Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Supremasi Allah dalam Misi Melalui Doa 1

Supremasi Allah dalam Misi Melalui Doa 1


Doa Adalah Menggunakan Firman Tuhan

Dalam Efesus 6:17-18, Paulus menghubungkan kehidupan perang dengan doa: "...dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus". Dalam versi Yunani, ayat 18 tidak memulai sebuah kalimat yang baru. Ayat itu terhubung dengan ayat 17: "Ambillah pedang roh yaitu firman Tuhan, berdoalah dalam segala doa dan permohonan untuk segala keadaan ..." Ambil pedang ... berdoa! Inilah caranya kita menggunakan firman Tuhan -- dengan berdoa. Doa adalah komunikasi dengan markas besar, di mana senjata untuk berperang dibagikan menurut kehendak Tuhan. Inilah hubungan antara senjata dan doa dalam Efesus 6. Doa untuk peperangan.

Misi Diberikan Sebagai Sebuah Ladang untuk Didoakan

Hubungan antara doa dan misi dapat dilihat dalam sebuah bagian yang tidak menggunakan istilah peperangan, namun berhubungan dengan kenyataan yang sama, sebut saja, Yohanes 15:16. Yesus berkata, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu."

Logika kalimat tersebut sangatlah krusial. Mengapa Bapa mau memberikan apa yang diminta para murid dalam nama Yesus? Jawabannya: karena mereka diutus untuk menghasilkan buah. Alasan Bapa memberi para murid perlengkapan doa adalah karena Yesus telah memberi mereka sebuah misi. Kenyataannya, tata bahasa dalam Yohanes 15:16 menyiratkan bahwa alasan Yesus memberikan misi kepada mereka adalah agar mereka mampu menggunakan kuasa doa. "Aku mengutus kamu untuk menghasilkan buah ... "sehingga" apa pun yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, Dia akan memenuhinya." Ini hanyalah sebuah cara lain untuk mengatakan bahwa doa adalah sebuah alat komunikasi dalam masa perang. Tuhan telah merancang dan memberikannya pada kita untuk digunakan dalam sebuah misi. Anda dapat mengatakan bahwa misinya adalah "menghasilkan buah" atau Anda dapat mengatakan misinya adalah "membebaskan mereka yang tertawan". Intinya tetap sama: doa dirancang untuk memperluas kerajaan ke dalam wilayah musuh yang tak berbuah.

Mengapa Doa Gagal Berfungsi

Alasan nomor satu mengapa doa gagal berfungsi dalam kehidupan orang percaya, mungkin adalah kita mencoba mengubah alat komunikasi perang menjadi interkom lokal. Doa adalah untuk menyelesaikan sebuah misi pada masa perang. Seperti komandan lapangan (Yesus) memanggil para prajurit, memberi mereka sebuah misi penting (pergi dan hasilkan buah), memperlengkapi satu demi satu dengan sebuah transmiter pribadi yang disandikan khusus pada frekuensi markas besar sang Jenderal, dan berkata, "Sobat, sang Jenderal memiliki sebuah misi untukmu. Dia ingin melihat misi itu dituntaskan. Dan karena itu, Dia telah memberi-Ku otoritas untuk memberi masing-masing dari kamu sebuah akses pribadi pada-Nya melalui transmiter ini. Jika kamu setia pada misi-Nya dan memberi-Nya kemenangan, Dia akan selalu dekat, sedekat transmitermu untuk memberi nasihat taktis dan untuk mengirim perlindungan udara ketika kamu memerlukannya."

Namun, apa yang telah dilakukan oleh jutaan orang Kristen? Kita telah berhenti memercayai bahwa kita berada dalam sebuah perang. Tidak ada urusan penting dan mendesak, tidak ada pengawasan, tidak ada kewaspadaan. Tidak ada rencana strategis. Yang ada hanyalah kedamaian dan kemakmuran. Dan, apa yang kita lakukan pada alat komunikasinya? Kita mencoba untuk memperlakukannya sebagai interkom rumah, kamar, kapal, dan mobil kita -- bukan untuk meminta kekuatan untuk menyerang musuh yang kecil, namun meminta lebih banyak kenyamanan dalam sarang.

