Benarkah Alkitab Dipalsukan (Sumber : The Good Way)

Benarkah Alkitab Dipalsukan


  1. Pernyataan Tanpa Bukti
  2. Apakah Islam Telah Membatalkan Semua Agam Sebelumnya
  3. Bahan Kajian

BENARKAH ALKITAB DIPALSUKAN?

A. PERNYATAAN TANPA BUKTI

"Kami orang-orang Muslim telah dipilih Allah karena Dia telah menjadikan Al-Qur'an dan di dalamnya termasuk semua agama surgawi. Jadi, Islam telah meniadakan semua agama-agama sebelumnya".

Dari seorang Koresponden di Tunisia.

Damai sejahtera dan anugerah dari Allah bagimu. Ada satu pertanyaan yang perlu dijawab yaitu: "Mengapa saya harus percaya kepada Al-Masih yang mati dikayu salib sedangkan Al-Qur'an berkata bahwa Allah telah mengangkat-Nya".


Memang benar, apa yang dikatakan Al-Qur'an yang berkata bahwa Allah telah mengangkat Dia, tetapi itu terjadi setelah Dia wafat, karena Al-Qur'an berkata, "Hai, Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu (Inni mutawaffika) dan mengangkat kamu kepadaKU dan membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu diatas orang-orang kafir hingga hari kiamat". (S.3 Ali Imran 55).

Walaupun ayat-ayat ini cukup jelas, para cendikiawan Islam mempunyai pendapat berbeda dalam menafsirkan maksud ayat tersebut. Satu golongan berkata bahwa "al-wafat" (ayat) disini bukan berarti "mati", dan ada golongan lain berkata arti kata itu mati dan masih ada berbagai penafsiran yang masing-masing golongan memakai sebagai pendukungnya.


Golongan pertama menjelaskan sebagai berikut:

  1. Tidur: "Dari Al-Muthana yang diceritakan oleh Ishaq yang diperoleh dari Abdullah bin Jafar dan dia memperoleh dari ayahnya yang diperoleh dari Rabia bahwa "Inni mutawaffka" berarti "wafat sedang tidur". Dan Allah membangunkan dia dari tidurnya" (H. At-Tabari 7133).

  2. Meninggalkan dunia ini: Dikutip dari Ali bin Sahil, dari Dhmiri anak Rabia, anak Shudab dari Matar Al-Waraq ketika ia berkata, "Mengambilnya dari dunia ini dan bukan lewat kematian". (H. At-Tabari 7134).

  3. Memiliki seorang atau sesuatu: Dari Yunis yang berkata,: "Kami diceritakan oleh Ibnu Wahab yang mengutip dari Ibnu Zaid bahwa Inni mutawaffika berarti Qabidhak atau saya memiliki anda" (H. At-Tabari 7139).

Dan golongan kedua mengakui bahwa al-wafat disini berarti wafat (mati) dan mereka mempunyai alasan-alasan sebagai berikut:

  1. Dari Al-Muthana, dari Abdullah bin Saleh dari Ali dan dari Ibnu Abbas yang berkata: Innimutawaffika berarti "Aku memanggil kamu supaya wafat" (H. At-Tabari 7142).

  2. Ibnu Haid berkata bahwa Selma menceritakan dari Ibnu Ishaq yang diterima dari Wahab Ibnu Munabi Al-Timani yang berkata: "Allah membiarkan Isa bin Mariam (Yesus, anak dari Maria) mati selama tiga jam dan kemudian membangkitkannya" (H. At-Tabari 7142).

  3. Ibnu Hamid berkata: "Kami diceritakan oleh Selma, dikutip dari Ibnu Ishaq bahwa orang-orang Kristen mengatakan bahwa Allah memanggil dia selama 7 jam kemudian Allah membangkitkan dia lagi." (H. At-Tabari 7143).

Golongan ketiga berkata bahwa "al-wafat" disini berarti "menunda atau menangguhkan". Golongan ini bergantung kepada beberapa perkataan yang diturunkan dari Muhammad yang berkata bahwa Isa anak Maryam akan datang kembali dan membantai orang-orang anti Al-Masih, kemudian tinggal di Dunia untuk beberapa saat (para pembawa cerita berbeda pendapat tentang lama waktunya) dan kemudian dia akan mati dan orang-orang Muslim akan menyembahyangi dia dan menguburkannya (H. At-Tabari 204/3).

