Home
       

Resources
Artikel
Artikel-artikel MISI
Bahan PA
Misi Allah Bagi Dunia &
Para Pengubah Dunia
Cerita Misi
Alkitab di Seluruh Dunia :
48 Kisah Nyata
Buku
Buku-buku Misi
Doa
Doa bagi Negara
Doa bagi Kota
Doa bagi Suku
PD Timotius
40 Hari Doa
e-KJDN
Info
Sejarah
Ulasan Tokoh MISI
Lembaga
Mengenal Lembaga MISI
Media
Berbagai program pengabaran Injil
Lintas Budaya
Lintas Religi
Profil Suku di Indonesia
Profil Bangsa
Profil Bangsa di Dunia
 
 Renungan
 Kesaksian
 
Seri Mutiara Iman (RBC/Yayasan Gloria/YLSA):
SMI-006 Bagaimana Memahami Alkitab?
halaman 3
dari 8

|
B. MENAFSIR ALKITAB: METODE KONTEKSTUAL

Sebagai orang awam, Anda tidak perlu dibingungkan dengan aturan-aturan rumit untuk memahami Alkitab. Ingat saja satu kata dalam benak Anda: konteks. Seseorang pernah berkata, "Ada tiga pedoman untuk berhasil menafsir Alkitab. Pertama adalah 'konteks.' Kedua adalah 'konteks.' Ketiga adalah 'konteks.'" Penggunaan prinsip dasar ini melibatkan empat unsur seperti digambarkan di bawah ini.

      
              + + + + + + + + + + + + + + +
                +     Latar Belakang     +
                  +        Yang        +
                    +      Terkait   +
                      +            +
                        ----------
            Kebenaran-  +        +  Keseluruhan
            kebenaran   +  TEKS  +    Alkitab
              Dasar     +        +
                        ----------
                      +            +
                    +    Penerapan   +
                  +    Secara Wajar    +
                +                        +
              + + + + + + + + + + + + + + +

Diagram ini menggambarkan bagaimana keempat pedoman konteks ini berkaitan dengan upaya memahami Alkitab. Keempat pedoman ini adalah: latar belakang yang terkait, keseluruhan Alkitab, penerapan secara wajar dan kebenaran-kebenaran dasar.

PEDOMAN KONTEKS 1: Latar Belakang yang Terkait
PEDOMAN KONTEKS 2: Keseluruhan Alkitab
PEDOMAN KONTEKS 3: Penerapan Secara Wajar
PEDOMAN KONTEKS 4: Kebenaran-kebenaran Dasar
  1. Latar Belakang yang Terkait
  2. Keseluruhan Alkitab
  3. Penerapan Secara Wajar
  4. Kebenaran-kebenaran Dasar
PEDOMAN KONTEKS 1:
Latar Belakang yang Terkait
Latar Belakang
Yang
Terkait

Hal ini mengacu pada ayat-ayat yang secara langsung mendahului (sebelum) dan yang mengikuti (sesudah) bagian Alkitab tertentu. Seseorang yang memperhatikan dengan cermat "bahan-bahan" yang ada di sekitar bagian tersebut akan terhindar dari berbagai kesalahan yang umumnya terjadi. Perhatikan beberapa contoh berikut:

1Yohanes 1:9. Kata-kata yang mudah dikenali dalam ayat ini adalah tentang pengakuan dosa yang sering dikaitkan sebagai penentu keselamatan. Namun adanya kata kita pada konteks sebelumnya membuat hal ini jelas bahwa Yohanes tidak mengalamatkan kalimat ini kepada orang-orang yang belum percaya. Melainkan lebih kepada orang-orang yang telah percaya (1Yohanes 1:6,7,8,10), dan ia menunjukkan kepada mereka bagaimana berjalan bersama Allah yang telah menyelamatkan mereka.

