C. ANDA DAPAT MEMPERCAYAI ALKITAB!
Jika kita mempercayai Alkitab, kita akan mendapati bahwa Alkitab
dapat dipercaya. Jika kita percaya bahwa Alkitab berasal dari Allah
dan Allah telah memberikannya kepada kita, maka kita akan dapat
memahami pengertian-pengertian yang dijelaskan Alkitab kepada kita.
Jika kita sakit, sebagai contoh, kita tentu tidak akan memanggil
seorang pelukis untuk mendiagnosa penyakit kita dan meminta resep
obat darinya. Namun, kita tentu akan mencari orang yang benar-benar
ahli yang dapat kita percayai untuk memberi pengobatan yang tepat
bagi kita.
Bagaimana dengan keputusan-keputusan yang lebih penting dan
mendasar dalam hidup kita? Ke mana kita harus mencari pedoman
mengenai hal-hal yang benar atau salah? Kepada siapa kita bertanya
tentang makna dan tujuan hidup ini? Ke mana kita harus mengarahkan
diri pada saat hidup kita dipenuhi beban dosa dan kelemahan?
Bagaimana kita memperoleh kelepasan, petunjuk untuk masa depan dan
harapan di balik keputusasaan?
Sekali lagi, jika kita dapat mempercayai bahwa Alkitab telah
diberikan Allah untuk kita, maka kita pun akan memiliki buku yang
dapat kita percayai, buku yang tak ada duanya di dunia ini.
Pada halaman-halaman berikut, kita akan menggolongkan
bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Alkitab dapat dipercayai ke dalam
empat kategori dasar, yakni: pernyataan-pernyataan Alkitab sendiri,
isi naskahnya yang terjamin, ketepatan datanya yang terbukti, dan
dampak positifnya yang nyata. Secara lebih terinci, kategori-kategori
ini akan diuraikan menjadi 10 bagian, yakni: (1) Pernyataan Alkitab
tentang Alkitab, (2) Pernyataan Kristus tentang Alkitab, (3)
Pernyataan para penulis Alkitab tentang Alkitab, (4) Keselarasan isi
Alkitab, (5) Keaslian isi Alkitab, (6) Ketepatan data sejarah dalam
Alkitab, (7) Ketepatan data ilmiah dalam Alkitab, (8) Ketepatan
nubuat dalam Alkitab, (9) Dampak Alkitab pada masyarakat, dan (10)
Dampak Alkitab pada individu
Sementara kita membahas 10 pokok bahasan yang telah meyakinkan
kami bahwa Alkitab adalah firman Allah, kami berharap Anda pun akan
benar-benar menjadi yakin bahwa Alkitab adalah buku yang dapat Anda
percayai.
| M A N U S I A P E R C A Y A |
| 10. Dampak Alkitab Pd Individu |
| 9. Dampak Alkitab Pd Masyarakat |
| 8. Ketepatan Nubuat Dlm Alkitab |
| 7. Ketepatan Data Ilmiah Dlm Alkitab |
| 6. Ketepatan Data Sejarah Dlm Alkitab |
| 5. Keaslian Isi Alkitab |
| 4. Keselarasan |
| 3. Pernyataan Para Penulis Alkitab |
| 2. Pernyataan Kristus Ttg Alkitab |
| 1. Pernyataan Alkitab Ttg Alkitab |
| F I R M A N A L L A H |
|---|
- Pernyataan-pernyataan Alkitab Sendiri
- Isi Naskahnya yang Terjamin
- Ketepatan Datanya yang Terbukti
- Dampak Positifnya yang Nyata
- Pernyataan-pernyataannya
- Isi Naskahnya yang Terjamin
- Ketepatan Datanya yang Terbukti
- Dampak Positifnya yang Nyata
PERNYATAAN-PERNYATAAN ALKITAB SENDIRI
Bukti bahwa Alkitab dapat dipercayai dimulai dengan
pernyataan-pernyataan di seputar Alkitab itu sendiri. Jika Anda
menyempatkan diri membaca Alkitab, Anda akan segera menemukan bukti
kuat bahwa para penulis buku ini yakin bahwa Alkitab adalah sebuah
pemberian Allah yang unik. Kita akan memperhatikan tiga macam
pernyataan dari bagian ini, yakni: (1) Pernyataan Alkitab tentang
Alkitab, (2) Pernyataan Kristus tentang Alkitab, dan (3) Pernyataan
para penulis Alkitab tentang Alkitab.
1. Pernyataan Alkitab Tentang Alkitab. Pernyataan Alkitab
pertama-tama adalah bahwa Alkitab merupakan firman Allah kepada
manusia (2Timotius 3:16; 2Petrus 1:20-21). Tampaknya mungkin
bukan merupakan alasan yang kuat bagi kita untuk mempercayainya,
akan tetapi ini merupakan permulaan yang baik. Jika Alkitab tidak
membuat pernyataan tentang dirinya sendiri, kitalah yang harus
melakukannya. Dengan pernyataannya ini Alkitab menyatakan bahwa
meskipun Alkitab ditulis oleh manusia, tetapi para penulisnya
diilhami oleh Allah. Dan sebagai sebuah buku yang diilhami Allah,
Alkitab dapat menjadi buku yang benar-benar patut dipercayai.
Apa yang dimaksud dengan diilhami? Ada satu hal di sini, yakni
bahwa kita tidak mengartikan pengilhaman di sini seperti sebuah
inspirasi yang muncul pada seorang penulis yang sedang berusaha
menulis sebuah buku atau seorang montir yang sedang mencari
kerusakan pada sebuah mobil. Sementara mereka bergumul dengan
permasalahan mereka, tiba-tiba saja mereka menemukan jalan keluar
yang kemudian mereka sebut sebagai mendapatkan inspirasi.
