Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are here"Memberi Untuk Menerima" Dalam Perjanjian Baru

"Memberi Untuk Menerima" Dalam Perjanjian Baru


By novi - Posted on 04 January 2010

Artikel ini menjelaskan empat bagian firman Tuhan dalam Perjanjian Baru yang menjelaskan konsep "memberi dengan motivasi untuk mendapatkan". Kebenaran mengenai hal ini berhubungan dengan kebenaran-kebenaran lain yang sering kali lupa diperhatikan oleh umat Tuhan. Hal ini menyebabkan konsep "tabur-tuai menjadi tidak seimbang dan seolah-olah tujuan utamanya hanya memberi keuntungan bagi umat Tuhan saja. Oleh karena itu, umat Tuhan harus mengerti kebenaran ini dengan seimbang sehingga bisa memunyai pemahaman yang utuh sesuai dengan konteks yang sesungguhnya.

MENGHASILKAN 30x, 60x, DAN 100x

Salah satu ayat yang paling sering dikutip oleh umat Tuhan yang berkaitan dengan hal ini adalah "berkat 30 kali, 60 kali, dan 100 kali ganda" yang akan diberikan kepada umat Tuhan yang memberikan persembahan kepada Tuhan/pekerjaan Tuhan. Sering kali seorang hamba Tuhan akan menyatakan ucapan berkat seperti ini, "Biarlah Tuhan akan memberikan berkat 30 kali, 60 kali, dan 100 kali ganda dari persembahan yang diberikan oleh jemaat." Hal ini memang merupakan suatu kebenaran bahwa benih pasti bertumbuh. Akan tetapi, ada kebenaran lain dalam ayat ini yang harus diperhatikan supaya pemahamannya menjadi seimbang. Ketidakseimbangan akan membuat umat Tuhan hanya mengharapkan mendapat sesuatu dari Tuhan melalui pemberian mereka.

Ayat yang sering dipakai sebagai dasar untuk menyatakan hal ini adalah perumpamaan tentang seorang penabur. Kita akan melihat secara detail perumpamaan ini dalam Markus 4:3-20. "Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat." Ayat ke-8 inilah yang banyak digunakan sebagai dasar untuk membuat orang memberi dengan lebih banyak lagi. Banyak pembicara yang menantang umat Tuhan untuk memberikan lebih banyak lagi kepada Tuhan/pekerjaan Tuhan dengan memberikan harapan bahwa mereka bisa mendapatkan 30 kali, 60 kali, bahkan 100 kali ganda.

Benih yang Tidak Bertumbuh

Apakah menggunakan ayat ini untuk mengajak jemaat memberikan lebih dengan menawarkan mimpi mendapatkan lebih banyak tanpa menyebutkan kebenaran yang lain sesuai dengan konteks sebenarnya dari ayat ini? Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus melihat arti dari perumpamaan tersebut. Ayat-ayat di atas hanyalah ilustrasi yang diberikan Tuhan Yesus. Jadi, untuk mengerti arti sesungguhnya dari apa yang dikatakan Tuhan Yesus, kita harus melihat dengan teliti arti sebenarnya perumpamaan tersebut.

Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? Penabur itu menaburkan firman. Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini, tipu daya kekayaan, dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuk menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang 30 kali, 60 kali, bahkan 100 kali ganda." (Markus 4:13-20)

Tuhan Yesus menjelaskan kepada para murid tentang arti perumpamaan di atas. Dia menjelaskan bahwa benih yang ditabur tersebut adalah firman Tuhan. Ada beberapa penafsiran yang mengatakan bahwa benih ini bisa berupa hal-hal lain. Apa yang membuat benih tersebut tidak bisa bertumbuh dan menghasilkan banyak buah? Ada tiga hal yang membuat semua benih tidak bisa bertumbuh, yaitu kekuatiran dunia, tipu daya kekayaan, dan keinginan akan hal-hal yang lain. Dari tiga hal tersebut saya akan membaginya menjadi 2, yaitu tidak kuatir dan tidak menginginkan hal-hal lain.

