Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No. 11 Vol.18/2015 / Suku Aiton di India

Suku Aiton di India


1. Identitas

Suku Aiton mendiami desa-desa di kawasan Jorhat dan Karbi-Aleng di Provinsi Assam, India Timur Laut. Pemerintah India tidak mengakui suku Aiton sama sekali sehingga informasi yang tepercaya tentang mereka sangat langka. Seorang ahli bahasa, Anthony Diller, pada tahun 1990, memperkirakan bahwa ada "beberapa ribu penutur dan semi penutur" bahasa Aiton.

2. Sejarah

Leluhur dari suku Aiton berasal dari Myanmar Utara, di tempat mereka tinggal selama berabad-abad dengan suku-suku berbahasa Tai yang lainnya. "Pada akhir abad ke-18, suku Aiton memasuki Assam sebagai pengungsi politik dari Provinsi Shan di Burma. Mereka berbicara menggunakan bahasa Aiton dengan sesama mereka dan menggunakan bahasa Assam, Hindi, dan Inggris dengan orang lain."

3. Adat Istiadat

Bahasa Aiton merupakan bagian dari cabang barat laut dari keluarga Tai barat daya. Bahasa tersebut adalah salah satu dari sembilan bahasa yang berbeda, yang sama-sama memiliki hubungan, termasuk Ahom, Khamti, Tai Phake, dan Khamiyang, yang semuanya digunakan oleh suku-suku etnis lain di kawasan India. Bahasa Aiton dipercayai mirip dengan bahasa Shan yang digunakan di Myanmar, China, dan Thailand. Akan tetapi, setelah lebih dari dua abad terpisah dari kampung halamannya, maka bahasa, kebudayaan, dan identitas suku Aiton secara bertahap telah terasimilasi.

Para tua-tua di antara orang-orang Aiton bertanggung jawab untuk menurunkan tradisi lisan, cerita rakyat, dan lagu-lagu tentang asal muasal dan migrasi mereka kepada generasi selanjutnya. Lagu-lagu mereka menceritakan tentang penindasan di kampung halaman mereka, yang menuntun pada perjalanan mereka yang panjang dan sulit menyeberangi pegunungan-pegunungan menuju India.

Sampai dengan dekade yang lalu, semua orang Aiton adalah petani, nelayan, dan pemburu, tetapi pada tahun-tahun terakhir ini makin banyak orang yang menjadi pebisnis, pengajar, dan buruh di perkampungan-perkampungan terdekat, baik dalam sektor pemerintahan maupun swasta.

Meskipun jumlah populasinya kecil, terdapat empat belas klan yang berbeda di antara para orang Aiton. Sekarang ini, masyarakat menggunakan nama klan mereka masing-masing sebagai nama keluarga mereka. Adat pernikahan suku Aiton yang ketat mengharuskan seorang laki-laki muda menikahi anak perempuan pamannya yang berasal dari pihak ibunya. Mahar diperlukan, yang mana melaluinya, keluarga dari mempelai pria harus membayar sejumlah uang dan barang yang telah disepakati kepada keluarga mempelai wanita sampai taraf tertentu. Hal ini merupakan ungkapan rasa terima kasih kepada keluarga mempelai wanita atas tahun-tahun pengeluaran mereka untuk membesarkannya. Biksu Buddha dipanggil untuk meresmikan pada upacara pernikahan yang digelar di kediaman mempelai wanita. Setelah melahirkan, seorang wanita Aiton tidak boleh berinteraksi dengan anggota masyarakat yang lain selama satu bulan penuh karena dia dianggap "tercemar". Setelah satu bulan berlalu, sebuah ritual dilaksanakan dan ibu yang baru tersebut bebas untuk kembali kepada masyarakat.

4. Agama

Seluruh orang Aiton adalah pengikut Buddha Theravada, yang mereka bawa ketika mereka bermigrasi menuju India lebih dari dua ratus tahun yang lalu. Mereka juga menyembah Medham Medhphi, dewa mereka, setiap pagi dan malam. Vyas-chow chanq, sang peramal, dipanggil untuk merawat mereka yang sakit. Tidak diketahui adanya orang Kristen di antara orang Aiton. Mereka tidak pernah muncul dalam daftar suku-suku tak terjangkau di India, tetapi Allah tidak melupakan mereka dan rindu bahwa mereka boleh mengenal-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat. (t/Odysius)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Joshua Project
Alamat URL : https://joshuaproject.net/people_groups/16191/IN
Penulis asli artikel : Aiton In India
Penulis artikel : Paul Hattaway
Tanggal akses : 25 Juni 2015