Pengilhaman Alkitab bukanlah seperti itu. Pengilhaman dalam
penulisan Alkitab berarti bahwa inisiatif penulisan itu datang dari
Allah dan dikendalikan oleh Allah sendiri. Dengan caraNya yang
supranatural, Roh Kudus telah memimpin Musa, Yesaya, Matius, Paulus
dan para penulis Alkitab lainnya untuk menuliskan pesan Allah kepada
manusia.
Pernyataan Alkitab yang tidak lazim ini, yakni bahwa Alkitab
diilhamkan oleh Allah sendiri, dijelaskan dalam beberapa pasal kunci
di dalam Alkitab. Kita akan memperhatikan beberapa contoh di
antaranya. Bagian pertama terdapat dalam surat Paulus yang kedua
kepada Timotius:
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan
untuk mendidik orang dalam kebenaran (2Timotius 3:16).
Kata yang diterjemahkan dengan "diilhamkan Allah" di sini
berarti "difirmankan Allah." Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa
Alkitab pada dasarnya adalah buah pikiran Allah. Roh Kuduslah yang
mempengaruhi setiap individu penulis Alkitab itu untuk menuliskan
pesan Allah yang hendak disampaikan kepada manusia.
Bagian penting kedua yang mengungkapkan Alkitab sebagai
firman Allah terdapat dalam salah satu surat Petrus:
Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat
dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri,
sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi
oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah
(2Petrus 1:20-21).
Pernyataan ayat ini sungguh luar biasa! Dinyatakan bahwa
nubuat-nubuat dalam Alkitab tidak berasal dari kehendak para penulis,
mereka hanya menyampaikan apa yang diperintahkan Allah kepada
mereka. Mereka digerakkan (atau lebih tepat "dikuasai") oleh Roh
Kudus. Meskipun demikian, ini tidak berarti kepribadian dan gaya
penulisan mereka diabaikan sama sekali. Mereka dikendalikan supaya
mereka terhindar dari kemungkinan melakukan kesalahan pada saat
menuliskannya. Mereka juga dikuasai Roh Kudus agar benar-benar hanya
menyampaikan apa yang Allah kehendaki untuk diketahui manusia.
Pernyataan Alkitab bahwa ia ditulis oleh Allah menunjukkan bahwa
Alkitab adalah buku Allah, bukan buku manusia. Paulus memberitahu
kita bahwa hal-hal rohani yang ditafsirkannya adalah "perkataan yang
bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh"
(1Korintus 2:13).
Ya, Alkitab menyatakan bahwa firman Allah berkuasa, hidup, dan
kekal (1Yohanes 1:1-3; Ibrani 4:12; 1Petrus 1:23-25). Baik
Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah firman Allah yang
disampaikan kepada semua orang tanpa kecuali -- sebuah Buku yang
dapat Anda percayai!
"Kenyataan bahwa Kristus sendiri berpegang pada Alkitab
merupakan alasan yang terkuat bagi kita untuk
melakukannya juga."
2. Pernyataan Kristus Tentang Alkitab. Sepanjang kehidupanNya di
dunia ini, Yesus Kristus selalu meneguhkan apa yang dikatakan
Alkitab. Baik melalui kata-kataNya tentang Alkitab maupun dalam
caraNya mengutip ayat-ayat Alkitab, sang Anak Allah telah menunjukkan
bahwa Alkitab adalah firman Allah. Renungkanlah hal-hal berikut ini:
- Yesus meneguhkan kebenaran Alkitab dengan menyebutnya:
- "firman Allah" (Markus 7:13; Yohanes 10:35).
- "Kitab Suci" (Lukas 4:20-21; Yohanes 5:39; 10:35).
- "perintah Allah" (Markus 7:8).
- Yesus menerima nama-nama tokoh dan peristiwa-peristiwa di dalam
Perjanjian Lama sebagai bukti-bukti sejarah:
- Adam dan Hawa (Matius 19:4-5).
- Nuh dan air bah (Matius 24:37-39).
- Lot, istrinya dan Sodom (Lukas 17:26-32).
- Tanda Yunus (Matius 12:38-41).
- Yesus menyatakan bahwa perkataanNya adalah firman Tuhan dan
karenanya dapat dipercaya (Yohanes 12:48-49).
- Yesus mendorong orang untuk bertangggung jawab terhadap apa yang
telah ditulis di dalam Alkitab (Matius 12:3-8).
- Yesus menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk membungkam para
pengritikNya:
- Yohanes 10:34 sebagai kutipan dari Mazmur 82:6.
- Matius 22:32 sebagai kutipan dari Keluaran 3:6,15.
- Matius 22:42-44 sebagai kutipan dari Mazmur 110:1.
- Yesus menggunakan otoritas Alkitab untuk mengalahkan pencobaan
Iblis di padang gurun (Matius 4:4,7,10).
Dengan mengutip dan memakai Alkitab, Yesus telah membuktikan bahwa
Dia menerima Alkitab sebagai suatu kebenaran. Sepanjang kehidupanNya
di dunia ini, sang Firman Hidup itu telah meneguhkan firman tertulis
(Alkitab).
3. Pernyataan Para Penulis Alkitab Tentang Alkitab. Para penulis
Alkitab mengukuhkan pernyataan Alkitab dengan menerima bagian lain
dari Alkitab sebagai firman Allah. Mereka juga menguatkan pernyataan
ini dengan memandang diri mereka sendiri sebagai bagian dari rencana
Allah dalam rangka membuat manusia mengenal Allah.
Pertama-tama, mari kita perhatikan pandangan para penulis
terhadap Alkitab:
- Ketika Daniel membaca nubuat nabi Yeremia bahwa penindasan
Babilon atas Yerusalem akan berlaku selama 70 tahun, ia
menerima hal itu sebagai suatu kebenaran dan mulai berdoa
dan bermohon kepada Tuhan (Daniel 9:2-3).
- Petrus menerima nubuat-nubuat dalam Alkitab sebagai dorongan
Roh Kudus atas orang-orang yang berbicara atas nama
Allah (2Petrus 1:21).