  1. Jangan Menabur Disertai dengan Kekuatiran Dunia

    Kekuatiran timbul karena adanya ketakutan tidak mendapat apa yang diharapkan. Jika seseorang membeli sebidang tanah dan dia berharap tanah tersebut akan menjadi 2 kali lipat dalam waktu 2 tahun, maka dia akan menjadi kuatir bila sampai 18 bulan ternyata harga tanah tersebut belum mencapai 1,5 kali harga belinya. Mengapa dia kuatir? Karena harapannya tampaknya sulit terpenuhi. Mengapa umat Tuhan kuatir ketika memberikan sesuatu kepada-Nya? Mereka kuatir tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tuhan tahu yang terbaik dalam hidup kita. Oleh karena itu, jangan memunyai pikiran "saya harus mendapat 100 kali lipat dari persembahan yang saya berikan". Pikiran seperti ini membuat orang kuatir. Mengapa? Karena dia takut ternyata keinginannya untuk mendapatkan 100 kali dari yang dia berikan tidak terwujud. Ketika yang diinginkan tidak kunjung dia terima, dia akan semakin kuatir. Akhirnya, dia marah kepada Tuhan karena tidak memberikan sesuatu sesuai dengan harapannya. Jika Tuhan menganggap buah kita hanya 2 kali lipat, maka kita harus meyakini bahwa inilah yang terbaik bagi kita. Dia tahu yang terbaik bagi kita lebih daripada diri kita sendiri. Jangan pernah memberikan dengan kekuatiran tidak akan mendapatkan buah dari Tuhan. Tuhan pasti akan memberikan buah yang jumlahnya sesuai dengan rencana-Nya bagi kita. Ini adalah hal terbaik yang bisa terjadi dalam hidup kita.

  2. Jangan Menabur Disertai dengan Keinginan akan Hal yang Lain

    Apakah yang seharusnya umat Tuhan inginkan? Setiap umat Tuhan seharusnya ingin memuliakan Tuhan dan bukannya memuliakan diri sendiri. Ketika seseorang menabur apa pun (termasuk menabur uang), tujuannya seharusnya tidak menginginkan hal lain kecuali memuliakan nama-Nya. Dengan demikian, benih yang ditabur menjadi benih yang subur dan bisa mendatangkan kemuliaan bagi nama-Nya.

Ladang yang Subur

Pertanyaan yang sering diajukan adalah di mana tempat yang paling tepat untuk menabur? Tempat yang paling cocok untuk menabur harus dilihat dari sudut pandang Tuhan dan bukannya dari sudut pandang kita. Khusus untuk persembahan yang diberikan oleh umat Tuhan tempat menabur yang paling cocok adalah tempat pelayanan yang menghasilkan banyak jiwa dan bukannya seperti perusahaan keluarga. Tuhan senantiasa rindu pada jiwa-jiwa yang terhilang. Oleh karena itu, berilah persembahan pada pelayanan yang berfokus pada jiwa-jiwa yang terhilang dan bukannya pada pelayanan yang membuat "kerajaan" mereka sendiri. Tuhan tidak melihat kefasihan berbicara seorang hamba Tuhan atau besarnya gedung yang mereka miliki. Tuhan melihat seberapa besar perhatian mereka pada jiwa yang terhilang. Bagaimana umat Tuhan bisa mengetahui pelayanan yang berfokus pada jiwa yang terhilang? Hal ini bisa dilihat dari dana misi yang mereka miliki. Seberapa banyak persentase dari uang yang mereka terima, mereka gunakan untuk menjangkau jiwa yang terhilang? Jika sebagian besar uang mereka hanya untuk membuat gereja mereka bisa beroperasi, maka pelayanan ini bukanlah merupakan ladang yang subur.