1Petrus 3:3. Sebagian orang Kristen memakai kata-kata "Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas" sebagai larangan bagi wanita untuk pergi ke salon kecantikan dan mengenakan perhiasan. Namun bila kita membaca terus, kita akan menjumpai kalimat "tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi." Jelas bahwa sang rasul tidak mengatakan bahwa merapikan rambut atau mengenakan perhiasan itu salah. Ia hanya mengatakan bahwa kaum wanita harus memberi tekanan yang lebih besar pada kualitas pribadi di "dalam" yang akan menghasilkan kecantikan karakter, bukan pada penampakan luar.

Yakobus 1:5. Yakobus menasehatkan, "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, -- yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya." Kalimat ini banyak ditafsir sebagai janji bahwa kita akan menerima kecakapan atau pengetahuan tanpa harus mempelajarinya terlebih dahulu, dengan cara meminta melalui doa. Namun konteks menunjukkan bahwa Yakobus sedang berbicara secara khusus tentang pemberian hikmat untuk mengatasi ujian dan pencobaan.

2Korintus 10:4. Pernyataan Paulus "karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng" telah dikutip oleh orang-orang yang cinta damai untuk mendesak negara mereka melakukan perlucutan senjata. Namun konteks membuatnya jelas bahwa Rasul Paulus mengacu pada peperangan rohani antara orang-orang percaya melawan musuh-musuh yang tidak kelihatan.

Filipi 4:13. Komentar Paulus "segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" seringkali diartikan bahwa jika iman kita cukup kuat, kita akan menerima kekuatan untuk mencapai segala tujuan pribadi. Namun latar belakang bagian ini menunjukkan bahwa Rasul Paulus berbicara secara khusus tentang kekuatan Allah yang akan tetap kita terima, baik pada waktu kekurangan maupun kelimpahan. Terlebih lagi bagian ini harus diartikan bahwa kita dapat melakukan segala sesuatu yang Allah inginkan melalui Yesus Kristus.


"Ada tiga pedoman untuk berhasil menafsir Alkitab, yakni: konteks, konteks, dan konteks."

Kesalahan menafsir teks Alkitab dapat dihindari jika kita memperhitungkan latar belakang yang terkait dari teks tersebut. Memperhatikan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya seharusnya merupakan langkah awal yang lazim dan logis dalam menafsir Alkitab. Terlepas dari itu, jika kita akan mengutip pembicaraan teman-teman kita, tentu kita akan mempertimbangkan latar belakang pembicaraan mereka, bukan? Namun terkadang, jika hal itu diterapkan terhadap Allah yang adalah Penulis Alkitab, kita seringkali gagal dalam memberikan penghargaan yang sama.

  1. Latar Belakang yang Terkait
  2. Keseluruhan Alkitab
  3. Penerapan Secara Wajar
  4. Kebenaran-kebenaran Dasar
PEDOMAN KONTEKS 2:
Keseluruhan Alkitab
keseluruhan
Alkitab

Pedoman kedua dari penafsiran kontekstual adalah mempertimbangkan bagian tersebut dalam hubungannya dengan keseluruhan Alkitab. Hal ini sangat penting karena akan mencegah orang yang mempelajari Alkitab melakukan kesalahan fatal.

Tuhan Yesus sendiri menunjukkan betapa pentingnya mengenali konteks suatu bagian dalam hubungannya dengan kerangka dari keseluruhan Alkitab. Setelah berpuasa selama 40 hari dan 40 malam, Dia dicobai Iblis. Sang Juruselamat mengutip Alkitab untuk mengatasi tiga pencobaan unik dari Iblis. Mula-mula ia menyarankan agar Tuhan menyatakan keilahian-Nya dengan cara mengubah batu menjadi roti. Namun Tuhan Yesus menolak dengan mengutip Ulangan 8:3 sebagai jawabannya. Iblis kemudian memutuskan untuk mengutip sedikit bagian Alkitab untuk kepentingannya. Ia membawa Tuhan Yesus ke atas bubungan bait Allah dan menganjurkan agar Dia menjatuhkan diri ke bawah. Si jahat kemudian mengutip Mazmur 91:11-12, "...Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu" (Matius 4:6). Namun Yesus menjawab dengan perkataan, "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!," dikutip dari Ulangan 6:16

.

