Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereTITIK KEKERASKEPALAAN ROHANI

TITIK KEKERASKEPALAAN ROHANI


By novi - Posted on 30 April 2008

Suatu ketika saya pernah makan siang bersama seorang atheis yang terkenal, dan saya memutuskan untuk bertanya terus terang kepadanya: apa Anda tidak percaya akan adanya Tuhan?" Ia pun menjawab, aku tidak percaya pada takhayul."

"Hey, itu bagus!" kata saya. "Saya juga tidak percaya pada takhayul. Kita mempunyai suatu persamaan!"

Saya berusaha untuk menjelaskan kepadanya bahwa takhayul di dalam kamus didefinisikan sebagai suatu kepercayaan yang tetap diyakini meskipun bukti-bukti menyatakan hal yang berbeda. Tetapi tidak demikian Kekristenan. Kekristenan merupakan iman percaya yang konsisten terhadap bukti-bukti historis.

"Takhayul!" serunya, seraya menggerakkan tangannya sebagai tanda ekspresi. "Aku tetap menyebutnya takhayul bodoh."

"Ia telah sampai pada titik kekeraskepalaan rohaninya. Seperti yang saya ungkapkan kepada banyak orang selama bertahun-tahun mengenai perjalanan rohani mereka, berulangkali saya menemukan mereka tengah terhadang oleh jalan buntu. Dalam kasus pria ini, jalan buntu itu adalah sikap keras kepalanya dalam menolak, dengan dalih apapun, bahkan untuk sekedar mempertimbangkan bukti-bukti Kekristenan.

Sedangkan pada yang lain, meski kekeraskepalaan mereka wujudnya bisa bermacam-macam, namun pada akhirnya sama saja: Mereka mengalami kemacetan dalam mencapai terobosan rohani. Ketika saya berbicara dengan para Harry dan Mary yang Tidak Gerejawi, saya mencoba untuk mendiagnosa apa yang menyebabkan kemacetan sehingga saya dapat merekomendasikan suatu cara untuk mengarahkan mereka kembali ke jalan menuju Tuhan.

Ada lima kategori titik kekeraskepalaan rohani yang sering saya temui dalam rangka membantu Anda mendeteksi dan menghadapinya ketika berbicara dengan orang-orang yang tidak percaya.

"Saya Tidak Dapat Mempercayainya"

Ini adalah perasaan dari orang yang mempunyai intelektual khusus atau masalah secara emosional, yang telah menghalangi jalan mereka menuju Tuhan. Hal itu diekspresikan dengan:

  1. Ahli Fisika yang berkata, "Saya tidak bisa mempercayai Alkitab karena bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern."

  2. Seorang ibu yang anaknya sedang sakit berkata, "Aku tidak bisa percaya kepada Tuhan yang mengizinkan putraku menderita sementara ada begitu banyak orang jahat yang sukses.

  3. Pengacara yang berkata, "Saya biasa berhadapan dengan bukti-bukti dan fakta-fakta, saya tidak bisa menerima sesuatu yang mana kita diminta untuk langsung mempercayainya begitu saja."

  4. Seorang eksekutif perusahaan yang berkata, "Saya berdoa agar bisnis saya dapat melewati masa krisis, tetapi tampaknya semakin merosot. Saya tidak bisa mempercayai Tuhan yang mengabaikan permohonan bantuan saya."

Karena saya lebih sebagai seorang "pemikir" daripada seorang "perasa," maka saya paling senang membantu orang untuk melewati penghalang jalan intelektualnya. Seringkali, pertanyaan-pertanyaan mereka demikian terperinci.

Sebagai contoh, pada Jumat Agung tahun 1990, seorang pengacara perusahaan yang sukses datang ke kantor saya untuk mendiskusikan hal-hal rohani. Telah enam bulan lamanya ia mendalami Kekristenan, dan pertanyaan yang selalu menghalanginya adalah: "Bagaimana mungkin saya dapat yakin bahwa saya dapat mempercayai Alkitab?" Itu adalah pertanyaan yang layak, dan kami membahas hal itu sekitar tiga jam lamanya. Akhirnya, setelah terdiam beberapa saat, saya berkata, "Apakah Anda mempunyai pertanyaan lain?"

"Saya rasa saya akan teras-menerus mengajukan pertanyaan-pertanyaan tambahan," katanya, "tetapi, sungguh, pertanyaan utama saya telah terjawab. Saya kira sekarang pertanyaannya adalah, 'Apa yang akan saya lakukan dengan semuanya ini?'"

Dia telah melompati rintangan mengenai keandalan Kitab Suci, dan sekarang ia siap untuk berurusan dengan Injil. Hari itu, lima menit kebaktian Jumat Agung dimulai, kami bersama-sama berlutut di kantor saya dan di sana ia menerima pengampunan dan kepemimpinan Kristus dalam hidupnya. Kemudian kami naik ke tingkat atas untuk mengikuti kebaktian yang difokuskan pada pengorbanan yang Yesus lakukan baginya.

Saya duduk di sampingnya ketika dia memanjatkan doa penyembahan kepada Tuhan dan turut ambil bagian dalam Perjamuan kudus untuk pertama kali. Kebaktian itu adalah kebaktian yang paling berarti yang pernah saya hadiri sebab saya melihat sendiri pandangan penuh ucapan syukur dari seseorang yang baru saja diselamatkan melalui karunia Tuhan beberapa saat sebelumnya.

Dalam mendiskusikan hal-hal rohani dengan Harry dan Mary yang tidak Gerejawi, saya seringkali bertanya, "Apakah ada pertanyaan atau perhatian tertentu di dalam hati yang menahan perjalanan rohani Anda?" Pertanyaan itu membantu mereka memfokuskan perhatian pada kejelasan mengenai apa sebenarnya yang menghalangi jalan mereka kepada Tuhan. saat mereka dapat menjabarkan pertanyaan mereka itu, maka kita dapat memulai upaya untuk menemukan jawabannya, sehingga mereka dapat terus melanjutkan perjalanan menuju Kristus.

