Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hereProfil Bangsa / Profil Bangsa

Profil Bangsa


Suku Enrekang (Sulawesi)

Suku Tawoyan (Kalimantan)

Betawi di Indonesia

Pendahuluan/Sejarah

Orang-orang Betawi dianggap sebagai penduduk asli Jakarta. Mereka sering kali disebut "Orang-orang Jakarta, Batavi, Batawi, atau Jakarte". Mereka berasal dari campuran orang-orang yang tiba di Batavia (nama sejarah Jakarta), dan telah mendiami kota pelabuhan ini sejak abad ke-15. Orang-orang Betawi asli didapati di daerah-daerah yang jauh dari Jakarta, seperti Pasar Minggu di Jakarta Selatan, Condet di Jakarta Timur, dan daerah Kampung Sawah di Bekasi, Jawa Barat.

Suku Pindah (Sumatera)

Suku Pancana (Sulawesi)

Suku Pancana termasuk salah satu anak suku Buton. Mereka mendiami bagian tengah pulau Buton, dan mereka memiliki dialek yang khas, berbeda dengan suku lainnya. Ciri umum yang dikenal adalah sebagai pelaut dan pedagang antar pulau. Setiap pulau di Indonesia hampir pasti dikunjungi oleh mereka.

Suku Krui (Lampung)

Suku Aneuk Jamee (Aceh)

Suku Aneuk Jamee

Suku Belide (Sumatera)

Suku Kulisusu (Sulawesi)

Orang Kulisusu berdiam di sudut timur laut Pulau Buton. Daerah tersebut cukup produktif. Mereka umumnya adalah petani ladang dan sawah dengan mengandalkan curah hujan. Hasil bumi tersebut cukup membuat mereka tidak kekurangan bahan pangan. Sama seperti bagian lain di Sulawesi Tenggara, keagamaan mereka bercampur dengan agama suku.

Suku Berau (Kalimantan)

Berdiam di wilayah Kecamatan Tanjunggredeb, Gunung Tabur, Sembaliung, dan Bebanir. Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Berau dengan dialek khas. Daerah ini memunyai sumber daya alam yang melimpah, emas, batu bara, minyak bumi, gas alam, serta hasil laut dan tambak. Suku ini disebut sebagai 'pundi-pundi' Kalimantan Timur. Walaupun sumber alam yang menggiurkan dan pertumbuhan ekonomi berskala internasional, belum tentu hasil pendapat seperti itu dapat dinikmati oleh suku ini. Jika tidak, maka mereka hanya menumpang hidup dan tetap miskin di tengah-tengah daerah yang kaya raya. Mereka masih tetap hidup sederhana. Tapi dalam kesederhanaan itu, mereka sangat memerlukan Injil, berita pengharapan dan pembebasan dosa.