Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.01 Vol.09/2006 / World Harvest

World Harvest


Jalan Menuju Kebenaran (A Road To Hope)

Seperti yang kita semua ketahui, tahun 2005 lalu diawali dengan luka yang mendalam bagi jutaan manusia di seluruh dunia akibat tragedi tsunami. Kenyataannya, sampai saat ini masih banyak sekali warga Aceh yang hidup dalam trauma dan depresi.

"Bu ... mandi ya?" bujuk seorang perawat kepada wanita setengah baya itu. Namun yang ditanya tetap berdiam diri, pandangan matanya menatap kosong ke depan, matanya selalu berkaca-kaca, dia tidak punya apa-apa lagi, semua keluarganya hilang. Perlahan dia menggeleng, "Tidak mau ... dilap saja ...." Gulungan air bah yang dalam sekejap menyapu habis seluruh keluarganya, membuat sang wanita setengah baya ini trauma terhadap air. Sudah beberapa bulan berlalu, namun dia selalu menggigil dan trauma setiap kali merasakan siraman air pada tubuhnya.

Bencana yang telah merenggut lebih dari 166.000 nyawa dan menghilangkan 133.000 lainnya itu telah menyentuh hati banyak orang untuk membantu mereka dalam segala hal. Banyak organisasi kemanusiaan yang dengan cekatan menyumbang banyak bala bantuan setelah bencana terjadi. Tetapi, beberapa bulan setelah tsunami, banyak dari organisasi-organisasi tersebut juga sudah berkemas dan meninggalkan Aceh karena kondisi di sana sudah sedikit membaik. Hanya beberapa yang masih tinggal untuk terus membantu, salah satunya adalah sebuah organisasi kemanusiaan internasional bernama WORLD HARVEST.

Sejak hari pertama musibah tsunami terjadi dan sesuai dengan permintaan pemerintah Indonesia, World Harvest telah menyumbangkan pertolongan darurat mendasar kepada orang-orang yang terkena musibah di Aceh dan bagian Sulawesi Utara seperti:

  1. Bantuan obat-obatan: Mengirimkan 10 buah kontainer obat-obatan dan peralatan medis sesuai dengan keperluan rumah sakit di Aceh.

  2. Pengiriman paramedis: Mengirimkan dokter-dokter dan perawat-perawat dari Indonesia, Amerika, dan Australia, yang telah menjadi sukarelawan untuk membantu di Aceh.

  3. Pembangunan POSKO: Tempat dimana para korban bisa mendapatkan bantuan medis dengan segera.

  4. Menggerakkan para sukarelawan dan pelayan masyarakat: mengirimkan para sukarelawan ke Aceh untuk memberikan bantuan konseling kepada para korban yang masih hidup dalam trauma.

  5. Bantuan bahan pangan: Mendistribusikan bahan-bahan makanan darurat kepada yang membutuhkan dan juga makanan bergizi bagi anak-anak.

  6. Konseling Krisis: Memfokuskan pada kesembuhan emosional para korban.

  7. Rehabilitasi Rumah Sakit: World Harvest dengan aktif ikut serta dalam merehabilitasi rumah-rumah sakit dan klinik-klinik yang telah hancur akibat tsunami.

  8. Bahan kebutuhan sekolah: Memberikan berbagai kebutuhan sekolah kepada anak-anak.

Rob Fuller seorang dokter dari Amerika Serikat juga bergabung dengan World Harvest dalam tim bantuan Aceh. Ketika ditanyai apa yang memotivasi dia meninggalkan kehidupan dan pekerjaannya yang nyaman dan memilih untuk pergi ke belahan dunia lain untuk mengulurkan tangan, membersihkan luka-luka, merangkul dan ikut menangis dengan orang yang sama sekali tidak dia kenal di daerah yang bahkan mungkin sebelumnya tidak pernah ia dengar namanya, serta merta menjawab dengan senyumannya yang khas. Dia mengatakan dua patah kata yang bermakna sangat dalam: "Kasih Tuhan". Banyak orang yang telah merespon panggilan ini dan sebanyak 123 sukarelawan telah bergabung dengan tim pertolongan World Harvest untuk memberikan konseling, perawatan medis dan pendidikan kepada para pengungsi secara cuma- cuma.

