Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are herePenginjilan / Pendekatan Budaya Penginjilan

Pendekatan Budaya Penginjilan


By The Houw Liong - Posted on 14 February 2020

https://www.researchgate.net/project/Pendekatan-Budaya-Penginjilan

Cara Penginjilan
Tuhan Yesus dengan wanita Samaria (Yohanes 4) Ada beberapa hal yang penting kita perhatikan dalam metode Yesus dalam peristiwa ini.
Yesus sengaja mencari wanita itu (Yohanes 4:4).
Yesus tidak terikat pada tradisi dan tidak terpengaruh oleh diskriminasi rasial (Yohanes 4:9).
Yesus memilih waktu yang tidak akan menimbulkan salah paham (4:6). Sebaiknyalah melakukan MIP kepada teman sejenis untuk menghindari motif kita disalahtafsirkan (1Tesalonika 5:22; 2Korintus 6:3).
Yesus seorang diri bercakap-cakap dengan pendengar-Nya (Yohanes 4:8).
Pendekatan Yesus pada hal rohani adalah wajar dan bijaksana; misalnya, Ia minta tolong pada wanita itu (Yohanes 4:7) dan barulah Dia mengarahkan percakapan dari air minum kepada air hidup.
Yesus tidak dibelokkan dari tujuan-Nya oleh pertanyaan mengenai agama (Yohanes 4:20-24).
Yesus memaparkan rahasia keinginan hati perempuan itu (Yohanes 4:15).
Yesus menunjuk kepada dosanya (Yohanes 4:16-18).
Yesus memperkenalkan diriNya sebagai Mesias (Yohanes 4:26). Tujuan MIP ialah membawa orang ke dalam persekutuan dengan Kristus.
Budaya dan Identifikasi
Lebih Jauh Tentang Budaya dan Identifikasi
Jika ada orang Kristen yang menghakimi orang non-Kristen dengan menyebut mereka sebagai jahat, kafir, dan berdosa, orang Kristen itu telah bersalah. Budaya Kristen yang seperti itu sebenarnya juga suatu dosa. Pekerja lintas budaya perlu memahami bahwa sebagian besar budaya adalah netral.
????
Lausanne Covenant dalam artikelnya, Penginjilan dan Budaya, mengatakan, "Karena manusia adalah ciptaan Tuhan, sebagian budayanya kaya dalam hal keindahan dan kebaikan. Dalam komentarnya, John Stott menjelaskan, "Budaya bisa disamakan dengan permadani hiasan, rumit namun indah, yang dibuat oleh masyarakat tertentu untuk mengekspresikan identitas hukumnya. Kepercayaan dan budaya adat adalah bagian dari permadani ini. Lausanne Covenant menentang pemasukan, "budaya alien", ke dalam Injil. Willowbank Report dengan tegas menyatakan, "Terkadang dua kesalahan budaya ini dilakukan bersamaan, dan si penginjil bersalah karena imperialisme kultural merusak budaya lokal dan bahkan membawa masuk budaya alien."
Setiap budaya harus diuji dan dinilai oleh Kitab Injil seperti yang ditegaskan di Lausanne Covenant.
Kebanyakan budaya bisa diperluas menjadi sarana untuk mengabarkan Injil.
Dalam kitab Kisah Para Rasul 17:26-28, Paulus dalam sidang Areopagus di Atena mengatakan, bahwa Tuhan sudah menentukan tempat yang tepat di mana orang harus tinggal. Karena itulah, budaya merupakan bagian dari rencana Tuhan. Dan Ia menempatkan orang di tempat di mana mereka harus tinggal agar mereka dapat mencari dan menemukannya.
Pada kesempatan ini, kita mungkin menemukan bahwa pendekatan Paulus terhadap orang Atena berbeda dengan pendekatannya pada jemaatnya. "Pandangan dunia", orang Atena perlu diperhitungkan dan diperhatikan.
Paulus sudah melihat bahwa kota itu penuh dengan berhala dan hal itu membuatnya sedih. Dalam pesannya, ia mulai membuat referensi mengenai cara hidup rohani dan objek berhala mereka. Secara khusus, dia sangat tertarik dengan sebuah mezbah yang bertuliskan: KEPADA ALLAH YANG TIDAK DIKENAL.
