Arab Saudi Tahun 2013

Para pemimpin gereja di Arab Saudi kerap kali mendapat serangan dari polisi agama (mutawwa'in). Mereka bertindak secara independen di luar komando pemerintah dan berusaha menciptakan kerajaan agama lain, yang lebih dikenal dengan Commission for Promotion of Virtue and Prevention of Vice. Rezim Arab Saudi sendiri mengaku telah mencoba menghentikan aksi mereka, tetapi mutawwa'in melanjutkan aksinya sebagai polisi "moral" di Arab Saudi.

Pendeta G, seorang pendeta terkemuka dan ayah dari delapan anak, pindah ke Arab Saudi dari Eritrea untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Ia dan tiga pendeta lainnya mulai membangun gereja rumah, yang secara rutin beribadah setiap hari Jumat. Lebih dari 150 warga asing beribadah di sana. Untuk keselamatannya dan keluarganya, ia memutuskan untuk meninggalkan Arab Saudi. Secara terpisah, ia dan keluarganya pindah ke negara tetangga dan berharap dapat berkumpul kembali dengan selamat.

Sumber: Buletin Frontline Faith, Edisi November -- Desember 2012, Halaman 8

Pokok Doa:

  1. Mari kita berdoa kepada Tuhan Yesus agar Ia melindungi anak-anak-Nya yang menetap dan melayani di Arab Saudi.

  2. Berdoa bagi pendeta G dan keluarganya, agar Tuhan senantiasa melindungi dan suatu hari nanti mereka dapat berkumpul kembali.

e-JEMMi 03/2013

Kategori

Kolom Publikasi

  • Arab Saudi
  • Mutawwa'in (Polisi Agama)
  • Gereja rumah
  • Penindasan agama
  • Pendeta G
  • Komunitas Kristen
  • Para pemimpin gereja di Arab Saudi kerap menghadapi serangan dari polisi agama (mutawwa'in) yang bertindak di luar komando pemerintah.
  • Meskipun ada penolakan dari rezim Arab Saudi, para mutawwa'in terus menjalankan fungsi 'polisi moral' yang menekan kegiatan keagamaan.
  • Pendeta G dan beberapa pendeta lainnya berusaha mempertahankan kegiatan rohani dengan membangun gereja rumah yang dihadiri oleh banyak warga asing.
  • Demi keselamatan pribadi dan keluarga, Pendeta G akhirnya terpaksa meninggalkan Arab Saudi dan pindah ke negara tetangga.

Situasi komunitas Kristen di Arab Saudi dipenuhi ketegangan karena adanya serangan yang rutin terhadap para pemimpin gereja dari polisi agama (mutawwa'in). Polisi ini beroperasi secara independen dari pemerintah dan terus menjalankan fungsi "polisi moral" meskipun upaya penahanan telah dilakukan. Di tengah penindasan ini, Pendeta G dan tiga pendeta lainnya membangun gereja rumah yang dihadiri oleh lebih dari 150 warga asing. Namun, demi keselamatan diri dan keluarga, Pendeta G memutuskan untuk meninggalkan Arab Saudi dan pindah ke negara tetangga, berharap untuk dapat berkumpul kembali dengan aman.