Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereWORSHIP REVOLUTION

WORSHIP REVOLUTION


By novi - Posted on 19 August 2008

Apabila pada masa itu kamu bertambah banyak dan beranak cucu di negeri ini, demikianlah firman TUHAN, maka orang tidak lagi akan berbicara tentang tabut perjanjian TUHAN. Itu tidak lagi akan timbul dalam hati dan tidak lagi akan diingat orang; orang tidak lagi akan mencarinya atau membuatnya kembali (Yeremia 3:16). Artinya, Kehadiran Tuhan tidak bisa dibatasi oleh tempat-tempat tertentu, acara tertentu, atau gereja tertentu.

Pada saat itu Yerusalem, yang lebih luas dari tabut perjanjian, adalah sebuah kota. Di Perjanjian Lama kota berbicara tentang the whole structure artinya keseluruhan struktur terwakili dalam kota itu. Seluruh struktur Yerusalem (Kerajaan Allah) akan disebut tahta Tuhan (ayat 17a). Seluruh anak Tuhan di mana Tuhan hadir disebut tahta Tuhan, karena Tuhan Yesus bertahta dalam hati mereka. Apa jadinya bila kita menjadi Tahta Tuhan? Ayat 17b mengatakan "...dan segala bangsa akan berkumpul kesana..."

Masuk ke dalam Hadirat Tuhan

Jadi bagaimana kita mengalami revolusi dalam penyembahan kita? Kita harus lebih dahulu masuk ke dalam hadirat Tuhan. Untuk masuk ke dalam hadirat Tuhan kita harus senantiasa mengingat harga yang mahal dari penyaliban Tuhan Yesus.

Banyak orang berpikir, masuk ke dalam hadirat Tuhan hanya bisa dilakukan di gedung gereja. Hadirat Tuhan tidak hanya ada di gedung gereja, tapi dimana saja, kapan saja kita berada dan dengan siapa kita bertemu. Sebagian orang berpikir, kita akan masuk hadirat Tuhan setelah menyanyikan dua lagu lambat, tiga lagu cepat, satu lagu lambat, lalu mulai berbahasa roh. Sering kita berpikir bahwa orang protestan itu liturgis, pada hal tanpa sadar kitapun banyak yang terjebak ke dalam liturgi karismatik! Kita seringkali melupakan esensi yang paling mendasar dalam penyembahan kita, yaitu kuasa salib. Ini waktunya untuk bergerak. Bergerak untuk menjadi berkat bagi siapa saja.

Revolusi Penyembahan

Hal yang harus dilakukan dalam revolusi penyembahan. Pertama, hal yang harus direvolusi adalah pola pikir kita tentang kehadiran Tuhan. Tuhan hadir dalam diri kita, bukan karena gegap gempita acara.

Revolusi kedua adalah kita harus sadar bahwa ketika kita sudah masuk dalam hadirat Tuhan, kita adalah seorang imam. Pada zaman Perjanjian Lama, seorang imam harus mambawa keduabelas suku Israel ke hadirat Tuhan. Dia mengatakan bahwa kita adalah kerajaan imam (kerajaan yang semua anggotanya adalah imam). Artinya semua kita bisa jadi imam dan bisa mendapatkan beban bagi bangsa-bangsa itu kepada Tuhan. Inilah yang dimaksud dengan Priestly Worship.

Dan revolusi ketiga adalah, setelah kita membawa bangsa-bangsa (Jemaat atau orang-orang lain) kepada Tuhan, Tuhan akan memakai kita membawa Dia kepada orang lain. Inilah yang disebut Prophetic Worship. Bila kita memiliki hati imam, pasti ada aliran profetis dalam kita. Aliran inilah yang akan menjawab kebutuhan gereja juga orang lain. Tuhan mau kita mengembangkan hal ini. Inilah saatnya kita menyatakan kebenaran ini. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi supaya kita keluar dari kejenuhan dan kebodohan kita. Kita membutuhkan pelayan profetis yang bangkit.

Revolusi penyembahan harus dimulai dari hati. Musik mungkin tetap sama, gaya ibadah kita bisa tetap sama, tapi yang terpenting adalah kita mau menghargai dan berpusat pada pengorbanan Yesus di kayu salib.

Diambil dari:

Judul Majalah : Abbalove, Edisi April 1999
Judul Arikel : Worship Revolution
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Abbalove Ministries
Halaman : 15 -- 16