Tuhan mengasihi orang-orang miskin. Oleh karena itu, uang dari umat Tuhan juga seharusnya sampai kepada mereka. Dengan memberi kepada orang miskin, umat Tuhan belajar memiliki hati yang sama seperti hati Yesus. Ladang yang subur untuk setiap orang tidak sama. Hal ini tergantung rencana Tuhan atas setiap umat-Nya. Jika ada pembicara yang menyatakan bahwa pelayanan mereka adalah tanah yang paling subur, maka pernyataannya salah. Jika dia menyatakan bahwa pelayanannya lebih baik daripada pekerjaan Tuhan di tempat lain yang dilakukan oleh orang lain, maka dia adalah pembohong besar. Tuhan memunyai rencana yang unik atas setiap umat-Nya. Setiap pelayanan yang ada (yang melayani untuk kemuliaan Tuhan) adalah sama di mata Tuhan. Dengan kata lain umat Tuhan harus memilih tempat untuk berinvestasi yang "benar" sehingga mendatangkan keuntungan yang paling besar. Oleh karena itu, mereka harus berhati-hati memilih tempat untuk berinvestasi jika tidak ingin menderita kerugian.

Umat Tuhan jangan sampai memberikan sesuatu dengan tujuan utama untuk mendapatkan sesuatu dari Tuhan. Mereka memberikan sesuatu karena mereka ingin nama Tuhan ditegakkan di muka bumi ini. Mereka tidak ingin mendapatkan berkat, tetapi ingin menjadi berkat. Tuhan ingin memberikan berkat kekayaan dalam kehidupan anak-anak-Nya, tetapi Dia sama sekali tidak berkenan jika tujuan utama mereka adalah mendapatkan berkat materi dari-Nya. Jika kekayaan anak-anak-Nya bisa menghambat pengenalan mereka kepada Dia, maka Dia akan mengambilnya kembali. Jika Dia tahu bahwa kekayaan yang Dia berikan akan membuat anak-anak-Nya menjadi jauh dari Dia, maka Dia tidak akan memberikan kekayaan kepada mereka. Di mata Tuhan, pertumbuhan rohani anak-anak-Nya jauh lebih penting daripada memberikan kekayaan kepada mereka.

ORANG YANG MENABUR BANYAK AKAN MENUAI BANYAK JUGA

Ayat lain yang juga sering dipakai untuk mendukung pendapat "memberi untuk mendapatkan lebih banyak" adalah 2 Korintus 9:6. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." Sering kali, para pembicara hanya mengambil ayat ini saja dan menjelaskan bahwa jika ingin mendapatkan banyak, maka harus memberi dengan banyak pula. Pendapat seperti ini tidak salah, tetapi yang menjadi masalah adalah ayat ini sering kali membuat umat Tuhan memunyai motivasi yang salah dalam memberikan sesuatu untuk Tuhan/pekerjaan Tuhan. Mereka memberikan persembahan dalam jumlah yang sangat banyak karena ingin mendapatkan hasil yang lebih banyak pula. "jika saya memberikan sepuluh ribu, maka saya akan mendapat satu juta rupiah. Oleh karena itu, saya akan memberikan satu juta rupiah sehingga saya bisa mendapatkan seratus juta rupiah!" Pikiran ini sering kali memenuhi kepala umat Tuhan ketika mereka akan memberikan sesuatu kepada Tuhan/pekerjaan Tuhan. Motivasi utama memberi adalah untuk mendapatkan kembali dalam jumlah yang lebih besar daripada yang sudah diberikan. Jadi tujuan utama mereka memberi dengan lebih banyak bukanlah karena mengasihi Tuhan, melainkan karena ingin mendapatkan berkat materi yang lebih banyak. Sekarang, mari kita lihat ayat-ayat tersebut dengan lebih detail.

