Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are heree-JEMMi No. 04 Vol.18/2015 / Suku Hajong Di India

Suku Hajong Di India


Diringkas Oleh: Mei

  1. Kehidupan Suku Hajong

    Masyarakat suku Hajong menetap di daerah dataran dan bukit-bukit kecil. Mereka menggunakan bahasa Garo, Assam, dan Bengali di Meghalaya, Hindi di Arunachal, dan Bangla di Bangladesh. Suku Hajong memiliki hubungan yang baik antarkeluarga dalam satu desa meskipun dalam kasta yang berbeda. Mereka memiliki kebiasaan yang baik, yaitu mereka saling bertukar pendapat, saling berkunjung, saling bertukar makanan dan jasa. Penduduk Hajong mendirikan atau membangun rumah dengan menggunakan lumpur, bambu yang diikat, kayu, bambu, jerami, tali atau sayatan bambu, bilah bambu untuk atap, dan tiang-tiang kayu atau bambu. Rumah-rumah mereka dilapisi dengan lumpur sampai tebal untuk melindungi bambu dari hujan dan membuatnya tahan lebih lama.

  2. Pendidikan

    Tingkat kepedulian untuk pendidikan atau sekolah secara formal masih sangat rendah. Demi memenuhi kebutuhan, orang tua enggan menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah. Hal inilah yang menyebabkan angka buta huruf meningkat di masyarakat Hajong. Anak-anak dipaksa meninggalkan sekolah untuk mengumpulkan kayu bakar, membajak sawah, pergi memancing, mengasuh bayi, dan membantu orang tua di rumah, dan juga sebagai pekerja di rumah orang yang kaya.

  3. Kepercayaan

    Suku Hajong adalah penganut animisme. Suku Hajong menyembah alam yang disebut bastu, dan dewi Kartik. Dewa bastu adalah dewa untuk meminta hujan supaya pertanian suku Hajong mendapat pasokan air dengan baik. Dewi Kartik disembah untuk melindungi tanaman pertanian dari serangga atau hama. Suku Hajong tidak memiliki berhala untuk disembah, tetapi mereka percaya kepada segala macam roh, ada yang mereka sebut dengan roh baik dan ada yang mereka sebut roh yang tidak baik. Akan tetapi, suku Hajong juga dipengaruhi oleh ajaran H. Setelah mengadopsi agama H, sekarang mereka menyembah dewa-dewi H lainnya dan bahkan meminta bantuan pendeta H dalam kegiatan keagamaan.

  4. Pakaian dan Perhiasan

    Wanita suku Hajong ahli dalam membuat pakaian sendiri, mereka membuatnya dengan cara menenun. Pakaian yang biasa digunakan oleh wanita disebut "Pathin" dan pakaian pria disebut "Gamsa". Wanita suku Hajong juga biasa mengenakan kalung, anting-anting, anting hidung, gelang, dan cincin. Namun, saat ini, wanita suku Hajong membuat pakaian (menenun) hanya sebagai pekerja dari orang kaya, yang kemudian hasil tenunannya diperjualbelikan.

  5. Pengobatan

    Masyarakat suku Hajong menggunakan obat-obatan tradisional. Sebab, obat-obat tradisional mudah diperoleh dan tersedia secara luas. Obat-obatan tersebut berkhasiat untuk beberapa penyakit, tetapi tidak untuk semua. Mereka pergi ke rumah sakit atau dokter hanya jika obat-obatan tradisional tidak mendatangkan kesembuhan. Hal ini dapat dimengerti karena berobat ke rumah sakit memerlukan biaya yang mahal, terutama bagi orang-orang di daerah pedesaan.

  6. Makanan

    Beras ketan dan kura-kura adalah hidangan utama di antara suku-suku Hajong, juga nasi kari yang disebut "leba hak". Makanan rebus tidak umum di kalangan suku Hajong. Orang-orang lebih suka minyak dan natrium karbonat tradisional yang terbuat dari batang pohon pisang yang disebut "khar". Masyarakat makan semua jenis sayuran dan daging yang tersedia di pasar, kecuali sapi dan babi. Sebab, sapi merupakan hewan sakral, sementara babi dianggap hewan haram. Akan tetapi, saat ini, babi dipelihara dan diperjualbelikan.

  7. Perayaan

    Suku Hajong memiliki beberapa perayaan yaitu "Cor-Khela", "pusnâ porbo", dan "pusnâ". Perayaan "Cor-Khela" biasa digunakan para remaja untuk memilih pasangan hidup. Pada perayaan itu, para remaja menari dan menyanyi lagu-lagu tradisional pada malam hari, dan berkeliling dari satu desa ke desa lain dan berhenti saat fajar tiba. Pusnâ porbo dirayakan dengan menyanyi dan menari di tempat khusus sejak sore. Orang-orang dari berbagai desa berkumpul dan bersaing satu sama lain dengan memakai pakaian tradisional, yang dirancang dan ditenun dengan indah menurut keinginan mereka sendiri. Pada perayaan "pusnâ", masyarakat mempersiapkan berbagai jenis roti tradisional dengan beras, parutan kelapa, pisang, dan sari ekstrak kelapa "palymyra".

  8. Pernikahan

    Suku Hajong hanya menikah dengan suku mereka sendiri, perkawinan antarsuku dan kawin lari sangat dilarang oleh adat suku Hajong. Biasanya, mereka menikah ketika berumur 15 -- 18 tahun. Pernikahan diatur oleh orang tua. Saat prosesi pernikahan, pengantin wanita memakai "sari" dan pengantin pria memakai "dhoti". Saat prosesi pernikahan, ada 7 orang yang disebut "ayrok", dan prosesi pernikahan dilakukan sesuai dengan perintah orang tua. Saat prosesi pernikahan, "dhuni bap dhuni maw" ditunjuk dan mereka berperan sebagai orang tua. Suku Hajong sangat melarang adanya perceraian.

Pokok-Pokok Doa:

  1. Berdoalah agar Tuhan menciptakan kelaparan rohani di dalam hati orang Hajong dan keterbukaan terhadap Injil Yesus Kristus.

  2. Berdoalah agar Tuhan membangkitkan dan memberikan hati untuk bermisi kepada pekerja-Nya yang memahami budaya Hindu dan yang dapat secara efektif membawa Injil kepada mereka.

  3. Berdoalah agar Tuhan memberikan koneksi untuk agen-agen misi yang mencoba menjangkau orang Hajong. Berdoalah agar Dia memberi mereka strategi dan hikmat. (t/Wiwin)

Diterjemahkan dan diringkas dari:

Nama situs : Bible India
Alamat URL : http://haj.biblesindia.in/en/about_hajong
Judul asli artikel : Hajong Pathin
Penulis artikel : S. Seth
Tanggal akses : 10 November 2014