- Petrus juga mengakui tulisan-tulisan Paulus sebagai karunia
hikmat yang dari Tuhan, meskipun ada juga hal-hal yang sukar
dipahami dalam surat-suratnya (2Petrus 3:15-16).
- Yohanes menyatakan bahwa tulisan-tulisan para rasul, seperti
juga tulisan-tulisannya sendiri, berasal dari Allah dan berkuasa
(1Yohanes 4:6).
Kedua, kita akan memperhatikan bagaimana para penulis
memandang diri mereka sebagai penyampai firman Allah lewat
bagian-bagian berikut ini:
- Nabi Yesaya memulai kitabnya dengan pernyataan: "Sebab TUHAN
berfirman" (Yesaya 1:2).
- Yeremia mengawali nubuat-nubuatnya dengan perkataan: "Firman
TUHAN datang kepadaku" (Yeremia 1:4).
- Yehezkiel pergi kepada bangsanya dan berkata kepada mereka:
"Beginilah Firman Tuhan ALLAH" (Yehezkiel 3:11).
- Paulus menegaskan bahwa firman yang diberitakannya adalah dari
Tuhan sendiri, bukan dari manusia (Galatia 1:11-12;
1Tesalonika 2:13).
Mari kita simpulkan pernyataan-pernyataan Alkitab ini.
Alkitab sendiri menyatakan bahwa ia adalah buku dari Allah. Yesus
Kristus mengukuhkan pernyataan ini. Dan para penulis Alkitab pun
meneguhkannya dengan menerima tulisan orang lain maupun tulisannya
sendiri sebagai firman Allah.
- Pernyataan-pernyataannya
- Isi Naskahnya yang Terjamin
- Ketepatan Datanya yang Terbukti
- Dampak Positifnya yang Nyata
ISI NASKAHNYA YANG TERJAMIN
Isi naskah Alkitab yang terjamin keabsahannya merupakan alasan
berikutnya bagi kita untuk mempercayai Alkitab. Isi naskah Alkitab
yang terjamin keabsahannya ini meliputi dua hal: (a) Keselarasan isi
Alkitab, dan (b) Keaslian isi Alkitab. Mari kita bahas bagaimana
Allah telah melindungi isi naskah-naskah Alkitab yang merupakan
firmanNya itu.
4. Keselarasan Isi Alkitab. Tulisan atau karangan manusia
sering memperlihatkan ketidakselarasan dan kontradiksi. Buku-buku
yang penulisnya lebih dari satu orang biasanya akan memuat banyak
ketidaksesuaian dalam hal falsafah, fakta, gaya atau pun gagasannya.
Tidak jarang tulisan yang dibuat oleh satu orang pun akan memuat
berbagai kontradiksi dalam hal fakta maupun logika. Namun,
orang-orang yang telah mengabdikan dirinya untuk menyelidiki Alkitab
telah dibuat kagum secara terus-menerus oleh keselarasan dan
konsistensi pengajaran yang terdapat di dalam Alkitab.
Josh McDowell, seorang apologis (pembela) ajaran Kristen yang
terkenal, pernah diminta seseorang untuk menulis The Great Books of
the Western World, tulisan-tulisan yang mengisahkan tentang
tokoh-tokoh terkenal dunia Barat. McDowell malah balik meminta orang
itu supaya menentukan 10 penulis dari latar belakang yang sama, kurun
waktu yang sama, negara yang sama dan bahasa yang sama untuk
membahas satu topik permasalahan yang sama. "Apakah mereka semua
akan sepaham?" tanya Josh. Orang itu berkata, "Berguraukah Anda?
Bukankah hal itu hanya akan menghasilkan ide-ide yang campur aduk?"
Keselarasan isi yang menakjubkan dalam Alkitab patut membuat
kita percaya. Dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu, Alkitab
terus-menerus memberitakan satu hal, yakni pembebasan manusia dari
hutang dosanya melalui kematian Yesus Kristus. Perjanjian Lama
memberitakan pengharapan akan kedatanganNya, dan Perjanjian Baru
menyampaikan penggenapan dari semua pengharapan yang dijanjikan dalam
Perjanjian Lama.
Kalau saja Alkitab ditulis oleh satu orang dan dalam satu
kurun waktu tertentu, bukan hal yang istimewa kalau isinya selaras
dalam semua uraiannya. Namun, renungkanlah kenyataan yang sebenarnya
bahwa:
- Alkitab ditulis oleh 40 orang yang berbeda.
- Alkitab ditulis dalam kurun waktu lebih dari 1.600 tahun.
- Bahasa asli Alkitab terdiri dari tiga bahasa: Ibrani,
Yunani dan Aram.
- Latar belakang para penulisnya pun bermacam-macam, ada nabi
(Yeremia), imam (Zakharia), gembala (Amos), raja (Daud),
pelayan (Nehemia), tabib (Lukas), pemungut cukai (Matius),
dan orang Farisi (Paulus).
- Alkitab ditulis di tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa.
Jangka waktu antara penulisan Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru lebih dari 400 tahun.
Meskipun demikian, ternyata isi Alkitab tetap merupakan satu
kesatuan yang selaras. Bagaikan cabang, akar, batang dan daun yang
merupakan bagian dari satu pohon, bagian-bagian dalam Alkitab
terjalin dalam satu kesatuan isi. Seluruhnya mengarah pada
pemberitaan dan pengajaran tentang Yesus Kristus serta keselamatan
yang dianugerahkanNya kepada manusia. Inilah buku dari segala buku.
Alkitab adalah buku yang dapat Anda percayai.
5. Keaslian Isi Alkitab. Alkitab juga merupakan buku yang dapat
dipercayai oleh karena isinya yang terjamin keasliannya. Memang tak
satu pun dari naskah asli Alkitab yang ditulis oleh para penulis
aslinya yang masih utuh sampai sekarang. Semuanya telah hilang atau
rusak dimakan waktu yang berabad-abad. Hal ini memang sering menjadi
sasaran serangan orang-orang yang mempersoalkan keaslian Alkitab.