Perhatikan kata pula pada kalimat "ada pula tertulis." Dengan demikian Tuhan Yesus menyatakan kepada Iblis bahwa Dia tidak dapat menuntut janji dalam Mazmur 91:11-12 tanpa mempertimbangkan larangan dari Ulangan 6:16. Tak seorang pun memiliki hak untuk mengutip satu ayat Alkitab, mengabaikan latar belakangnya, dan menghubungkannya dengan bagian-bagian lain untuk membenarkan apa yang ingin dilakukan atau dikatakannya.

Kata-kata Yesus dalam Matius 10:5-7 menunjukkan kepada kita gambaran pentingnya menafsir satu bagian dalam kerangka keseluruhan Alkitab.

"Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat...."

Yesus memerintahkan para rasul untuk mengajar hanya kepada orang-orang Yahudi. Apakah hal ini berarti bahwa orang-orang Kristen selama berabad-abad yang lalu telah melakukan kesalahan dengan memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa asing? Tentu saja tidak! Setelah kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus memerintahkan orang-orang yang sama agar menjadikan "semua bangsa murid-Ku" (Matius 28:19). Mahasiswa teologia dengan segera mengetahui bahwa ketika berada di dunia, Yesus hidup sebagai keturunan Yahudi di bawah wewenang hukum Musa, dan pada saat itu pintu keselamatan belum terbuka bagi semua orang sampai Dia harus mati di kayu salib.


"Membaca satu bagian dari Alkitab sebagai bagian yang terpisah, sama seperti melihat sekeping jigsaw puzzle. Alkitab adalah satu kesatuan yang utuh."

Oleh karena itu, seorang pemula seharusnya tidak mencoba menguraikan bagian yang sulit. Selagi membaca dan mempelajari Alkitab, pertama-tama ia harus memenuhi pikirannya dengan doktrin-doktrin dan bagian-bagian yang terlebih dahulu telah dipahaminya, sebelum meneruskan pada bagian-bagian yang lebih sulit.

Membaca satu bagian dari Alkitab sebagai bagian yang terpisah, sama seperti melihat sekeping jigsaw puzzle (mainan dari gambar yang terpotong dan harus disusun lagi). Potongan-potongan itu tidaklah berarti sampai kita melihatnya terletak pada tempat yang tepat dalam gambar yang utuh. Seperti hal itu, Alkitab juga adalah satu kesatuan yang utuh. Alkitab adalah Firman Allah, bukan sekadar kumpulan kitab. Benar bahwa Alkitab ditulis selama jangka waktu lebih dari 1500 tahun. Benar pula bahwa Alkitab ditulis oleh 40 orang yang berbeda dan dalam tiga bahasa. Namun setiap orang menulis dalam pimpinan Roh Kudus. Dan Roh yang sama itulah yang menjamin bahwa setiap penulis menguatkan tulisan penulis lain, dan bahwa setiap kitab memberi sumbangan terhadap kebenaran Allah secara menyeluruh.

Oleh karena kebenaran inilah, setiap orang Kristen harus mengenal secara dekat pesan utama dari keseluruhan Alkitab. Semakin baik kita menguasai pengajaran yang ada di dalamnya, semakin baik kita memahami penggalan-penggalan yang berbeda. Dan bagian-bagian yang sulit akan menjadi lebih mudah untuk dimengerti.

  1. Latar Belakang yang Terkait
  2. Keseluruhan Alkitab
  3. Penerapan Secara Wajar
  4. Kebenaran-kebenaran Dasar
PEDOMAN KONTEKS 3:
Penerapan Secara Wajar
Penerapan
secara wajar

Prinsip kontekstual ketiga adalah penerapan secara wajar, artinya setiap kata yang dipakai diartikan sama seperti pemakaian umum. Kita harus memberlakukan tata bahasa yang benar dan lazim pada Alkitab, sama seperti pada buku-buku lain. jika kita membaca tulisan paparan sebagai fakta, kita harus menerimanya sebagai cerita dari peristiwa yang benar-benar terjadi, sebelum kita membuat penerapan secara rohani atau mencari arti yang tersembunyi. Jika kita membaca cerita perumpamaan, kita harus mencari pokok pikiran dari ilustrasi itu terlebih dahulu. Berusahalah menerima segala tulisan secara harfiah (literal), kecuali jika nyata-nyata kita tidak mungkin melakukannya atau menganggapnya demikian. Kalimat-kalimat kiasan, pernyataan- pernyataan puitis, simbol-simbol dan ungkapan-ungkapan biasanya cukup jelas sehingga mudah dikenali.

