Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.01 Vol.08/2005 / Renungan Tsunami

Renungan Tsunami


Data terakhir dari musibah tsunami di Aceh saat saya menuliskan renungan ini berjumlah 22.000 jiwa tewas (versi reuters). Bisa jadi, besok angka itu akan bertambah lagi. Inikah jawaban Allah atas dosa-dosa manusia yang telah naik ke takhta Allah dan menampar pipi-Nya?

Sementara para pemimpin negara yang terkena musibah ini sibuk mengkalkulasi berapa sumbangan yang harus diberikan, dan para sukarelawan memikirkan berapa orang yang harus menerima sumbangan itu, saya lebih cenderung berpikir, berapa jiwa telah menerima Yesus sebagai Juru Selamat?

Jiwa manusia ... itulah yang menarik hati Allah. Bagi-Nya, harga satu jiwa manusia itu melebihi intan segede gunung. Dan itulah yang menjadi alasan bagi Yesus untuk datang ke bumi dan mencari yang dinamakan jiwa itu. Selama ini, gereja mematok harga yang berbeda-beda bagi jiwa manusia. Coba saja tengok kalau ada artis yang bertobat, maka gemanya sampai ke mana-mana dan undangan kebaktian yang dihadiri oleh artis itu laris manis. Setiap gereja penginnya mengundang si artis untuk bersaksi. Kita bersorak dan bersukacita. Tetapi sebaliknya, seorang gelandangan yang menerima Yesus sebagai Juru Selamat, tidak ada satu pun dari kita yang peduli. "Nilai jualnya" rendah. Secara profit, tidak menguntungkan. Tetapi camkanlah: kedua orang yang berstatus sosial bak langit dan bumi itu disambut oleh malaikat Allah dengan sorak-sorai yang sama. Pesta surgawi yang diadakan, sama meriahnya. Dan Yesus pun tersenyum dengan senyuman yang sama lebarnya.

22.000 jiwa yang tewas bukanlah angka yang kecil. Hati kecil saya ingin berandai-andai, andaikan semua jiwa itu telah diselamatkan rohnya, tetapi saya tidak dapat menipu diri sendiri bahwa sebagian besar dari mereka belum menemukan kasih di balik salib Kristus. Ke manakah saya harus meletakkan tanggung jawab memenangkan jiwa ini? Pemerintahkah? Yayasan sosialkah? Atau malaikat Allah? Jelas tidak! Hanya gereja yang telah mengalami keselamatan yang dapat memberitakan keselamatan kepada jiwa yang terhilang.

Mungkin Anda adalah seorang marketing yang sukses dan rajin mengetuk pintu para customer untuk menjajakan dagangan, tetapi maaf, apakah Anda menganggap bahwa Yesus itu hanyalah seorang komisaris Kerajaan Surga yang miskin, sehingga Anda malas menjajakan produk surgawi? Anda takut tidak mendapatkan gaji? Atau apakah alasan Anda sehingga Anda menjadi orang yang superegois sehingga hidup kekal itu hanya Anda miliki sendiri? Yesus saja sudah demikian beratnya menanggung penderitaan dan kematian yang mengerikan itu agar manusia diselamatkan, eh, sementara Anda sendiri menganggap tidak penting keselamatan itu. Ah, kalau saja semua agama memang benar dapat membawa manusia ke surga, saya tidak akan mempromosikan Yesus. Saya akan cari agama yang syarat-syaratnya ringan dan mudah dikerjakan. Tetapi karena saya tahu bahwa keselamatan hanya dan hanya melalui Yesus saja, maka saya berubah menjadi orang yang radikal yang hanya memberitakan keselamatan melalui satu jalur.

Tahun 2005 segera datang. Maaf kalau saya menuduh, Anda tidak pernah membuat rencana untuk membawa jiwa kepada Kristus, kan? Anda hanya memiliki rencana seputar karir dan keluarga saja, kan? Anda tidak peduli kepada teman-teman Anda yang sedang berjalan menuju bencana kekal, kan? Don´t be angry friend. Saya hanya ingin menyinggung perasaan Anda supaya Anda bertobat lalu menjadi seorang pemenang jiwa.

Dalam pikiran saya saat ini timbul adegan seorang berjubah hitam dengan wajah yang penuh kelicikan sedang menyodorkan dua bungkusan kepada Yesus: bungkusan pertama adalah berlian yang luar biasa indahnya segede durian montong dan kedua adalah bungkusan yang berisi jiwa manusia. Dan, Anda pasti tahu Yesus memilih yang mana ....

Kalau selama ini belum pernah terbersit untuk menjadi pemenang jiwa, pikirkanlah mulai sekarang ... dan lakukanlah! Mumpung masih ada waktu ...!(©salib.net)

From : danizoe
Sumber : http://www.salib.net/index.php?name=News&file=article&sid=368

e-JEMMi 01/2005