 |
Resources |
 |
 |
 |
 |
Artikel
Artikel-artikel MISI |
Bahan PA
Misi Allah Bagi Dunia & Para Pengubah Dunia |
Cerita Misi
Alkitab di Seluruh Dunia : 48 Kisah Nyata |
Buku
Buku-buku Misi |
|
|
Doa |
|
|
|
Info |
|
|
|
|
 |
 |
 |
Seri Mutiara Iman (RBC/Yayasan Gloria/YLSA):
SMI-001 Kristen: Religi atau Kristus? |
halaman 6 dari 12 |
|
 |
 |
 |
| |
|
E. APA KESALAHAN ORANG-ORANG FARISI?
Dalam Lukas 11 Yesus menunjukkan kepada kaum Farisi
kekurangan-kekurangan dari religi mereka. Mari kita lihat apa
kesalahan-kesalahan yang dilakukan, bukan hanya tentang orang-orang
Farisi, namun juga tentang diri kita sendiri.
- Mereka puas dengan penampilan baik
- Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
- Mereka menyukai dukungan orang banyak
- Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
- Mereka menambah beban hidup
- Mereka menipu diri sendiri
- Mereka mengambil kunci pengetahuan
- Mereka menuntun orang ke neraka
MEREKA PUAS DENGAN PENAMPILAN BAIK
Sebuah perusahaan kimia yang besar telah memasang sebuah iklan
perbaikan citra, supaya masyarakat yakin bahwa perusahaan itu
telah berwawasan lingkungan. Namun berita malam hari di
televisi menayangkan adanya sekelompok pengunjuk rasa yang
tidak percaya bahwa perusahaan itu telah memenuhi
persyaratan lingkungan hidup. Salah seorang pengunjuk rasa
membawa poster yang bertuliskan: "Kami tak dapat dikelabui.
Perbaikilah tindakanmu, bukan penampilanmu".
Poster pengunjuk rasa itu mengingatkan saya pada kata-kata Yesus
tentang orang-orang Farisi. Lukas 11:39-41 menyamakan mereka
dengan orang-orang yang mencuci gelas bagian luar, dan
membiarkan bagian dalamnya tetap kotor. Dia berkata, "Kamu
orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan
dan pinggan, tetapi bagian dalamnya penuh rampasan dan
kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang
menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian
dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan
sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu."
Yesus menunjuk pada ritus mencuci tangan yang sangat teliti
dan harus tepat pelaksanaanya oleh orang-orang Farisi sebelum
duduk makan. Mereka membasuh tangan bukan dengan tujuan
kebersihan, tetapi karena bangga dapat memenuhi tuntutan
hukum. Tentu saja Yesus tahu bahwa "ritus pembersihan" dari
religi orang-orang Farisi itu hanya di permukaan saja.
Penampilan mereka baik, namun tindakan mereka jahat.
Religi tidak pernah mengubah pokok permasalahan. Ia berurusan
dengan hal-hal lahiriah. Itu sebabnya pada kesempatan lain,
Yesus mengajar seorang Farisi yang juga pemimpin
orang-orang Yahudi, bahwa ia perlu dilahirkan kembali
(secara rohani) jika ingin melihat dan menjadi bagian dari
Kerajaan Allah (Yoh 3:1-36).
Religi dapat mengubah hal-hal lahiriah;
namun hanya Kristus yang dapat
mengubah hati manusia
Doa, perjamuan kudus, penguatan, baptisan atau aktif dalam
kegiatan gereja mungkin nampak baik. Namun penampilan ini
tidak dapat mengelabui Allah. Yesus berkata, "Apa yang
dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan
dari Roh, adalah Roh" (Yoh 3:6). Menerima Kristus dapat
menghasilkan hal-hal yang tidak dapat diberikan oleh religi
mana pun di dunia (Yoh 3:16). Percaya pada Kristus membawa
perubahan hati. Kepercayaan itu memunculkan sumber kasih di
dalam hati kita. Ini merupakan proses merendahan diri. Hal
itu berarti mengakui kesia-siaan usaha pembersihan diri yang
lahiriah, menyerahkan diri pada belas kasihan Allah, dan
mempercayai Dia untuk melakukan, melalui Roh Kristus, apa
yang tidak dapat kita lakukan sendiri.
