Seorang mantan perwira polisi pada era apartheid Afrika Selatan datang dan membasuh kaki orang-orang yang dulu pernah ia perlakukan tidak baik saat ia masih memimpin salah satu pasukan yang paling ditakuti.
Pembasuhan kaki tersebut terjadi selama "persekutuan pria" yang diadakan untuk menindaklanjuti persekutuan "pria perkasa" yang dipimpin oleh Pendeta Angus Buchan pada bulan Mei, yang dihadiri oleh sekitar 140.000 orang. Adriaan Vlok bertanya kepada sekitar 500 orang pada persekutuan itu jika saja ada mantan polisi atau tentara di antara mereka yang berjuang untuk rezim apartheid dan bisa dia mintai maaf.
"Saat itu sangat emosional. Mereka menangis dan orang terakhir benar-benar tersentuh. Mereka memaafkan saya," kata Vlok kemudian di rumahnya di Pretoria. "Kebijakan apartheid sama sekali tidak berdasarkan kasih. Kebijakan tersebut menyakiti banyak orang." (t/Dian)
Diterjemahkan dari:
| Nama buletin | : | Body Life, Edisi Juli 2009, Volume 27, No. 7 |
| Nama kolom | : | World Christian Report |
| Judul asli artikel | : | South Africa: Ex-Apartheid Policeman Washes Feet of Former Subordinates |
| Penerbit | : | 120 Fellowship adult class at Lake Avenue Church, Pasadena |
| Halaman | : | 3 |
Pokok Doa:
-
Mengucap syukur untuk para petobat baru di Afrika Selatan. Doakan agar Tuhan memberi kekuatan dan memampukan mereka untuk mengenal-Nya lebih dalam lagi, serta membagikan kesaksian hidup mereka kepada orang-orang di sekitar mereka.
-
Berdoa agar orang-orang percaya yang pernah menjadi korban kekerasan pada era apartheid di Afrika Selatan dapat dipulihkan kehidupannya oleh Tuhan.
Edisi e-JEMMi
Kategori
Kolom Publikasi
- Printer-friendly version
- Log in to post comments
- Afrika Selatan
- Apartheid
- Rekonsiliasi
- Pengampunan
- Persekutuan Pria
- Seorang mantan perwira polisi era apartheid Afrika Selatan melakukan tindakan rekonsiliasi dengan membasuh kaki mantan bawahannya.
- Tindakan ini terjadi selama acara "persekutuan pria" besar yang dipimpin oleh Pendeta Angus Buchan, melibatkan banyak peserta.
- Pengalaman ini membuat mantan perwira tersebut menyadari bahwa kebijakan apartheid adalah sebuah sistem yang menyakitkan dan sama sekali tidak didasarkan pada kasih.
- Inti dari peristiwa tersebut adalah pengampunan, di mana ia akhirnya dimaafkan oleh mereka yang pernah ia perlakukan tidak baik.
Artikel ini melaporkan kisah seorang mantan perwira polisi dari era apartheid Afrika Selatan yang menunjukkan proses rekonsiliasi mendalam. Dalam acara persekutuan pria, mantan perwira tersebut membasuh kaki para bawahannya yang pernah ia perlakukan dengan buruk saat masih bertugas di bawah rezim apartheid. Momen emosional ini membuatnya menyadari bahwa kebijakan apartheid tidak didasarkan pada kasih dan telah menyakiti banyak orang. Melalui tindakan membasuh kaki dan meminta maaf, ia menerima pengampunan dari mereka yang pernah ia tekan, yang menjadi refleksi penting mengenai penebusan dan dampak trauma masa lalu di Afrika Selatan.