Paulus Memuji Kerelaan Hati dalam Memberi

"Aku telah tahu kerelaan hatimu tentang mana aku megahkan kamu kepada orang-orang Makedonia. Kataku: 'Akhaya sudah siap sedia sejak tahun yang lampau.' Dan kegiatanmu telah menjadi perangsang bagi banyak orang." (2 Korintus 9:2)

Syarat utama memberi persembahan adalah kerelaan hati umat Tuhan. Arti "kerelaan" adalah tidak mengharapkan balasan. Jika seseorang memberi dengan rela, maka ia pasti tidak mengharapkan apa pun dari pemberian tersebut. Jadi, orang-orang Akhaya sama sekali tidak menuntut seandainya mereka tidak mendapatkan apa-apa sekalipun mereka sudah memberi. Karena mereka memberikan dengan rela, mereka tidak mengharapkan balasan apa pun dari persembahan mereka. Jadi, orang yang mengharapkan mendapatkan sesuatu dari pemberian mereka tidak mungkin bisa memiliki hati yang rela. Pertanyaan pertama yang harus dimiliki sebelum memberikan sesuatu adalah "Apakah kita memiliki hati yang rela? Apakah kita percaya bahwa Bapa kita tahu yang terbaik bagi kita? Apakah kita sama sekali tidak mengeluh kepada Dia kalau kita tidak mendapatkan seperti apa yang kita harapkan dari persembahan yang kita berikan?" Jika kita bisa menjaga hati kita sehingga yakin bahwa apa pun yang diberikan Bapa pasti yang terbaik bagi kehidupan kita, maka kita bisa menyenangkan Tuhan melalui perbuatan kita. Miliki kerelaan hati yang besar ketika kita ingin melakukan sesuatu -- termasuk memberikan sesuatu kepada Tuhan. Dengan demikian, Tuhan disenangkan melalui perbuatan kita.

Memberi Adalah Bukti Kemurahan Hati, Bukan Sesuatu yang Dipaksakan

"Sebab itu aku merasa perlu mendorong saudara-saudara itu untuk berangkat mendahului aku, supaya mereka lebih dahulu mengurus pemberian yang telah kamu janjikan sebelumnya, agar nanti tersedia sebagai bukti kemurahan hati kamu dan bukan sebagai pemberian yang dipaksakan." (2 Korintus 9:5)

"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7)

Memberikan sesuatu kepada Tuhan adalah bukti kemurahan hati umat Tuhan. Sekali lagi saya ingin menekankan bahwa alasan utama umat Tuhan memberikan sesuatu kepada Tuhan ataupun kepada sesama adalah untuk menunjukkan kemurahan hati. Kemurahan hati yang dilandasi ketulusan, sehingga tidak mengharapkan balasan atas apa pun yang mereka lakukan. Orang yang murah hati tidak mengharapkan balasan atas perbuatan atau pemberian mereka. Mereka sudah bersukacita karena diberi kesempatan untuk memberikan sesuatu. Orang yang murah hati senantiasa memberi dengan penuh sukacita. Mereka bersukacita bukan karena berharap akan mendapatkan materi yang lebih besar daripada yang mereka berikan. Mereka bersukacita karena telah berhasil melakukan apa yang telah Tuhan letakkan dalam hati mereka. Dorongan untuk melakukan sesuatu kepada Tuhan dan sesama mereka bergejolak di dalam hati mereka. Hal ini menyebabkan mereka memberikan sesuatu yang menyenangkan baik kepada Tuhan maupun sesama. Mereka ingin berbuat sesuatu kepada Tuhan dan kepada sesama. Jadi, mereka bersukacita karena bisa menunjukkan kasih dan perhatian serta kemurahan kepada Tuhan dan sesama. Hal inilah yang terjadi pada jemaat di Akhaya. Mereka bersukacita karena bisa memberikan sesuatu kepada jemaat yang lain. Mereka sama sekali tidak memikirkan balasan atas pemberian mereka.

