Aljazair Tahun 2005


Tuhan dan warga Kabyle, seperti yang terjadi di Kisah Para Rasul "Orang-orang mengadakan persekutuan di rumah-rumah mereka untuk berdoa. Mereka membagikan mimpi dan visi-visinya, dan merasakan kesembuhan serta kemerdekaan. Mantan teroris dan dukun-dukun menerima Yesus sebagai Tuhan mereka.

Gereja didirikan. Ini bukan kutipan dari Kisah Para Rasul tapi hal ini benar terjadi saat ini diantara orang Kabyle di wilayah timur laut Aljazair." tulis anggota Operation Mobilization, Debbie Meroff. "Negara Aljazair mempunyai populasi sekitar 35 juta, secara umum terbagi dalam dua kelompok besar: orang Berber dan Muslim Arab, yang kemudian akan menguasai daerah itu. Setelah Perancis keluar pada tahun 1962, pemerintah yang baru mencoba menyatukan Aljazair ke dalam satu bahasa, agama dan budaya. Tentunya ini sulit dilakukan, terutama bagi orang Kabyle di Berber: mereka mempunyai akar kekristenan, dan protes mereka seringkali ditanggapi dengan kekuatan militer. Penindasan ini membawa dampak baru: kemarahan mereka terhadap segala sesuatu yang berbau Arab telah menyiapkan jalan mereka kepada Yesus Kristus. Gereja-gereja Kristen baru telah dibangun di banyak daerah Kabyle. Sejauh ini, mereka masih mampu menolak pengaruh satu denominasi dan kepemimpinan orang asing. Banyak orang mendengarkan Injil lewat radio Kristen dan program-program televisi, sementara lebih dari 274 orang melakukan kontak dengan pekerja Kristen tiap bulannya. Orang-orang Kristen berharap dapat bergabung dengan orang-orang percaya yang masih terpecah-pecah ini dalam satu gereja baru, dan mereka bermaksud untuk mendirikan gereja-gereja di 48 kota besar di Aljazair.


[Sumber: FridayFax, October 7, 2005]




  • Naikkan syukur bagi gereja-gereja baru di daerah Kabyle. Doakan agar jemaatnya semakin dikuatkan dalam menghadapi tantangan dan supaya iman mereka terus bertumbuh dalam kebenaran.

  • Doakan pendirian 48 gereja di kota-kota besar di Aljazair untuk mempersatukan orang-orang Kristen yang ada di sana.


e-JEMMi 42/2005

Kategori

  • Aljazair
  • Kabyle
  • Kekristenan
  • Orang Berber
  • Bangkit Rohani (Revival)
  • Penindasan
  • Penyatuan Gereja
  • Kondisi kekristenan di Kabyle menunjukkan adanya kebangkitan rohani, di mana orang-orang mengadakan persekutuan intensif dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan, sebuah fenomena yang menggambarkan pertumbuhan gereja baru.
  • Aljazair memiliki ketegangan demografi antara populasi Berber (dengan akar kekristenan) dan populasi Muslim Arab, yang menciptakan latar belakang politik sulit pasca-kemerdekaan tahun 1962.
  • Tekanan dan penindasan politik terhadap masyarakat Berber secara paradoks justru memperkuat iman Kristen mereka dan mengarahkan mereka kepada Kristus, serta membangun banyak gereja baru.
  • Aktivitas gereja saat ini masih dilakukan dengan menolak pengaruh denominasi atau kepemimpinan asing, serta menggunakan media seperti radio dan televisi untuk menyebarkan Injil.
  • Terdapat rencana dan harapan untuk mendirikan 48 gereja di kota-kota besar Aljazair guna menyatukan umat Kristen yang saat ini masih terpecah-belah.

Artikel ini membahas situasi kekristenan di Kabyle, wilayah timur laut Aljazair, pada tahun 2005. Secara historis, Aljazair memiliki populasi besar yang terbagi antara orang Berber dan Muslim Arab. Setelah kemerdekaan dari Prancis pada tahun 1962, upaya pemerintah pusat untuk menyatukan negara seringkali berbenturan dengan akar kekristenan masyarakat Berber. Penindasan ini justru meningkatkan semangat keagamaan di kalangan Berber, mendorong mereka untuk mencari Kristus. Meskipun gereja-gereja baru mulai berdiri dan aktivitas evangelismenya berjalan melalui radio dan televisi, umat Kristen masih terpecah. Oleh karena itu, ada harapan besar untuk mendirikan 48 gereja di kota-kota besar Aljazair guna memperkuat jemaat dan mempersatukan orang-orang percaya.