Namun, kita dapat meyakini bahwa Alkitab yang ada pada kita sekarang
ini terjamin keaslian isinya, karena Alkitab telah disalin dan
diterjemahkan dari naskah yang sama dengan aslinya.
"Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman
Allah kita tetap untuk selama-lamanya."
Yesaya 40:8
Perjanjian Lama. Kitab-kitab Perjanjian Lama yang asli, sebagian
besar ditulis dalam bahasa Ibrani. Kitab-kitab ini disalin di atas
papyrus (irisan batang semacam tumbuhan ilalang yang diproses menjadi
seperti kertas) atau perkamen (kulit binatang yang dikeringkan dan
diolah menjadi lembaran yang halus sekali). jika salinan ini sudah
tua atau rusak, maka akan dibuat salinan yang baru, sedangkan yang
telah tua atau rusak itu dimusnahkan.
Pekerjaan ini tidaklah mudah, karena saat itu belum ada mesin
fotokopi seperti sekarang ini. Semuanya harus ditulis ulang dengan
tangan. Dalam hal ini para penyalin kitab harus benar-benar cermat
mengikuti pedoman yang telah ditentukan untuk menghindari kemungkinan
melakukan kesalahan dalam penyalinan tersebut. Metode penyalinan
yang telah digunakan selama berabad-abad ini, dari tahun 500-900,
adalah Metode Masorit. Sistem yang dipakai para sarjana Ibrani ini
adalah dengan menghitung secara teliti. Pertama-tama mereka harus
menghitung semua huruf yang terdapat dalam satu halaman. Kemudian,
setelah mereka selesai menyalin, mereka harus mencocokkan lagi jumlah
huruf yang mereka salin. Hal ini akan membuat mereka terhindar dari
kemungkinan mengulang maupun menghilangkan kata-kata atau
baris-baris kalimat. Kalau ternyata jumlah yang mereka hitung tidak
cocok, mereka harus menghancurkan salinan yang telah mereka buat
dengan susah payah itu dan memulai proses penyalinan yang baru lagi.
Dengan adanya metode ini, naskah-naskah Ibrani sejak tahun 900
benar-benar bebas dari kemungkinan salah salin. Namun, bagaimana
dengan naskah-naskah sebelum tahun 900? Padahal sebagian besar isi
Perjanjian Lama ditulis berabad-abad sebelumnya. Kitab Maleakhi
sebagai kitab terakhir dari Perjanjian Lama telah selesai ditulis
hampir 400 tahun sebelum kelahiran Kristus. Bukankah
kesalahan-kesalahan dapat saja terselip dalam kurun waktu yang
panjang itu?
Pertanyaan semacam ini memang tidak akan terjawab dengan pasti
sebelum ditemukannya naskah-naskah dari Laut Mati. Pada suatu hari
yang panas berdebu di tahun 1947, seorang pemuda Arab melemparkan
batu ke salah satu di antara ratusan goa yang terdapat di sekitar
Laut Mati. Anak itu kemudian terkejut, karena terdengar bunyi
pecahnya suatu benda dalam goa tersebut. Ketika ia merangkak masuk ke
dalam goa untuk menyelidiki suara tersebut, anak itu menemukan sebuah
guci yang pecah beserta naskah-naskah kuno, termasuk di dalamnya
kitab Yesaya. Inilah koleksi pertama dari penemuan-penemuan yang
kemudian dikenal dengan naskah-naskah dari Laut Mati.
Sejak saat itu dimulailah penggalian besar-besaran, dan para
arkeolog kemudian menemukan cuplikan-cuplikan naskah tiap kitab
Perjanjian Lama, beberapa di antaranya malah berupa kitab yang
lengkap.
Lalu bagaimana dengan naskah-naskah Masorit di atas? Apakah ada
perbedaannya? Penyelidikan yang teliti untuk mengadakan perbandingan
pun dimulai lagi, dan hasilnya? Tidak ditemukan perbedaan antara
naskah-naskah yang ditemukan di sekitar Laut Mati dengan
naskah-naskah yang dikerjakan oleh para sarjana Masorit. Meskipun
naskah-naskah ini telah disalin hampir 1.000 tahun sebelumnya,
ternyata isinya hampir sama persis dengan naskah-naskah Masorit.
Berdasarkan bukti-bukti yang menakjubkan ini, kita tentu dapat
menjadi lebih yakin bahwa Perjanjian Lama yang telah begitu cermat
diselidiki dan dibuktikan keasliannya, benar-benar adalah firman
Allah yang dapat dipercayai.
Perjanjian Baru. Apa yang telah dinyatakan tentang Perjanjian
Lama di atas berlaku juga untuk Perjanjian Baru. Kitab-kitab
Perjanjian Baru juga terlindung dari kesalahan-kesalahan yang mungkin
terjadi selama berabad-abad, meskipun kitab-kitab ini telah disalin
ribuan kali dan tersebar di gereja-gereja purba.