Bapa berjanji Mencukupkan Segala Sesuatu

"Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (2 Korintus 9:8)

Menanggapi apa yang telah dilakukan oleh jemaat Akhaya, Paulus mengingatkan kembali janji Bapa yang sanggup mencukupi segala kebutuhan anak-anak-Nya. Akan tetapi, Paulus menekankan bahwa yang lebih penting daripada kebutuhan yang dicukupi adalah umat-Nya harus berkelebihan dalam hal kebajikan. Paulus sama sekali tidak menekankan bahwa Bapa akan memberkati secara berkelebihan di bidang materi. Paulus mengerti tidak semua orang bisa mengalahkan tantangan-tantangan karena memunyai kekayaan yang berlimpah. Sering kali orang jatuh karena memunyai berkat materi yang berlimpah. Jadi, berkat materi yang diterima anak-anak Tuhan lebih baik dalam keadaan cukup, tidak perlu berlebihan.

Paulus menekankan bahwa berkelebihan dalam pelbagai kebijakan jauh lebih baik daripada memunyai berkat materi yang berkelebihan. Sayangnya, anak-anak Tuhan biasanya menganggap mendapatkan berkat materi/kekayaan yang berkelimpahan jauh lebih baik daripada memperoleh kebajikan. Hal ini terbukti dengan banyaknya anak Tuhan yang lebih mengharapkan mendapatkan berkat materi yang berkelimpahan daripada memperoleh kebajikan yang melimpah. Bapa lebih tertarik pada pembentukan karakter anak-anak-Nya daripada membuat mereka menjadi kaya. Bahkan Bapa sering kali mengambil kekayaan anak-anak-Nya agar mereka memunyai karakter yang sesuai dengan yang Bapa inginkan. Dengan demikian, Bapa sering kali memberikan karakter yang baik sebagai balasan bagi mereka yang memberikan sesuatu kepada Dia dan sesama. Bapa melihat hal ini jauh lebih penting daripada sekadar memberikan kekayaan melimpah dalam kehidupan mereka.

Bapa akan Melipatgandakannya dan Menumbuhkan Buah-Buah Kebenaran Kita

"Ia yang menyediakan benih bagi penabur dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu." (2 Korintus 9:10)

Ayat di atas menyatakan bahwa Bapa tidak hanya sekadar melipatgandakan pemberian anak-anak-Nya, tetapi Bapa juga ingin menumbuhkan buah-buah kebenaran mereka. Menurut Bapa, menumbuhkan buah-buah kebenaran ini jauh lebih penting daripada memberikan berkat uang/kekayaan kepada mereka. Oleh karena itu, apakah yang Anda harapkan ketika memberikan sesuatu kepada Tuhan dan sesama? Mendapatkan kembali berkat materi secara berlimpah ataukah melihat buah-buah kebenaran Anda bertumbuh dan berlipat ganda?

Sasarannya Adalah supaya Orang-Orang Memuliakan Tuhan

"Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang, sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu." (2 Korintus 9:13-14)

Pelayanan ini akan mengalami ujian. Menurut Anda, ujian apakah yang bisa membuat orang-orang memuliakan Tuhan? Orang-orang akan melihat ketaatan Anda. Ketaatan ini akan teruji salah satunya jika Anda tetap memberikan sesuatu kepada Tuhan dan sesama padahal Anda tidak mendapatkan apa-apa dari pemberian Anda. Memberi untuk mendapatkan bukanlah suatu ujian, melainkan sistem yang biasa. Untuk memurnikan motivasi Anda, Bapa sering kali akan membawa Anda masuk dalam ujian ini. Bapa akan mencoba tidak memberikan sesuatu kepada Anda untuk menguji apakah Anda memunyai kemurahan hati. Setelah orang melihat ketulusan Anda, mereka akan memuliakan Bapa karena ketaatan Anda dan kemurahan hati Anda. Anda memberi karena Anda memang murah hati dan bukan karena Anda mencoba mendapatkan sesuatu yang lebih besar daripada pemberian Anda.

