Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are herePenulis Rapat Gerejawi Yang Pandai (Italia dan Palestina, 382 - 405 M.)

Penulis Rapat Gerejawi Yang Pandai (Italia dan Palestina, 382 - 405 M.)


Di kota Roma, semua orang Kristen sedang membicarakan seorang pendatang baru dari sebelah Timur. Namanya, Hironymus. Perawakannya tinggi dan kurus; matanya berbinar-binar; kulitnya agak hitam, karena ia sudah lama tinggal di padang gurun, di bawah panas terik matahari.

"Kata orang, ia sudah bepergian ke tempat yang jauh-jauh, baik di sebelah Timur maupun di negeri Perancis," begitulah laporan salah seorang penduduk Roma tentang pendatang baru itu.

"Bukan hanya itu saja: Ia sudah menjelajahi seluruh daerah Yunani, Asia Depan, dan Siria," kata yang lainnya.

"Dan ia sudah berguru kepada para sarjana Kristen yang paling ternama di seluruh Timur Tengah," tambah yang lainnya lagi.

Dengan cepat Paus Damasus mendengar tentang kedatangan Hieronymus itu. Sebagai uskup agung kota Roma serta pemimin utama seluruh umat Katolik di dunia Barat, Paus Damasus merasa harus menyelidiki pendatang baru yang berpendidikan ini. Maka Hieronymus disuruh menghadap sri paus.

Mula-mula sri paus merasa kaget. Orang yang dikatakan sangat cerdik itu kelihatannya masih agak muda. Tambahan pula, ia tidak berpakaian semestinya sebagai tamu yang hendak diterima oleh seorang pemimpin gereja: Jubah panjangnya dibuat dari kain yang paling kasar, dan diikat dengan tali tambang saja. Tetapi perasaan Paus Damasus berubah pada saat ia mula membicarakan soal-soal Alkitabiah dengan tamunya itu.

"Dulu, justru tidak suka aku membaca Alkitab bahasa Latin, karena terjemahannya begitu jelek," Hieronymus dengan terus terang mengaku kepada Paus Damasus. "Aku lebih suka membaca kitab-kitab kesusastraan klasik, dalam bahasa Yunani."

"Bagaimana sampai terjadi bahwa kemudian engkau berubah pendapat, sehingga kini engkau gemar menyelidiki Alkitab?" tanya sri paus.

"O, itu terjadi di kota Antiokhia di Siria, waktu ada wabah penyakit di sana," jawab Hieronymus. "Aku juga jatuh sakit demam. Lalu pada suatu malam aku seolah-olah melihat Tuhan Yesus berdiri, di samping tempat tidurku. Dengan nada sedih Ia berkata, `Hieronymus, engkau lebih senang menjadi pengikut para sastrawan daripada menjadi pengikut-Ku'''

Makin lama mereka berdua mengobrol, sri paus semakin suka akan sarjana Alkitab yang relatif muda itu. Berkali-kali ia mengundang Hieronymus, agar mereka dapat berbincang-bincang tentang berbagai hal. Walau pakaiannya begitu sederhana, sesungguhnya Hieronymus berasal dari sebuah keluarga Kristen kaya di Italia Utara. Jadi, ia sudah tahu bagaimana caranya membawa diri di kalangan para bangsawan dan pembesar gereja.

Pada hari-hari Paus Damasus dan Hieronymus menjadi semakin akrab, umat Katolik di kota Roma sedang sibuk membuat persiapan untuk menyelenggarakan suatu rapat besar. Para pemimpin gereja dari setiap penjuru alam mulai berdatangan ke kota Roma. Dan heran, kebanyakan di antara para pemimpin Kristen itu bersalaman dengan Hieronymus seperti seorang kawan lama.

Paus Damasus belum menunjuk seorang penulis resmi untuk rapat gerejawi yang penting itu. Ia mulai menyadari bahwa Hieronymus merupakan pilihan yang tepat.

Sesuai dengan dugaan sri paus, Hieronymus menunaikan tugasnya dengan cekatan selama rapat gerejawi yang penting itu. Kemudian ia tetap menjadi penulis pribadi Paus Damasus, di samping menjadi penasihatnya di bidang penafsiran Alkitab.

Memang Alkitab bahasa Latin itu sangat perlu ditafsirkan. Umat Kristen Romawi yang memakai bahasa resmi kekaisaran itu telah membuat banyak sekali terjemahan yang berbeda-beda ada yang baik, ada juga yang jelek. Agustinus, seorang ahli teologia di Arika Utara pada abad ke-4, pernah berkata:

"Pada masa permulaan iman Kristen, setiap orang yang kebetulan memperoleh sebuah naskah Alkitab dalam bahasa Yunani dan mengaku dirinya sebagai pengalih bahasa yang cakap (walau kecakapannya itu sebenarnya sangat minim), langsung memberanikan diri membuat terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Latin."

