Pendahuluan/Sejarah
Pantai selatan dan timur Pulau Kalimantan merupakan tempat tinggal suku Banjar, yang hidup di sepanjang pesisir sungai dari pedalaman hutan tropis yang lebat hingga ke kota-kota pesisir. Budaya Banjar mendominasi Provinsi Kalimantan Selatan, dan terdapat juga populasi Banjar yang signifikan di Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Malaysia. Meskipun mereka berasal dari kalangan Muslim yang taat beragama, orang Banjar dengan bangga menelusuri asal usul mereka dari sebuah kerajaan Hindu legendaris, yakni Negara Dipa. Identitas etnis kontemporer berkembang dari gabungan antara budaya Jawa, Melayu, dan Dayak. Melalui orang Jawa, aliran Buddha, Hindu, dan akhirnya Islam diperkenalkan di Kalimantan Selatan. Pada tahun 1526, Pangeran Samudera dari Banjar memeluk agama Islam, dan memakai nama Sultan Suriansyah sebagai suatu persyaratan untuk menerima bantuan dari tentara Jawa dalam rangka menggulingkan pamannya.
Seperti Apakah Kehidupan Mereka?
Banjarmasin, ibu kota Kalimantan Selatan, berlokasi 22 kilometer dari Laut Jawa. Karena bagian-bagian dari kota ini berada pada posisi lebih rendah di bawah garis permukaan laut, maka kota ini mengalami timbul dan tenggelam sesuai pasang surut air laut. Lanting (rumah-rumah apung) berderet di sepanjang jalur air, yang bersilangan di kota ini. Dengan menggunakan sebuah perahu motor kecil (klotok) di sekitar sungai dan kanal-kanal, pemandangan menunjukkan banyak kegiatan yang beragam: ada yang mandi, mencuci pakaian, bergosip, atau membeli buah-buahan, ikan, dan sayuran dari para wanita pedagang keliling dengan perahu-perahu kecil. Orang-orang Banjar jarang berpindah tempat ke wilayah lain Indonesia. Mereka cenderung menikah dan menetap dekat dengan orang tua mereka atau dengan kaum kerabat mereka di Kalimantan. Pada umumnya mata pencaharian mereka adalah bertani dan berkebun di sekitar daerah aliran sungai. Perdagangan, transportasi, dan pertambangan juga merupakan ladang usaha utama yang digeluti masyarakat setempat. Banyak orang Banjar bekerja sebagai penggergaji kayu secara manual dan tradisional, tetapi keberatan untuk bekerja pada pabrik-pabrik pengolahan kayu dan perusahaan penggergajian kayu yang komersial lantaran kondisi yang tidak sehat.
Apakah Kepercayaan Mereka?
Merebaknya agama Islam secara meluas dalam masyarakat Banjar memiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan individu dan keluarga. Agama merupakan kekuatan utama dalam mengendalikan kejahatan, termasuk pencurian dan perjudian. Identitas etnik Banjar tak dapat dipisahkan dari agama Islam. Pada waktu yang bersamaan, tradisi kepercayaan animisme tetap berlaku. Kepercayaan ini mengajarkan bahwa kekuatan-kekuatan supernatural tertentu berdiam dalam objek-objek alam, seperti bebatuan, pepohonan, dan gunung-gunung, juga pada makhluk hidup tertentu. Perayaan-perayaan tradisional Islam dan sebulan penuh puasa saat Ramadan diperhatikan dan dipertahankan secara kuat. Salah satu gedung megah di Banjarmasin adalah Masjid Agung Sabilal Muthadin, berlokasi di pusat kota. Sejak masa penjajahan Belanda, sekolah-sekolah milik pemerintah telah dipandang dengan kecurigaan oleh orang Banjar sebagai upaya untuk mengajarkan paham sekuler kepada anak-anak mereka. Sekolah-sekolah Islam modern telah mengembangkan pengakuan identitas sebagai sekolah-sekolah milik pemerintah.