MEREKA SIBUK DENGAN HAL-HAL KECIL
Sama seperti kelebihan-kelebihan lain, perhatian atas hal-hal detil
dapat menjadi kelemahan jika tidak terus dikontrol. Yesus
memberitahu tentang bahaya jatuh pada hal-hal detil ketika
Dia menjelaskan kepada orang-orang Farisi bahwa kesalahan
religi mereka adalah terlalu banyak mengurus hal-hal
kecil. Dalam Lukas 11:42 tertulis, "Tetapi celakalah kamu,
hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan
dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu
mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus
dilakukan dan yang lain jangan diabaikan." Dengan kata
lain, hal-hal kecil penting sejauh tidak menggantikan tempat
hal-hal yang besar.
Orang-orang Farisi adalah penganut Yudaisme yang ahli logika.
Mereka menarik kesimpulan-kesimpulan logis dari hukum-hukum
itu. Mereka bangga akan kemampuan mereka memikirkan sesuatu
dengan sangat cermat. Jika mereka membayar persepuluhan,
mereka memperhitungkan semua hal yang dapat mereka
perhitungkan. Jika diharuskan memberikan sepersepuluh dari
hasil panen, mereka akan memberikan kepada Allah sepuluh
persen dari segala sesuatu, termasuk sayur-mayur mereka,
walaupun hukum tidak menuntut sampai sejauh itu.
Kesediaan orang-orang Farisi untuk melakukan lebih dari
yang dituntut tidaklah buruk. Kesalahan mereka adalah
ketika memperhatikan sampai detil, mereka lupa untuk
mengasihi. Menurut Yesus, mereka menjadi kehilangan jiwa dari
hukum itu (Mat 22:37-40).
Orang-orang Farisi sama seperti seseorang yang pergi ke dealer
untuk membeli mobil baru. Ketika di sana, ia tertarik pada
beberapa asesoris untuk meningkatkan penampilan mobil
barunya nanti. Satu jam kemudian, dengan tersenyum ia
meninggalkan show room itu dengan membawa tempat kopi, kompas
mobil, penjepit peta perjalanan dan sebuah gantungan kunci.
Seperti orang-orang Farisi, ia membawa lebih dari yang
direncanakan -- namun tetap kurang. Dengan tas di tangan, ia
masuk ke dalam mobilnya yang lama dan pulang.
Yang menjadi masalah dengan perhatian religius
yang mendetail, hal itu seolah-olah dapat
menutupi segala hal padahal tidak
Religi, bagaimanapun baik dan perlu, dapat menjebak kita pada
hal-hal detil yang dengan mudah menjadi pusat perhatian kita.
Yang menjadikan masalah ini sukar diketahui, di dalam hal-hal
yang baik seperti pemahaman Alkitab, doa atau memberi
persembahan, nampak seolah-olah dapat menutupi segala hal --
padahal tidak. Tidak ada yang dapat menggantikan hati, kasih
dan keadilan sebagai ekspresi persekutuan yang benar dengan
Allah sendiri.
Beberapa tahun setelah Kristus, Rasul Paulus mengulangi
pengajaran Yesus ketika ia menegur jemaat di Korintus. Ia
menjelaskan bahwa karunia-karunia rohani, hikmat, iman dan
pengorbanan diri tidak ada gunanya jika dilakukan tanpa kasih
kepada Allah (1Kor 13:1-13).
- Mereka puas dengan penampilan baik
- Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
- Mereka menyukai dukungan orang banyak
- Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
- Mereka menambah beban hidup
- Mereka menipu diri sendiri
- Mereka mengambil kunci pengetahuan
- Mereka menuntun orang ke neraka
MEREKA MENYUKAI DUKUNGAN ORANG BANYAK
Religi dapat menjadi arena pameran ego yang terbesar. Adakah hal
yang lebih baik daripada dikenal sebagai orang yang baik dan
suci? Atau apakah yang paling mempengaruhi kita selain
kepentingan diri dan kesombongan karena dikenal sebagai
orang yang diperkenan Allah?
Tentu nampak lebih baik dikenal sebagai orang baik daripada
sebagai orang jahat. Bukankah lebih baik dikenal sebagai
imam atau pendeta daripada orang tak bermoral atau pelacur?