Untuk membantu mereka menggambarkan situasi yang mereka hadapi, terkadang saya memodifikasi sesuatu yang pernah Pascal katakan dan menggambarkan bagi mereka tiga kelompok perkemahan di dunia yaitu:

  1. Perkemahan A, yang terdiri dari orang-orang yang telah menemukan Tuhan;

  2. Perkemahan B, yang terdiri dari orang-orang yang sedang mencari Tuhan dan akan menemukan-Nya;

  3. Perkemahan C, yang terdiri dari orang-orang yang tidak mencari Tuhan.

Saya mengatakan kepada Harry dan Mary yang Tidak Gerejawi bahwa tidak ada keuntungan apapun pada perkemahan C. Kecuali jika Tuhan melakukan suatu karya yang dramatis, seperti saat Dia mengubah Saulus dari Tarsus menjadi Paulus, pengabar Injil, Perkemahan C adalah jalan buntu. Perkemahan itu merupakan suatu tempat yang
dihuni oleh orang-orang berpikiran sempit yang menolak untuk mencari kebenaran.

Saya mendorong mereka agar menaikkan tingkatan mereka, pindah ke perkemahan B, dan dengan tulus mencari kebenaran Tuhan. Dan tentunya, seperti kita ketahui dalam Kitab Suci bahwa, siapapun yang dengan tulus berada di perkemahan B pada akhirnya akan mengakhirinya di perkemahan A.

Berulangkali saya menantang mereka untuk memanjatkan "doa bagi para pencari kebenaran" yang juga pernah saya lakukan ketika masih seorang skeptis. Saya menyarankan bait doa yang kurang --lebih demikian: "Tuhan, aku bahkan tidak yakin Engkau ada, tetapi jika memang Engkau benar-benar ada, aku benar-benar ingin mengenal-Mu. Aku mohon nyatakanlah diri-Mu kepadaku. Aku benar-benar ingin mengetahui kebenaran-Mu. Kirimkan orang-orang di dalam hidupku, sediakan buku-buku dan kaset khotbah di perjalananku, pakailah alat apapun juga yang Engkau kehendaki untuk menolong diriku untuk mengenal siapa Engkau sebenarnya."

Kemudian saya mendorong mereka untuk melakukan beberapa pekerjaan rumah. Contohnya, jika mereka berpikir Alkitab penuh dengan kesalahan, apa saja kesalahan itu? Saya minta mereka menyebutkan satu per satu sehingga dapat dijelaskan.

Itulah yang dilakukan oleh Dr. Vic Olsen. Dr.Olsen adalah seorang ahli bedah yang cemerlang, dimana dia dan istrinya, Joan, tidak percaya kepada Tuhan karena mereka berpikir bahwa ilmu pengetahuan modern telah menjabarkan bahwa Alkitab hanyalah mitos belaka. Namun demikian mereka mau menguji Kekristenan.

Pertama-tama mereka memeriksa melalui perspektif ilmiah, membaca suatu buku karangan tiga belas anggota kehormatan dari perkumpulan The American Scientific Affiliation yang menunjukkan bahwa Alkitab dan ilmu pengetahuan benar-benar tidak bertentangan. Kemudian mereka memeriksanya melalui perspektif hukum dengan membaca suatu buku karangan Irwin Linton, seorang pengacara di Washington, D.C., yang menunjukkan bagaimana kredibilitas Alkitab menghadapi suatu pengujian silang oleh para pengacara yang sangat gigih.

Mereka melihatnya juga dari satu perspektif arkheologis, medis, dan bahkan perspektif detektif. Dengan kata lain, mereka membiarkan rasa keingintahuan terhadap kebenaran Alkitab menggerakkan mereka, lalu mereka menemukan bahwa iman Kristen tetap berdiri tegak bahkan di bawah pengujian yang ketat yang dilakukan oleh para pemikir. Pasangan Vic dan Joan Olsen tidak hanya menyerahkan hidup mereka kepada Kristus, tetapi juga mengalihkan karir mereka, menggunakan keahlian medis mereka untuk melayani orang-orang yang sangat miskin di pedalaman Banglades.

Olsen menulis sebuah buku The Agnostic Who Dared to Search, dan saya menantang para Harry dan Mary yang Tidak Gerejawi untuk melakukan hal yang sama: berani mengambil resiko menemukan kebenaran tentang Tuhan.

Menurut hukum, jika ada bukti-bukti yang menegaskan bahwa adalah benar atau, dalam bahasa hukum, ketika ada "probable cause" -- maka hakim akan memerintahkan suatu pengujian secara lengkap dimana semua bukti ditetapkan kebenarannya secara menyeluruh. Yang saya ungkapkan kepada para skeptis adalah adanya bukti-bukti nyata yang mendukung Kekristenan, oleh karena itu, suatu pengujian yang menyeluruh akan menjamin fakta-fakta tersebut.

Dengan kuasa Alkitab, saya selalu mendorong Harry dan Mary yang Tidak Gerejawi untuk mulai membaca Alkitab bagi diri mereka sendiri. supaya, hal itu adalah pertama kali mereka serius mempelajari Alkitab. Jika dia adalah seorang individu yang tegas,
praktis dan cermat, saya akan menyarankan untuk membaca Injil Lukas. Sebagai seorang dokter, Lukas menulis dengan kejernihan yang lugas dan mendetil hingga menarik perhatian para pengacara, dokter, ilmuwan, dan insinyur.

Jika dia seseorang yang lebih filosofis atau artistik, saya menyarankan membaca Injil Yohanes. Jika orang itu mempunyai latar belakang suku bangsa Yahudi, saya menetapkan agar membaca Injil Matius, sebab dia, menekankan pada penggenapan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama mengenai Kristus.

Matius telah menarik perhatian Dr.Alexander Zaichenko, seorang ekonomi terkemuka dari negara yang pernah dikenal sebagai Uni Soviet. Ia adalah seorang atheis dari suatu keluarga atheis yang tinggal di suatu negeri yang secara resmi atheis, tetapi pada 1979, ia mulai menanyakan jenis pertanyaan yang banyak ditanyakan orang pada diri mereka sendiri ketika mulai bertambah tua "Apa arti hidup ini sebenarnya? Apakah hanya seperti ini saja?"

Saat mencari-cari jawabannya, ia memperoleh Alkitab di pasar gelap dan mulai membacanya dengan pikiran terbuka. Ia memulainya dari awal Matius, dan tahukah Anda apa yang mengejutkan dirinya? Dia menjadi sangat bosan!

