Refleksi Teologis Mengenai Tindakan Kemanusiaan Kristiani

Ada beberapa hal teologis yang harus diingat ketika kita mengeksplorasi tindakan kemanusiaan Kristen terhadap bencana kemanusiaan.

1. Keramahtamahan

Sementara kasih umat Kristen kepada mereka yang miskin adalah sesuatu yang diwajibkan oleh Alkitab, perintah itu ternyata berdiri di atas sesuatu yang lebih dalam daripada hukum dalam Perjanjian Lama. Tuntutan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan pikiran, serta tuntutan untuk mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri sendiri dijelaskan oleh pengajaran Yesus dalam kitab Matius pasal 25. Segala bangsa akan dikumpulkan dan dipisahkan berdasarkan pada tindakan mereka dalam memberi makanan, air, pakaian, perawatan, dan keramahan kepada mereka dianggap "paling hina".

Salah satu sumbangsih Kosuke Koyama terhadap misiologi adalah apa yang disebutnya sebagai "neighborology." [1] Koyama mengingatkan kita bahwa yang lebih dibutuhkan manusia daripada teologi yang baik atau badan penanggulangan bencana yang tanggap adalah sesama mereka yang baik hati. Ia juga mengatakan bahwa mengundang orang lain ke rumah kita adalah sesuatu yang penting.

Keramahtamahan Adalah Sebuah Tindakan Misi

Paus Paulus VI menekankan hal yang sama dalam Popularum Progessio, sebuah surat edaran kepada para uskup yang ditulis dua tahun setelah Konsili Vatikan yang Kedua, "Menunjukkan keramahan kepada seorang asing tidak dapat kita katakan sebagai sesuatu yang terlalu memaksa karena itu merupakan sebuah kewajiban yang dibebankan kepada kita oleh solidaritas kemanusiaan dan oleh kasih dalam kekristenan." [2] Konsili Pontifisial untuk Pelayanan Pastoral kepada Migran dan Pengungsi mengingatkan kita bahwa kemajuan menuju kehidupan yang penuh kedamaian "sangat terkait dengan pertumbuhan mentalitas yang ramah". [3] Keramahan adalah sesuatu yang lebih dari memberi perhatian atau menjangkau orang, hal itu lebih merupakan suatu cara untuk menjadi dekat dengan orang lain dan bersifat personal. Keramahan adalah seperti yang ditunjukkan Yesus ketika Ia berbagi makanan dengan orang kusta dan mereka yang terbuang. "Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan." (Matius 25:35)

2. Kebaikan Hati dan Solidaritas

Kita harus juga mengakui tanggung jawab yang diemban oleh mereka yang kaya. Memang, tidak ada seorang pun yang terlalu miskin untuk dapat memberi, tetapi Alkitab mengajarkan bahwa mereka yang memiliki kelimpahan harus mau berbagi. Dalam Kisah Para Rasul, kita dapat membaca bahwa tidak seorang pun dalam komunitas orang percaya itu yang berkekurangan (Kisah Para Rasul 4:34), dan hal itu dapat mereka capai dengan saling berbagi. Ketika kita gagal menerima mereka yang mengungsi, terbuang, maupun para pekerja migran yang terlantar, hal itu menunjukkan tingkat moral kita, bukan hanya sekadar keputusan moral saja. Menerima orang lain tidak hanya terbatas pada pemenuhan kebutuhan jasmani saja, dalam Popularum Progessio disebutkan adanya 3 hal yang menjadi kewajiban negara-negara maju: (1) Solidaritas mutualisme dalam bentuk bantuan dari sebuah negara yang kaya kepada negara berkembang; (2) Keadilan sosial dalam bentuk perbaikan relasi perdagangan antara negara yang kuat dengan negara-negara yang lemah; dan (3) Mengupayakan tindakan amal secara universal demi membangun komunitas yang lebih manusiawi, yang di dalamnya setiap pihak saling memberi dan menerima. [4] Semua hal di atas menggemakan Hukum Taurat yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Berbagi (mengasihi orang asing) harus berjalan beriringan dengan medan yang lebih adil (dengan tidak menindas orang asing) dan memulihkan relasi yang adil dan damai di antara semua orang (memberi warisan kepada orang asing). Pertanyaannya, dari manakah datangnya semangat untuk amal dan solidaritas itu?

3. Iman dan Kasih

Sekarang, kita harus mempertimbangkan relasi antara iman dengan kapasitas kita untuk mengasihi sesama kita yang berkekurangan. Ujian iman kita adalah kemampuan kita untuk mengasihi. Jika kita tidak dapat menyambut orang asing, kita harus mempertanyakan iman kita. Kesulitan untuk menerima bisa saja muncul dari hati kita yang kurang percaya, pemahaman firman yang dangkal, atau karena adanya ilah-ilah lain yang menghalangi kita dalam mengerjakan tanggung jawab kita.

Akan tetapi, yang lebih penting lagi, iman merupakan titik awal untuk dapat mengasihi dengan tulus. Iman kita di dalam Tuhan yang berlimpah rahmat dan Roh Kudus yang menyucikan adalah satu-satunya penopang janji bahwa kita dapat mengasihi dengan tulus. Hal ini seperti yang dirangkumkan oleh David Bloesch: "Iman membenarkan; kasih membuktikan bahwa iman itu hidup. Iman bersifat pribadi; kasih bersifat sosial. Iman adalah dasar; kasih adalah tujuan. Iman adalah akar; damai, sukacita, dan kasih adalah buah-buahnya." [5] Iman Kristen kita, beserta semangat dan dayanya, adalah dasar dari tindakan kemanusiaan kita.