Karena adanya perbedaan pandangan di antara teolog Muslim dan perbedaan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an tentang hari-hari terakhirnya Al-Masih maka seorang penyelidik yang sungguh-sungguh hanya bisa mengambil jalan mencari ayat-ayat Injil karena Injil tidak ada pertentangan tentang kematian Al-Masih, kebangkitan-Nya, dan kenaikan-Nya ke Surga.

Sebenarnya, ada ayat-ayat dalam Al-Qur'an yang dapat dengan pasti menjawab pertanyaan tentang kematian Al-Masih walaupun demikian ada beberapa penafsiran tetap berpegang pada penafsiran harafiah dari ayat: "Mereka tidak membunuh dia dan juga tidak menyalibkan dia "(S.4 An-Nissa 157). Yang pertama dari ayat-ayat Al-Qur'an ini dimana Allah berfirman: Hai putra Maryam adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah? Isa menjawab: Maha suci Engkau..... Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku.....maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka". (S.5 Al-Maaidah 116-117).

Bukti-bukti tentang kematian Al-Masih itu luar biasa banyaknya dan saya telah menulisnya di dalam buku yang berjudul "Salib dalam Injil dan Al-Qur'an" Anda dapat memperolehnya dari:

B. APAKAH ISLAM TELAH MEMBATALKAN SEMUA AGAMA SEBELUMNYA

Ada gagasan yang tersebar di antara orang muslim yang mengatakan bahwa Al-Qur'an telah membatalkan agama Tuhan sebelumnya yang terdapat di dalam Taurat dan Injil. Banyak yang memegang secara fanatik pendapat ini dan melawan kita dengan kesimpulan-kesimpulan yang menakjubkan.

Mereka mengatakan bahwa semua nabi pada zaman Musa dan yang kemudian setelah dia berjalan dalam Hukum Musa dan mengikuti ajaran yang dibawa, setiap nabi pada zaman Al-Masih dan sesudahnya mengikuti ajaran yang dibawa oleh Al-Masih sampai masa Muhammad; dan Hukum dari Muhammad tidak pernah akan dibatalkan lagi sampai hari Penghakiman. Kita dapat membaca bahwa beberapa cendikiawan Islam sudah memutuskan bahwa Muhammad adalah nabi untuk zaman ini dan bahwa agamanya telah menghapuskan agama-agama nabi terdahulu. Untuk menanggapi pernyataan yang demikian, kita perlu memberitahukan bahwa pernyataan semacam itu sama sekali tidak berdasarkan kebenaran, karena Al-Qur'an sendiri tidak pernah mengatakan sama sekali tidak berlaku dan gagal dalam segala aspeknya; itu hanya sebuah pendapat belaka, karena hal itu hanya memutar-balikkan ajaran Al-Qur'an, membingungkan dan membuat suatu pernyataan yang tidak pernah Al-Qur'an katakan.

Dalam kenyataan, pernyataan ini tidak dapat bertahan terhadap ujian kebenarannya sebagai berikut:

  1. Pembatalan berarti "membuat tidak berlaku" dan "menggeser pengaruh" dan ini tidak dapat diberlakukan terhadap isi Taurat dan Injil karena kebenarannya sampai sekarang masih berlaku dan mengikat ratusan juta jiwa manusia di seluruh dunia. Kita hidup menurut kuasa ini. Penguasa-penguasa yang terbesar di dunia ini, yang memiliki keahlian dan kemajuan di dalam bidang ilmu dan penemuan, mengikuti pandangan Taurat dan Injil. Tidak ada seorangpun dapat membantah bahwasanya kebanyakan bangsa berhutang budi, karena peradaban yang sekarang dicapai di dalam negaranya adalah karena penyebaran Taurat dan Injil di antara penduduknya.

  2. Seandainya Al-Qur'an datang untuk membatalkan Taurat dan Injil dan membuat kewibawaannya tidak berlaku, maka Al-Qur'an tidak dengan tegas-tegas memerintahkan manusia untuk tetap berpegang kepada keputusan-keputusan dan mengikuti doktrin-doktrin yang ada sebelumnya dan Al-Qur'an tidak akan berkata "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat dan Injil "(S.5 Al-Maaidah 68).

