Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No. 12 Vol.17/2014 / Sang Perintis Jemaat Xhosa

Sang Perintis Jemaat Xhosa


Pada tahun 1799, dua orang misionaris dari badan misi London Missionary Society (LMS), (Johannes Theodorus) Van der Kemp dan rekannya, (John) Edmond, menjejakkan kaki mereka di Cape Town. Saat itu, pasukan Inggris tengah mengambil alih Cape Town dari Kekaisaran Belanda yang melemah akibat kekalahannya di perang era Napoleon.

Pada 13 Juni tahun itu, Van der Kemp dan Edmond menyeberangi sungai Gamka, yang sangat lebar, tetapi untungnya sedang kering, dan berlindung dari udara dingin di rumah Samuel de Beer. Samuel baru saja menguburkan putranya ketika mereka datang, tetapi ia sangat bersukacita karena kedatangan mereka adalah jawaban yang Allah berikan atas doanya untuk membawakan Injil kepada penduduk pribumi Afrika Selatan. Van der Kemp dengan antusias memberi Samuel salinan buku karangan (William) Carey yang menginspirasi berdirinya London Missionary Society; "The Obligations of Christians to Use Means for the Conversion of the Heathens" dan juga menyatakan hasratnya untuk membawa Injil kepada suku Xhosa yang tinggal di perbatasan sebelah timur koloni Cape, yang sama sekali belum pernah dijangkau oleh Injil. Sayangnya, tidak semua orang di tempat itu seantusias Samuel de Beer. Ada banyak orang yang justru meruntuhkan semangat Van der Kemp dan Edmond untuk melanjutkan misi mereka. Lagi pula, saat itu tengah terjadi konflik antara suku Xhosa dengan pemerintah kolonial dan para 'trekboer' (petani Belanda/Afrikaans) sehingga situasi di perbatasan tidak dapat diprediksi dan berbahaya. Akhirnya, Edmond memutuskan kembali ke Cape Town, dari sana ia berlayar ke India. Akan tetapi, Van der Kemp bertahan untuk mendapatkan kesempatan mengabarkan Injil kepada suku Xhosa.

Pada akhir 1799, Van der Kemp berhasil menghubungi seorang kepala suku Xhosa bernama Ngqika, yang memberinya kesempatan untuk tinggal di tengah-tengah rakyatnya. Ia tinggal bersama suku Xhosa selama setahun, tetapi tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengabarkan Injil. Menjelang akhir tahun 1800, sebuah konflik baru dimulai. Van der Kemp merasa putus asa, ia telah berlayar sangat jauh dan telah menyerahkan hidupnya, tetapi belum mendapatkan sebuah hubungan yang berarti dengan orang-orang Xhosa. Dalam keputusasaannya itu, ia berencana mengundurkan diri ke daerah Graff-Reinet (di provinsi Eastern Cape, Afrika Selatan -- Red.).

Akan tetapi, sebelum pergi, ia mendapat sebuah kesempatan untuk mengabarkan Injil kepada sekelompok anak laki-laki yang berusia sekitar 15 -- 19 tahun. Remaja-remaja tersebut duduk dengan berbalut kaross (semacam jubah dari kulit hewan yang bulunya masih ada, -- Red.) di tubuh mereka sambil mendengarkan Van der Kemp dari jauh yang sedang menjelaskan Injil, "Di langit sana ada Allah yang menciptakan segala sesuatu; matahari, bulan, dan bintang-bintang. Ia adalah Sifuba-sibenzi ("Yang Berdada Lebar"; orang Xhosa percaya bahwa ayah yang baik dapat memeluk semua anaknya di dadanya -- Red.), pemimpin segala bangsa. Ia diserukan oleh bintang-bintang; kaki-Nya terluka bagi kita, tangannya ditikam bagi kita, dan darah-Nya ditumpahkan bagi kita." Hanya satu dari remaja-remaja tersebut yang mendengarkan dengan sungguh-sungguh perkataan pria aneh itu, tetapi baik dia maupun sukunya tidak akan mendengar Injil dari seorang misionaris lagi sampai 15 tahun kemudian.