Sebagai contoh penyimpangan aturan penerapan secara wajar, mari kita lihat bagaimana pemahaman beberapa orang tentang kisah seekor keledai yang dapat berbicara yang terdapat dalam Bilangan 22:1-41. Keledai betina yang dikendarai Bileam itu ketakutan ketika melihat Malaikat Tuhan menampakkan diri tiga kali. Sebanyak itu pula Bileam memukul keledai itu agar menuruti tujuannya. Pada penampakan Malaikat Tuhan yang ketiga, keledai itu enggan melangkah lagi dan berbicara, "Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?"

Nah, pernahkah Anda melihat Malaikat Tuhan dengan pedang terhunus? Pernahkah Anda mendengar seekor keledai berbicara seperti manusia? Untuk mempercayai bahwa hal ini benar-benar terjadi, dibutuhkan keyakinan akan adanya mukjizat. Orang-orang tertentu menyatakan bahwa kita tidak boleh mempercayai bagian ini secara harfiah. Beberapa orang menegaskan bahwa peristiwa itu hanya suatu penglihatan saja. Lainnya berpendapat bahwa penulis bagian Alkitab ini bermaksud memberi kita sebuah alegori (kiasan) bahwa Malaikat dengan pedang terhunus menggambarkan perasaan bersalah Bileam. Sedangkan kaki yang terhimpit batu mewakili rasa pedih yang dialami Bileam karena terus-menerus dituduh hati nuraninya.

Aturan dari penerapan secara wajar menuntut adanya penerimaan bahwa kisah Bileam ini merupakan suatu peristiwa yang benar-benar terjadi. Jika kita cenderung berpikir bahwa kisah ini merupakan penglihatan atau alegori, mestinya ada petunjuk yang diberikan kepada kita untuk konteks tersebut.

Ungkapan-ungkapan Kiasan

Penerapan secara wajar juga akan menghindarkan kita dari kebingungan yang ditimbulkan oleh ungkapan-ungkapan kiasan. Terlepas dari hal itu, kita sering menggunakannya dalam pembicaraan sehari-hari karena ungkapan-ungkapan kiasan dapat menyatakan pikiran dan perasaan kita dengan efektif. Kiasan adalah gambaran dalam kata-kata. Sebagai contoh, pernyataan "kakiku mulai beku." Jika yang menyatakan ini adalah seseorang yang sedang memancing ikan yang berada di bawah permukaan lapisan es, kita tidak akan melihat kalimat yang diucapkannya sebagai ungkapan kiasan. Kita tahu bahwa ia akan segera meninggalkan tempat dingin itu dan pindah ke tempat yang hangat. Namun jika seseorang membisikkan kalimat itu sambil mengendap mendekati sebuah rumah untuk menangkap seorang perampok bersenjata, kita akan tahu bahwa ia tentu tidak hendak menghangatkan kaki. Ia ingin menyatakan, "Saya takut" dan "Saya berpikir dua kali untuk melakukan penyergapan ini."

Tuhan Yesus kadang-kadang memakai ungkapan-ungkapan kiasan untuk memancing pemikiran atau sebagai alat untuk mengajar. Biasanya ungkapan kiasan tidak terlalu sulit dipahami bila kita mengerti aturan penerapan secara wajar.


"Kita sering menggunakan ungkapan-ungkapan kiasan dalam pembicaraan sehari-hari karena ungkapan-ungkapan kiasan dapat menyatakan pikiran dan perasaan kita dengan efektif."