Bisa jadi tidak. Yesus berkata bahwa jika tidak ada
pertobatan, orang-orang Farisi juga akan dihukum di neraka
bersama orang-orang jahat. Satu-satunya perbedaan, Yesus
mengajukan kritik kepada orang-orang religius yang
memanfaatkan reputasi rohani mereka untuk memperoleh
perhatian dan kehormatan. Kepada mereka Yesus berkata:
"Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka
duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima
penghormatan di pasar" (Luk 11:43).
Kita semua senang dikagumi oleh banyak orang. Kita senang
didukung oleh mereka yang melihat sesuatu yang pantas dipuji
di dalam diri kita. Itu tidak jelek. Yang jelek adalah jika
dukungan orang lain menjadi lebih penting bagi kita
daripada perkenan Allah. Yang berbahaya adalah jika pujian
dan dukungan orang banyak menjadi seperti candu yang
menumpulkan kepekaan akan kekurangan kita dalam hal kasih
kepada sesama, kehadiran dan perintah Allah. Dan faktanya,
penilaian orang terhadap kita sebenarnya jauh di atas
kualitas kita.
Ketaatan pada ketentuan religi dapat membuat kita memperoleh
pujian dari manusia. Namun ketaatan kepada Kristus merupakan
satu-satunya cara untuk memperoleh perkenan Allah. Prinsip
ini masih tetap berlaku meskipun seseorang telah menerima
Kristus dan pergi ke gereja. Yang menjadi pertanyaan, apakah
kita melayani orang banyak atau melayani Tuhan, terus-menerus
menjadi tantangan kita.
Rasul Paulus tahu bagaimana rasanya menerima kecaman dan
tolakan. Oleh karena itu ia menulis kepada orang-orang
Kristen di Korintus yang mengritiknya, "Bagiku, sedikit
sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh
suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak
kuhakimi" (1Kor 4:3). Belakangan, dalam suratnya yang kedua,
Paulus menulis, "Memang kami tidak berani menggolongkan diri
kepada atau membandingkan diri dengan orang-orang tertentu
yang memujikan diri sendiri. Mereka mengukur dirinya dengan
ukuran mereka sendiri dan membandingkan dirinya dengan diri
mereka sendiri. Alangkah bodohnya mereka!" (2Kor 10:12).
Paulus belajar menerima kritik dengan lapang dada, bukan
karena kritik itu tidak menyakitkan, tetapi karena ia
mengerti bahwa pengakuan dan pujian manusia tidaklah penting
(Fili 3:1-10). Yang terpenting adalah bagaimana penilaian
Kristus, "Baik sekali hambaKu yang baik dan setia". Paulus
dahulu adalah orang Farisi. Ia tahu perbedaan antara dihargai
oleh religi dan diperkenan oleh Kristus.
Kritik maupun pujian akan bernilai sama
kalau kita mau belajar darinya
- Mereka puas dengan penampilan baik
- Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
- Mereka menyukai dukungan orang banyak
- Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
- Mereka menambah beban hidup
- Mereka menipu diri sendiri
- Mereka mengambil kunci pengetahuan
- Mereka menuntun orang ke neraka
BUKANNYA MEMBUKA DIRI,MEREKA MALAH MENGENAKAN KEDOK
"Hallo, nama saya Joe. Saya seorang peminum." Pengakuan ini merupakan
dasar utama yang mengarah pada kesembuhan bagi peminum
tersebut. Sayangnya, pengakuan seperti itu merupakan salah
satu unsur kerendahan hati yang seringkali hilang dalam
praktek religi. Salah satu perasaan yang paling sering
dialami jemaat adalah perasaan kesendirian karena hubungannya
dengan orang lain tidak sungguh-sungguh nyata. Mereka merasa
saling bahu-membahu, namun sesungguhnya jauh dari orang-orang
yang hanya mengenakan "pakaian Minggu" dan memasang "wajah
Minggu" dalam kebaktian Minggu. Banyak orang senang berbuat
demikian. Namun ada orang-orang yang menangis di dalam hati,
"Nanti dulu, ini tidak benar. Ada yang tidak beres. Kita
punya masalah. Mengapa kita tidak mau mengakui bahwa kita
dalam kekuatiran, kemarahan, ketakutan, kedengkian,
kepahitan, rasa malu dan dikuasai nafsu? Bukankah dengan
pengakuan ini kita dapat mendukung, menghibur serta
bertanggung jawab satu sama lain?"
