Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hererenungan / Bagaimana Melihat Diri Sendiri Sesuai Gambar Allah?

Bagaimana Melihat Diri Sendiri Sesuai Gambar Allah?


By suwandisetiawan - Posted on 08 March 2019

Sebelum mengenal Tuhan, saya adalah orang yang minder. Saya merasa tidak setampan teman-teman dan tidak sepintar beberapa orang yang saya kenal. Ditambah, saya kerap dihina dan dianggap aneh karena bertangan kidal. Latar belakang keluarga yang sederhana juga membuat saya merasa tidak berharga.

Sebagai manusia, wajar jika kita merasa ada hal-hal tertentu dalam diri kita yang tidak sebaik orang lain. Namun, ketika taraf membandingkan ini sudah berlebihan, kita akan terjebak dalam sifat rendah diri. Selain membuat kita menderita, ini bukanlah sesuatu yang Tuhan kehendaki.

Kalau begitu, gambar seperti apa yang Allah rancangkan untuk kita?
Gambar Allah lebih penting daripada gambar rancangan kita

gambar Allah - gkdi 1

Setelah belajar Alkitab, saya sadar bahwa diri saya, dan setiap manusia, begitu berharga. Kita diciptakan menurut gambar Allah, dan kita berharga di mata-Nya. Pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib demi menebus dosa-dosa kita adalah buktinya. Selain itu, secara fisik dan karakter, tak ada manusia yang sama persis. Kembar identik sekalipun punya perbedaan.

Menyadari dua hal di atas, saya lalu berusaha memusatkan pandangan pada apa yang Tuhan pedulikan. Pada gambar Allah yang dirancangkan untuk saya, bukan gambar yang saya kira baik.
Cara Melihat Diri Seturut Gambar Allah

Berikut tiga hal yang perlu kita ingat agar tidak memaksakan gambaran ideal kita terhadap diri sendiri maupun orang lain.

1. Tuhan sudah merencanakan masa depan kita sejak kita dalam kandungan

“Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya.” – Mazmur 139:14-16

Saat kita berupa janin dan belum berbentuk manusia, Tuhan sudah mengasihi kita. Melalui ayah, ibu, dan orang-orang terdekat, kita dicintai, dirawat, dilindungi, dan dibesarkan. Mungkin orang-orang di sekitar baru mengasihi kita saat sudah bisa melakukan banyak hal, tetapi Tuhan sudah menyayangi saat kita belum bisa apa-apa.

Dengan mengingat ini, niscaya kita dapat lebih menerima dan mencintai diri sendiri apa adanya, karena Tuhan sendirilah yang merancang hidup serta masa depan kita.

2. Allah adalah kasih

Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan … – Kolose 1:15

Ada seorang anak lelaki kurus berjalan sambil menggendong adiknya yang lumpuh di punggungnya. Melihat itu, seseorang berkomentar prihatin, “Kasihan kau, nak. Bebanmu pasti berat!” Namun, anak itu menjawab, “Dia bukan beban. Dia saudaraku!”

Itulah ilustrasi lirik lagu He Ain’t Heavy, He’s My Brother gubahan Bobby Scott dan Bob Russel. Sering kali kita dibuat kagum oleh mereka yang secara sumber daya tampak tidak sanggup menanggung bebannya, tapi ternyata mampu melakukannya karena memiliki kasih. Dan, kasih adalah kekuatan terbesar di dunia.

Semua hal, yang ringan sekalipun, akan terasa berat kalau dilakukan dengan terpaksa atau tanpa niat. Namun, segala sesuatu, bahkan yang sangat berat, akan terasa ringan dan menyenangkan kalau dikerjakan dengan kasih.

Karena kasih, ayah saya rela bekerja keras sebagai buruh bangunan agar anak-anaknya bisa kuliah dan punya masa depan cerah. Karena kasih pula, Allah rela Anak-Nya disalib untuk menebus dosa-dosa kita.

Yesus adalah gambar Allah. Dengan mempelajari segala sesuatu tentang Yesus, kita dapat mengerti siapakah Allah. Allah adalah kasih. Karena kita diciptakan seturut gambar Allah, maka kita harus hidup di dalam kasih.

Orang yang tidak mengasihi kita karena bukan keluarga atau sahabatnya tentu memandang upaya tersebut sebagai beban. Namun, bagi orang yang mengasihi kita, itu bukanlah beban, melainkan tanggung jawab. Sebagai orang Kristen, kita memiliki tanggung jawab kasih. Mereka yang belum mengenal Tuhan akan dapat melihat gambar Allah, atau siapa Allah, melalui kita.

Sudahkah orang lain melihat gambar Allah dari kasih kita kepada sesama? Jika belum, renungkanlah apa yang menghalangi kita untuk mengasihi orang tertentu. Berdoalah supaya hati kita dilembutkan agar kelak dapat kembali mengasihinya.

3. Kita diubah menjadi serupa gambar Allah

“Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” – 2 Korintus 3:18

Banyak orang meminta Tuhan mengubah mereka, tetapi dengan patokan gambar yang mereka buat sendiri. Misalnya, minta diberi kekayaan, pasangan yang cantik atau ganteng, pangkat tinggi, rumah mewah, dan lain sebagainya.

Mudah saja bagi Tuhan untuk mengubah kondisi di luar diri kita. Namun, Dia lebih suka mengubah sisi dalam manusia karena ingin kita menjadi serupa gambar Allah, bukan gambar dunia.

Perubahan yang sejati dan tahan lama bermula dari dalam ke luar. Saat hati kita diubah, pola pikir pun berubah. Karena pola pikir berubah, tindakan kita ikut berubah. Karena tindakan berubah, hasil yang diperoleh pun berbeda, dan secara jangka panjang, dampaknya akan memengaruhi masa depan kita.

Jika melalui banyak peristiwa, Tuhan mengubah hati dan pikiran kita, bergembiralah karenanya. Misalnya, dari yang tadinya pelit, kita jadi murah hati. Bersyukurlah karena kita diproses menjadi karakter yang lebih baik. Dengan mengalami perubahan secara rohani, situasi eksternal kita pun dapat berubah.

Mari kita syukuri gambar Allah dalam diri kita, juga proses yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Kasihilah sesama, termasuk mereka yang membenci kita. Bersyukurlah untuk setiap perubahan positif, sekecil apa pun, yang membuat kita makin serupa dengan gambar Allah. Amin.

Source : https://gkdi.org/blog/gambar-allah/

Tags