    Sebaliknya bunyi ayat tersebut mesti begini "Hai Ahli Alkitab kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hinga kamu menegakkan ajaran-ajaran Al-Qur'an dari pada Taurat dan Injil yang sudah dibatalkan itu". Selanjutnya, andaikata Al-Qur'an diturunkan untuk membatalkan Injil, maka tidak tepat ayat yang berikutnya berkata "Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik" (S.5 Al-Maaidah 47). Lagi pula andaikata Allah menghendaki tidak berlakunya Taurat dan Injil dengan menurunkan Al-Qur'an, maka tentunya Allah tidak mengijinkan Al-Qur'an berkata kepada Muhammad "Dan bagaimana mereka mengangkatmu menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang di dalamnya (ada) hukum Allah..." (S.5 Al-Maaidah 43). Andaikata Allah telah mengirimkan Muhammad untuk membatalkan agama Musa dan Al-Masih, inipun tidak sesuai dengan Al-Qur'an yang berkata "Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu" (S.10 Yunus 94).

  3. Andaikata Al-Qur'an membatalkan Taurat dan Injil dan mengambil alih kedudukannya, maka seharusnya isi Al-Qur'an itu berisi semua perintah-perintah, keputusan-keputusan dan jalan keselamatan dari Taurat dan Injil atau seharusnya paling tidak berisi ajaran-ajaran yang lebih baik yang lebih mengangkat martabat dan kehidupan manusia. Tetapi terbuktinya tidak ada penggantian di antara seluruh umat manusia dalam segala masa yang berisi seperti di dalam kitab-kitab itu dan Al-Qur'an sendiri menyaksikan kenyataan ini ketika ia berkata "Dan kami tidak mengutus sebelum kamu kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui" (S.16 An-Nahl 43). Al-Jallalain menguraikan bahwasanya, "Orang yang mempunyai pengetahuan" itu adalah ahli-ahli Taurat dan Injil. Kalau ada yang tidak mengerti sesuatu, mereka pasti akan mengetahuinya (Al-Jallalain hal. 357).

Kami membaca di dalam Al-Qur'an yang menyatakan sebagai berikut:

"Dan sesungguhnya wahyu ini benar-benar diturunkan oleh Allah, diturunkan oleh roh suci ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang dari antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas dan sesungguhnya ayat-ayat itu benar-benar dalam kitab-kitab orang yang terdahulu" (S.26 Asy-Syu'araa 192-196).

Ini berarti bahwa di dalam Taurat dan Injil ada semuanya yang ada dalam Al-Qur'an tentang ajaran-ajarannya, keputusan-keputusan dan ajaran-ajaran rohani sehingga Al-Qur'an tidak dapat membatalkan Taurat dan Injil karena Taurat dan Injil adalah hukum Allah.

Mungkin pendapat tentang pembatalan ini dipengaruhi oleh situasi pada waktu itu, di mana manusia banyak dipengaruhi oleh kritik ahli-ahli teolog liberalisme/modern yang muncul oleh orang-orang atheis (fasik) di Eropa yang mengatakan bahwa penciptaan bumi dan Adam dalam Taurat itu bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Tetapi bagaimanakah orang-orang Muslim dapat melupakan bahwa kritik-kritik ini juga telah mengkritik peristiwa yang sama yang terdapat dalam Al-Qur'an, misalnya, "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian ia bersemayam di atasnya untuk mengatur segala urusanNya (S.10 Yunus 3). Dan Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar dan Ia menciptakan jin dari nyala api" (S.55 ARRachmat 14-15).

Ahli-ahli teolog liberalisme/modern telah mengatakan bahwa Injil tidak menuliskan kabar tentang Al-Masih secara tepat dan bahwasanya Markus dan Lukas bukanlah murid Al-Masih maka mereka tidak melihat Dia dan tidak dapat menuliskan apa yang dikatakan oleh Al-Masih. Mereka juga mengatakan bahwa Yohanes telah menulis Injilnya lima puluh tahun setelah Al-Masih naik ke Surga. Kami tidak dapat menerima karena bagaimana mungkin dia dapat menghafal dan mengingat semua apa yang dikatakan dan dilakukan Al-Masih serta menuliskannya semua secara rinci perkataan dan perbuatan