Paulus dengan jelas menyatakan bahwa orang-orang akan memuliakan Tuhan ketika mereka melihat kemurahan hati yang dilakukan umat-Nya. Ayat ini sama sekali tidak menyatakan bahwa orang-orang memuliakan Tuhan karena melihat mereka mendapat berkat yang melimpah. Sering kali, umat Tuhan memunyai pandangan bahwa orang akan memuliakan Tuhan melalui banyaknya berkat materi umat-Nya. Pandangan ini kurang tepat karena banyak orang yang tidak mengenal Tuhan sekalipun bisa memperoleh kekayaan yang sangat melimpah. Akan tetapi, orang yang memunyai kemurahan hati sangat jarang di muka bumi ini. Dengan demikian, orang-orang akan memuliakan Tuhan jika mereka melihat umat-Nya memunyai kemurahan hati yang luar biasa. Jangan ingin mendapatkan berkat yang berlebih, mintalah supaya kemurahan hati Anda bertambah.

Sekali lagi ayat ini jelas menyatakan bahwa alasan orang-orang memuliakan Tuhan bukan karena mereka melihat kekayaan yang luar biasa jemaat Akhaya. Ini mungkin sedikit berbeda dengan pendapat banyak umat Tuhan. Mereka berpikir bahwa orang akan memuliakan Tuhan jika melihat kekayaan mereka. Sayangnya, pandangan ini salah. Ada banyak orang kaya di muka bumi ini sehingga memperoleh kekayaan saja tidak akan bisa memuliakan nama Tuhan. Jika Anda memunyai konsep seperti ini, pelajari apa yang Tuhan nyatakan mengenai kekayaan. Anda akan melihat rencana-Nya yang jauh lebih besar daripada sekadar membuat Anda mendapatkan kekayaan.

"MEMBERI UNTUK MENERIMA" DALAM PERJANJIAN BARU

APA YANG DITABUR PASTI AKAN DITUAI

Galatia 6:7 sangat sering digunakan untuk mendukung pandangan memberi dengan tujuan utama mendapatkan dalam jumlah yang lebih besar demi kepentingan diri sendiri. "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya." Ayat ini sering kali ditafsirkan bahwa apabila seseorang memberikan uang, dia akan menerima uang pula. Tentu saja dalam jumlah yang lebih besar daripada yang telah diberikan. Pandangan ini merupakan suatu kebenaran yang mutlak. Akan tetapi, kebenaran lain yang berhubungan dengan kebenaran ini perlu diteliti dan dipelajari lagi dengan lebih menyeluruh supaya terjadi keseimbangan. Sekarang, mari kita lihat apa yang dikatakan Galatia 6:8. "Sebab barangsiapa menabur datam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu."

Memang sesuai dengan hukum alam yang ada bahwa jika kita menanam mangga kita akan mendapatkan mangga. Jadi, apa yang kita tabur pasti akan kita tuai. Hal ini menjadi kebenaran mutlak yang tidak bisa disangkal lagi. Akan tetapi, ayat-ayat ini lebih banyak menjelaskan "motivasi dalam menabur" daripada "apa yang harus ditabur". Hanya ada dua kondisi yang bisa terjadi ketika umat Tuhan menabur, yaitu menabur dalam daging dan menabur dalam Roh. Ayat ini sama sekali tidak menekankan BENTUK dari apa yang Anda tabur karena kebenaran mutlak yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Orang yang menabur uang akan menerima uang. Orang yang menabur perhatian akan menuai perhatian, dan seterusnya. Jika Anda memberikan dalam jumlah yang banyak, maka Anda pasti akan menerima dalam jumlah yang lebih banyak lagi. Sekali lagi ini merupakan hukum alam yang sudah tidak bisa dibantah lagi. Paulus sama sekali tidak membahas kebenaran ini. Paulus memberikan peringatan bukan dalam BENTUK apa yang ditabur, melainkan dari MOTIVASI memberi persembahan.

