Lematang di Indonesia

Profil

Populasi: 305.000
Bahasa Utama: Musi
Agama Terbanyak: Islam (99.70%)
Kristen: 0.30%
Kemajuan: %
Ukuran Kemajuan: %

Pendahuluan/Sejarah


Suku Lematang

Lematang adalah satu suku yang sebagian besar populasinya tinggal di sepanjang pinggir Sungai Lematang dan daerah sekitarnya, terbentang dari Kabupaten Lahat sampai ke Kabupaten Muara Enim. Di Kabupaten Lahat, mereka tinggal di wilayah Pulau Pinang, Lahat, dan Merapi. Di Kabupaten Muara Enim, mereka tinggal di wilayah Muara Enim, Gunung Megang, dan Tebat Agung. Tempat orang-orang Lematang tinggal terletak sekitar 25-100 meter di atas permukaan laut. Dialek Lematang mirip dengan dialek Enim. Seringnya dua suku itu berbaur mungkin menyebabkan kemiripan ini, atau mungkin kedua suku itu memiliki nenek moyang yang sama dan dialek mereka berbeda karena pemisahan secara geografis. Orang Enim tinggal di sepanjang Sungai Enim, yang mengalir ke Sungai Lematang. Di Kota Muara Enim, tempat Sungai Enim dan Sungai Lematang bertemu, sangatlah sulit membedakan orang Lematang dengan orang Enim. Di situ, kedua suku sebagian besar telah menjadi sama. Seseorang yang tinggal di Muara Enim bisa dianggap baik sebagai orang Enim maupun Lematang. Dialek Lematang merupakan bagian dari bahasa Musi yang meliputi Pegagan, Musi, Rawas, Palembang, Penesak, dan Belide.

Seperti Apakah Kehidupan Mereka?

Tidak seperti bahasa Sunda dan Jawa, bahasa Lematang tidak memiliki tingkat cara berbicara yang berbeda dengan serangkaian kosakata yang mengindikasikan tingkat jarak sosial. Akan tetapi, terdapat perbedaan cara berbicara dialek Lematang yang menunjukkan keakraban dan kesopanan. Orang-orang yang lebih tua biasanya menggunakan cara bicara yang lebih sopan saat saling bercakap-cakap. Anak-anak juga menggunakan cara bicara yang sopan ketika berbicara kepada orang-orang yang lebih tua. Namun, orang-orang yang lebih tua menggunakan cara bicara yang lebih akrab ketika berbicara kepada anak-anak. Orang-orang yang lebih muda berbicara dengan cara bicara yang akrab dengan sesama orang muda. Jadi, sikap berbicara seseorang, entah akrab atau sopan, menjadi ukuran tingkat penghormatan dari orang yang berbicara kepada orang yang diajak berbicara. Hubungan antara suku Lematang dan orang dari luar biasanya cukup ramah. Akan tetapi, suku Lematang menganggap sifat arogan menjadi sebuah penghalang sosial yang besar. Suku Lematang memiliki ungkapan: ?├Â?├º?├║Jangan menikah dengan orang sombong?├Â?├º?├┐. Kesombongan diukur terutama dengan kualitas dari hubungan seseorang. Mereka juga suka menenangkan orang-orang luar yang datang ke daerah mereka dengan mengatakan bahwa ini adalah daerah yang aman. Ini menunjukkan bahwa suku Lematang terbuka untuk berhubungan dengan siapa saja, tetapi menghargai kesopanan dan rasa hormat. Usaha pohon karet adalah mata pencaharian utama orang-orang Lematang. Bagi orang-orang Lematang yang tinggal di dekat sungai, menanam padi di lahan yang berair adalah cara lain untuk mencari nafkah. Salah satu ciri yang menarik dari suku Lematang adalah bahwa mereka biasanya lebih rajin dalam bekerja ketika mereka tinggal di luar daerah mereka sendiri, misalnya, di daerah Lembak. Orang-orang Lematang yang tinggal di luar daerah mereka, ada yang berjualan daun singkong, buah, dan melakukan pekerjaan kecil untuk menghasilkan pendapatan yang sedikit. Mata pencaharian ini di luar dari apa yang biasanya dilakukan orang-orang Lematang di daerah mereka sendiri.

Apakah Kepercayaan Mereka?

Orang-orang Lematang adalah penganut Islam. Kepercayaan animistik juga masih dianut oleh suku Lematang. Hampir setiap tahun seseorang tenggelam di Sungai Lematang atau Muara Enim dan ditemukan beberapa hari kemudian. Suku Lematang percaya bahwa peristiwa tenggelam tersebut disebabkan oleh makhluk roh yang mengambil wujud seekor buaya putih dan tinggal di sungai.

Apakah Kebutuhan Mereka?

Kepariwisataan dapat dikembangkan sebagai industri di sepanjang Sungai Lematang, yang merupakan daerah yang indah, terutama di bagian atas sungai antara Pagar Alam dan Lahat. Ini merupakan satu cara agar tingkat perekonomian masyarakat Lematang bisa didongkrak. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Joshua Project
Alamat situs : https://joshuaproject.net/people_groups/13027/ID
Judul asli artikel : Lematang in Indonesia
Penulis artikel : Tim The Joshua Project
Tanggal akses : 23 Oktober 2017

Kolom Publikasi

  • Suku Lematang
  • Sungai Lematang
  • Kabupaten Lahat
  • Muara Enim
  • Bahasa Musi
  • Pariwisata
  • Ekonomi lokal
  • Animisme
  • Suku Lematang berdomisili di sepanjang Sungai Lematang, mencakup wilayah dari Lahat hingga Muara Enim, dengan dialek yang merupakan bagian dari bahasa Musi.
  • Secara sosial, Lematang sangat menghargai kesopanan dan rasa hormat; mereka memiliki pandangan bahwa kesombongan adalah halangan sosial yang besar.
  • Mata pencaharian utama masyarakat Lematang adalah menggarap usaha pohon karet dan bercocok tanam padi di lahan berair dekat sungai.
  • Meskipun mayoritas penganut Islam, suku Lematang masih memiliki kepercayaan animistik yang dipercaya terkait peristiwa misterius di Sungai Lematang.
  • Hubungan dengan suku tetangga, terutama suku Enim, sangat dekat hingga sulit dibedakan di wilayah persimpangan sungai.
  • Pengembangan sektor kepariwisataan di Sungai Lematang direkomendasikan sebagai cara untuk mendongkrak tingkat perekonomian masyarakat setempat.

Suku Lematang adalah komunitas yang mendiami wilayah sepanjang Sungai Lematang, membentang dari Kabupaten Lahat hingga Muara Enim. Secara budaya, mereka adalah penganut Islam namun masih mempertahankan kepercayaan animisme, khususnya terkait misteri di sungai. Kehidupan sehari-hari mereka berpusat pada mata pencaharian seperti usaha pohon karet dan pertanian padi di lahan berair. Meskipun dialek Lematang memiliki kesamaan dengan dialek Enim, suku ini sangat menghargai kesopanan dan rasa hormat dalam interaksi sosial, serta dikenal ramah tetapi tidak menyukai kesombongan. Untuk pengembangan masa depan, pariwisata di sepanjang Sungai Lematang dianggap sebagai potensi besar untuk meningkatkan perekonomian lokal.