Lalu ia menyatakan siapa Tuhan itu, Sang Pencipta, Allah surga dan bumi yang tidak menetap di kuil-kuil buatan manusia. Dialah Pemberi semua nafas kehidupan. Kemudian Paulus membuat referensi mengenai di mana manusia harus tinggal sebagai sesuatu yang ditentukan Tuhan. Tuhan melakukan ini agar orang-orang mencari dan bisa menemukan-Nya.
Paulus juga mengutip filsafat Yunani dan menegaskan apa yang telah mereka katakan. Dari kutipan salah satu puisi mereka, dia memperkenalkan Injil. Setelah membicarakan inti dari kepercayaan mereka, dia memperkenalkan kebenaran.
Berbagai macam tanggapan muncul ketika Paulus membicarakan penyaliban. Hanya sedikit yang memercayainya, termasuk seorang anggota Areopagus.
Rasul Paulus peka terhadap budaya. Dia tentu sudah menyadari, bahwa orang-orang tersebut sangat berpegang pada budayanya dan dibentuk oleh latar belakang mereka ketika dia menulis surat 1 Korintus 9. Konteks ini berkaitan dengan penyerahan hak-haknya sebagai seorang rasul. Dia membuat satu pernyataan yang mengagumkan, "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Lebih jauh lagi dia mengatakan, "Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat (non-Yahudi) aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat." Perhatikanlah kata, "seperti", dan renungkan artinya. Paulus bertekad untuk menjadi, "segalanya bagi semua manusia", agar dapat menyelamatkan mereka.
Dalam beberapa kitab Galatia, Paulus mengenali bahwa hanya ada satu Injil. Namun, Injil ini akan diartikan berbeda oleh orang-orang Yahudi dan non-Yahudi. Oleh karena itu, dalam membawa berita Injil kepada orang non-Yahudi, orang Yahudi tidak boleh memaksakan unsur-unsur keyahudiannya kepada orang non-Yahudi. Karena unsur-unsur tersebut tidaklah penting untuk Injil, malah merusakkan kebenaran Injil.
Masalah yang umum dengan para pekerja lintas budaya adalah mereka sering kali sudah memiliki pandangan awal tentang apa yang membantu pelayanan mereka. Bukan hanya memiliki pola budayanya sendiri yang ternyata sulit untuk diubah, mereka juga membawa, "sub-budaya Kristen" mereka. Misalnya, seorang misionaris yang terlibat dalam perintisan gereja, tentunya sudah memikirkan cara perintisan tertentu. Pemikiran seperti itu akan merintangi penginjilan. Yang sama buruknya, orang-orang yang tinggal di kota sasaran penginjilan akan meneliti unsur Kristen baru dan berpikir, bahwa mereka harus menerima dan mempraktikkan unsur-unsur ini agar menjadi orang Kristen. Tidak mengherankan, banyak orang Asia yang memandang agama Kristen sebagai agama Barat.
Melihat kembali sejarah kekristenan pada tahun 1500-1900 di Asia, Paul Johnson membuat pernyataan tajam. "Adalah ketidakmampuan kekristenan untuk berubah dan mengurangi sifat keeropaannya, sehingga kesempatan yang ada terlewatkan. Sangat sering gereja Kristen menempatkan dirinya sebagai perluasan konsep sosial dan intelektual Eropa, daripada sebagai perwujudan kebenaran universal. Meskipun kekristenan lahir di Asia, saat diekspor kembali dari abad enam belas ke depan, kekristenan gagal untuk mendapatkan sifat keasiaannya."
Banyak misionaris Barat pada masa lampau, yang tidak mau mengenali budaya asli tempatnya berada. Karena tekanan dan ketegangan yang akan mereka hadapi dalam proses pengenalan itu. Kini, ketika orang-orang Asia terlibat dalam pelayanan lintas budaya, mentalitas yang sama ini harus disingkirkan. Kita bisa disalahkan karena merusak prinsip alkitabiah misi.