Home
       

Resources
Artikel
Artikel-artikel MISI
Bahan PA
Misi Allah Bagi Dunia &
Para Pengubah Dunia
Cerita Misi
Alkitab di Seluruh Dunia :
48 Kisah Nyata
Buku
Buku-buku Misi
Doa
Doa bagi Negara
Doa bagi Kota
Doa bagi Suku
PD Timotius
40 Hari Doa
e-KJDN
Info
Sejarah
Ulasan Tokoh MISI
Lembaga
Mengenal Lembaga MISI
Media
Berbagai program pengabaran Injil
Lintas Budaya
Lintas Religi
Profil Suku di Indonesia
Profil Bangsa
Profil Bangsa di Dunia
 
 Renungan
 Kesaksian
 
Seri Mutiara Iman (RBC/Yayasan Gloria/YLSA):
SMI-011 Apakah Alkitab Dapat Dipercaya?
halaman 3
dari 7

|
B. ALKITAB ADALAH BUKU YANG BERBEDA

Alkitab adalah buku yang berbeda, bukan semata-mata karena buku ini dinyatakan berasal dari Allah. Joseph Smith, pendiri aliran Mormon, menyatakan bahwa wahyu yang diterimanya berasal dari Allah. Aliran kepercayaan apa pun akan mengatakan bahwa kitab suci mereka berasal dari Allah.

Namun Alkitab menjadi buku yang benar-benar berbeda karena pandangan-pandangannya tentang Allah, manusia, keselamatan dan kebenaran.

1. Pandangan Alkitab tentang Allah. Alkitab memperkenalkan Allah sebagai Tuhan dan pemerintah segala sesuatu (1Tawarikh 29:11); sebagai Tuhan yang pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setiaNya (Mazmur 145:8); dan sebagai Allah yang esa (Ulangan 6:4). Sementara yang lain ada yang menggambarkan Allah sebagai Allah yang keras, tak dapat diduga dan tak berbelas kasihan. Ajaran Mormon bahkan mengatakan bahwa ada banyak allah dan Allah itu sebenarnya manusia juga, sehingga setiap manusia mempunyai kemungkinan untuk menjadi Allah.

Sebaliknya, Alkitab malah menyatakan bahwa Allah yang benar itu telah menjadi manusia dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Seorang ahli dalam bidang perbandingan agama dari Inggris, J.N.D. Anderson, menulis:

Agama-agama lain memang mencantumkan kepercayaannya bahwa Allah atau salah satu dari allahnya dapat mewujudkan dirinya sekali waktu atau beberapa kali menjadi manusia.... Namun, ajaran Kristen dengan jelas menyatakan bahwa dasar keesaan, kemahaadaan, kemahatahuan dan segala keberadaan tentang Allah telah terwujud dengan unik dalam karyaNya, bukan hanya dengan mengambil rupa manusia, tetapi benar-benar menjadi manusia sejati (Christianity and Religion, hal. 51).

2. Pandangan Alkitab tentang manusia. Alkitab memberikan gambaran yang lebih seimbang dan realistis tentang manusia. Alkitab tidak meninggikan manusia di atas keadaan sebenarnya, sebagaimana yang dikatakan ajaran Yunani kuno bahwa "para dewa adalah manusia yang kekal, dan manusia adalah para dewa yang fana." Alkitab juga tidak merendahkan manusia pada keadaan yang tidak seharusnya seperti yang dikatakan psikolog B.F. Skinner bahwa manusia tidaklah lebih dari sejenis makhluk kompleks yang dipengaruhi oleh lingkungannya.

Sebaliknya, Alkitab dengan adil mengutarakan baik sisi keagungan maupun kehinaan manusia. Alkitab mengungkapkan keagungan penciptaan manusia sebagai gambar Allah, tetapi juga kejatuhannya dalam dosa yang membuatnya kehilangan kemuliaan. Alkitab menegaskan tanggung jawab yang harus dipikul manusia akibat dosa, sekaligus memberi pengharapan bagi kelepasannya.


"Berita yang dibawanya tidak hanya memberi kuasa, tetapi juga memberi banyak bukti nyata."

3. Pandangan Alkitab tentang keselamatan. Keselamatan manusia yang ditawarkan Alkitab sangatlah berbeda dengan yang ditawarkan kepercayaan lain di dunia ini. Alkitab menawarkan keselamatan melalui Yesus Kristus. Keselamatan yang bukan karena perbuatan manusia, tetapi semata-mata karena anugerah yang diterima dengan iman.

4. Pandangan Alkitab tentang kebenaran. Pernyataan Alkitab didukung fakta-fakta sejarah dan geografis yang nyata. Itulah sebab mengapa orang-orang Kristen pada abad-abad pertama demikian tertarik pada berita tentang kebangkitan Kristus. Sebab berita yang dibawanya tidak hanya memberi kuasa tetapi juga memberi banyak bukti nyata.


|
 




 Ke atas 
© 2003 YLSA