Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Tujuan Allah Mengirim Yesus Kristus untuk Mati (2)

Tujuan Allah Mengirim Yesus Kristus untuk Mati (2)


Allah Anak Pelaku Penebusan Kita

Karena Allah Anak dengan penuh kerelaan melakukan apa yang telah direncanakan oleh Bapa, kita dapat mengatakan bahwa Ia juga adalah pelaku penebusan kita. Yesus berkata: "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya." (Yohanes 4:34) Ada 3 cara yang di dalamnya Kristus menunjukkan kerelaan-Nya menjadi pelaku penebusan:

  1. Ia rela menanggalkan kemuliaan keilahian-Nya, dan mengambil rupa seorang manusia. "Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka." (Ibrani 2:14) Perhatikan bahwa Ia melakukan hal ini, bukan karena seluruh umat manusia terdiri dari darah dan daging, tetapi karena "anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Nya" (Ibrani 2:13) adalah manusia. Kerelaan-Nya itu berkaitan dengan anak-anak manusia itu, bukan seluruh umat manusia.

  2. Ia bersedia memberikan diri-Nya sebagai korban. Memang Ia secara pasif menderita banyak hal. Namun Ia juga menyerahkan diri-Nya sendiri dalam penderitaan secara aktif dan penuh kerelaan. Tanpa kerelaan ini, penderitaan tersebut tidak akan berarti apa-apa. Maka Ia dapat mengatakan dengan sungguh-sungguh, "Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku... Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri." (Yohanes 10:17-18)

  3. Doa-Nya sekarang yang ditujukan bagi anak-anak-Nya, menyatakan kerelaan-Nya untuk menjadi pelaku penebusan mereka. Sekarang Kristus telah masuk ke dalam tempat kudus (Ibrani 9:11-12). Pekerjaan-Nya di sana adalah menjadi perantara (pendoa syafaat). Perhatikan Ia tidak berdoa untuk dunia (Yohanes 17:9), melainkan untuk orang-orang yang bagi mereka Ia mati (Roma 8:33). Ia meminta supaya mereka yang telah diberikan kepada-Nya bersama-sama dengan Dia, untuk memandang kemuliaan-Nya (Yohanes 17:24). Jadi jelas bahwa tidak mungkin Ia mati untuk semua manusia!


Allah Roh Kudus, Pelaku Penebusan Kita.

Alkitab menyebutkan tiga hal yang di dalamnya Roh Kudus bekerja bersama-sama dengan Bapa dan Anak dalam menebus kita. Tindakan-tindakan berikut menunjukkan peran Roh Kudus sebagai pelaku penebusan kita.

  1. Tubuh jasmani yang dipakai oleh Anak ketika Ia menjadi manusia diciptakan oleh Roh Kudus dalam diri Maria. "ternyata ia mengandung dari Roh Kudus." (Matius 1:18)

  2. Alkitab berkata bahwa ketika Anak memberikan diri-Nya sebagai kurban, Ia melakukannya oleh Roh Kudus. "Yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat." (Ibrani 9:14) Jelaslah bahwa Roh Kudus dengan cara tertentu merupakan alat yang memungkinkan terjadinya persembahan itu.

  3. Ada pernyataan-pernyataan Alkitab yang secara jelas menunjukkan bahwa pekerjaan membangkitkan Kristus dari kematian merupakan pekerjaan Roh Kudus. "Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh." (l Petrus 3:18)

Jelaslah bahwa Roh Kudus memunyai peran yang penting bersama-sama dengan Bapa dan Anak dalam tujuan-Nya untuk menebus kita.

Kita telah melihat bahwa setiap Pribadi dalam Allah Tritunggal dapat disebut sebagai pelaku penebusan kita. Penting untuk diingat, karena tujuan pembahasan ini, kita telah membedakan pekerjaan dari tiap Pribadi ilahi, namun dalam kenyataannya pelaku penebusan kita bukan tiga, tetapi hanya satu, karena Allah adalah Esa. Jadi, dapat dikatakan bahwa keseluruhan Tritunggal adalah pelaku penebusan kita.

Karya Kristus adalah Cara yang Digunakan untuk Mendapatkan Keselamatan Kita.

Seperti yang telah kita lihat dalam pembahasan sebelumnya, pelaku yang melakukan suatu hal menggunakan cara-cara tertentu untuk mencapai tujuan khusus yang ada dalam benaknya. Dan dalam pekerjaan penebusan kita ada dua tindakan yang telah Kristus lakukan. (Di sini saya tidak berpikir mengenai rencana kekal yang memungkinkan terjadinya penebusan kita, tetapi hanya mengenai penggenapan penebusan itu dalam kurun waktu historis). Berikut ini adalah dua tindakan historis yang dilakukan oleh Kristus:

  1. Pengorbanan-Nya di masa lalu.
  2. Pengantaraan-Nya bagi kita sekarang.

Mengenai pengorbanan diri Kristus, maka saya menyertakan hal kerelaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu yang berkaitan dengan tujuan kedatangan-Nya untuk mati: Ia mengosongkan kemuliaan dalam diri-Nya, dilahirkan oleh seorang perempuan; tindakan-Nya yang rendah hati dan taat pada kehendak Bapa sepanjang hidup-Nya; dan akhirnya, kematian-Nya di kayu salib.

Mengenai pengantaraan Kristus untuk kita (sebagai Juru Syafaat), saya menyertakan juga hal kebangkitan dan kenaikan-Nya, karena keduanya merupakan dasar bagi pengantaraan-Nya. Tanpa kebangkitan dan kenaikan, tidak mungkin ada pengantaraan (syafaat).