Sarjana-sarjana peneliti naskah Perjanjian Baru telah bekerja
ekstra keras dalam menyelidiki ribuan naskah yang ditemukan. Mereka
meyakinkan kita bahwa naskah-naskah Perjanjian Baru yang disampaikan
kepada kita sama otentiknya dengan yang ditulis oleh Matius, Paulus,
dan penulis kitab Perjanjian Baru lainnya. Memang telah ditemukan
variasi kecil di sana-sini, tetapi itu tidak mengubah arti
pemberitaannya sama sekali. Perbedaan yang terbanyak menyangkut
variasi ejaan, seperti tulisan kata "labour" digunakan di Inggris dan
tulisan kata "labor" digunakan di Amerika (keduanya memiliki arti
yang sama, red). Sejumlah besar naskah atau cuplikan-cuplikan naskah
Perjanjian Baru telah diselidiki dan diperbandingkan. Inilah tindakan
pembuktian dokumen terbesar di masa itu. Perhatikanlah perbandingan
sebagai berikut:
| Nama Dokumen | Jumlah Naskah | Tanda Tahun |
| Strategi Perang Kaisar | 10 | 900 sesudah Masehi |
| Kisah Livy tentang Roma | 20 | 400 sesudah Masehi |
| Kisah Thucydides | 8 | 900 sesudah Masehi |
| Kisah Herodotus | 8 | 900 sesudah Masehi |
| Perjanjian Baru | 14.000 | 125 sesudah Masehi |
|---|
Dua penemuan penting terjadi lagi beberapa tahun terakhir
ini, yang semakin mendukung bukti-bukti otentik naskah Perjanjian
Baru. Pertama, Papyrus Perpustakaan Rylands yang berisi cuplikan
Yohanes 18:1-40 yang bertanda tahun 125 sesudah Masehi. Kedua,
kumpulan Papyrus Chester Beatty yang berisi hampir semua kitab Perjanjian
Baru dan bertanda tahun antara 200-275 sesudah Masehi.
Penelitian yang sedemikian cermat terhadap naskah Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru yang dilakukan oleh para cerdik pandai --
yang sebagian bahkan bukan orang Kristen -- telah memberi kita
alasan yang dibutuhkan untuk meyakini keotentikan Alkitab, meskipun
kita tidak pernah melihat naskah aslinya. Isi Alkitab yang terjamin
keabsahannya ini melengkapi alasan kita untuk dapat mempercayai
Alkitab.
- Pernyataan-pernyataannya
- Isi Naskahnya yang Terjamin
- Ketepatan Datanya yang Terbukti
- Dampak Positifnya yang Nyata
KETEPATAN DATANYA YANG TERBUKTI
Alkitab yang menyebutkan fakta-fakta sejarah, berkaitan dengan ilmu
pengetahuan, dan menubuatkan hal-hal yang akan terjadi di masa
mendatang, dapat menjadi buku yang dipercayai karena memang apa yang
dikatakannya tepat terbuki. Apa yang kita harapkan dari sebuah buku
resep masakan? Kita tentu tidak berharap buku tersebut hanya
merupakan kumpulan resep yang ditulis oleh koki yang hanya dapat
menuang susu untuk sarapan. Kita pasti mengharapkan penulisnya telah
terbukti keahliannya dalam hal masak-memasak sehingga dapat
memberikan takaran bahan dan ketentuan waktu yang tepat untuk membuat
masakan itu. Kita juga tentu mengharapkan pemakaian bahan-bahan yang
lezat dan bergizi untuk resep-resep masakan itu.
Patutkah kita mengharapkan hal yang seperti itu terhadap buku
yang mencatat perkataan dan perbuatan Allah serta hubunganNya dengan
manusia? Tentu saja kita mempunyai hak untuk menuntut ketepatan
semua data yang tertulis di dalamnya.
Apakah para penulis Alkitab menyadari apa yang telah mereka
katakan? Dapatkah data-data sejarah, ilmu pengetahuan dan
nubuat-nubuat yang ada di Alkitab dipercayai?
Jika sebuah buku memaparkan jalinan sejarah manusia dan wahyu
Allah namun isinya tentang manusia dan dunianya saja sudah
meragukan, maka apa yang dikatakan buku itu tentang Allah pun dapat
diragukan. Jika bagian-bagian tertentu dari Alkitab terbukti salah,
maka bagian lainnya pun mungkin salah juga. Namun syukurlah, Alkitab
ternyata telah membuktikan ketepatan tulisannya dalam hal-hal yang
berkaitan dengan data-data sejarah, ilmu pengetahuan dan penggenapan
nubuat-nubuatnya. Semua yang tertulis dalam Alkitab terbukti tepat
dan dapat dipercaya.
6. Ketepatan Data Sejarah Dalam Alkitab. Alkitab menyajikan
data-data yang akurat tentang sejarah hidup manusia. Perjanjian Lama
maupun Perjanjian Baru penuh dengan nama-nama orang, tempat dan
peristiwa-peristiwa nyata yang terjadi di dunia ini. Dunia Alkitab
bukanlah dunia di awang-awang. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di
dalamnya semua terjadi di dunia kita ini dengan orang-orang yang
seperti Anda dan saya.
Kritik-kritik yang tajam terhadap ketepatan data sejarah
Alkitab terus dijawab oleh para arkeolog. Mereka terus-menerus
menemukan berbagai bukti yang makin lama makin menjelaskan ketepatan
isi Alkitab dalam hubungannya dengan sejarah.
Sebagai contoh, Perjanjian Lama menyebutkan hampir 50 kali
tentang orang/bani Het. Selama berabad-abad orang-orang yang
mempelajari sejarah purbakala bertanya-tanya mengenai data sejarah
orang Het ini, karena mereka belum menemukan bukti adanya orang/bani
Het itu. Namun pada tahun 1906, kota Het ditemukan di sekitar 145 km
dari timur Ankara, ibukota Turki.
"FirmanMu adalah kebenaran."
- Yesus, dalam doaNya kepada Bapa
(Yohanes 17:17)
Dengan berlalunya waktu, semua kritik terhadap Alkitab akan
terjawab oleh para ahli dengan penemuan-penemuan arkeologisnya.
Nelson Glueck, seorang arkeolog Yahudi, berkata, "Kelak akan
ternyata bahwa tak ada penemuan arkeologi apa pun yang tak dapat
dikonfirmasikan dengan Alkitab" (Rivers in the Desert: History of
Neteg, hal. 31).