Paulus sangat mengkuatirkan ada umat Tuhan yang memberikan persembahan dengan tujuan utama hanya untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka memberikan persembahan dalam jumlah yang besar, tetapi dengan harapan untuk mendapatkan hasil yang lebih besar lagi demi memuaskan kepentingan mereka sendiri. Jika ayat-ayat tersebut tidak membahas BENTUK pemberian umat Tuhan, maka ayat-ayat tersebut membahas DALAM kondisi yang bagaimana mereka memberi. Jadi, meskipun dua orang sama-sama memberikan persembahan kepada Tuhan, tapi jika mereka melakukannya dalam keadaan yang berbeda, maka mereka akan mendapatkan hasil yang berbeda pula. Orang yang memberikan dengan motivasi "daging" akan berbeda dengan orang yang memberi dengan motivasi "roh". Perhatikan Roma 8:5, "Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh." Orang yang hidup menurut daging atau roh bisa dilihat dari apa yang lebih banyak mereka pikirkan. Apa yang ada dalam diri seseorang akan terlihat dengan jelas pada apa yang mereka pikirkan. Bapa kita tidak pernah melihat BENTUK persembahan yang kita berikan kepada-Nya. Bapa melihat DALAM apa kita memberikan persembahan tersebut.

Galatia 6:8, "Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu." Berhati-hatilah, persembahan yang dilakukan dalam daging yang memiliki tujuan utama untuk mendapatkan sesuatu bagi kepentingan diri sendiri akan berakhir dalam kebinasaan. Jadi, Bapa terlebih dulu melihat DALAM APA anak-anak-Nya memberikan sesuatu kepada Dia sebelum melihat APA yang mereka berikan kepada-Nya. Persembahan yang diberikan dalam daging akan senantiasa membawa kebinasaan. Mungkin tidak langsung kebinasaan secara jasmani, tetapi paling tidak roh dan jiwa seseorang menjadi tumpul apabila mereka memberi persembahan dan mengharapkan mendapatkan sesuatu bagi kepentingan pribadi mereka.

Memberi dalam Daging

Menurut Anda, jika Anda memberikan persembahan kepada Dia untuk mendapatkan kembali berkat materi dari-Nya, apakah Anda memberikannya dalam daging atau dalam roh? Tentu saja Anda memberikannya dalam daging. Keinginan untuk mendapatkan berkat dari Bapa melalui pemberian kita kepada Dia termasuk menabur dalam daging. Hal ini terjadi karena sifat daging yang selalu ingin mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri. Perhatikan Galatia 6:19-21, "Perbuatan daging tetah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu seperti yang telah kubuat dahulu bahwa barang siapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." Daftar perbuatan pada ayat di atas adalah perbuatan yang dilakukan dalam daging. Jika seseorang memberikan sesuatu baik kepada Tuhan maupun sesama dan memunyai tujuan mendapatkan sesuatu dari perbuatannya, maka dia sudah melakukan perbuatan untuk kepentingannya sendiri. Dengan kata lain, perbuatan memberi ini sudah dilakukan dalam daging karena bertujuan mendatangkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Jika Anda memberikan sesuatu dengan tujuan utama mendapatkan keuntungan dari perbuatan Anda, maka Anda sudah menabur dalam daging!