Pada suatu kesempatan, Tuhan Yesus berkata kepada Rasul Petrus, "Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga" (Matius 16:19). Kita tidak perlu bertanya apakah kata kunci di sini merupakan ungkapan kiasan atau bukan. Kerajaan sorga bukanlah tempat yang dikelilingi tembok dengan pintu yang membutuhkan kunci (dalam arti yang sesungguhnya) untuk membukanya. Dalam konteks ini, kunci -- bahkan dalam Perjanjian Lama (Yesaya 22:22) -- merupakan simbol kewenangan. Petrus diberi wewenang membuka pintu kekristenan. Ia menggunakan wewenang tersebut di kalangan orang Yahudi pada hari Pentakosta (Kisah 2:1-47), di kalangan orang Samaria ketika menumpangkan tangan pada orang-orang percaya karena pemberitaan Filipus (Kisah 8:1-40), dan di kalangan orang-orang bukan Yahudi saat ia berkhotbah di rumah Kornelius (Kisah 10:1-48).

Tuhan berkata, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda..." (Matius 23:14). Tak pelak lagi bahwa Dia menunjuk pada tindakan-tindakan mereka yang tidak jujur, bukan dalam arti harfiah memakan kayu dan adukan semen sebuah rumah. Ketika Yesus menyebut mereka "pemimpin-pemimpin buta" yang menapiskan nyamuk tetapi menelan unta (Matius 23:24), Dia mengecam mereka karena lebih memperhatikan pelanggaran kecil atas hukum yang mereka buat sendiri daripada menghargai persoalan-persoalan besar menyangkut keadilan dan kebenaran.

Simbol-simbol

Beberapa khotbah dalam Alkitab menggunakan simbol. Sebuah simbol biasanya adalah sebuah objek yang nampak atau melambangkan sesuatu yang tidak kelihatan atau bersifat rohani. Banyak simbol dalam Alkitab yang telah dijelaskan oleh penulisnya. Dalam Daniel 2:1-49 misalnya, diperlihatkan suatu gambaran patung besar dengan kepala dari emas, dada dan lengan dari perak, perut dan paha dari perunggu, dan kaki dari besi. Daniel kemudian menjelaskan bahwa itu adalah gambaran kerajaan Babilon, Media Persia, Yunani dan Romawi. Kita tidak perlu menerka artinya, karena secara khusus telah dinyatakan.


"Sebuah simbol biasanya adalah sebuah objek yang nampak atau melambangkan sesuatu yang tidak kelihatan atau bersifat rohani."

Meskipun beberapa simbol tidak dijelaskan, arti atau maksud dari simbol-simbol tersebut akan terjelaskan dengan sendirinya. Sebagai contoh, dalam Wahyu 1:12-16 Yesus digambarkan sedang berjalan di antara tujuh kaki dian emas. Kita diberitahu bahwa tujuh kaki dian tersebut melambangkan tujuh gereja di Asia Kecil yang kepadanya Kristus berbicara (ayat Wahyu 1:20). Namun bagian ini tidak memberi keterangan lebih lanjut mengenai kata-kata yang digunakan untuk menggambarkan Tuhan (ayat Wahyu 1:18). Mata-Nya bagaikan nyala api, kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua. Namun secara umum arti simbol-simbol ini tidaklah sulit dipahami jika kita melihat konteksnya. Kalimat "mata-Nya bagaikan nyala api" menggambarkan bahwa Dia melihat dan membakar kejahatan dalam gereja-gereja tersebut. Gambaran ini secara keseluruhan menegaskan kekudusan Tuhan selagi Dia menyelidiki dan menghakimi gereja-gereja-Nya. Kita tidak perlu berpikir untuk menempuh pendidikan teologia terlebih dahulu sebelum mendalaminya.