Penemuan tugu-tugu peringatan di kota purba Ebla di utara Siria
beberapa waktu yang lalu membawa pula angin segar dalam upaya
mengungkapkan ketepatan data-data sejarah dalam Alkitab. Sebuah
artikel di majalah Time mengungkapkan, "Penemuan ini tidak hanya
membuktikan pernah adanya kerajaan kecil yang terkenal di sekitar
tahun 2400-2250 SM; tetapi juga menunjukkan bahwa data yang tertulis
di dalam Alkitab benar-benar nyata" (18 Oktober 1976, hal. 63).
Data-data dalam Perjanjian Baru pun telah didukung dengan
sejumlah penelitian dan penemuan. Injil Lukas dan Kisah Para Rasul
(keduanya ditulis oleh Lukas) telah menimbulkan kekaguman para
peneliti yang mencari sejumlah referensi tentang masyarakat dan
tempat-tempat pada zaman orang-orang Yahudi dan pemerintahan
Romawi. Mengenai Lukas, F.F. Bruce menulis: "Orang yang ketepatan
perkataannya dapat dipegang dalam hal-hal nyata akan dapat pula
dipercaya dalam perkara-perkara yang tidak/belum nyata" (The New
Testament Documents: Are They Reliable? hal. 90).
Demikianlah, dapat dipercayanya Perjanjian Baru dalam hal-hal
yang berhubungan dengan data-data duniawi memberi jaminan kepada kita
bahwa apa yang ditulisnya tentang hal-hal surgawi pun dapat
dipercaya. John Warwick Montgomery pernah menulis, "Jadi, apakah yang
diketahui para ahli sejarah tentang Yesus Kristus? Yang pertama dan
terutama, mereka tahu bahwa kitab-kitab Perjanjian Baru dapat
dipercaya dalam pemberitaannya tentang Yesus Kristus. Kemudian,
mereka juga tahu bahwa berita tentang Yesus Kristus ini tidak dapat
dijabarkan hanya dengan akal atau filsafat manusia atau secara
harafiah" (History and Christianity, hal. 40).
7. Ketepatan Data Ilmiah Dalam Alkitab. Apakah Alkitab dan ilmu
pengetahuan bertentangan? Haruskah kita melakukan pilihan antara
mau hidup bersandar pada iman kepercayaan atau berdasarkan data-data
ilmiah? Mendengar pembicaraan orang tertentu, Anda mungkin berpikir
bahwa ada pemisahan antara iman dan ilmu pengetahuan. Padahal
sebetulnya tidak. Konflik-konflik yang timbul di antara dua hal ini
sebenarnya hanyalah akibat dari adanya kesimpulan/pemahaman yang
keliru dari orang-orang yang sebetulnya kurang mendalami baik
kebenaran isi Alkitab maupun perkembangan ilmu pengetahuan.
Perdebatan muncul pada masa Galileo karena beberapa pemimpin
agama pada masa itu berbicara tentang ilmu pengetahuan dan mengatakan
bahwa bumilah yang menjadi pusat rotasi matahari. Sampai saat ini
pun konflik-konflik masih terus terjadi. Pihak yang satu menyimpulkan
bahwa seluruh kehidupan ini terjadi dengan sendirinya karena proses
evolusi. Sementara pihak lain berkata bahwa kehidupan yang kompleks
ini terjadi semata-mata karena ada yang menciptakannya. Orang yang
tak percaya mujizat saling bersitegang dengan mereka yang percaya
bahwa mujizat-mujizat di Alkitab memang benar-benar nyata. Hal ini
terjadi karena mereka yang tidak percaya Allah tidak dapat menerima
pandangan orang percaya bahwa Allah Yang Mahakuasa senantiasa turut
campur tangan dalam segala aspek kehidupan manusia.
Inti perdebatan antara iman dan ilmu pengetahuan pada dasarnya
bukanlah pada aktual atau tidaknya data masing-masing, melainkan
lebih pada aktual atau tidaknya kesimpulan dan pemahaman kedua pihak
terhadap kebenaran datanya masing-masing.
Alkitab memang bukan buku ilmiah. Ilustrasi yang sering
digunakannya untuk menggambarkan segi-segi kehidupan, kadang
diartikan berbeda dalam ilmu pengetahuan. Misalnya, gambaran Alkitab
tentang terbenamnya matahari atau tentang keempat penjuru dunia. Para
ilmuwan tentu saja tak dapat menerima hal ini sebagai data yang
akurat. Namun sebenarnya, gambaran ini bukanlah gambaran yang harus
diartikan secara harafiah. Kalau Alkitab tengah mengatakan sesuatu
yang harafiah tentang ilmu pengetahuan, datanya pastilah benar.
Sebagai kesimpulan terakhir, Alkitab dan ilmu pengetahuan tidak
dapat dipertentangkan. Allah yang menciptakan langit, bumi dan segala
isinya, dan yang mengatur segala suatu di dunia ini adalah Allah yang
sama dengan Allah yang mengilhami Alkitab. Dialah Allah kebenaran
yang tidak mempertentangkan diriNya sendiri. Jika Alkitab telah
dipahami dengan benar dan ilmu pengetahuan juga telah sampai pada
kesimpulan-kesimpulan yang terbukti kebenarannya, keduanya pastilah
akan mencapai titik temu yang sempurna.
8. Ketepatan Nubuat Dalam Alkitab. Bagaimana pendapat Anda
tentang seorang dokter yang mengatakan bahwa tidak ada masalah dengan
jantung Anda, tetapi begitu Anda meninggalkan ruang prakteknya
tiba-tiba saja Anda mendapat serangan jantung? Atau, apa pendapat
Anda tentang tokoh politik yang menjanjikan kemakmuran di bidang
ekonomi, tetapi kebijakan-kebijakannya telah menyebabkan resesi
ekonomi? Anda tentu akan meragukan apa pun yang dikatakan mereka
tentang masa depan. Anda pun tentu akan bingung, siapa yang dapat
Anda percayai sekarang?