Orang yang menabur dalam daging akan menuai kebinasaan dari dagingnya. Iblis bisa saja memberikan materi kepada umat Tuhan dengan tujuan untuk menjatuhkan mereka. Iblis bisa melakukan apa saja untuk menjatuhkan umat Tuhan. Jadi jangan salah sangka, kekayaan juga bisa datang dari Iblis. Iblis tidak hanya menyerang umat Tuhan hanya dengan memberikan kemiskinan. Jika Iblis merasa bahwa seseorang akan menjadi lengah seandainya memiliki kekayaan berlimpah, maka ia tidak akan segan-segan memberikan kekayaan yang berlimpah kepadanya. Jangan biarkan keserakahan dan kerakusan mengakibatkan Anda menabur dalam daging! Jangan sampai daging Anda lebih dominan ketika Anda memberikan persembahan baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Jika Anda melanjutkan membaca ayat dalam Kitab Galatia 6 ini, maka Anda akan menemukan cara menabur yang baik! Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. (Galatia 6:9-10)

Jadi, supaya bisa menabur dengan benar, yang perlu dilakukan adalah berbuat baik. Kita harus berbuat baik kepada saudara-saudara seiman terlebih dulu sebelum bisa melakukannya untuk semua orang. Dengan berbuat baik, Anda akan mencoba mengalahkan musuh utama dari umat Tuhan, yaitu mendahulukan kepentingan diri sendiri. Dengan kata lain, jika Anda melakukan sesuatu, maka Anda harus menjaga diri Anda supaya jangan hanya memikirkan keuntungan dari perbuatan Anda. Anda harus memfokuskan diri pada orang yang akan Anda bantu. Bagian dari Galatia ini mengingatkan Anda untuk tidak melakukan sesuatu hanya untuk kepentingan Anda sendiri. Ketika Anda memberikan sesuatu baik kepada Tuhan maupun kepada sesama, jangan mengharapkan mendapatkan materi yang lebih besar daripada yang Anda berikan. Berbuatlah kebaikan dan biarkan Tuhan sendiri yang akan memberikan kepada Anda sesuai dengan rencana-Nya dalam kehidupan Anda. Jangan mengharapkan berkat materi dari pemberian Anda.

Memberi dalam Roh

Berbeda dengan daging yang selalu menuntut, Roh tidak pernah menuntut. Roh senantiasa rela dan mau berkorban bagi kepentingan orang lain. Oleh karena itu, untuk belajar bisa memberikan dalam Roh, Anda harus belajar memberikan sesuatu dengan motivasi utama menyenangkan hati pihak yang menerima pemberian Anda. Jika Anda memberikan sesuatu kepada Tuhan biarlah tujuan utama memberi tersebut membuat Tuhan disenangkan. Anda harusnya tidak mempedulikan apakah Tuhan akan memberi berkat materi kepada Anda atau tidak. Jika Anda memberi kepada sesama biarlah pemberian itu juga membuat orang yang Anda beri merasa senang. Memberi dalam Roh membuat Anda bisa mengalahkan keinginan untuk mengutamakan pentingan diri sendiri. Anda sudah puas dengan kesempatan bisa memberikan sesuatu baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Anda tidak peduli apakah Anda akan menerima berkat materi dari tindakan Anda. Memberi sendiri sudah merupakan hal yang menggembirakan hati karena Anda merasa sudah diberi kesempatan untuk berbuat baik.

Galatia 5:22-23 yang berbicara mengenai buah, "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." Dengan kata lain, pemberian Anda akan terjadi dalam "Roh" jika tujuan utama Anda bukan demi kepentingan diri sendiri, melainkan karena Anda memiliki buah Roh. Dengan kata lain, Anda memberi karena memiliki dorongan dari dalam untuk memberi. Pemberian Anda merupakan ekspresi alami Roh Kudus yang ada di dalam diri Anda. Anda tidak bisa memadamkan ekspresi alami Anda ini. Anda memberi karena Anda mengasihi! Anda memberi karena Anda bersukacita melakukannya! Anda memberi karena ingin menunjukkan kemurahan! Anda memberi sama sekali BUKAN dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu! Anda memberi karena ingin melihat orang yang menerima pemberian Anda merasa senang.

Diambil dari:

Judul buku : Menyuap Tuhan
Judul artikel : Memberi Untuk Menerima dalam Perjanjian Baru
Penulis : Benny Santoso
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta 2004
Halaman : 9 -- 33