Masa-Masa Kesusahan Besar

Dalam Lukas 21:34-36, Yesus memperingatkan murid-murid-Nya bahwa masa kesusahan dan perlawanan besar sedang datang. Kemudian, Ia berkata, "Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia." Dengan kata lain, jika kita mengikuti Yesus, hal itu akan membawa kita pada konflik serius dengan iblis. Hal itu berarti perang. Iblis akan mengelilingi, menyerang, dan mengancam untuk menghancurkan iman kita. Namun, Tuhan telah memberi kita sebuah transmiter. Jika kita mematikannya, hal itu akan membuat kita dalam masalah. Namun, jika kita waspada seperti yang Yesus katakan dan meminta bantuan dalam sebuah konflik, bantuan akan datang. Sang Komandan tidak akan membiarkan mahkota kemenangan prajurit-Nya yang setia ditolak di hadapan Anak Manusia. Karenanya, berulang-ulang kita melihat kebenaran yang sama: kita tidak tahu mengapa perlu berdoa sebelum kita tahu bahwa hidup adalah perang.

Berdoa untuk Kedamaian Adalah Bagian dari Perang

Satu Timotius 2:1-4 sepertinya bertentangan dengan medan peperangan doa ini. Paulus mengatakan bahwa dia ingin kita berdoa untuk raja dan semua orang yang berada dalam posisi yang lebih tinggi "agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan" (ayat 2). Sekarang kedengarannya sangat membumi, beradab, dan penuh kedamaian.

Namun, bacalah sekali lagi! Alasan untuk berdoa dengan cara ini sangatlah strategis. Ayat 3-4 berkata, "Itulah (Doa untuk perdamaian) yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juru Selamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran." Tuhan ingin menyelamatkan orang-orang dari setiap suku, bahasa, dan bangsa. Namun, salah satu rintangan terbesar untuk meraih kemenangan adalah ketika orang terbawa dalam konflik-konflik sosial, politis, dan militeristik yang menjauhkan perhatian, waktu, tenaga, dan kreativitas mereka dari perang yang sebenarnya di alam semesta.

Tujuan setan adalah agar tidak seorang pun diselamatkan dan mengetahui kebenaran. Salah satu strategi kuncinya adalah memulai berbagai perang di dunia, yang akan menarik perhatian kita dari perang yang sesungguhnya demi keselamatan mereka yang terhilang dan kegigihan orang-orang kudus. Dia tahu bahwa perang yang sesungguhnya, seperti yang dikatakan Paulus, bukanlah melawan darah dan daging. Jadi, semakin banyak perang, konflik, dan revolusi "darah dan daging" yang dapat dimulai, bagi setan itu adalah hal yang semakin baik.

Jadi, ketika Paulus mengatakan kepada kita untuk berdoa demi kedamaian karena Tuhan merindukan semua manusia diselamatkan dan mengenal kebenaran, dia tidak sedang menggambarkan doa sebagai semacam interkom lokal yang tidak berbahaya untuk meningkatkan kenyamanan kita sendiri. Dia sedang menggambarkannya sebagai sebuah permintaan strategis pada markas besar, untuk meminta agar musuh tidak diizinkan menggiring kekuatan kita pada umpan berupa konflik-konflik darah dan daging.

Seruan pada Saat Ini

Tuhan telah memberi kita doa karena Yesus telah memberi kita sebuah misi. Kita ada di bumi ini untuk memukul mundur kekuatan kegelapan, dan kita diberikan akses pada markas besar melalui doa untuk mempercepatnya. Ketika kita mencoba untuk mengubahnya menjadi sebuah interkom sipil untuk meningkatkan kenyamanan kita, doa akan berhenti bekerja dan iman kita akan mulai goyah. Kita memiliki doa yang begitu lemah sehingga bagi kebanyakan dari kita, doa tidak lagi menjadi apa yang dirancangkan untuknya -- sebuah alat komunikasi di masa perang untuk pemenuhan misi Kristus.

Kita harus mencari sebuah mentalitas masa perang untuk diri dan rekan-rekan kita. Kalau tidak, pengajaran Alkitab tentang betapa penting dan mendesaknya doa, kewaspadaan berdoa, dan bahaya mengenai pengabaian doa tidak akan mengena dan tidak memiliki gema dalam hati kita. Sampai kita merasa kecewa akan serangan bom, atau sensasi dari sebuah strategi baru untuk menyerang Injil, kita tidak akan berdoa dalam Roh Yesus.

Seruan pada saat ini adalah untuk berada pada pijakan masa perang. Para pemimpin misi berseru, "Di manakah konsep yang dimiliki gereja tentang militansi, tentang sebuah angkatan perang yang kuat yang rela untuk menderita, maju ke depan dengan sukacita yang tetap untuk merebut dunia dengan sorak-sorai? Di manakah kenekatan menyerbu ke luar hanya dengan Tuhan saja?" Jawabannya adalah bahwa hal itu telah ditelan oleh mentalitas masa damai.