Alkitab tidaklah demikian. Firman Allah telah terbukti dapat
dipercaya. Ia tidak pernah salah dalam mendiagnosa kebutuhan manusia.
Ia juga tidak pernah memberi janji-janji palsu. Manusia tak memiliki
alasan untuk menilai Alkitab hanya sebagai kumpulan dongeng dan
isapan jempol.
Satu hal nyata tentang dapat dipercayanya Alkitab adalah
ketepatannya dalam hal penggenapan nubuat. Alkitab sendiri
menganjurkan agar kita menguji setiap nubuat yang dikatakan sebagai
firman Tuhan yang berkuasa. Ulangan 18:20-22 menyatakan bahwa ujian
untuk nubuat yang benar adalah ketepatan penggenapannya. Alkitab
berisi ratusan nubuat, dan kita dapat menguji nubuat-nubuat itu
melalui ketepatan penggenapannya.
Beberapa contoh penggenapan nubuat Alkitab yang paling dramatis
menyangkut Tuhan Yesus sendiri. Yesaya 52:13 hingga Yesaya 53:12
dan Mazmur 22:1-31 menuliskan nubuat tentang kematian di atas salib
ratusan tahun sebelum peristiwa yang benar-benar mengerikan ini sungguh
terjadi.
Perhatikanlah rincian penggenapan nubuat tentang Tuhan Yesus
Kristus berikut ini:
| NUBUAT | PENGGENAPAN |
| Yesaya 7:14 | dikandung seorang perawan | Lukas 1:26-35 |
| Mikha 5:2 | dilahirkan di Bethlehem | Matius 2:1 |
| Yesaya 7:14 | dinamakan Immanuel | Matius 1:23 |
| Yesaya 9:1-2 | tampil di Galilea | Matius 4:12-16 |
| Zakharia 9:9 | dielu-elukan di Yerusalem | Matius 21:1-11 |
| Mazmur 41:10 | dikhianati oleh sahabat | Matius 26:20-25 |
| Mazmur 35:11 | dituduh bersalah | Matius 26:59-68 |
| Yesaya 53:7 | tidak membela diri | Matius 27:12-14 |
| Mazmur 22:17 | tangan dan kaki berlubang paku | Yohanes 20:25 |
| Yesaya 53:12 | disalibkan bersama penjahat | Matius 27:38 |
| Mazmur 22:19 | pakaiannya diundi | Yohanes 19:23,24 |
| Mazmur 34:21 | tak ada tulang yang patah | Yohanes 19:33 |
| Mazmur 22:16 | kehausan di kayu salib | Yohanes 18:28 |
| Yesaya 53:9 | dikuburkan di kubur orang lain | Matius 27:57-61 |
Contoh lain dari penggenapan nubuat Alkitab adalah mengenai
kejatuhan kota yang bernama Tirus. Ratusan tahun sebelumnya,
Yehezkiel menubuatkan bahwa kota itu akan diruntuhkan, dan
reruntuhannya akan dibuang ke dalam air, sehingga tidak akan dibangun
kembali (Yehezkiel 26:1-21). Hal ini terjadi persis seperti yang
dinubuatkan. Mula-mula Nebukadnezar merobohkan kota itu, kemudian
Alexander menyuruh orang-orangnya membangun jembatan layang di atas
reruntuhan itu menuju ke pulau tempat orang-orang melarikan diri.
Jalan lintasan ini masih ada sampai sekarang dan menjadi saksi bisu
tergenapinya nubuat Alkitab atas kota itu.
Daniel dengan tepat telah menubuatkan pemerintahan empat
kerajaan besar dunia secara berurutan, yakni: Babilonia, Persia,
Yunani dan Roma (Daniel 2:1-49 dan Daniel 7:1-28).
Nubuat-nubuat tentang penghukuman Allah atas Niniwe
(Nahum 1:1-3:19), Ammon dan Moab (Yeremia 48:1-49:39C),
Babilonia (Yesaya 13:1-14:32; Yeremia 51:1-64) dan Edom
(Yesaya 34:1-17; Yeremia 49:1-39; Yehezkiel 25:1-17; 35:1-15) juga
telah digenapi dengan tepat.
Apa pun yang dinubuatkan Alkitab, semuanya pasti tergenapi.
Ratusan nubuat telah terbukti digenapi secara nyata. Berdasarkan hal
ini, kita boleh meyakini perkataan Alkitab mengenai hal-hal yang akan
datang. Semuanya pasti akan digenapi.
- Pernyataan-pernyataannya
- Isi Naskahnya yang Terjamin
- Ketepatan Datanya yang Terbukti
- Dampak Positifnya yang Nyata
DAMPAK POSITIFNYA YANG NYATA
Alkitab juga terbukti dapat dipercaya kalau dilihat dari dampak
positif yang ditimbulkannya dalam kehidupan manusia, baik secara
global dalam masyarakat maupun secara individu. Di mana Injil
diberitakan, di situ terjadi kuasa yang mengubah kehidupan. Alkitab
disebut "firman kehidupan" (Filipi 2:16). Berita yang disampaikannya
adalah berita Injil yang disebut "kekuatan Allah yang menyelamatkan
setiap orang yang percaya" (Roma 1:16). Dan semua itu menunjukkan
bahwa Alkitab adalah firman Allah yang "hidup dan kuat"
(Ibrani 4:12). Kenyataan ini merupakan satu hal lagi yang dapat
menguatkan kepercayaan kita pada Alkitab.