Alhasil, terdapat sebanyak 27 versi yang berbeda-beda dari ayat Alkitab yang sama juga! Tidaklah mengherankan bila Paus Damasus berpendapat, keadaan seperti itu cukup membingungkan orang Kristen biasa. Maka sri paus memberi tugas baru kepada penulisnya yang pandai itu: Hieronymus ditugasi memeriksa setiap edisi Alkitab bahasa latin yang sudah ada, membandingkannya dengan Alkitab bahasa Yunani, dan kemudian menyediakan suatu terjemahan baru yang lebih baik.

Dengan senang hati Hieronymus menerima tugasnya yang baru itu. Dalam waktu yang relatif singkat, ia telah berhasil membuat terjemahan baru keempat Kitab Injil.

Sementara itu, Hieronymus juga sibuk mengajar. Ia membuka kursus Alkitab untuk para pemuda di kota Roma. Sambutannya begitu hangat sehingga ia juga membuka kelas Alkitab untuk para pemudi. Bukan hanya kaum muda Kristen yang suka berguru kepada Hieronymus: Ada juga orang-orang Roma yang walau masih menyembah berhala, namun merasa tertarik akan kuliahnya itu.

Salah seorang murid Hieronymus adalah seorang janda muda bernama Marsella. Setelah ia meninggalkan agama lamanya dan percaya kepada Tuhan Yesus, langsung ia memberi kemerdekaan kepada para budaknya. Ia melepaskan pakaian mewahnya dan mulai mengenakan jubah yang sederhana, meniru gurunya. Dan ia pun membuka istananya di kota Roma sebagai tempat penampungan orang yang sakit dan miskin.

Banyak penduduk Roma yang merasa terkesan sekali atas perubahan besar dalam cara hidup Ibu Marsella. Tentu saja, rakyat jelata di ibu kota kekaisaran itu merasa sangat diberkati oleh dia dan oleh gurunya Hieronymus.

Tidak lama kemudian, ada banyak wanita yang mulai mengikuti kursus dan kuliah Hieronymus. Di antara mereka ada seorang janda kaya, dengan kedua putrinya. Sang janda itu bernama Ibu Paula.

Lalu pada tahun 384, Paus Damasus meninggal. Ada sebagian umat Katolik yang berharap agar Hieronymus ditunjuk sebagai uskup agung yang akan menggantikannya. Tetapi yang terpilih malah orang lain, dan Hieronymus belum tahu bagaimana sikap sri paus yang baru itu terhadap orang yang mungkin dianggap sebagai saingannya. Maka ia memutuskan untuk kembali meninggalkan kota Roma.

Hieronymus tidak pergi seorang diri. Banyak muridnya yang menemani dia, baik pria maupun wanita. Di antara mereka itu ada Ibu Paula dan kedua putrinya. Rombongan Kristen dari kota Roma itu mulai mengembara ke Siria, ke Mesir, ke Palestina. Akhirnya pada tahun 386 mereka menetap di Betlehem, tempat kelahiran Tuhan Yesus. Di sana Ibu Paula menghabiskan seluruh hartanya untuk proyek-proyek pembangunan: sebuah gereja, sebuah rumah untuk Hieronymus dan kaum pria lainnya, sebuah rumah lagi untuk kaum wanita, dan sebuah asrama sebagai tempat penampungan para peziarah Kristen yang suka berdatangan untuk menengok "Tanah Suci."

Hieronymus masih merasa terpanggil untuk meneruskan pekerjaan luhur yang oleh sri paus almarhum dulu pernah ditugaskan kepadanya. Oleh karena itu, ia terus mengerjakan terjemahan Alkitab yang baru. Ia bukan hanya mengalihbahasakan Kitab Perjanjian Baru, tetapi juga Kitab Perjanjian Lama.

Sama seperti kebanyakan umat Kristen seangkatannya, Hieronymus suka menggunakan Septuaginta, yaitu sebuah terjemahan Perjanjian lama ke dalam bahasa Yunani yang sudah dibuat dua ratus tahun sebelum Tuhan Yesus lahir ke dunia ini. Tetapi lambat laun Hieronymus pun mulai sadar: Alkitab bahasa Yunani kesukaanku ini bukanlah Kitab Perjanjian Lama yang asli!

Sesungguhnya Hieronymus pernah belajar bahasa Ibrani. Namun ia merasa belum cukup pandai untuk langsung dapat menerjemahkan Kitab Perjanjian Lama dari bahasa aslinya. Oleh karena itu, Hieronymus mulai menyelidiki di kalangan para tetangganya, yakni kaum Yahudi di sekitar kota kecil Betlehem. Di antara mereka itu ada seorang guru agama Yahudi yang pandai: namanya, Rabbi Bar-Anina.

