Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No. 08 Vol.18/2015 / Suku Wana di Sulawesi Tengah

Suku Wana di Sulawesi Tengah


Dirangkum oleh: Mei

a. Asal Usul Suku Wana

Suku Wana terletak di sebuah kawasan pedalaman Provinsi Sulawesi Tengah bagian Timur. Oleh masyarakat luar, suku Wana sering disebut sebagai Tau Taa Wana, yang artinya orang yang tinggal di kawasan hutan. Namun, suku Wana sendiri lebih sering menyebut dirinya dengan Tau Taa (tanpa wana), atau orang Taa. Hal ini disesuaikan dengan bahasa yang mereka gunakan, yaitu bahasa Taa. Menurut mereka, asal usul leluhur mereka konon turun dari langit. Mereka meyakini bahwa nenek moyang mereka berasal dari Tundatana, sebuah tempat di wilayah Kajumarangka.

Sebagaimana suku-suku pedalaman lainnya, suku Wana juga menjalankan pola hidup yang terkait dengan menjaga keharmonisan hubungan dengan para leluhur mereka. Dalam keyakinan suku Wana, yang menjadi unsur penting pertama dalam hidup mereka adalah tanah karena tanah (tana poga‘a) diciptakan oleh Pue (Tuhan) yang menjadi tempat hidup leluhur pertama mereka. Unsur penting kedua adalah pohon yang berfungsi sebagai perekat tanah leluhur. Menurut mereka, "Kaju kele‘i dan kaju paramba‘a adalah kayu yang sengaja ditancapkan oleh Pue (Tuhan) tidak saja untuk melindungi leluhur suku Wana, tetapi juga untuk mengikat tanah leluhur atau "tana ntautua" agar kuat dan terus menyatu. Satu komponen lagi yang menurut suku Wana harus dilindungi adalah sungai. Pohon-pohon besar (kaju), tanah (tana), dan sungai (ue) adalah kesatuan yang saling terkait. Kesatuan itulah yang oleh suku Wana kemudian disebut sebagai hutan atau pangale. Jika salah satu unsur pangale tersebut dirusak, keseimbangan kesatuan tersebut akan rusak. Untuk itu, menurut keyakinan suku Wana, jika manusia ingin kehidupannya di dunia ini terhindar dari bencana, mereka harus mampu menjaga kelestarian pangale-nya.

b. Kehidupan Suku Wana

Suku Wana adalah suku yang hidup di pegunungan, mereka hidup dengan berpindah-pindah, dan tidak mau berhubungan dengan dunia luar. Seperti sebutannya, "Orang hutan", suku Wana sangat menggantungkan hidup mereka pada hutan. Rumah mereka berbentuk panggung dengan dinding bambu serta atap daun rotan. Mereka mendirikan rumah yang tinggi di atas tanah, sekitar 2 -- 5 meter. Di bagian tengah rumah, ada perapian. Biasanya, mereka sekeluarga tidur dengan menaruh kaki di dekat perapian. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka masih menjalani kehidupan seperti suku kuno. Mereka hidup dengan berladang dan berburu. Peralatan mereka pun sebagian besar masih terbuat dari kayu dan bambu. Seiring dengan berkembangnya zaman, masyarakat Wana pun sangat bergantung pada daerah-daerah pesisir sebagai jaringan perdagangan mereka. Sebab, di sana ada sumber sandang, garam, atau alat-alat logam, dan lain-lain. Kini, mereka sudah berinteraksi dengan komunitas masyarakat lain. Saat ini, mereka terdaftar secara administratif dan membentuk kampung, dan ada beberapa sekolah hasil dari para misionaris dan bantuan dari pemerintah.

c. Agama dan Kepercayaan Suku Wana

Kelompok masyarakat Tau Ta'a Wana rata-rata masih memeluk agama dan kepercayaan leluhurnya, yaitu Halek/Khalaik. Dalam keyakinannya, mereka akan mengucilkan warganya bila didapati memeluk agama di luar Halek/Khalik. Mereka percaya adanya roh (spirit) yang menjaga dan memelihara setiap jengkal tanah dan hutan. Maka, ketika terjadi kerusakan terhadap lingkungan, itu merupakan tanda murkanya sang penjaga. Mereka menyebut Tuhan mereka dengan panggilan "Pue". Maka, sebagai penyeimbang atas kejadian-kejadian alam, masyarakat Tau Ta'a Wana memberi persembahan atau sesajen (Kapongo) yang terdiri atas sirih, pinang, kapur, dan tembakau yang diletakkan dalam suatu "rumah" yang tingginya kira-kira 40 -- 50 cm dari tanah.

Menyangkut agama atau kepercayaan, suku Wana juga berhubungan dengan agama I dan Kristen. Proses masuknya agama I ke suku Wana sudah berlangsung lama. Bahkan, ketika A.C. Kruyt melakukan riset pada tahun 1928, sudah terjadi pertemuan antara agama suku Wana dan agama I. Setelah perang dunia ke II, agama Kristen mulai masuk melalui gerakan misionaris. Ada beberapa hukum agama Kristen yang tidak disetujui oleh suku Wana karena tidak sesuai dengan hukum suku Wana. Misalnya, mengenai cara pengobatan Suku Wana dengan percaya kepada dukun. Namun, di dalam kekristenan melarang hal itu, sedangkan di suku Wana belum ada balai pengobatan. Menurut mereka, akankah mereka hanya berdiam jika ada warganya yang sakit? Begitu pula dalam hukum agama I, ada beberapa hukum yang mereka tidak setujui. Misalnya, mengenai makanan. Hukum agama I melarang makan daging babi, sedangkan mereka sudah terbiasa dengan berburu dan makan daging babi. Oleh karena itu, secara umum suku Wana memilih untuk hidup dengan tidak beragama. Suku Wana yang menganut agama I dan Kristen umumnya terjadi karena mereka takut ditindak oleh pemerintah karena setelah zaman modern, pemerintah menuntut untuk mereka memeluk agama yang diakui oleh pemerintah. Oleh karena itu, mereka pun berniat akan kembali lagi ke kepercayaan tradisional apabila ancaman tindakan itu mulai reda.

Pokok doa:

  1. Mengucap syukurlah kepada Tuhan karena Injil sudah masuk di suku Wana; sudah ada gereja dan sekolah bagi anak-anak suku Wana.
  2. Berdoalah kepada Tuhan Yesus agar gereja ataupun pemerintah dapat memberikan fasilitas pengobatan yang layak untuk suku Wana karena hal ini merupakan salah satu hal yang menghambat orang-orang suku Wana untuk menerima Kristus.
  3. Berdoalah agar Tuhan menolong setiap orang Kristen di suku Wana agar benar-benar memahami makna sejati keselamatan yang telah mereka terima.
  4. Berdoalah agar Tuhan memakai fasilitas-fasilitas yang ada di suku Wana untuk menjangkau mereka, baik itu fasilitas pendidikan, kesehatan, maupun fasilitas lainnya.

Dirangkum dari: