Ketika saya sedang mengemudi dua puluh menit jauhnya dari lingkungan rumah saya, mobil saya memasuki dunia lain. Dua puluh menit bukanlah suatu jarak yang begitu jauh secara geografis, tetapi jarak tersebut bisa terlihat seperti melewati dunia yang lain secara kultural. Lingkungan saya sendiri (yaitu Yudea saya) secara kultural tidak asing bagi saya; pemandangannya dan suara-suaranya dan ritmenya masuk akal bagi saya. Saya mengenal orang-orang di sini, dan orang-orang mengenal saya. Akan tetapi, hanya berjarak dua puluh menit jauhnya dari rumah saya terdapat suatu tempat yang sangat berbeda -- kota St. Louis.
Seperti halnya Yesus meminta murid-murid-Nya untuk melangkah menyeberangi batasan kultural yang memisahkan Yudea dan Samaria, begitu pula Allah memanggil setiap kita (pada titik tertentu) untuk menyeberangi pembatas-pembatas kultural terdekat kita sendiri (di mana pun mereka berada) dan terlibat dalam pekerjaan Allah di antara mereka yang berbeda dengan kita. Di dalam dunia saya sendiri, hal ini berarti turut terlibat di dalam pekerjaan Allah di kota tersebut.
Murid-murid Yesus tadinya merasa tidak yakin dengan Samaria. Mereka telah dididik seumur hidup mereka untuk menghindari Samaria, dan oleh karenanya bahkan gagasan untuk melangkah ke daerah Samaria membuat kaki misional mereka gemetar di dalam sepatu bot misional mereka. (Murid-murid pernah bertanya kepada Yesus apakah mereka dapat menurunkan bola api dari langit ke atas desa orang Samaria.) Kita pun tidak jauh berbeda saat ini. (Orang Kristen Aman dengan mengunci pintu-pintu mobilnya ketika sedang mengemudi di dalam kota, contohnya.) Ketika sudah membahas tentang perkotaan, segudang hal klise, stereotip, prasangka, dan peringatan-peringatan yang diberikan untuk maksud baik dapat berkombinasi dengan keragu-raguan kita untuk membuat kita merasa mual dengan pekerjaan Allah di perkotaan.
Kebutuhan Akan Kemurahan Hati Perkotaan
Dahulu ada suatu waktu, beberapa dekade yang lalu, ketika orang-orang Kristen yang waspada mulai menyadari populasi global bergeser menuju ke pusat perkotaan. Negara-negara yang lebih miskin memimpin jalan; para fakir miskin, karena putus asa mencari pekerjaan, mulai berdatangan ke megakota seperti Calcutta, Mexico City, dan Sao Paulo. Akan tetapi, seluruh dunia selebihnya tidak ketinggalan jauh; karena berbagai alasan yang saling terkait, populasi dunia kita sedang bergerak menuju perkotaan. Orang-orang Kristen mulai membicarakan, secara bijak dan benar, tentang "ladang misi yang baru" yang direpresentasikan oleh kota-kota kita.
Hal ini terjadi beberapa dekade yang lalu. Sekarang ini, barangkali, lebih cocok untuk menyebut kota sebagai ladang misi yang jelas dan tidak terelakkan. Kota-kota di mana saja sedang bertumbuh, merepresentasikan lebih banyak inci persegi dunia ini dari pada sebelumnya. Bahkan, jika Anda melihat kepada di mana orang-orang berada, kota merupakan inci persegi yang penting secara tidak proporsional dan strategis bagi umat Allah untuk dilayani.
Perkotaan adalah ladang misi dengan kebutuhan-kebutuhan dan peluang-peluang yang unik. Kebutuhan-kebutuhan tersebut sedikit jelas: sekolah-sekulah yang kekurangan dana, gedung-gedung tua yang meluruh, ketunawismaan, kemiskinan, pengangguran, ketegangan rasial. Peluang-peluangnya pun hampir mencengangkan: Orang-orang dalam jumah besar di suatu tempat yang kecil, arus pengungsi dan imigran yang kuat dari berbagai belahan dunia, gereja yang beraneka ragam dan kreatif. Kota adalah sebuah wilayah yang hidup yang di dalamnya Allah bekerja secara aktif.
Tidak ada sesuatu yang baru tentang hal ini. Allah selalu tertarik dengan perkotaan. Sejak zaman Adam, Hawa, Kain, dan Habil tersandung keluar dari Taman Eden dan membentuk kota-kota, Allah telah mengikuti umatnya ke sana. Allah membuat umat-Nya sendiri mendirikan kota-kota pengungsian, dan pekerjaan penyelamatan-Nya di dalam kota-kota ditemukan di seluruh isi Alkitab. Umat Allah tidak hanya mendirikan kota Yerusalem, tetapi Allah menggu