9. Dampak Alkitab Pada Masyarakat. Di mana saja Alkitab
disampaikan dan berita Injilnya diterima, pasti terjadi dampak yang
nyata dalam kehidupan masyarakat di situ. Jika hendak diteliti secara
jujur, Alkitab terbukti telah banyak menjadi sarana yang membawa
perbaikan dan peningkatan harkat hidup manusia, baik dalam segi moral
maupun sosial-ekonomi. Di tempat-tempat di mana perbudakan masih
terjadi, kuasa firman Allah menyadarkan kekeliruan perbuatan yang
memperkosa hak manusia seperti itu. Di daerah-daerah di mana kaum
wanita diperlakukan hanya sedikit lebih baik dari binatang,
pengajaran Injil mengembalikan kehormatan mereka dan membebaskan
mereka dari segala tindakan pelecehan. Di mana kekejaman dan
berbagai penindasan terjadi, Injil hadir membawa kemerdekaan,
toleransi dan perikemanusiaan. Anak-anak terlantar dan para
penyandang cacat yang sering mendapat perlakuan buruk, kini lebih
dihargai dan diperhatikan sejalan dengan diterimanya pekabaran Injil.
Di saat kabar gembira tentang Injil diterima, gairah dan
semangat hidup manusia pun meningkat. Cobalah bayangkan apa yang
terjadi pada manusia bila tak pernah ada penerangan dari firman
Tuhan. Singkirkanlah semua pengajaran tentang harkat dan penghargaan
atas manusia, dan perhatikanlah, apa yang masih tertinggal? Buanglah
segala pengajaran moral dari para tokoh Kristen, dan pikirkanlah apa
yang akan terjadi di dunia ini. Jauhkanlah dari semua galeri setiap
lukisan yang bertemakan Kristus; keluarkan dari laci-laci
perpustakaan semua buku yang berintikan pengajaran Alkitab;
kosongkanlah dunia ini dari semua khotbah dan musik gereja;
hilangkanlah dari semua kota dan desa gedung-gedung gereja dengan
menara salibnya yang melambangkan pusat pengharapan dan damai
sejahtera bagi orang-orang yang berbeban berat dari masa ke masa.
Singkirkanlah semua itu, dan renungkanlah apa lagi kini yang masih
tertinggal? Semuanya kini bagaikan penyair tanpa syair, pemusik tanpa
lagu, pengkhotbah tanpa kebaktian.
Atau buanglah bagian-bagian yang mengajarkan segi-segi moral
dalam Alkitab. Apa yang akan terjadi di dunia ini? Dalam bidang hukum
dan keadilan? Apa yang akan dialami oleh orang-orang yang lemah, tak
berdaya, tertindas, kesepian, putus asa? Sangatlah mengerikan
membayangkan keadaan yang akan terjadi di dunia ini, tanpa firman
Tuhan. Hati yang dingin, kejahatan dan segala macam hal yang buruk
akan tak terkendali.
Ya, Alkitab telah banyak memberi dampak positif yang nyata dalam
masyarakat. Hal ini tidak dapat diingkari.
10. Dampak Alkitab Pada Individu. Alkitab tidak hanya membawa
dampak positif dalam kehidupan masyarakat, tetapi juga membawa
perubahan yang nyata dalam kehidupan manusia secara individu. Banyak
pria dan wanita yang berada dalam keadaan putus asa, tak berdaya,
kecewa, telah menemukan kelepasan tatkala mereka mendengar dan
menerima Injil. Alkitab telah memberi pengharapan baru bagi mereka
yang bersusah, dan membawa damai sejahtera bagi mereka yang tertekan.
Alkitab mengangkat harkat diri manusia dan memperbaiki kebobrokan
moral seseorang. Ya, Alkitab secara menakjubkan telah membebaskan dan
mengubah hidup jutaan manusia.
"Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada
pedang bermata dua mana pun."
Ibrani 4:12
Renungkanlah kehidupan Agustinus, seorang sarjana terkemuka
yang hidup pada abad keempat dan kelima. Ibunya dengan setia
mendoakannya, tetapi ia sendiri mengisi hidupnya dengan hal-hal buruk
dan sia-sia di masa mudanya, sampai ia menyadari bahwa tidak ada
damai di dalam dirinya. Ia pun lalu melakukan pencarian dan
pemeriksaan diri. Pencarian yang sangat menyiksa ia alami sampai ia
menemukan dan membaca ayat ini dari Alkitab: "Marilah kita hidup
dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan
kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam
perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus
sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu
untuk memuaskan keinginannya" (Roma 13:13-14). Agustinus dalam
pengakuannya kemudian menulis: "Begitu saya selesai membaca ayat ini,
ada seberkas cahaya yang menerangi hati saya dan menghapus semua
keragu-raguan di hati saya." Mantan pemabuk ini pada akhirnya menjadi
uskup di Hippo, Afrika Utara dan mendirikan gereja yang pertama di
daerah itu. Ia juga mempengaruhi banyak orang Kristen lewat
tulisan-tulisannya.
Charles Haddon Spurgeon telah putus asa mencari damai sampai ia
mendengar ayat ini dibacakan oleh seorang pendeta: "Berpalinglah
kepadaKu dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi!
Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain" (Yesaya 45:22).
Martin Luther menemukan kelepasan dari beban berat karena
pergumulan dosa dan imannya, yang kemudian membakar semangatnya untuk
melakukan reformasi, ketika ia membaca ayat ini: "Orang yang benar
itu akan hidup oleh percayanya" (Habakuk 2:4).
Chuck Colson, seorang tertuduh dalam kasus Watergate, menerima
kebenaran melalui kesaksian dan pengajaran Alkitab yang dilakukan
oleh teman-temannya. Ia kini memimpin sebuah lembaga pemasyarakatan
dan bukunya yang berjudul Born Again telah mempengaruhi banyak orang
yang pernah terjebak dalam perbuatan buruknya sendiri.
Kesaksian-kesaksian nyata seperti ini dapat terjadi ratusan ribu
kali lagi di segala tempat dan waktu oleh mereka yang menyadari bahwa
kebutuhan hidupnya yang paling dalam hanya dapat dipenuhi dalam
kuasa firman Tuhan. Dan, sahabatku, hal seperti ini pun akan Anda
alami bila Anda mau membuka hati untuk menerima berita Injil dan
mempercayainya.