Setelah membaca silsilah Yesus -- "Abraham adalah ayah Ishak, Ishak adalah ayah Yakub, Yakub adalah ayah Yehuda dan saudara-saudara laki-lakinya," dan seterusnya -- dia mulai berpikir, "Mungkin para atheis adalah benar. Mungkin buku ini tidak ada apa-apanya."

Tetapi ia terus membaca. Akhirnya ia sampai pada pasal yang ke lima Injil Matius, di mana Yesus mengajarkan khotbah di bukit, pembicaraan yang paling indah, provokatif, mendalam, dan menantang yang pernah diberikan, mengenai topik bagaimana caranya menjalani hidup.

Saya senang dengan tanggapan Dr.Zaichenko, pemikir yang tinggi telah mempelajari semua pengetahuan klasik, semua ahli filsafat, semua pemikir besar. "Khotbah itu membuatku berdebar-debar," katanya. Dengan seketika, ia menyadari bahwa itu bukanlah perkataan manusia dan akhirnya dia menyerahkan hidupnya kepada Kristus.

Kisah-kisah seperti itu dapat mengilhami Harry dan Mary yang Tidak Gerejawi. Sebagai tambahan, saya berusaha untuk mendorong mereka dengan menceritakan bahwa Tuhan tidak main-main dengan mereka. Saya menjelaskan fakta bahwa mereka berhasil menemukan-Nya adalah karena Tuhan telah membuka peluang bagi mereka agar dapat melakukannya. Bahkan di saat mereka mencari-cari Kristus, Ia telah menggapai mereka.

Yesus berkata bahwa adalah misi-Nya untuk "mencari dan menyelamatkan yang terhilang." Dan kita mengetahui bahwa Tuhan "tidak menghendaki siapapun menjadi binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat."

Saya teringat pernah berbincang-bincang dengan seorang Harry yang Tidak Gerejawi pada saat makan siang tak lama menjelang Natal. "Cerita yang menarik," tanggapannya akan Injil mengenai kisah kelahiran Yesus, "Tetapi itu hanyalah suatu cerita."

Aku berkata, "Apakah Anda mengingat bagian dari kisah di mana para malaikat mengatakan kepada para gembala bahwa Yesus telah dilahirkan?"

"Benar, saya pernah mendengarnya di sekolah minggu," katanya.

"Baik, apakah Anda mengetahui apa yang para gembala lakukan? Mereka mendengar berita, tetapi mereka tidak berhenti di sana. Mereka pergi memeriksanya sendiri. Mereka pergi untuk melihat Mesias secara langsung. Apakah Anda bersedia melakukan hal yang sama -- memeriksanya sendiri?"

Ia menyetujui untuk berpindah dari perkemahan C ke perkemahan B, dan saya yakin bahwa suatu hari dia akan bergabung dengan saya di perkemahan A.

Jadi sebagian orang berkata, "Aku tidak bisa percaya" berdasarkan isu-isu intelektual, dan kita perlu mendorong mereka untuk mengejar kebenaran tentang Tuhan dengan tulus dan tekun. Tetapi sebagian lainnya berkata "Aku tidak bisa percaya" karena ada semacam penghalang emosional antara mereka dan Tuhan.

Seringkali ketika saya bertemu seseorang yang tampaknya menghindari Tuhan, saya menanyakan tentang kehidupan keluarganya dan hubungannya dengan sang ayah, sebab konsepsi seorang ayah dapat sangat berpengaruh pada persepsinya tentang Tuhan.

Dalam esainya yang berjudul, "Psikologi Atheisme," Dr.Paul C. Vitz membahas tentang bagaimana pelecehan, penolakan, kekecewaan, diterlantarkan oleh seorang ayah, atau ketidakhadiran seorang ayah, dapat membentuk suatu penghalang psikologis terhadap keyakinan kepada Tuhan.

Ia melacak permasalahan yang seringkali dihadapi oleh para atheis dengan ayah-ayah mereka. Sebagai contoh, Sigmund Freud dan Karl Marx menjelaskan bahwa mereka tidak menghormati ayah mereka. Seorang rasionalis Perancis, Baron d'Holbach telah menjadi yatim sejak usia tiga tahun; Bertrand Russell dan Nietzsche keduanya telah kehilangan ayah mereka pada usia empat tahun; Ayah John Paul Sartre meninggal sebelum ia dilahirkan; dan Camus masih bayi ketika ayahnya meninggal.

Putra Madalyn Murray O'Hair, wanita yang mendirikan organisasi American Atheists, Inc. secara mengerikan menggambarkan hubungan yang penuh kepahitan dan seringkali disertai kekejaman yang dialaminya dengan ayah. William J.Murray berkata bahwa ia pernah melihat ibunya berusaha membunuh sang ayah dengan pisau penjagal, sambil berteriak, akan ingin melihatmu mati. Aku akan segera melihatnya. Akan kuinjak-injak kuburanmu!"

Murray, yang sekarang adalah seorang pengusaha Kristen sekaligus pengabar Injil, berkata: "Menurut saya, kampanye gila ibu saya, yang berencana untuk mencabut semua pengajaran mengenai Tuhan di sekolah-sekolah umum dan pemerintah, ditambah kampanye-kampanye atheisnya yang makin memanas dari tahun ke tahun, mengembalikan isu-isu ini. Madelyn Murray marah kepada para pria, dan dia marah kepada Tuhan, yang adalah pria. Bukannya menghadapi suara hatinya, dia justru memutuskan untuk menyangkal keberadaan Tuhan dan menolak menerima setiap batasan moral. Dia ingin menghancurkan semua pengajaran mengenai Tuhan, karena jika ada suatu yang bersifat Ilahi, maka Dia akan menuntut seluruh hidupnya."

Orang yang bertindak demikian ekstrem dengan menjadi atheis jumlahnya hanya sedikit. Namun demikian, hubungan buruk seseorang dengan ayahnya dapat menghalangi perkembangan rohaninya. Contohnya, menjadi anggota keluarga paling kecil di rumah di mana sang ayah sering menumpahkan kemarahan pada dirinya, dapat mendorong sebagian orang untuk berpikir bahwa Bapa Sorgawi juga pemarah seperti ayahnya, dan dengan demikian mereka menolak untuk berhubungan dengan-Nya.