Setelah tsunami, dari 9 rumah sakit di Aceh, hanya 2 yang masih berfungsi dan salah satunya adalah Rumah Sakit Zainal Abidin. Biarpun rumah sakit ini adalah yang terbesar di Aceh, 95% dari fasilitasnya telah hancur oleh tsunami yang terjadi akhir tahun lalu. Serpihan besi-besi tua dan kawat-kawat bekas bangunan bercampur dengan air kotor yang tercemar mayat-mayat manusia yang membusuk, merupakan surga bagi kuman tetanus. Goresan luka kecil pun bisa berkembang menjadi infeksi yang berkepanjangan.

Tim pertama terdiri dari 50 dokter asal Amerika, para konselor, dan penerjemah, yang dipimpin langsung oleh Pdt. Daniel Hanafi selaku VP International, di sana mereka menjumpai suatu keadaan yang mengenaskan. Puluhan orang bergeletakan dengan tubuh mengejang dan mulut berbusa, semuanya terkena tetanus. Para dokter tidak bisa berbuat apa-apa karena antibiotik tidak tersedia sama sekali. Beruntung saat itu separuh dari tim rombongan masih tertahan di Jakarta karena penuhnya pesawat. Mereka bisa dihubungi dan kesokan harinya tambahan antibiotik pun tiba.

Kerja sama yang telah digalang oleh World Harvest dengan TNI selama hampir 8 tahun dalam program-program kemanusiaan di pulau Jawa memungkinkan mereka menggunakan fasilitas Angkatan Laut untuk mengirimkan peralatan-peratatan medis yang sangat dibutuhkan oleh Rumah Sakit Zainal Abidin. Tidak mengherankan sampai saat ini, World Harvest bersama Fokus Pada Keluarga (Focus On The Family) diberi kantor tersendiri di Rumah Sakit Zainal Abidin. Beruntung juga organisasi Fokus Pada Keluarga bukan merupakan barang baru lagi di Aceh. Selama hampir 5 tahun saran-saran pembinaan keluarga dari organisasi ini sangat akrab di telinga mereka lewat siaran Radio yang disiarkan secara rutin setiap minggunya.

World Harvest kemudian bekerjasama dengan Fokus Pada Keluarga untuk membuka tenda di lokasi pemukiman para pengungsi. Selain memberikan pelayanan konseling diberikan juga fasilitas pengobatan gratis, pendidikan keterampilan, manajemen dan bahasa Inggris. Setelah musibah terjadi, diperlukan jangka waktu yang lama untuk mengurangi penderitaan para korban. World Harvest sadar bahwa usaha penyembuhan sendiri hanya akan membawa solusi jangka pendek kecuali ditemani oleh pembangunan transformasi jangka panjang.

World Harvest telah memperkenalkan kepada masyarakat Aceh suatu komunitas baru, Community Transformational Center (CTC) -- Pusat Transformasi Komunitas untuk membantu para korban tsunami di propinsi Aceh. World Harvest telah berhasil meluncurkan program ini di wilayah Neuhuen tempat di mana penduduk setempat bisa mendapatkan pertolongan medis, pendidikan, latihan untuk bekerja dan konseling penanganan krisis.

KETIKA SATU MENANGIS DAN SERIBU MENYAHUT, HIDUPLAH HARAPAN

World Harvest tidak pernah berhenti untuk membantu masyarakat Aceh dalam membangun kembali kehidupan dan masa depan mereka. Masih banyak bantuan yang dibutuhkan. Oleh karena itulah World Harvest mengadakan Benefit Concert, "Harapan Untuk Aceh" yang diselenggarakan di Ford Amphitheatre, Hollywood, Amerika pada tanggal 2 Oktober 2005. Konser ini menampilkan artis-artis Kristen Indonesia, seperti Sidney Mohede dan grup band HPM (Harvest Praise Ministry), Frontline Generation dari Seattle, dan Four Walls dari Los Angeles. Untuk mentransformasikan kehidupan para korban, usaha yang keras sangatlah diperlukan. Saudara-saudara kita di Aceh memerlukan pertolongan kita untuk membangun kembali kehidupan mereka. Kami percaya ketika satu menangis dan seribu orang menyahut dan bergerak, maka muncullah harapan.

World Harvest sampai saat ini masih terus mencari sukarelawan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Amerika Serikat untuk dapat bergabung dalam tim "Harapan untuk Aceh". Apabila Anda ingin ikut serta dalam tim kami atau membantu World Harvest dalam melayani korban bencana, silakan mengunjungi Situs World Harvest di alamat:

==> http://www.worldharvest.cc//

Diambil dari:

Nama majalah : SPIRIT Indonesian Magazine, Edisi 28/Oktober 2005
Halaman : 47 -- 48

e-JEMMi 01/2006