Yesus mendukung hal ini. Dia berkata, "Celakalah kamu
(orang-orang Farisi -- red), sebab kamu sama seperti kubur
yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di
atasnya, tidak mengetahuinya" (Luk 11:44).
Cerita yang diambil dari The People's Almanac 2 ini dapat
menggambarkan ketidakjujuran yang serupa: "Pada suatu hari
raja Prusia, Frederick Agung, mengunjungi penjara Postdam.
Setiap narapidana yang dijumpainya berkata bahwa mereka tidak
bersalah. Akhirnya ia sampai pada seorang yang dijatuhi
hukuman mati karena mencuri. Narapidana itu berkata, "Tuanku,
saya memang bersalah dan pantas menerima hukuman." Raja
Frederick berpaling kepada kepala penjara dan berkata,
"Bebaskan orang jahat ini dan keluarkan dia dari penjara,
supaya dia tidak merusak orang-orang baik yang ada di sini."
Dalam pandangan Allah, orang-orang religius bisa jadi sama
seperti orang-orang hukuman itu. Keyakinan, ritus-ritus dan
persekutuan dalam religi seringkali memberikan cara kepada
orang-orang religius untuk tidak mengakui perasaan malu,
perasaan bersalah dan kebutuhan mereka akan seorang
Juruselamat. Religi bukannya mendorong orang untuk membuka
diri akan ketidakmampuannya menyelamatkan diri, tetapi justru
memberikan perlindungan dan topeng untuk menutupi
masalah-masalah mereka yang tidak terselesaikan.
Upaya untuk memoles masalah-masalah kita dengan berbagai
kegiatan religius merupakan reaksi perlindungan diri sejak
permulaan sejarah manusia. Setelah manusia pertama jatuh
dalam dosa, mereka menjadi malu atas ketelanjangannya. Mereka
menggunakan dedaunan untuk menutupi tubuh dan menyusup di
antara pepohonan untuk menyembunyikan diri dari Tuhan. Ketika
Tuhan memasuki taman, Adam mengakui bahwa ia telah
bersembunyi karena takut.
Sejak itu, orang menyembunyikan diri di balik "pohon"
kegiatan religius dan di balik "daun-daun" upaya. Bukannya
merendahkan diri dan mengakui kebutuhan akan keselamatan
melalui kematian Kristus, kita malah berusaha memenuhi
tuntutan-tuntutan religi untuk mengkompensasi dosa-dosa kita.
Dalam proses itu kita menyembunyikan diri dari Kristus, yang
menawarkan anugerah hanya kepada mereka yang merendahkan
diri, mengakui ketidakjujurannya serta membutuhkan belas
kasihanNya.
- Mereka puas dengan penampilan baik
- Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
- Mereka menyukai dukungan orang banyak
- Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
- Mereka menambah beban hidup
- Mereka menipu diri sendiri
- Mereka mengambil kunci pengetahuan
- Mereka menuntun orang ke neraka
MEREKA MENAMBAH BEBAN HIDUP
Bayangkan seandainya hanya ada dua macam manusia di dunia ini:
pemberi batu-bata dan pengangkat batu-bata. Setiap kali kita
bertemu dengan mereka, sebuah batu-bata ditambahkan atau
dikurangi dari kita. Yesus digambarkan sebagai pengangkat
batu-bata dan orang-orang Farisi sebagai pemberi batu-bata.
Fungsi religi menjadi jelas ketika Yesus menanggapi
pertanyaan ahli Taurat dari kalangan Farisi (seorang ahli
Taurat yang diandalkan orang Farisi dalam hal tafsir). Dia
berkata, "Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab
kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang,
tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu
jari pun" (Luk 11:46).
Yesus mengenal para pendengarNya. Para ahli religi ini
menambahkan ratusan peraturan pada hukum Allah, namun mereka
sendiri pandai menghindari kewajiban ini. Mereka bahkan
memiliki trik-trik untuk melanggar hukum Sabat, yang melarang
orang mengangkat beban pada hari itu. William Barclay
mengutip tradisi Farisi yang berbunyi, "Orang yang membawa
apa pun di tangan kanan, tangan kiri, dada, atau di
pundaknya, dinyatakan bersalah. Namun orang yang membawa apa
pun dengan belakang tangan, kaki, mulut, siku, rambut, tas
uang yang dibalik, di antara tas uang dan baju, dalam
lipatan baju, di sepatu atau sandal, tidak bersalah, sebab ia
tidak membawanya dengan cara yang lazim."