Jika sang ayah menelantarkan mereka saat masih kecil, baik secara fisik maupun emosional, maka mereka akan menolak suatu hubungan dengan Tuhan karena ketakutan bahwa suatu saat Dia juga akan melukai batin mereka dengan menelantarkan mereka. Mereka mengalami kehancuran keyakinan diri, berpikir bahwa sang ayah meninggalkan mereka sebab mereka tidak memiliki nilai hakiki. Akibatnya mereka tidak bisa memahami Tuhan yang mengasihi diri mereka apa adanya.

Ada pula sebagian orang yang tumbuh dewasa di rumah-rumah dimana mereka akan menerima pernyataan kasih hanya jika mereka berhasil memenuhi sesuatu. Mereka akan menumbuhkan perasaan bahwa mereka harus mendapatkan kasih dari setiap orang, termasuk dari Tuhan. Mereka menjadi demikian terobsesi seolah berlari di atas alat treadmill, berusaha untuk membuat diri mereka layak di hadapan Tuhan hingga tidak mau menyadari bahwa kasih Tuhan itu adalah kasih yang tanpa syarat.

Sekalipun individu-individu yang tidak gerejawi ini tidak satupun yang mau menggolongkan diri mereka sendiri sebagai kelompok atheis yang perlu digarisbawahi adalah bahwa mereka terhenti tepat di depan gerbang hubungan dengan Tuhan.

Penghalang emosional lainnya adalah ketakutan terhadap keakraban. Menjadi pengikut Yesus Kristus yang sejati berarti mempunyai suatu hubungan yang erat, jujur, rapuh, bergantung, dan transparan dengan-Nya dan selanjutnya meningkat menjadi akrab dengan para pengikut-Nya yang lain dan itu membuat sebagian orang lari ketakutan. Bahkan, seringkali mereka adalah orang-orang yang Anda kira tidak mudah untuk ditakut-takuti oleh gagasan untuk berhubungan akrab dengan orang lain.

"Sebagian orang yang merasa terancam oleh keakraban seringkali tampak hangat dan ramah di permukaan," tulis John Guest. "Mereka dapat berbincang-bincang dan tertawa akrab serta sangat terbuka dalam gaya kepribadian mereka, tetapi Anda tidak akan pernah dapat menjadi akrab dengan mereka demikian pula sebaliknya mereka tidak menghendaki untuk akrab dengan Anda. Jadi kita tidak membahas tentang suatu model kepribadian yang kaku. Kita berbicara tentang suatu model kepribadian dalam cakupan yang luas yang semata-mata adalah suatu sisi yang menutupi sisi lainnya, dimana seringkali mereka jalani sendirian."

Guest berkata bahwa sebagian dari orang-orang ini termasuk dalam New Age Movement atau Gerakan Zaman Baru karena mereka berpikir di sana mereka dapat menemukan tuhan dalam diri mereka sendiri, daripada mencari-cari Tuhan yang sejati yang berkenan untuk berhubungan dengan mereka secara pribadi. Mereka lebih memilih untuk melantunkan berbagai mantra sia-sia berulang-ulang sebab bagi mereka secara emosional hal itu jauh lebih mudah daripada harus memanjatkan doa secara tulus dan jujur kepada Tuhan secara pribadi, sebab hal itu menyakitkan batin mereka.

"Fokus dari agama semacam itu adalah menutup diri, bukannya menyerahkan diri; pencarian terhadap diri sendiri, bukannya mencari Tuhan memuja diri sendiri, bukannya pemujaan terhadap Tuhan," kata Guest.

Harry dan Mary yang Tidak Gerejawi mungkin tidak menyadari ketakutan terhadap keakraban sebenarnya adalah hal yang mengendalikan keberatan dan keraguan batin mereka terhadap Kekristenan. Berikut ini merupakan tanda-tanda: jika Anda mengetahui mereka memiliki kecenderungan bersikap menjaga --jarak terhadap orang lain, jika kehidupan perkawinan mereka penuh kepalsuan, jika, hubungan mereka dengan anak-anak mereka dangkal, dan jika mereka punyai banyak kenalan tetapi tidak ada persahabatan yang mendalam, itu semua merupakan petunjuk bahwa titik kekeraskepalaan mereka adalah ketakutan terhadap keakraban dengan Tuhan.

Tanda-tanda lain yang harus diwaspadai adalah jika orang itu mengejar-ngejar keakraban pengganti, yang ditawarkan oleh masyarakat duniawi sebagai ganti keakraban yang sejati, dalam berbagai bentuk pornografi atau pelacuran. Bahkan bermabuk-mabukan juga merupakan petunjuk, sebab ada pula individu yang terikat pada alkohol demi melancarkan interaksi dan hubungan mereka dengan orang lain.

Jika Anda curiga ada gejala-gejala kekeraskepalaan secara emosional atau gangguan saraf, maka tindakan yang terbaik terkadang adalah menyerahkannya pada yang ahli. Ketika saya merasakan isu seperti ini menghalangi seseorang dalam mencari Tuhan, dengan lemah-lembut saya membantunya menyadari bahwa dia perlu berkunjung pada seorang konselor penasehat Kristen yang dapat menolongnya menghadapi penyebab utamanya. Tetapi saya tetap menjaga hubungan dengan dia, menyadarkan dirinya bahwa saya tetap sahabatnya walau apapun keadaan dirinya.

"Aku Tidak Ingin Percaya."

Sebenarnya, ada sejumlah orang yang dengan nyata mengakui bahwa mereka tidak ingin percaya kepada Tuhan menurut Alkitab; itu biasanya lebih menyerupai sikap bahwa mereka mencoba untuk mengaburkan diri di balik tabir asap.

Saya mencurigai ini adalah kasus yang dialami oleh seorang petani muda yang saya jumpai di suatu desa di India Selatan. Dengan bantuan Seorang sahabat yang dapat berbahasa Telugu, saya berbincang-bincang mengenai Injil dengannya, dan ia mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Ketika saya menjawabnya, ia mulai mengajukan beberapa keberatan dan keraguannya. Akhirnya saya menyadari bahwa ia pasti mempunyai beberapa alasan yang mengakar kuat untuk menghindari Kristus.