Kita akan melihat kedua hal tersebut secara lebih rinci dalam pembahasan berikut. Di sini saya ingin memberikan beberapa komentar. Kedua tindakan tersebut memunyai maksud yang sama. Pengorbanan dan pengantaraan masing-masing bertujuan "membawa banyak orang kepada kemuliaan". (Ibrani 2:10) Manfaat dari kedua tindakan tersebut ditujukan bagi orang-orang yang sama; Ia berdoa untuk orang-orang yang untuk mereka Ia mati. (Yohanes 17:9) Kita tahu bahwa pengantaraan-Nya pasti berhasil -- Ia berkata, "Engkau selalu mendengarkan Aku." (Yohanes 11:41) Selanjutnya, semua orang yang untuk mereka Ia mati, harus menerima semua hal baik yang diperoleh dari kematian tersebut. Semua ini dengan jelas menyangkal ajaran bahwa Kristus mati untuk seluruh manusia!

Pengorbanan Diri Kristus dan Pengantaraan-Nya adalah Satu-Satunya Cara untuk Mendapatkan Penebusan Kita.

Penting untuk kita amati bagaimana, dalam Alkitab, pengorbanan diri Kristus dan pengantaraan-Nya dihubungkan bersama. Sebagai contoh:

  • Kristus membenarkan mereka yang kejahatan (atau dosanya) Ia pikul (Yesaya 53:11).
  • Kristus menjadi pengantara (Juru Syafaat) bagi mereka yang dosanya Ia pikul (Yesaya 53:12).
  • Kristus bangkit dari kematian untuk membenarkan mereka yang untuknya Ia telah mati (Roma 4:25).
  • Kristus mati untuk orang-orang pilihan Allah dan sekarang berdoa bagi mereka (Roma 8:33-34)

Dari uraian tersebut, jelas bahwa tidak mungkin Kristus mati untuk semua orang; karena jika demikian, maka semua orang akan dibenarkan -- padahal, kenyataannya tidaklah demikian.

Mempersembahkan korban dan mendoakan, merupakan dua tugas yang dituntut dari seorang imam. Jika ia gagal melaksanakan salah satu saja, berarti ia telah gagal menjadi imam yang setia bagi umatnya. Yesus Kristus disebut sebagai pendamaian (korban) kita dan sekaligus pembela (wakil) kita (l Yohanes 2:1-2). Ia disebut sebagai yang mempersembahkan darah-Nya sendiri sebagai korban sendiri (Ibrani 9:11-14), maupun sebagai pengantara bagi kita (Ibrani 7:25). Karena Ia adalah seorang imam yang setia, Ia harus menjalankan kedua tugas tersebut secara sempurna. Oleh karena doa-Nya selalu didengar, maka Ia tidak mungkin menjadi pengantara bagi semua manusia, sebab tidak semua manusia diselamatkan. Dengan demikian jelas bahwa Ia tidak mungkin mati untuk seluruh manusia.

Kita juga harus mengingat cara yang ditempuh Kristus untuk menjadi pengantara bagi kita sekarang. Alkitab mengatakan bahwa Kristus menjadi pengantara kita dengan mempersembahkan darah-Nya di Surga (Ibrani 9:11-12,24). Dengan kata lain, Ia menjadi pengantara dengan mempersembahkan sengsara-Nya kepada Bapa. Kedua tindakan tersebut, yaitu menderita dan menjadi pengantara, merujuk kepada orang yang sama.

Dalam doa-Nya yang dicatat dalam Yohanes 17, Kristus menghubungkan kematian-Nya dengan pengantaraan-Nya, sebagai satu-satunya cara bagi penebusan kita. Dalam doa tersebut, ia berbicara mengenai penyerahan diri-Nya dalam kematian, dan doa-Nya bagi milik-Nya yang telah diberikan Bapa kepada-Nya. Kita tidak boleh memisahkan kedua tindakan tersebut yang telah disatukan oleh Kristus sendiri. Bagaimana pun, salah satu saja dari tindakan tersebut tanpa lainnya, akan menjadi sia-sia, sebagaimana yang ditekankan oleh Paulus, "Dan jika Kristus tidak dibangkitkan (dan oleh karena itu sekarang tidak menjadi pengantara), maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu." (1 Korintus 15:17)

Jadi tidak ada jaminan keselamatan bagi kita, jika kita memisahkan kematian Kristus dari pengantaraan-Nya. Apa untungnya mengatakan bahwa Kristus mati untuk saya di masa yang lampau, jika sekarang Ia tidak menjadi pengantara bagi saya? Hanya jika Ia membenarkan kita sekarang, kita telah dibebaskan dari penghukuman atas dosa-dosa kita. Saya tentu masih dapat dihukum jika Kristus tidak berdoa untuk saya. Jadi jelaslah bahwa, pengantaraan-Nya hanya bagi sebagian orang yang untuknya Ia mati -- dan oleh karena itu, tidaklah mungkin Ia mati untuk semua orang.

Diambil dari:

Judul asli buku : Life by His Death
Judul buku terjemahan : Kematian yang Menghidupkan
Judul bab : Tujuan Allah Mengirim Yesus Kristus untuk Mati
Penulis : John Owen
Penerjemah : Yanti
Penerbit : Momentum, Surabaya 2001
Halaman : 33 -- 41

e-JEMMi 10/2011