Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereVietnam Tahun 2002

Vietnam Tahun 2002


Penganiayaan yang dialami penduduk di Vietnam menjadi berita utama di beberapa surat kabar. Banyak kelompok hak asasi manusia mengindikasikan bahwa ada usaha untuk mendesak kelompok minoritas. Presiden dari 'Open Doors' menjelaskan bahwa semua kelompok suku minoritas memiliki 3 alasan mendasar yang dapat digunakan untuk melawan mereka. Sebagian besar dari mereka bersekutu dengan Amerika Serikat, mereka tergolong dalam kelompok suku minoritas, dan mereka menganut kepercayaan Kristen. Ketiga hal tersebut menyebabkan mereka mendapat kekerasan dan penganiayaan. 'International Christian Concern' melaporkan bahwa pemerintah berharap supaya kekristenan tidak bertumbuh tetapi yang terjadi sebaliknya. Penganiayaan ini memberikan dampaknya. Penganiayaan tersebut mengakibatkan sulitnya pendistribusian Alkitab dan juga pelatihan bagi para pendeta.


Sumber: Mission Network News, April 19th 2002

  • Doakan keselamatan umat percaya yang ada di Vietnam saat mereka secara rahasia menceritakan tentang iman mereka kepada penduduk Vietnam lainnya.
  • Berdoa untuk pendistribusian Alkitab, pelatihan pendeta, dan juga kesetiaan umat percaya di tengah-tengah penganiayaan yang mereka hadapi.
  • Bila ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang penganiayaan-penganiayaan yang dialami orang-orang Kristen dan bagaimana mendoakannya dengan tepat, silakan berkunjung ke situs Open Doors:

    ==> http://www.opendoors.org/

    e-JEMMi 20/2002


    Para pemimpin Kristen di antara suku-suku di pegunungan yang berada di daerah rawan masih saja mengalami penindasan. Tindakan represif pemerintah komunis sangat keras di daerah-daerah di mana kelompok-kelompok etnis minoritas pernah melakukan unjuk rasa terhadap pemerintah. Berdoalah terus agar Roh Kudus menghibur serta menguatkan mereka. (8 April)

    e-JEMMi 15/2002


    Banjir besar di awal November 1999 telah memporak-porandakan Vietnam Pusat, menghancurkan 830.000 rumah dalam jangka waktu seminggu. Lebih dari 500 orang meninggal, 500 rumah sakit hancur. Hampir separo populasi sekarang hidup di bawah garis kemiskinan. Orang-orang tidak hanya takut terhadap banjir, tetapi juga takut terhadap ideologi negara. Ijin hanya berlaku bagi setiap pemikiran yang sesuai dengan ideologi komunis pemerintah. Gereja-gereja Kristen harus mengurus ijin untuk setiap kegiatan dan kegiatannya dimonitor secara langsung; gereja yang tidak terdaftar dianggap illegal dan mrupakan subjek penyiksaan. Pastor Thi, pemimpin suatu pergerakan gereja yang tumbuh secara pesat, menyatakan bahwa semua pedesaan Kristen telah dihancurkan, rumah-rumah dan gereja-gereja dirusak, material yang berguna dihancurkan dan ladang-ladang dibakar. Orang-orang Kristen lalu dipaksa untuk membangun kembali rumah-rumah mereka di dekat kantor polisi sehingga mereka dapat diawasi dengan ketat. Beberapa dari mereka bahkan mengalami siksaan. Di sebuah desa kecil, polisi mencoba memaksa dua orang Kristen untuk mengingkari kepercayaan mereka kepada Yesus, polisi itu memberikan "kejutan listrik" kepada mereka selama dua hari berturut-turut. Orang-orang Kristen tetap bertahan dan polisi-polisi itu menyerah. Salah seorang penyiksa berkata, "Mereka adalah orang-orang Kristen sejati." Di tengah 'banjir penganiayaan' yang mereka alami terjadi juga 'banjir jiwa-jiwa baru yang percaya kepada Yesus'. Pastor Thi berkata bahwa dua tahun terakhir ini merupakan periode pertumbuhan gereja yang tercepat. Semula ada 250 persekutuan gereja dan sekarang sudah mencapai jumlah 800 buah. Kaum muda mendominasi pertumbuhan tersebut. Sekitar 30.000 anak dan pemuda menjadi Kristen di akhir tahun tersebut. Mereka membawa dampak yang bagus bagi keluarga masing-masing. Meskipun belum menjadi Kristen, namun orang tua mereka mengijinkan rumahnya dipakai sebagai tempat sekolah minggu dan sebagai tempat pertemuan. Dan keluarga-keluarga mereka akhirnya juga menjadi Kristen.


    Sumber: HMK, Fax (+41) 33 3366861, Postfach 50, 3608 Thun,
    Switzerland (FRIDAYFax Vol 99, No. 50, December 24th, 1999)

    e-JEMMi 03/2000


    Pada awal bulan November 1999, banjir yang terbesar pada abad lalu telah merusak Vietnam tengah, memusnahkan 830.000 rumah dalam waktu beberapa minggu. Lebih dari 500 orang mati, 500 rumah sakit rusak. Setengah dari populasi yang ada sekarang hidup di bawah garis kemiskinan. Namun, orang-orang tersebut yang tidak hanya terancam oleh banjir, melainkan juga oleh ideologi. Hanya pikiran yang sesuai dengan ideologi komunis pemerintah diperbolehkan. Gereja-gereja Kristen harus meminta ijin dari pemerintah untuk kegiatan- kegiatan mereka dan dengan demikian dapat secara langsung dimonitor; gereja-gereja yang tidak terdaftar dinyatakan ilegal dan dianiaya. Pastor Thi, pemimpin dari sebuah gerakan gereja yang bertumbuh dengan pesat, melaporkan bahwa seluruh desa-desa Kristen telah dihancurkan, rumah dan gereja dirubuhkan, barang-barang yang berguna disita dan ladang-ladang dibakar. Orang-orang Kristen kemudian dipaksa untuk mendirikan rumah mereka dekat dengan kantor polisi sehingga dapat diamati dengan lebih baik. Beberapa dari mereka juga disiksa dengan kejam. Pada sebuah desa kecil, polisi berusaha memaksa dua orang Kristen untuk menyangkal iman mereka kepada Yesus dengan menyetrum mereka dengan aliran listrik selama dua hari. Orang-orang Kristen terus bertahan, dan akhirnya polisi menyerah. Salah seorang penyiksa kemudian mengatakan "Orang-orang ini adalah Kristen sejati." Semakin banyak orang Kristen disiksa atau ditimpuki batu karena iman mereka, semakin banyak orang percaya kepada Yesus. Di tengah-tengah banjir penganiayaan terdapat banjir orang percaya baru. Pastor Thi mengatakan bahwa dua tahun terakhir ini merupakan periode pertumbuhan gereja yang tercepat. Gerakan yang dipimpinnya berjumlah 250 gereja (perumahan) pada dua tahun yang lalu, dan kini telah menjadi 800. Kaum muda merupakan bagian yang terbesar dari pertumbuhan ini. Sekitar 30.000 anak-anak dan kaum muda menjadi Kristen tahun lalu. Hal ini berdampak besar sekali pada keluarga-keluarga mereka. Meskipun bukan orang Kristen, orang tua mereka membuka rumahnya bagi Sekolah Minggu dan pertemuan lainnya, sehingga banyak yang pada akhirnya juga menjadi Kristen.

    Sumber:(HMK, Switzerland), FridayFax - 24 Desember 1999

    e-JEMMi 01/2000