"Izinkan saya menanyakan hal ini," kata saya. "Apakah ada sesuatu dalam hidup Anda yang mana Anda merasa sayang untuk menyerahkannya jika Anda menjadi seorang pengikut Yesus?"

Dia bergumam sebentar, dan akhirnya mengaku bahwa dia terlibat dalam sabung -- ayam, dan ia berpikir mau tidak mau ia harus kehilangan olahraga berdarah dan ilegal ini jika ia menjadi seorang Kristen. Pada akhirnya, tabir asap itu telah lenyap, dan alasan sesungguhnya mengapa ia menentang Tuhan menjadi jelas.

Tentu saja, banyak orang Amerika yang melakukan permainan seperti itu juga. Saya tengah menghadiri suatu pesta Natal di rumah saudari saya beberapa tahun yang lalu ketika memasuki sebuah diskusi mengenai suatu agama dengan seorang pengusaha yang berkata bahwa gagasan mengenai Tuhan adalah tidak logis.

Maka saya berkata, "Tahukah Anda, pemikiran Anda itu menarik, sebab dahulu saya juga berpikiran seperti itu. Bolehkah saya menceritakan kepada Anda mengenai bukti-bukti yang meyakinkan diri saya untuk menjadi seorang Kristen?"

Ia berkata, "Tentu saja tidak boleh. Itu adalah bukti bagi Anda, bagi Saya tentu saja bukan." Saya pun berkata, "Akan tetapi, bukti adalah bukti."

Dan ia berkata, "Dengar, saya tidak tertarik untuk mendengar apapun tentang bukti, sebab tidak mungkin ada bukti nyata yang menyatakan bahwa Tuhan itu ada." Dengan demikian, dia telah menutup pintu hubungan erat-erat.

Sekarang, pemikiran pertama saya adalah bahwa dia mempunyai suatu titik kekeraskepalaan intelektual, yaitu bahwa pemahamannya telah terhalangi sebab ia tidak memahami sifat dasar dari bukti. Tetapi ketika bercakap-cakap mengenai beberapa hal yang lain, saya mulai curiga bahwa titik kekeraskepalaannya bukan terletak pada sisi intelektualnya; tetapi pada sisi moral.

Sepertinya dia telah terlibat dalam beberapa masalah seksual dan etika yang ia ketahui bertentangan dengan ajaran Kristus, jadi keberatan dan keraguan terhadap bukti-bukti Kekristenan hanyalah siasatnya untuk menyembunyikan kegalauan batin yang sebenarnya, yaitu menjadi orang Kristen berarti mengalami suatu perubahan hidup radikal yang tidak ingin dialaminya.

Cliffe Knechtle menceritakan tentang perbincangannya dengan seorang mahasiswa State University of New York yang mengklaim bahwa Alkitab penuh dengan mitos, meski demikian ia mengaku belum pernah membacanya. Knechtle menantang mahasiswa itu untuk membaca kitab yang berisi nubuat-nubuat mengenai Kristus, dan juga kitab Matius, mencatat penggenapan nubuat-nubuat tersebut.

"Saya pikir saya tidak akan bertemu dia lagi," tulis Knechtle, "tetapi keesokan harinya ia menghampiri saya dan berkata, Saya sudah membaca Yesaya dan Injil Matius. Keduanya adalah literatur yang menarik. pikir keduanya mengungkapkan kebenaran."

"Bagus! Apakah Anda siap untuk mempercayai Kristus hingga hidup kekal?"

"Ia pun berkata, 'Sama sekali tidak. Kehidupan seks saya sangat aktif. Sedangkan Kristus pasti akan mengubahnya. Saya tidak mau siapapun mengubah hal itu'."

Setidaknya mahasiswa itu hersikap jujur tentang alasan mengapa ia menghindari Tuhan. Sekalipun kebanyakan orang tidak mau mengatakan di balik penolakan mereka untuk percaya, beberapa orang lainnya bersikap terbuka mengenai hal tersebut. Sebagai contoh, Aldous Huxley, seorang penulis atheis yang terkenal, menulis:

"Saya mempunyai motivasi-motivasi untuk tidak berharap agar dunia memiliki suatu makna; karena saya pertimbangkan bahwa bumi tidak mempunyai, dan tanpa kesukaran mampu menemukan pertimbangan yang memuaskan atas asumsi ini... Bagi saya sendiri, tanpa perlu diragukan, bagian besar pandangan kontemporer saya, the philosophy of meaningless atau filsafat kehampaan pada dasarnya merupakan suatu instrumen pembebas. Pembebasan yang kita inginkan berlangsung secara serempak terhadap sistem politik dan ekonomi juga pembebasan terhadap sistem moralitas tertentu. Kami menolak moralitas tersebut karena mencampuri kebebasan seksual kami."

Dengan kata lain, ia telah memilih untuk tidak percaya terhadap Tuhan sehingga dapat terus mengejar gaya kehidupan seksual tertentu.

Yang ingin saya katakan kepada Huxley dan juga kepada golongan orang yang memasang tabir asap ini adalah bahwa mereka tidak memahami inti pembicaraan saya: bahwa Tuhan adalah Tuhan atas pembebasan yang sejati. Setelah membaca Alkitab, mereka melihat bahwa tujuan Tuhan bukanlah untuk menjadi pihak yang melarang dan menghambat gaya hidup, tetapi Ia menghendaki untuk memaksimalkan potensi dalam diri kita dan melindungi kita dari perilaku yang bersifat merusak. Tuhanlah yang menciptakan kita; sudah pasti Ia menghendaki untuk melihat kita berkembang dan menjadi sesuai dengan kehendak-Nya.

Ketika orang-orang bersembunyi di balik tabir asap, terkadang itu karena mereka melihat suatu kemunduran pada Kekristenan yang ingin mereka hindari, pada saat yang sama mereka mencari-cari kebaikan dari Kekristenan. Maka biasanya saya akan menantang mereka dengan mengatakan: "Mengapa Anda tidak melakukan suatu analisa untung -- rugi? Itu adalah cara modern untuk membuat suatu keputusan, bukan? Pertama ambillah selembar kertas, bagi menjadi dua sisi, lalu renungkan dan tuliskan pada satu sisi keuntungan dan kerugian dari kehidupan Anda saat itu. Lakukan hal serupa pada sisi berikutnya terhadap keuntungan dan kerugian dari mengikuti Kristus. Selanjutnya, bandingkan isi kedua kertas tersebut."