Para pemimpin religi saat ini masih mempraktekkan seni
"memberi batu-bata" sambil melakukan trik-trik untuk
membenarkan diri dari peraturan yang dibebankan pada orang
lain. Misalnya, banyak pemimpin religi yang mengajarkan bahwa
ibadah keluarga sehari-hari merupakan suatu keharusan, sambil
mengatakan bahwa mereka sendiri mempunyai alasan-alasan
tertentu sehingga tidak dapat melakukannya. Ada banyak
pemimpin religi yang mengajarkan bahwa orang Kristen hidup di
bawah anugerah, sehingga tidak harus memenuhi hukum
persepuluhan, namun harus mulai memberikan persembahan
sebesar 10 persen dan masih menambahinya dengan
persembahan-persembahan yang lain lagi. Pemimpin lainnya
mengajarkan bahwa Allah melarang dan membenci perceraian
dengan alasan apa pun. Namun sebenarnya mereka mengetahui
bahwa Allah sendiri menceraikan Israel karena dosa mereka
memuja berhala, dan mereka mengetahui bahwa Musa, pemberi
hukum itu, mengijinkan perceraian oleh karena kekerasan hati
mereka (Ul 24:1-4; Mat 19:1-9).
Tak seorang pun yang memiliki tingkat
kesadaran hukum, kebenaran dan
kasih seperti Kristus
Sebaliknya, Yesus dengan konsisten memegang teguh jiwa dari
hukum itu sambil membuat keputusan-keputusan yang penuh belas
kasihan bagi orang-orang berdosa yang mau bertobat. Yesus
memahami ketegangan yang sehat antara kekudusan dan kasih
Allah ketika Dia berkata, "Marilah kepadaKu, semua yang letih
lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan
kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu,
karena Aku lemah-lembut dan rendah hati dan jiwamu akan
mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan
bebanKupun ringan" (Mat 11:28-30).
- Mereka puas dengan penampilan baik
- Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
- Mereka menyukai dukungan orang banyak
- Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
- Mereka menambah beban hidup
- Mereka menipu diri sendiri
- Mereka mengambil kunci pengetahuan
- Mereka menuntun orang ke neraka
MEREKA MENIPU DIRI SENDIRI
Yesus berkata bahwa orang Farisi membanggakan diri dalam
memberi penghormatan dan membangun tugu-tugu peringatan untuk
para nabi. Ironinya, ketika mereka bertemu dengan nabi yang
sesungguhnya, mereka justru ingin membunuhNya. Barclay
berkata, "Nabi-nabi yang mereka hormati hanyalah nabi-nabi
yang telah mati. Jika mereka bertemu dengan nabi yang masih
hidup, mereka berusaha membunuhnya. Mereka menghormati para
nabi yang mati dengan kuburan dan tugu-tugu peringatan, namun
mereka menghina nabi yang hidup dengan menganiaya dan
membunuhnya."
Hal ini yang dimaksud oleh Yesus dalam Lukas 11:47-51 dan
Matius 23:29-32 ketika Yesus berkata, "Celakalah kamu hai
ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang
munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah
tugu-tugu orang-orang saleh dan berkata: jika kami hidup di
zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak akan ikut dengan
mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian
kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah
keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga
takaran nenek-moyangmu!"
Orang-orang Farisi menipu dirinya sendiri. Mereka tidak
memandang diri mereka sebagai pembunuh nabi atau Mesias.
Mereka tidak menyadari bahwa religi mereka yang kosong
menjadikan mereka sebagai musuh Allah. Kedagingan selalu
berperang melawan Roh. Religi tidak berkuasa mengatasi obsesi
edagingan yang berpusat pada pementingan diri sendiri dan
cenderung membela diri. Untuk mengubah hati manusia,
diperlukan Kristus yang hidup .
Sejarah akan terus berulang jika orang mengabdikan dirinya
pada religi lebih dari Kristus -- sama seperti orang-orang
religius yang dihadapi Yesus. Dengan bibir mereka menghormati
Allah dan Alkitab, namun jika seorang anak atau temannya
menerima Kristus sebagai Juruselamat, mereka menjadi marah.