4. Tindakan Kemanusiaan yang Sejati

Akhirnya, kita harus menjelaskan teologi kita mengenai tindakan kemanusiaan. Bloesch mengingatkan tentang godaan-godaan yang berusaha menurunkan pemahaman Kristen kita mengenai tindakan kemanusiaan menjadi pengertian yang modern dan sekuler:

"Tujuan dari tindakan kemanusiaan (dalam pengertian sekulernya) bukanlah untuk berinkarnasi bersama dunia ke dalam kehinaannya dan derita yang dialaminya (Yakobus 1:27) ataupun untuk membawa Injil ke dalam dunia, tetapi untuk membentuk ulang dunia ini sesuai gambaran manusiawi. Tindakan kemanusiaan adalah bentuk liberal dari agama yang menekankan pelayanan kepada umat manusia di atas segala hal lainnya ... tujuan utamanya adalah kesejahteraan manusia, bukan kemuliaan Allah." [6]

Bahaya dari pemahaman tentang tindakan kemanusiaan yang telah direduksi tidak hanya memengaruhi tindakan kita, tetapi juga memengaruhi pola pikir kehidupan kita: "Ketika masalah perbaikan sosial menjadi lebih tinggi dari pengharapan akan kebenaran Kerajaan Allah, kita berada di dalam ranah kemanusiaan [demokrasi liberal Barat], bukan di dunia yang berdasarkan Alkitab." [7]

Penawar bagi tindakan kemanusiaan yang palsu adalah dengan memastikan bahwa pemahaman antropologi kita terbukti benar secara teologis. Faktanya, Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang bebas, dan bahwa kita diciptakan sesuai gambar Allah untuk suatu tujuan. Kita adalah yang pertama dalam memuliakan Allah dan mendapat perintah untuk mengerjakan bumi ini. Inilah dasar dari tindakan kemanusiaan kita sebagai orang Kristen, dan suatu standar uji bagi tindakan kemanusiaan kita.

Populorum Progressio mengingatkan kita bahwa humanisme Kristen yang sejati selalu "berpusat pada Allah" dan bahwa "Manusia bukanlah standar bagi manusia lainnya. Manusia dapat menjadi manusia yang seutuhnya dengan melampaui dirinya sendiri." [8] Kita belum mencapai tingkatan yang benar jika tindakan kemanusiaan kita belum membuat orang lain mencari Allah, dalam hal ini agar mereka dapat menemukan bahwa mereka dapat menjadi diri mereka seutuhnya ketika mereka juga memedulikan orang lain. Hal ini diungkapkan Bloesch dengan sangat baik: "Meskipun pelayanan 'Samaria yang Baik' terkadang memiliki prioritas kronologis di atas penginjilan, tetapi misi gereja tidak akan terpenuhi sampai kita menyatakan kabar perdamaian dan penebusan." [9] Ia juga mengingatkan kita bahwa:

"Bapa-bapa gereja telah merevolusi masyarakat karena mereka telah menunjukkan kepada dunia sebuah visi metafisika yang baru, yaitu tentang sebuah dunia dan cara pandang tentang kehidupan yang bersauh pada sesuatu yang transenden. Mereka juga tidak hanya menyediakan program perbaikan sosial, tetapi juga memberi makna dan tujuan tentang keberadaan manusia." [10]

Sementara kita berdiri di pundak orang-orang Kristen yang berjuang untuk hal-hal tentang perbudakan, pekerja anak, pembajakan, penyelundupan minuman keras, kemiskinan, dan para pengungsi, kita perlu memastikan bahwa apa yang kita lakukan adalah tindakan kemanusiaan Kristen yang sejati. (t/Yudo)

Referensi:

  1. Koyama, Kosuke. "Extending Hospitality to Strangers: A Missiology of Theoligia Crucis." International Review of Mission, hal. 82. No. 321, Oct. 1993.
  2. Paul VI. "Populorum Progression." hlm. 67, 1967.
  3. Etchegaray, Roger Cardinal and Chelli, Archbishop Giovanni. "Refugees: A Challenge to Solidarity," a paper presented for Pastoral Care of Refugees at the Pontifical Council for Pastoral Care of Migrant and Itinerant People. hlm. 4, 1983.
  4. Paul VI. "Populorum Progression." paragraf 44, 1967.
  5. Bloesch, Donald. "Humanitarianism." Faith and Counterfeits. Intervarsity Press. hal. 51, 1980.
  6. ibid, hlm. 47-48.
  7. ibid, hlm. 47.
  8. Paul VI. Populorum Progression. paragraf 42, 1967.
  9. Bloesch, hlm. 58.
  10. ibid, hml. 52.

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Laussane World Pulse
Alamat URL : http://www.lausanneworldpulse.com/themedarticles.php/62/10-2005
Judul asli artikel : Theological Reflections on the Christian Humanitarian Response
Penulis artikel : Bryant Meyers
Tanggal akses : 4 Maret 2014