Renungkan analisa untung -- rugi tersebut dari sisi Kristus -- Dia menawarkan pengampunan, petualangan, hati nurani yang bersih, keamanan, bimbingan, kepenuhan, hubungan yang baik, kenyamanan, ketenangan batin, pembebasan dari rasa bersalah, janji-janji yang kekal, kuasa atas dorongan-dorongan yang bersifat merusak diri sendiri, serta harapan yang unik yang berasal dari terjalinnya hubungan dengan Tuhan semesta alam.

Kemudian saya mendorong mereka untuk merenungkan arah gaya hidup mereka saat ini berdasarkan pemikiran yang logis. "Ke mana Anda akan berakhir? Bagaimana cara Anda mengatasi tragedi-tragedi yang akan muncul dalam perjalanan hidup Anda tersebut? Apa yang akan Anda rasakan atas diri Anda sendiri? Dan pada akhirnya apa yang Anda harapkan?"

Saya ceritakan kepada mereka mengenai pengalaman saya sendiri. "Sejak saya berkata kepada Tuhan, 'Ambillah hidupku,' saya telah berada dalam suatu petualangan yang membuka lebar-lebar pintu-pintu yang sebelumnya tetap tertutup rapat saat saya mencobanya dengan cara saya sendiri. Tetapi lanjutkan saja," kata saya, "mainkan saja caramu sendiri."

Tantangan semacam ini bermanfaat untuk mengatasi upaya penghindaran mereka dan untuk mendorong mereka agar mempertimbangkan keuntungan dari suatu kehidupan -- hingga kekekalan -- bersama Kristus.

"Aku Tidak Tahu Apa yang Harus Kupercayai."

Mereka telah mendengar berbagai-macam penafsiran Alkitab. Mereka juga mendengar perselisihan-perselisihan antara berbagai denominasi yang berbeda. Mereka mengetahui adanya peperangan antar doktrin dalam denominasi-denominasi tersebut. Mereka berhadapan dengan kelompok orang yang menaati Alkitab secara harafiah dan juga dengan kelompok yang berpendapat bahwa Alkitab hanyalah merupakan umum. Mereka mendengar bahwa ada orang yang menggunakan Alkitab untuk mendukung sepenuhnya posisi-posisi mereka dalam suatu komunitas, yang kontradiktif bahkan tidak masuk akal. Mereka mencoba baca Alkitab dan terhenti pada kitab Imamat.

Mereka mengangkat tangan dan berkata, "Aku tidak tahu apa yang kupercayai. Kelihatannya makna dari Alkitab berubah-ubah menurut mengartikannya. Lalu, mana yang benar?"

Saya pernah berjumpa dengan orang-orang yang perjalanan rohani mereka menuju Kristus tergelincir karena tidak yakin siapa yang dapat percayai. Antara kelompok sahabat yang menganut ilmu teologi dan kelompok fundamental yang mereka lihat di acara televisi, mereka tidak tahu kelompok mana yang mempunyai jawaban yang benar. Bagaimana bisa kelompok-kelompok orang Kristen yang berbeda baca Alkitab yang sama dan menghasilkan penafsiran-penafsiran yang berbeda? Pihak mana yang tidak membaca teks Alkitab dengan benar?

Cara untuk membantu orang-orang ini adalah dengan menjelaskan bahwa kunci untuk memahami Alkitab dengan akurat adalah sama seperti kunci untuk memahami bentuk komunikasi manapun -- yaitu dengan menentukan maksud sang penulis menuangkan tulisannya itu. Hal ini berbeda dengan menginterpretasikan Kitab Suci untuk mengatakan apa yang kita kehendaki atau pun membaca dengan pemahaman yang meyimpang, melainkan untuk memahami maksud utama dari penulis yang diilhami Roh Kudus menyampaikan tulisannya.

Terkadang saya menggunakan contoh demikian: Saya mengumpamakan putri saya, Alison, dan kawan prianya akan pergi minum coke di sebuah kedai setelah sekolah malam, dan saya katakan kepadanya: "Kamu harus ada di rumah sebelum jam sebelas." Bagaimana Anda akan mengartikan perintah ini? Sangat jelas, bukan?

Hal ini tidak akan pernah terjadi, namun seandainya jam menunjukkan pukul 10:45 dan mereka berdua masih bersenang-senang di stan Hot Dog Portillo, dan mereka tidak berniat mengakhirinya, maka mereka mulai kesulitan mengartikan perintah saya tadi.

Mereka berkata, "Apa yang sebenarnya ayah maksud ketika berkata, 'Kamu harus ada di rumah sebelum jam sebelas?' Apakah yang dia maksud secara harafiah itu kita, atau yang dia maksud itu kamu dalam pengertian umum, setiap orang pada umumnya? Apakah ia berkata, pada hakekatnya, 'Pada umumnya, orang harus berada di rumah sebelum jam sebelas?' Atau dia hanya mengatakannya berdasarkan pengamatan bahwa, biasanya, orang berada di rumah sebelum jam sebelas? Menurut saya, tidak terlalu jelas, bukan?

"Dan apa yang dia maksud dengan, 'Kamu harus berada di rumah sebelum jam sebelas?' Apakah seorang ayah yang penuh kasih bersikap kaku dan tidak fleksibel? Dia mungkin bermaksud menyarankan. Saya tahu dia mencintai saya, maka apakah secara tak langsung dia menghendaki agar saya bersenang-senang? Dan jika saya sedang bersenang-senang, maka dia tidak akan mau kalau saya cepat-cepat mengakhirinya.

"Dan apa yang dia maksud dengan, 'Kamu harus berada di rumah sebelum jam sebelas?' Ia tidak menegaskan rumah siapa. Bisa jadi rumah siapa saja. Mungkin dia bermaksud mengatakannya secara kiasan. Ingatkah pada pepatah lama berkata, 'Rumah adalah dimana hati berada?' Hati saya berada di Portillo, tidakkah itu berarti saya telah berada di rumah?