  1. Latar Belakang yang Terkait
  2. Keseluruhan Alkitab
  3. Penerapan Secara Wajar
  4. Kebenaran-kebenaran Dasar
PEDOMAN KONTEKS 4:
Kebenaran-kebenaran Dasar
Kebenaran-
Kebenaran
Dasar

Seseorang yang ingin memahami Alkitab harus terlebih dahulu memusatkan perhatian pada hal-hal pokok yang menjadi dasar iman Kristen. Ia harus bertumbuh mantap dalam hal pemahaman rohani dan dan hidup kekristenan, serta menolak daya tarik topik-topik yang tidak utama yang dapat menyebabkan penyimpangan atau kesalahan.

Rasul Paulus menegaskan prinsip-prinsip kebenaran yang mendasar dalam suratnya yang kedua kepada Timotius. Ketika ia menuliskannya dari dalam penjara, menunggu hukuman mati, ia memprihatinkan beberapa orang yang mengaku Kristen yang terlibat dalam perdebatan sia-sia mengenai hal-hal yang tidak utama. Oleh karena itu, ia mendesak Timotius untuk mengajarkan kebenaran-kebenaran utama, dan menunjuk pemimpin-pemimpin yang akan terus mengajar mereka (2Timotius 1:13; 2:1-2,11-13,19,22). Ia terus mengingatkan anak rohaninya ini untuk tidak terlibat dalam penyakit bersilat kata. Kemudian ia memerintahkan Timotius untuk memperingatkan jemaat yang suka beromong kosong tentang topik-topik kecil dari Alkitab (2Timotius 2:14,16-18).

Agar berpijak pada hal-hal dasar, kita harus mengajarkan doktrin-doktrin utama yang dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Satu Allah dalam tiga pribadi -- Bapa, Anak dan Roh Kudus.
  2. Ke-66 kitab dari Alkitab diinspirasikan secara lengkap, suatu pewahyuan yang sempurna dari Allah.
  3. Ketuhanan Yesus Kristus: Kelahiran-Nya dari anak dara, kemanusiaan-Nya yang tidak berdosa, kematian-Nya yang menggantikan, kebangkitan-Nya yang ragawi, kenaikan-Nya ke sorga, dan kedatangan-Nya kembali ke bumi kelak.
  4. Keselamatan hanya oleh iman kepada Yesus Kristus, bukan karena usaha manusia, dan semata-mata karena anugerah.
  5. Darah Kristus berkuasa menghapuskan dosa setiap orang yang datang kepada Allah melalui Dia.
  6. Perlunya perbuatan baik setelah menerima keselamatan untuk menyatakan ucapan syukur dan kesaksian yang hidup kepada dunia tentang kuasa Allah yang mengubahkan.
  7. Kebangkitan tubuh: tempat tinggal yang mulia dan abadi tersedia bagi orang yang percaya di sorga, dan penghukuman abadi di neraka bagi orang yang menolak Kristus.
  8. Satu gereja yang sejati, tubuh Kristus, yang terdiri dari semua orang percaya tanpa memandang warna kulit, ras atau kedudukan, dan kebutuhan akan keberadaan dan dukungan gereja lokal yang percaya kepada kebenaran Alkitab.
  9. Kebutuhan akan pertumbuhan iman tiap-tiap hari melalui waktu teduh, pemahaman Alkitab, doa dan kesaksian.
  10. Ketaatan mutlak terhadap perintah Kristus untuk mewartakan kabar baik kepada semua bangsa dan mengajar orang percaya akan kebenaran Firman Allah.
  11. Kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang telah dekat untuk membawa umat-Nya dari dunia dan kemudian membangun Kerajaan-Nya di bumi.

"Kepercayaan yang dilandasi kasih kepada sang Penulis Alkitab merupakan persiapan terbaik untuk memahami Alkitab secara bijaksana."
-H.C. Trumbull

Jika kita berkonsentrasi pada kebenaran-kebenaran dasar ini, kita akan terhindar dari pemborosan waktu pada persoalan-persoalan yang tidak utama. Kita akan lebih terfokus pada aspek-aspek utama dari hidup kristiani. Dan yang terpenting, Allah akan menghindarkan kita dari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu.


|
 




 Ke atas 
© 2003 YLSA