus Kristus mengawali pengutusan murid-murid-Nya. Generasi selanjutnya sampai dengan saat ini masih banyak pula yang menaruh perhatian akan pentingnya menyampaikan kehidupan misi pada orang/bangsa lain, seperti yang sudah ada dan masih ada, yaitu "Mission Urbana" dan "Mission Korea". Sekarang pertanyaannya adalah, apakah generasi saat ini juga masih membuka diri untuk mengambil bagian dalam kehidupan misi dengan terlibat secara langsung?

Keberanian untuk membawa Injil dan teladan hidup Kristus ke tengah kehidupan orang/bangsa lain yang telah memunyai cara/pedoman hidup tersendiri, perlu disertai dengan pemahaman dan pengertian tentang bagaimana melakukannya dengan tulus. Pengetahuan yang benar akan mengubah hidup, terutama kesiapan dan keputusan untuk terlibat menjadi lebih mantap. Seringkali terlalu mudah untuk mengiyakan panggilan sehingga kurang berhati-hati. Kemauan saja tidaklah cukup, diperlukan juga pengetahuan yang benar. Panggilan adalah mengetahui tentang adanya suatu kebutuhan. Saat kita benar-benar tahu kebutuhan hidup di dunia, mungkin kitalah yang dipanggil untuk memenuhi kebutuhan tersebut dan panggilan itu menjadi tanggung jawab kita.

Kita menyia-nyiakan hak kita sebagai pembawa Injil karena tidak mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan seorang pembawa berita. Bahkan kita tidak peduli pada banyaknya orang yang belum percaya dan orang-orang yang teraniaya karena menjadi percaya. Semuanya kelihatan baik-baik saja termasuk juga di masa depan. Memandang orang/bangsa lain dengan perbedaan menjauhkan keinginan untuk menyampaikan Injil.

Banyak alasan untuk tidak terlibat dalam pekerjaan misi, seperti "saya tidak ada panggilan," ada juga yang berkata, "saya tidak pernah dipanggil," padahal yang sebenarnya adalah kita "tidak mendengar panggilan-Nya".

Memberi bantuan berupa makanan, pakaian, atau uang telah memberi kebanggaan karena sudah memberi. Pertolongan kita hanya untuk meredakan masalah sesaat, namun masalah yang sebenarnya belum teratasi. Pilihan hidup cukup bagi diri sendiri saja, sama dengan menolak hak Allah untuk melakukan apa saja pada hak kepunyaan-Nya. Keajaiban terjadi jika ada kerelaan untuk menyerahkan milik kita sebagai hak-Nya. Allah akan benar-benar sangat menghargai kerelaan itu.

Jika kita mau dipakai Allah, harus ada keberanian untuk mencari tahu tentang kebutuhan-kebutuhan dunia, kebutuhan-kebutuhan sesama, kekerasan yang terjadi di dunia saat ini, kebutuhan-kebutuhan suku-suku terasing yang belum pernah mendengar Injil, atau kebutuhan akan Alkitab dalam bahasa-bahasa yang belum tersedia. Mendengar tentang adanya suatu kebutuhan dan keingintahuan yang tulus akan membuat kita mendengar panggilan-Nya. Panggilan semakin besar setelah mengetahui adanya kebutuhan yang semakin besar pula.

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul jurnal : Jurnal MIM Edisi Juni 2005
Judul artikel asli : Panggilan
Penulis : Tim Jurnal MIM
Penerbit : Mahasiswa Indonesia Menuai (MIM), Yogyakarta 2005
Halaman : 3

e-JEMMi 6/2008

Kategori

Kolom Publikasi

  • Panggilan misi
  • Semangat misi
  • Kebutuhan dunia
  • Injil
  • Kerelaan
  • Kesaksian
  • Semangat misi yang pernah masyhur perlu dibangkitkan kembali, dimulai dari kesadaran untuk terlibat secara langsung dalam pelayanan kepada bangsa lain.
  • Keberanian untuk menyebarkan Injil tidak hanya membutuhkan kemauan, tetapi juga pengetahuan yang benar mengenai situasi dan kebutuhan di dunia.
  • Panggilan sejati bukanlah perasaan, melainkan hasil dari kesadaran akan kebutuhan besar yang ada di dunia, sehingga individu merasa bertanggung jawab untuk menjadi bagian dari solusi.
  • Bantuan materi atau bantuan sesaat bukanlah pengganti dari pekerjaan misi yang utuh; pertolongan harus mengatasi akar masalah, yaitu kebutuhan rohani.
  • Untuk menjawab panggilan, seseorang harus mengatasi rasa enggan dan ketidakpedulian, serta bersedia menyerahkan hak kepunyaannya sebagai tanda kerelaan kepada Allah.

Artikel ini menyerukan kebangkitan semangat misi yang dahulu masyhur, menekankan bahwa meskipun perhatian terhadap pelayanan misi terus berlanjut, generasi saat ini harus lebih terlibat secara langsung. Panggilan untuk bermisi tidak cukup hanya didasarkan pada kemauan saja, melainkan wajib disertai dengan pengetahuan yang benar dan pemahaman mendalam mengenai kebutuhan dunia. Penulis menegaskan bahwa panggilan yang sejati timbul dari kesadaran akan kebutuhan-kebutuhan umat manusia, baik itu kebutuhan spiritual, wilayah terasing yang belum mendengar Injil, maupun kebutuhan akan Alkitab dalam berbagai bahasa. Oleh karena itu, seorang pembawa Injil dituntut memiliki keberanian untuk mencari tahu realitas kebutuhan dunia, meninggalkan alasan-alasan penolakan, dan menunjukkan kerelaan hati untuk menyerahkan segala sesuatu bagi pekerjaan Allah, karena bantuan materi semata tidak akan mengatasi masalah yang sesungguhnya.