Orang-tua religius yang tidak senang anaknya
menerima Kristus, perlu diperbarui hatinya
Orang tua yang sangat religius seringkali marah jika anaknya
merasakan sesuatu yang salah dengan religi dimana ia
dilahirkan, dibaptis dan mengaku percaya. Para orang tua yang
selalu beribadah di gereja sepanjang hidupnya, sering naik
darah mendengar anaknya berbicara tentang "lahir baru" --
istilah yang digunakan Yesus ketika bercakap-cakap dengan
seorang Farisi bernama Nikodemus (Yoh 3:1-16). Orang tua
religius yang tidak senang anaknya menerima Kristus perlu
diperbarui hatinya. Tanggapan negatif terhadap anaknya yang
menerima Kristus adalah indikasi yang kuat bahwa orang tua
itu telah menipu dirinya sendiri seperti para ahli Taurat dan
Farisi yang dikasihi Tuhan, namun dikecam dengan keras.
- Mereka puas dengan penampilan baik
- Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
- Mereka menyukai dukungan orang banyak
- Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
- Mereka menambah beban hidup
- Mereka menipu diri sendiri
- Mereka mengambil kunci pengetahuan
- Mereka menuntun orang ke neraka
MEREKA MENGAMBIL KUNCI PENGETAHUAN
Salah satu bahaya terbesar dari religi adalah menjadikan
kita dalam keadaan bahaya, bukan saja bagi diri sendiri tetapi juga
bagi orang lain. Kepada seorang ahli Taurat yang sangat
religius pada zamanNya, Yesus berkata, "Celakalah kamu, hai
ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci
pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang
berusaha untuk masuk ke dalamnya kamu halang-halangi. Dan
setelah Yesus berangkat dari tempat itu, ahli-ahli Taurat dan
orang-orang Farisi terus menerus mengintai dan membanjiriNya
dengan rupa-rupa soal. Untuk itu mereka berusaha memancingNya
supaya mereka dapat menangkapNya berdasarkan sesuatu yang
diucapkanNya" (Luk 11:52-54).
Di sini Yesus berkata bahwa orang-orang religius yang
menentangNya telah mengambil "kunci pengetahuan" dari orang
banyak. Apa maksudnya? Ada beberapa kemungkinan. Misalnya,
orang Farisi mengambil kunci pengetahuan dari orang banyak
dengan cara
- mengganti firman Allah dengan tradisi dan
peraturan-peraturan yang munafik,
- mencoba mendiskreditkan Kristus (Yoh 14:6), dan
- mengaburkan orang dari perhatian yang benar (Luk 11:33-35).
Alkitab dan Kristus, keduanya adalah kunci pengetahuan. Saya
yakin Yesus menunjuk kepada kunci "perhatian yang benar",
yang dipusatkan pada Alkitab dan Kristus. Dalam Lukas 11:33-35
Yesus berkata, "Tidak seorangpun yang menyalakan
pelita lalu meletakkannya di kolong rumah atau di bawah
gantang, melainkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang
masuk, dapat melihat cahayanya. Matamu adalah pelita tubuhmu.
Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika
matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah
supaya terang yang ada padamu janagan menjadi kegelapan."
Dengan kata lain, jika "pelita" seseorang (mata atau hatinya)
benar, ia akan dipenuhi dengan pengetahuan akan Allah. Tetapi
jika pelitanya ditutupi, orang itu akan dipenuhi oleh
kegelapan (kosongnya cahaya dan pengetahuan tentang Allah).
Tak Seorangpun yang dapat melihat terang,
sebelum arah perhatiannya benar
Ketika Yesus mengajar kebenaran tentang pelita tubuh dan
kunci pengetahuan, Dia diundang ke rumah seorang Farisi untuk
makan malam. Seusai makan Dia melengkapi pengajaranNya di
meja makan. Sebagai tamu orang Farisi, Yesus menunjuk kepada
penghalang cahaya yang diletakkan oleh orang Farisi menutupi
mata mereka sendiri (perhatian hati). Sang Guru menunjukkan
bahwa dengan kerohanian mereka yang bersifat lahiriah,
penekanan pada hal-hal yang remeh, kehausan akan pujian,
kedok dari keegoisan, sifat legalis yang hanya menaruh beban
pada orang lain dan sifat menipu diri, mereka bukan saja
telah kehilangan terang bagi dirinya sendiri, melainkan juga
bagi orang lain. Dengan demikian, mereka telah mengambil
kunci pengetahuan.