"Dan apa sebenarnya yang dia maksud saat berkata, 'Kamu harus berada di rumah sebelum jam sebelas?" Apakah yang dia maksud adalah tepat jam sebelas, dalam pengertian harafiah? Di samping itu, dia tidak menetapkan apakah jam 11:00 malam hari atau jam 11:00 pagi hari. Dan ia tidak benar-benar menjelaskan apakah ia berbicara menurut Standar Waktu Central atau Pasifik. Maksud saya, saat itu masih jam tujuh lebih seperempat di Honolulu. Dan sebenarnya, saat Anda memikirkan hal itu, keterangan waktu itu selalu sebelum jam sebelas. Apapun juga dan kapanpun juga waktunya, selalu sebelum jam sebelas berikutnya. Oleh karena semua kerancuan ini, kita tidak dapat mengerti sama sekali apa yang dia maksud. Jika dia tidak mampu menjelaskan perintahnya itu, maka kita pun tidak dapat mempertanggungjawabkannya."

Tahukah Anda, berbagai motivasi kita dapat secara radikal mengubah cara kita mengartikan kata-kata. Orang melakukan hal itu terhadap Alkitab untuk menghindari pengajaran-pengajaran yang tidak mereka setujui atau tidak mau mereka hadapi secara terbuka. Tetapi cara untuk membaca Alkitab adalah dengan bertanya demikian, "Sang komunikator berniat agar saya memahami apa?"

Saya akui memang ada beberapa bagian dalam Kitab Suci yang sulit dipahami, dan orang-orang yang bermaksud baik boleh-boleh saja berdebat mengenai berbagai poin yang paling baik. Tetapi jika berkaitan dengan pesan yang penting mengenai apa yang harus dipahami setiap orang agar masa lalunya diampuni dan masa depannya mendapat jaminan, maka tidak boleh ada kerancuan.

Bahkan, rekan kerja saya yang bernama Judson Poling telah meneliti pesan-pesan utama dari keseluruhan enam puluh enam kitab dalam Alkitab dan merangkumnya hingga menjadi kalimat -- tiga --detik: "Tuhan menciptakan kita, kita yang merusakkan, Kristus menebus kita, kita harus menerima-Nya." Pesan itu jelas dan ringkas, bukan?

Ada beberapa orang yang datang ke gereja kami dari suatu tempat bernama Little City, suatu pusat pelatihan bagi orang-orang yang menderita ketidakmampuan mengembangkan diri. Dari waktu ke waktu, saya sering bimbang, "Berapa banyak pengajaran yang benar-benar mereka pahami saat ini? Berapa banyak pesan yang dapat mereka terima? Apakah saran itu terlalu rumit untuk mereka pahami?"

Kemudian setelah kebaktian berakhir salah satu dari mereka, ya Jack, menghampiri saya untuk mengucapkan salam. Saya melihat lengannya yang dibalut dan berada dalam kain gendongan. Sambil menunjuk ke luka itu, saya bertanya, "Sakit?"

Jack melirik ke lengan tangannya, lalu berkata dengan nada terputus "Saya kemari ...dan mendengar tentang Yesus ...dan saya memikirkan semua nyeri ini....Ia datang kepada saya ...dan saya rasa ... 'Ini tidak ada artinya'."

"Jack," saya berkata sambil memeluknya, "Kata-kata itu adalah hal yang paling dalam yang pernah diucapkan orang pada saya dalam jangka yang lama."

Ia memahami pesan-pesan dalam kebaktian.

Maka saya katakan kepada orang-orang yang kebingungan mengenai yang harus dipercayai, bahwa pesan utama Alkitab adalah jelas, murni, tegas bagi mereka yang tidak berniat untuk mengaburkan kebenarannya bagi kepentingan mereka sendiri.

Alkitab merangkumnya dalam satu kalimat yang sederhana, tegas, diilhami oleh Tuhan sendiri: "Setiap orang yang menyerukan nama Tuhan akan diselamatkan."

"Aku Sudah Percaya; Tidakkah; Cukup?"

Terkadang saya berbincang-bincang dengan orang yang tumbuh dewasa dalam rumah tangga Kristen, menguasai istilah-istilah yang sulit dimengerti pada usia yang masih sangat muda, mengetahui jawaban yang benar di sekolah minggu, tetapi menghabiskan hidupnya dengan mengejar-ngejar "ke -- gereja -- an" bukannya Kekristenan.

Atau saya bertemu dengan orang yang berkata bahwa dia percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah -- pada dasarnya, 91% orang Amerika berpikir demikian -- tetapi mengeluh bahwa semua pengetahuan ini gagal mengubah hidupnya.

Bagi sebagian orang, jawaban itu dapat ditemukan dalam jarak terpanjang di dunia -- antara kepala dan hati kita. Mereka mungkin setuju dengan Injil, tetapi belum pernah benar-benar menerapkannya untuk mereka sendiri.

Itulah kasus yang terjadi pada diri seorang ibu berusia tiga puluh satu tahun dan beranak dua yang saya jumpai di Michigan. Setelah menghadiri dua kebaktian di mana Mark Mittelberg dan saya membawakan pekabaran Injil dan menjawab pertanyaan-pertanyaan, dia muncul dan berkata pada saya: "Saya baru saja menyadari bahwa saya telah bermain-main dengan agama sepanjang hidup saya. Saya aktif di gereja, saya anggota panitia berbagai acara gereja, sudah sedemikian seringnya saya mendengar tentang Penyaliban sejak saya kecil sehingga menjadi mati rasa terhadap hal itu. Dan hari ini saya menyadari bahwa saya tidak mempunyai suatu hubungan dengan Kristus. Lee, saya tidak mau lagi mempermainkan gereja! Saya tidak ingin mempermainkan apapun lagi."

Meskipun dia telah mencurahkan seluruh waktunya ke dalam budaya gereja selama bertahun-tahun, secara pribadi dia belum pernah menerima pengampunan dan kepemimpinan Kristus dalam hidupnya --hingga saat itu.

Kita perlu untuk menjelaskan kepada Harry dan Mary yang Tidak Gerejawi bahwa percaya kepada Kristus secara intelektual hanyalah sebagian dari jawaban. Caranya adalah dengan menggunakan ayat-ayat Alkitab yang menjelaskan "persamaan rohani" seefisien ilmu matematika mengenai apa artinya menjadi seorang Kristen.