Remaja itu bernama Ntsikana, dan ia tumbuh menjadi seorang penyanyi, penari, dan orator bagi sukunya. Selain itu, ia adalah penasihat kepala suku Ngqika. Ntsikana menikah dengan dua perempuan muda, Nontsonta dan Nomanto. Mereka tinggal di antara Distrik Sungai Kat dan Distrik Peddie pada tahun 1811. Di kemudian hari, keluarga ini pindah ke Gqore di Distrik Sungai Kat. Sesekali, perkataan pria berkulit putih itu muncul di benaknya, bekerja dalam hatinya, dan mulai terbentuk dalam pikirannya.

Suatu pagi berkabut pada tahun 1815, sekitar 15 tahun setelah Van der Kemp berkhotbah, Ntsikana duduk di depan gubuknya sambil mengawasi ternaknya. Ketika ia bangkit dari duduknya, seberkas sinar matahari menyinari sisi tubuh Hulushe, kerbau kesayangannya dengan cara yang tidak biasa. Seketika itu juga, pandangannya terpaku. Seorang bocah yang berada di situ juga melihat kejadian ini, tetapi tidak mengetahui apa yang menarik perhatian Ntsikana. Apa yang dilihatnya? Apakah sinar itu membentuk salib? Ataukah ada hal lain yang mengingatkan dirinya tentang apa yang didengarnya 15 tahun yang lalu?

Selain pemandangan pagi itu, semuanya tampak biasa-biasa saja. Karena itu, sore harinya, Ntsikana pergi ke sebuah rumah untuk menampilkan tariannya. Ia akan memberikan tariannya yang terbaik. Akan tetapi, ketika ia berdiri dan mulai mengikuti hentakan genderang, angin kencang mulai bertiup. Awalnya, ia tidak berhenti menari karena ia mengira angin itu akan berlalu. Namun, setelah dirasakannya angin itu semakin kencang, ia memutuskan untuk menghentikan tariannya. Hal ini terjadi sampai tiga kali. Para penonton berbisik-bisik di antara mereka; mereka mengira Ntsikana ditenung. Sebab, apa lagi yang dapat menyebabkan angin kencang bertiup setiap kali ia menari?

Apa yang terjadi dalam hati Ntsikana, kita tidak tahu, tetapi ia jelas membutuhkan waktu untuk berpikir. Maka, ia pulang bersama kedua istrinya; mereka berjalan di depannya sedangkan ia berjalan lambat-lambat di belakang mereka. Ketika sudah dekat rumahnya, tiba-tiba Ntsikana berbelok ke sebuah sungai kecil untuk melepas jubahnya dan menceburkan diri ke sungai itu. Ia membasuh pewarna merah yang menghiasi tubuhnya; inilah tindakan pertamanya untuk memutuskan ikatan antara dirinya dengan identitas religiusnya yang lama, dan dari tradisi sebagai seorang Xhosa.

Keesokan harinya, Ntsikana menyanyikan iman yang baru ditemukannya; ia melakukannya sesuai statusnya sebagai seorang pujangga dan penari, dan mengikuti budaya Afrika yang selalu merayakan peristiwa penting dengan nyanyian dan tarian. Sambil terus menari dan menyanyi, ia berjalan mengitari kampungnya. Inilah syair indah yang didengar warga kampungnya:

Engkaulah Allah yang Agung di surga. Satu-satunya Perisai yang sejati. Satu-satunya Benteng yang sejati. Satu-satunya Semak (tempat persembunyian) yang sejati. Satu-satunya Yang Berdiam di Tempat Tertinggi.

Dialah Sang Pencipta kehidupan. Dialah Sang Pencipta langit. Ia Sang Pencipta bintang-bintang. Bahkan, sekeping bintang turun dari langit menyampaikan pesan-Mu.

Ia juga menciptakan orang buta (Allah yang mencipta adalah Allah yang berdaulat). Trompet dibunyikan untuk memanggil kita. Ia Pemburu Jiwa yang Agung.

Ia memperdamaikan suku-suku yang berperang, Ia Pemimpin Agung yang menuntun kita. Kaross Agung yang menyelimuti kami.

Mengapa tangan-Mu terluka? Mengapa kaki-Mu terluka? Mengapa darah-Mu tertumpah?