Kita adalah "tanah ketiga". Dalam perumpamaan tentang penabur, Yesus mengatakan bahwa benihnya adalah firman Tuhan. Dia menaburkan kata-kata yang mendesak mengenai kuasa kerajaan. Namun, alih-alih mengambilnya sebagai pedang kita (atau menghasilkan buah), kita "adalah mereka yang mendengar firman, namun kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah". (Markus 4:18-19)

Inilah sebabnya Paulus mengatakan bahwa semua kehidupan adalah peperangan -- setiap saat. Bahkan, sebelum kita terlibat dalam misi gereja, kita harus melawan "tipu daya kekayaan" dan "keinginan-keinginan akan hal yang lain". Kita harus melawan untuk menghargai kerajaan di atas "hal-hal yang lain" -- inilah pertempuran kita yang pertama dan yang paling konstan. Itulah "pertempuran iman". Lalu, ketika kita memiliki beberapa pengalaman dalam pertempuran dasar tersebut, kita turut serta dalam pertempuran untuk memercayakan kerajaan kepada semua bangsa.

Tuhan akan Memenangkan Perang

Sekarang, dalam peperangan ini Tuhan menegaskan akan kemenangan-Nya. Dia melakukan hal ini dalam sebuah cara yang tak mungkin salah, sehingga kemenangan akan memuliakan-Nya. Dalam semua kisah ini, tujuan-Nya adalah untuk menegakkan dan memperlihatkan kemuliaan-Nya, untuk kesukaan orang-orang tebusan-Nya dari segala bangsa. Karenanya, Tuhan melibatkan diri dalam pertempuran sehingga kemenangan adalah manifestasi-Nya. Inilah jaminan kemenangan karena pergerakan-Nya. Dalam rangka membesarkan kemuliaan-Nya, Dia akan mengusahakan kuasa kedaulatan-Nya dan menggenapi misi yang telah Dia perintahkan.

Kuasa Pengharapan Kaum Puritan

Keyakinan dalam kedaulatan Tuhan dan kemenangan dari-Nya ini sangatlah penting dalam doa-doa umat Tuhan dan misi gereja. Hal itu telah terbukti sebagai sebuah kekuatan luar biasa dalam sejarah misi. Pekerjaan misionaris pertama orang-orang Protestan di Inggris tercurah dari pengharapan kaum Puritan. Kaum puritan adalah para pendeta dan guru di Inggris (kemudian di New England), antara tahun 1560 dan 1660, yang ingin memurnikan gereja Inggris dan membawanya pada kesesuaian antara teologi dan praktiknya dengan pengajaran Reformis.

Mereka memiliki pandangan akan kedaulatan Tuhan yang menghasilkan harapan yang berani, dalam kemenangan Tuhan atas seluruh dunia. Mereka sangat dikobarkan oleh pesona kedatangan kerajaan Tuhan atas semua bangsa. Hati mereka sungguh memercayai kebenaran janji-janji bahwa kuasa Kristus akan menang. "Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." (Matius 16:18) "Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." (Matius 24:14) "Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu." (Mazmur 86:9) "Dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." (Kejadian 12:3b) "maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu." (Mazmur 2:8b) "Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya." (Mazmur 22:27) "Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu." (Mazmur 66:4) "Sampai dia datang yang berhak atasnya, maka kepadanya akan takluk bangsa-bangsa." (Kejadian 49:10b) Keyakinan yang luar biasa bahwa Kristus suatu hari akan menaklukan hati setiap bangsa dan dimuliakan oleh setiap orang di bumi ini, melahirkan pekerjaan misionaris Protestan pertama di negara-negara berbahasa Inggris, dan itu terjadi 150 tahun sebelum pergerakan misionaris modern dimulai oleh William Carey di 1793.

Antara tahun 1627 dan 1640, 15.000 orang beremigrasi dari Inggris ke Amerika, kebanyakan dari mereka adalah kaum Puritan, membawa keyakinan yang luar biasa tentang pemerintahan Kristus ini ke dunia luas. Kenyataannya, mereka mendapatkan jaminan dari kalangan koloni Teluk Massachusetts pada seorang Indian Amerika Utara dengan kata-kata ini keluar dari mulut mereka: "Menyeberanglah ke Makedonia dan tolonglah kami!" yang diambil dari Kisah Para Rasul 16:9. Apa yang diperlihatkan di sini adalah pada umumnya kaum Puritan melihat emigrasi mereka ke Amerika sebagai bagian dari strategi misionaris Tuhan, untuk memperluas kerajaan-Nya di antara bangsa-bangsa. (t\Rento)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Let the Nations be Glad
Judul bab : The Supremacy of God in Mission Through Prayer
Penulis : John Piper
Penerbit : Baker Books, Grand Rapids 1993
Halaman : 44 -- 50

e-JEMMi 41/2012