Ketika saya mengutip Yohanes 1:12, saya minta mereka untuk memperhatikan setiap kata kerja aktif yang ada: "Tetapi semua orang yang menerima-Nya, di berinya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya."

Kata kerja tersebut disusun menjadi persamaan: percaya + menerima = menjadi.

Percaya adalah secara intelektual setuju bahwa Kristus mengorbankan diri-Nya untuk menebus segenap dosa kita. Itu adalah penting, kata saya kepada mereka, tetapi jangan hanya berhenti di sana. Sebagian orang hadir di gereja selama bertahun-tahun, berhenti pada titik ini, dan mereka menjadi bimbang mengapa kehidupan rohani mereka mengalami stagnansi (kemandekan).

Kata kerja berikutnya dalam persamaan ini tak kalah penting. Kita perlu menerima tawaran pengampunan dan hidup kekal secara cuma-cuma dari Tuhan. Kita harus mengklaimnya untuk diri kita sendiri, sebab sampai kita melakukan klaim tersebut, maka tawaran itu masih bukan milik kita; tawaran itu hanyalah sesuatu yang kita pahami dalam benak kita. Dengan demikian sangatlah penting bagi kita untuk mengakui segala pelanggaran kita, berpaling dari dosa-dosa itu, dan dengan kerendahan hati menerima penebusan Kristus atas diri kita.

Kata kerja ketiga adalah menjadi -- yaitu perubahan -- hidup yang dikerjakan Tuhan dalam kehidupan kita setelah kita percaya kepada-Nya, menerima-Nya sebagai penebus, pemimpin, dan sahabat kita. Itulah bahan yang dimaksud oleh Rasul Paulus ketika ia menulis: "Jadi siapa di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesunguhnya yang baru sudah datang!"

Masalah akan muncul jika orang dengan sembarangan menerapkan persamaan itu secara terbalik. Mereka pikir susunannya adalah "percaya + menjadi = menerima."

Mereka memang sudah percaya kepada Kristus, tetapi mereka pikir harus membersihkan hidup dan membuat diri mereka layak diterima sebelum mereka benar-benar menerima-Nya. Mereka mengira jika tidak bertindak terlebih dulu maka mereka akan mengecewakan Kristus sebab tidak mampu hidup menurut standar-Nya. Pemikiran yang keras ini membuat perkembangan rohani mereka terhenti.

Namun Yesus akan berkata, "Memang benar -- pertama, percayalah kepada-Ku, lalu terimalah Aku, dan jika kamu sudah melakukannya, maka akan membantumu menjadi pengikut-Ku dengan mengubah hidupmu sedemikian rupa yang tidak pernah dapat kamu peroleh dengan usahamu sendiri. Aku akan membuatmu berubah. Tetapi Aku tidak dapat mengubah hidupmu kecuali kamu terlebih dulu berpaling kepada-Ku." Bisa dipahami, bukan? Yesus berkata, "Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Saya pernah berjumpa dengan seorang wanita yang terjebak dalam rancangan persamaan "percaya + menjadi = menerima." Kemacetannya yang terparah adalah pemikiran jika dia tidak terlebih dulu menggosok kehidupannya bersih-bersih, maka dia akan berakhir dengan membuat suatu komitmen untuk percaya kepada Kristus tetapi tidak mampu hidup dalam suatu kehidupan yang menghormati-Nya. Dan dia yakin bahwa Yesus akan menolak dirinya.

"Dari waktu ke waktu anak-anak Anda pernah mengecewakan bukan?" tanya saya padanya.

"Benar," jawabnya.

"Ketika hal itu terjadi, apakah Anda menyesal bahwa mereka adalah anak-anak Anda? Apakah Anda memungkiri mereka?"

"Tentu saja tidak," jawabnya segera.

"Apa yang Anda lakukan ketika mereka mengecewakan Anda lalu meminta ampun kepada Anda?"

"Begin, saya akan mengampuni mereka, lalu berusaha membantu mereka untuk bertumbuh sehingga di kemudian hari mereka dapat menjadi lebih baik."

"Seperti itulah pendekatan Tuhan," kata saya. "Persilakan Dia mengubah hidup Anda supaya Anda dapat menjadi apapun yang Ia kehendaki dalam kehidupan Anda."

"Aku tidak ingin percaya apa yang mereka percayai."

Pada saat saya masih menjadi seorang wartawan, saya biasa mengelilingi pusat kota Chicago dan melihat di tepi jalan suara gaduh penginjil kaki lima dari pengeras suara yang rusak hingga suara mereka tidak terdengar jelas meski Anda berniat mendengarkannya.

Saya pun berpikir sendiri, "Waduh, aku tidak mau berakhir seperti itu." Dengan kata lain, jika Kekristenan memerlukan seseorang untuk menjadi orang aneh dalam masyarakat yang tidak memiliki kehidupan sosial apapun kecuali kebaktian gereja dan persekutuan doa, jangan sekali-kali mendaftarkan diri saya.

Sayangnya, Harry dan Mary yang Tidak Gerejawi seringkali berpikiran buruk dan keliru terhadap orang Kristen hingga menghalangi mereka dari mempertimbangkan diri mereka untuk percaya. Mereka memandang orang Kristen sebagai hal yang membosankan, terasing, dan tinggal dalam gaya hidup "vanili" (sangat sederhana), yakni menghindari kegembiraan, tantangan, maupun kesenangan.

Kita harus menunjukkan pada mereka kebenaran Kekristenan yang sejati, yang merupakan kehidupan yang berani, penuh arti, dan gaya hidup yang revolusioner.

Saya berharap hal ini dapat memberi ilham gagasan-gagasan bagi Anda untuk membantu orang lain dalam melalui titik kekeraskepalaan mereka, dan juga dapat membuat Anda bertanya pada diri Anda sendiri, "Apakah jenis kehidupan saya sekarang ini membuat Harry dan Mary yang Tidak Gerejawi menjadi tertarik atau malah menjauhi saya?"

Diambil dari:

Judul buku : Inside The Mind
Judul Arikel : Titik Kekeraskepalaan Rohani
Penulis : Lee Strobel
Penerbit : Majesty Books
Halaman : 105 -- 122