- Mereka puas dengan penampilan baik
- Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
- Mereka menyukai dukungan orang banyak
- Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
- Mereka menambah beban hidup
- Mereka menipu diri sendiri
- Mereka mengambil kunci pengetahuan
- Mereka menuntun orang ke neraka
MEREKA MENUNTUN ORANG KE NERAKA
Bayangkan kita menerima sebuah kunci dari seorang pemimpin
rohani. Dengan kunci itu kita membuka pintu dengan label
"kebahagiaan kekal," dan ketika membukanya, di dalamnya kita
temukan api neraka. Orang Farisi menuntun para muridnya pada
kejutan seperti itu. Dalam Matius 23:1-39, perikop yang
sejajar dengan Lukas 11:1-54, Yesus berkata, "Celakalah
kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu
orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah
daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut
agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka,
yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri" (Mat 23:15).
Yesus mungkin menyebut para murid Farisi itu sebagai
"penghuni neraka yang dua kali lebih jahat" karena seringkali
para murid lebih bersemangat dalam imannya daripada
orang-orang yang memang telah beriman sejak lahir. Mereka
telah membuat perubahan hidup yang besar dan siap untuk
mempertahankan dan memacunya dengan antusias. Mereka sadar
bahwa mereka tidak dapat menjawab semua masalah, namun mereka
percaya kepada pemimpin mereka yang dianggap lebih banyak
tahu.
Kepercayaan ini membawa orang-orang -- yang bertobat karena
mengikut orang Farisi -- ke bahaya yang sungguh-sungguh
gawat. Karena Yesus menyebut orang-orang Farisi sebagai
"orang buta yang menuntun orang buta" (Mat 15:14), maka para
pengikut mereka akan dua kali lebih buta. Mereka bukan saja
masih buta secara rohani, tetapi juga telah keliru
mempercayai guru spiritual yang tidak tahu ke mana mereka
akan pergi.
Yang menjadi masalah terpenting pada religi adalah ia
memberikan harapan padahal sebenarnya tidak ada harapan. Dari
sisi ini, seorang atheis atau agnostik mungkin lebih aman
daripada orang yang memeluk suatu religi. Orang-orang seperti
itu memang tidak mempersiapkan diri untuk berdamai dengan
Tuhan. Sebaliknya, orang yang religius mempercayai hal yang
salah, seolah-olah ia telah tahu apa yang harus dilakukan
untuk masuk ke surga, atau menyenangkan hati Allah --
walaupun mungkin ia belum yakin benar bahwa ia
sungguh-sungguh "berada di sana".
Akibatnya sangat tragis. Orang-orang religius, sama seperti
orang Farisi dan para pengikutnya, diperhadapkan pada akhir
yang pahit. Yesus meyakinkan kita tentang hal ini ketika Ia
berkata, "Maka Aku berkata kepadamu: jika hidup keagamaanmu
tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat
dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke
dalam Kerajaan Sorga" (Mat 5:20).
Cobalah bergabung dengan kelompok pengikut religi yang salah
arah. Kita akan merasa seolah-olah telah terpilih sebagai
orang baik. Kita akan melihat kesalahan orang-orang yang
tidak membuka hatinya bagi Allah. Kita akan merasa kasihan
terhadap orang-orang yang melalui perbuatannya menggadaikan
kekekalan demi kesenangan sementara. Mereka merasa sudah
memilih yang lebih baik: mempunyai pendeta, imam atau rabi
yang disukai. Mereka percaya kepadanya, dan yakin bahwa ia
adalah orang baik yang tidak akan pernah menjadi musuh Allah.
Mereka merasa senang jika ia memimpin acara-acara kebaktian
yang menolong mereka untuk merasa semakin dekat dengan Allah
dan merasa diri lebih baik. Namun ketika ia memberikan kunci
untuk membuka pintu yang bertanda "kebahagiaan kekal",
semuanya telah terlambat.
- Mereka puas dengan penampilan baik
- Mereka sibuk dengan hal-hal kecil
- Mereka menyukai dukungan orang banyak
- Bukannya membuka diri, mereka malah mengenakan kedok
- Mereka menambah beban hidup
- Mereka menipu diri sendiri
- Mereka mengambil kunci pengetahuan
- Mereka menuntun orang ke neraka
 |
| |
|
|
 |
 |
| |
|
 |
 |
|
|