"Relakah Bapak mengajarkan bahasa Ibrani kepadaku?" tanya Hieronymus kepada Rabbi Bar-Anina.

"Hmmm . . .," jawab Rabbi Bar-Anina, bingung. "Mungkin kawan-kawan sekepercayaanku akan kurang senang jika mereka tahu bahwa aku sedang menolong kaum Nasrani menyiapkan Kitab Suci yang isinya tidak kami setujui itu . . . ."

"Bagaimana kalau Bapak datang kepadaku pada malam hari saja?" usul Hieronymus dengan cerdiknya.

Maka setiap malam Rabbi Bar-Anina sembunyi-sembunyi datang ke ruang belajar Hieronymus. Dan setiap pagi Hieronymus meneruskan terjemahannya yang baru itu bukan lagi berdasarkan Perjanjian Lama bahasa Yunani, tetapi langsung diterjemahkan dari bahasa aslinya.

Lama sekali tugas terjemahan itu! Setiap kata harus ditulis dengan tangan, karena belum ada alat-alat cetak. Setiap kalimat harus diperiksa ketetapannya, dan kalau ada perbaikan, kalimat itu harus ditulis kembali.

Teman-teman Hieronymus banyak menolong pekerjaannya yang luhur itu. Ibu Paula sendiri menjadi seorang ahli bahasa, dan sering membantu gurunya. Yang lainnya, baik pria maupun wanita, membaktikan diri demi membuat suatu versi Alkitab yang lengkap dan tepat, yang dapat dibaca oleh setiap orang yang berbahasa Latin.

Sesungguhnya kelompok orang saleh di Betlehem itu merupakan nenek moyang rohani para biarawan dan biarawati, yang rela berkorban sepanjang Abad Pertengahan agar ada salinan Firman Tuhan yang jitu dan jelas. (Lihatlah "Salinan Keempat Kitab Injil yang Paling Indah", dari Jilid 2 dalam buku seri ini).

Selama 34 tahun di Betlehem itu, Hieronymus bukan hanya mengerjakan terjemahan Alkitab saja: Ia juga menulis dua buku sejarah gereja, beberapa riwayat hidup orang Kristen yang luhur wataknya, ratusan surat edaran demi mendidik umat Kristen, dan sebanyak 24 buku tafsiran Alkitab. Namun pekerjaan yang selalu diutamakan olehnya ialah, megalih-bahasakan Sabda Allah.

Makin lama Hieronymus semakin tua; ia pun mengalami masa penyakit yang sungguh gawat. Namun, begitu ia mulai sembuh, langsung ia kembali ke ruang belajarnya.

Penglihatan matanya mulai kabur; namun ia bekerja keras. Ia menyuruh pembantu mudanya membacakan kitab-kitab gulungan bahasa Ibrani untuk dia, karena ia tidak sanggup lagi membaca sendiri. Lalu kepada pembantu lainnya, Hieronymus mendiktekan apa yang harus ditulis dalam bahasa Latin itu.

Terjemahan Alkitab bahasa Latin hasil karya Hieronymus itu selesai pada tahun 405, ketika ia sudah agak lanjut usianya. Mula-mula ada umat Kristen yang lebih menyukai terjemahan-terjemahan lama (silakan baca pasal 2 dalam buku ini!). Namun Hieronymus merasa yakin bahwa terjemahan hasil karyanya itu lambat laun akan menang. Mengenai mereka yang sok tidak suka terjemahan Alkitab yang baru itu, Hieronymus berkata: "Mereka mengkritiknya di depan umum, . . . tetapi membacanya di kamar!"

Memang selayaknya terjemahan Hieronymus itu diterima oleh umum. Sampai permulaan abad ke-5 Masehi, dialah sarjana Alkitab, sarjana sastra, dan sarjana bahasa yang paling pandai, yang pernah mengusahakan suatu terjemahan Alkitab. Versi hasil karyanya itu paling kuat berdasarkan atas pengenalan akan bahasa-bahasa asli Alkitab.

Lambat laun terjemahan Hieronymus itu memang diterima oleh umat Kristen di mana-mana. Bahkan julukan yang diberikan kepadanya menunjukkan, betapa luasnya versi Alkitab itu diterima: Vulgata. Artinya: "Untuk Semua Orang."

Sungguh, semua orang yang memakai bahasa Latin, bahasa Kekaisaran Romawi, seharusnya berterima kasih kepada para penulis rapat gerejawi yang pandai itu, yang telah menyediakan terjemahan Alkitab yang paling baik pada masanya. Dan kita yang hidup pada abad-abad terkemudian, seharusnya turut mengucap syukur kepada Tuhan atas Hieronymus dan kawan-kawannya, yang rela membaktikan seluruh hidup mereka demi Sabda Allah.

TAMAT