Henrietta Mears (1890 — 1963), Direktur Pendidikan Kristen selama bertahun-tahun di First Presbyterian Church di Hollywood, telah meninggal dunia lebih dari enam puluh tahun yang lalu. Namun, Ibu Penginjilan Modern ini masih memiliki banyak hal yang dapat diajarkan kepada orang-orang Kristen abad ke-21 yang sehaluan, jika mereka bersedia mengingat dan mendengarkannya.
Ya, saya memang mengatakan "Ibu." Jauh sebelum Billy Graham, Bill Bright, Jim Rayburn, Ray Stedman, atau tokoh-tokoh lain dari apa yang kemudian dikenal sebagai gerakan neo-Injili pascaperang -- yang ditandai dengan terbentuknya National Association of Evangelicals pada tahun 1942 -- Mears telah memprakarsai transformasi fundamentalisme teologis yang sempit dan tertutup menjadi wujud kepercayaan dan praktik Kristen yang lebih menarik dan inklusif.

Dia mengembangkan pandangannya yang khas tentang iman selama tahun-tahun formatifnya di wilayah Midwestern bagian utara Amerika Serikat, tetapi setelah kedatangannya pada tahun 1928 di Hollywood, California, iman yang menyentuh hati dan mencerdaskan akal ala Mears memicu pergeseran besar dalam kepekaan Kristen yang terasa di seluruh Amerika Serikat dan bahkan dunia.
Selama tiga puluh lima tahun pelayanannya di First Presbyterian Church Hollywood, Mears membangun program pendidikan Kristen terbesar dalam denominasi tersebut dan menjadi salah satu dari sepuluh yang terbesar di Amerika Serikat.
Dia mendirikan Forest Home, sebuah pusat retret interdenominasi di Pegunungan San Bernardino, California Selatan, yang sebelum pandemi COVID-19 menyambut lebih dari 60.000 pengunjung setiap tahun di berbagai lokasi.
Dia ikut mendirikan Hollywood Christian Group, sebuah pelayanan yang berkembang pesat bagi para selebritas media pada masa ketika banyak orang percaya menganggap bahwa tidak ada kebaikan yang bisa diharapkan dari menjalin hubungan dengan para pesohor Hollywood.
Dia memulai Gospel Light, yang kemudian menjadi salah satu perusahaan penerbitan keagamaan independen terbesar di negara ini dan akhirnya memproduksi serta mendistribusikan ratusan ribu materi pendidikan agama, baik secara nasional maupun internasional.
Dia mendirikan Gospel Light International, sebuah yayasan nirlaba yang berkomitmen untuk melatih para pemimpin Kristen lokal di seluruh dunia -- beberapa dekade sebelum pentingnya kepemimpinan berbasis komunitas lokal diakui secara luas.
Mears menulis "What the Bible Is All About", salah satu buku pegangan Alkitab paling populer di abad ke-20, dengan lebih dari empat juta eksemplar yang telah dicetak bahkan enam dekade setelah kematiannya.
Dia memprakarsai program magang pelayanan mahasiswa yang akhirnya mengirim para pemuda ke kamp-kamp migran di pusat kota Los Angeles dan di Central Valley, serta ke Eropa dan Asia pascaperang.
Dia membimbing ratusan mahasiswa yang kemudian masuk ke dalam pelayanan Kristen formal sebagai pendeta, direktur pendidikan Kristen, atau misionaris, dan ribuan lainnya yang menjadi pemimpin awam berdedikasi di komunitas mereka.
Anak didiknya dapat ditemukan di berbagai tempat, dari San Diego hingga Seattle, Berkeley hingga La Jolla, Walnut Creek hingga Spokane -- dan itu baru mereka yang menetap di Pesisir Barat Amerika Serikat.
Namun, terlepas dari semua pencapaian yang abadi ini, Mears telah banyak dilupakan oleh kaum Injili masa kini. Sebagian besar dari mereka telah menyimpang jauh dari visi pendirinya tentang ortodoksi Kristen yang seimbang dan relevan secara budaya. Mungkin sudah saatnya mengingat kembali prioritas yang dia anut.
Meskipun dia selalu percaya bahwa memelihara kehidupan iman yang mendalam -- yang dapat disebut sebagai penginjilan dan pemuridan -- harus menjadi titik awal, setelah komitmen itu dibuat, sangat penting bagi orang percaya untuk melayani dunia yang diberkati tetapi rusak. Bukanlah perannya untuk menentukan di mana atau bagaimana para petobat seharusnya memperbaiki kerusakan tersebut — hal itu menjadi urusan Tuhan. Namun, untuk memberi mereka gambaran tentang berbagai kemungkinan, dia melibatkan murid-muridnya dalam beragam program penginjilan serta proyek pelayanan sosial, mulai dari mengajar bahasa Inggris di Los Angeles hingga bekerja keras di kamp-kamp rekonstruksi luar negeri setelah Perang Dunia Kedua.
Alih-alih menjauh dari perkembangan sosial-budaya yang menyimpang dari norma-norma Kristen yang lazim, Mears justru menganjurkan keterlibatan yang bijaksana dengan dunia di luar gereja. Bagi orang percaya yang memahami alasan di balik imannya, tidak ada alasan untuk takut terhadap budaya yang lebih luas -- atau mencelanya.
Hal ini terutama berlaku untuk hal-hal yang berkaitan dengan intelektualitas. Mears sangat menghargai kehidupan intelektual dan mendorong murid-muridnya untuk melakukan hal yang sama. Dia sering menantang anggota Departemen Mahasiswa untuk mengejar kesempatan pendidikan terbaik yang tersedia dan tidak menghindari pertanyaan-pertanyaan hidup yang membingungkan.
Pada era yang dipenuhi berbagai fobia terhadap masa kini dan kecemasan akan masa depan, Mears justru mencari titik temu dengan mereka yang sering dijauhi oleh orang lain. Dari penyembuh iman seperti Oral Roberts hingga para pemimpin kelompok agama lain seperti Aimee Semple McPherson, pemahamannya akan iman Kristen mendorongnya untuk membuka diri dalam semangat penerimaan. Dia bertemu dengan Paus Pius XI dan menjalin hubungan baik dengan para rohaniwan maupun awam Katolik Roma, serta menolak terlibat dalam retorika anti-Katolik yang sarat teori konspirasi pada zamannya.
Perspektif teologis yang disuarakan Mears dengan lantang dan diwujudkan secara praktis telah memicu pembaruan dalam kepercayaan Kristen sepanjang abad lalu.
Jika kaum Injili masa kini berharap dapat menyalakan kembali api pencurahan Roh Kudus yang serupa, mereka sebaiknya mengingat teladan dari ibu mereka.
(t/Jing-jing)
|
Diambil dari: |
||
|
Nama situs |
: |
Church Growth |
|
Alamat artikel |
: |
https://churchgrowth.org/henrietta-mears-the-forgotten-mother-of-modern-evangelicalism/ |
|
Judul asli artikel |
: |
Henrietta Mears: The Forgotten Mother of Modern Evangelicalism |
|
Penulis artikel |
: |
Arlin C. Migliazzo, Ph.D. |
Kolom Publikasi
- Log in to post comments