Darah-Mu tertumpah bagi kami! Itukah harga demi menyelamatkan kami? Bangsa Khanwana (Soga), bukankah demikian kami menyebut diri kami?

Ketika ditanya mengenai sikapnya yang aneh itu, Ntsikana menjawab, "Sesuatu yang masuk ke dalam diriku berkata bahwa kita semua harus berdoa; belum ada seorang pun di negeri ini yang memahaminya, kecuali Ngcongolo (nama panggilan yang diberikan kepada Rev. James Read, yang datang ke Distrik Sungai Kat pada tahun 1811, -- Red.)."

Ntsikana mulai berkhotbah dengan semangat, dan kerumunan orang pun datang mendengarnya. Benih yang Allah tanamkan mulai berakar dan mata suku Xhosa mulai terbuka terhadap kebenaran Injil yang sederhana. Ntsikana mendengar kebenaran itu 15 tahun yang lalu, tetapi ia berkhotbah seolah-olah telah bergaul dengan Kebenaran itu setiap hari. Bahkan, orang-orang Gaika (keluarga bangsawan Xhosa, -- Red.) pun datang untuk mendengarkan Ntsikana berkhotbah. Ntsikana terus berkeliling dan berkhotbah tentang keagungan Allah dan kedatangan Yesus yang membawa pengampunan dosa melalui darah-Nya.

Pada tahun 1816, seorang misionaris bernama (Joseph) Williams yang diutus LMS tiba di tanah Xhosa dan mendapat kepercayaan dari kepala suku Ngqika. Ntsikana sangat bersukacita karena ada seseorang yang dapat menceritakan kepadanya tentang Juru Selamat dan Allahnya dengan lebih mendalam sehingga ia gemar sekali mengunjungi Williams selama berhari-hari dan bertanya tentang banyak hal selagi bertumbuh dalam iman. Akan tetapi, pada tahun 1818, dua tahun sejak kedatangannya, Williams meninggal. Selama rentang waktu sebelum ada pengganti Williams, Ntsikana memimpin kelompok orang Kristen yang tinggal di pusat misi tersebut. Setiap hari, dan juga hari minggu, ia mengadakan kebaktian di gubuknya, banyak orang datang ke kebaktian itu termasuk Ngqika, sang kepala suku yang tampaknya benar-benar terkesan oleh Injil Anugerah Allah. Akan tetapi, sang kepala suku tidak sempat bertobat karena dicegah oleh para penasihat seniornya. Bangsawan lain yang datang ke kebaktian itu adalah (Jotello) Soga, yang pada kemudian hari anaknya, Tiyo Soga, menjadi pendeta kulit hitam pertama yang melayani di Afrika bagian selatan.

Pada tahun 1820, kesehatan Ntsikana semakin menurun. Pada hari terakhirnya, ia mengerahkan seluruh kekuatannya yang tersisa untuk bangun dan memimpin kebaktian pagi. Ntsikana berkata kepada jemaat yang berkumpul di gubuknya, "Aku percaya bahwa Allah adalah selalu yang terbaik dan aku merasa puas sudah memilih-Nya. Aku akan meninggalkanmu dengan kata-kata ini: Percayalah pada anugerah dan belas kasihan Allah. Oh, betapa aku sangat rindu setiap orang Xhosa yang lain dapat mengenal Yesus Kristus, Juru Selamatku. Bagi kalian yang telah percaya, aku mohon, pilihlah kematian yang mengenaskan daripada harus menyangkal Dia, Allah yang Esa."

Dr. Kevin Roy menulis, "Dengan gemilang, Ntsikana mempribumikan Injil ke dalam konteks budaya Xhosa dan masyarakatnya. Pelayanan Ntsikana ini menjadi contoh bagaimana Injil dapat dikomunikasikan secara efisien ke dalam berbagai bahasa, idiom, konsep berpikir, tradisi-tradisi budaya, dan praktik-praktik sosial dari suku bangsa tertentu. (t/Yudo)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : CalledConvictedConverted
Alamat URL : http://calledconvictedconverted.com/2014/01/09/the-gospel-in-south-africa-2
Judul asli artikel : The Gospel in South Africa #2: The Morning Star of the Xhosa Church
Penulis artikel : Tyrell Haag
Tanggal akses : 12 Agustus 2014