Apakah Kebutuhan Mereka?
Orang Banjar secara tradisional tidak menghiraukan metode-metode dan teknologi-teknologi modern dan juga tidak terlalu banyak bersentuhan dengan kelompok-kelompok lain. Isolasi ini telah membatasi pengembangan pendidikan, perawatan kesehatan, sanitasi, dan air bersih. Di pedalaman, desa-desa memiliki infrastruktur yang terbatas untuk pendistribusian hasil panen dan barang-barang lainnya. Adanya pertambangan batu bara, permata, dan emas yang makin banyak juga telah menciptakan kerusakan lingkungan di seluruh wilayah Kalimantan. (t/Samuel)
Pokok Doa:
- Doakan orang-orang Banjar, agar diberkati Tuhan dalam setiap mata pencaharian mereka.
- Doakan agar Tuhan membuka jalan untuk menginjili orang-orang Banjar, dengan membuat mereka lebih membuka diri terhadap pengaruh dari luar komunitas mereka.
- Doakan agar Tuhan mengutus dan mengurapi para pengerja-Nya untuk bekerja di ladang tuaian di Banjar.
- Doakan agar Tuhan membuka hati orang-orang Banjar untuk mau menyambut pemberitaan Injil.
- Doakan agar Tuhan menempatkan para pemimpin pemerintahan bagi orang-orang Banjar yang tidak menentang Injil, melainkan mengizinkan para hamba Tuhan mengenalkan kasih Kristus bagi mereka.
| Diterjemahkan dari: | ||
| Nama situs | : | Joshua Project |
| Alamat URL | : | https://joshuaproject.net/people_groups/10658 |
| Judul asli artikel | : | Banjar of Indonesia |
| Penulis | : | Tidak dicantumkan |
| Tanggal akses | : | 24 Januari 2011 |
| Sumber | : | e-JEMMi 42/2011 |
- Printer-friendly version
- Log in to post comments
- Suku Banjar
- Kalimantan Selatan
- Budaya Banjar
- Islam
- Animisme
- Sungai Banjarmasin
- Kehidupan Tradisional
- Isolasi Komunitas
- Asal-usul budaya Banjar adalah hasil percampuran signifikan antara budaya Jawa, Melayu, dan Dayak, dengan sejarah yang merujuk pada pengaruh Hindu legendaris Negara Dipa, yang kemudian mengadopsi Islam.
- Gaya hidup masyarakat sangat bergantung pada sistem perairan sungai, yang menjadi pusat kegiatan ekonomi utama seperti bertani, berdagang, dan transportasi lokal, seperti yang terlihat di Banjarmasin.
- Keyakinan masyarakat Banjar merupakan perpaduan antara praktik Islam yang kuat dan tradisi kepercayaan animisme yang masih diyakini, menunjukkan tingkat spiritualitas yang mendalam.
- Secara tradisional, komunitas ini cenderung terisolasi, yang mengakibatkan keterbatasan infrastruktur modern di pedalaman dan memperburuk masalah lingkungan akibat praktik pertambangan.
Suku Banjar adalah komunitas etnis yang mendiami pesisir selatan dan timur Pulau Kalimantan, dengan budaya yang merupakan perpaduan antara unsur Jawa, Melayu, dan Dayak. Meskipun diakui sebagai masyarakat Muslim yang taat, identitas mereka juga membawa jejak sejarah dari kerajaan Hindu Negara Dipa. Kehidupan sehari-hari masyarakat Banjar sangat erat kaitannya dengan sistem sungai dan kanal, di mana mereka mencari nafkah melalui bertani, berkebun, dan perdagangan sungai. Secara kepercayaan, mereka memadukan ajaran Islam yang kuat dengan tradisi animisme. Meskipun secara tradisional hidup terisolasi, membatasi akses mereka terhadap pendidikan dan sanitasi modern, komunitas ini saat ini menghadapi tantangan besar terkait kerusakan lingkungan akibat kegiatan pertambangan.