Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are herePenerjemah Di Pejagalan (Jerman, 1517 - 1534 M.)

Penerjemah Di Pejagalan (Jerman, 1517 - 1534 M.)


Tukang bantai serta pembantunya yang masih muda itu saling melirik pada saat pintu toko daging dibuka oleh seorang pria setengah umur yang berbadan agak gemuk.

"Nah, ini dia, sang mahaguru sinting yang memesan seekor domba untuk dijagal hari ini," tukang bantai itu berbisik.

"Guten Morgen!" Suara mahaguru itu keras dan ramah. "Domba pesananku sudah ada, Pak?"

"Sudah, Tuanku!" Tukang bantai itu mengangguk, lalu melambaikan tangannya tanda mengajak ke tempat pejagalan di belakang toko.

Pada saat sang mahaguru sinting menepuk bahu anak laki-laki yang menjadi pembantu jagal itu, ia mematung karena takut. Lalu mahaguru itu terus lewat dan mengikuti jagal keluar dari toko.

Setelah pintu belakang ditutup, barulah anak laki-laki itu bergerak lagi. Dengan berjingkat-jingkat ia mendekati pintu tadi dan menguakkannya sedikit. Dari tempat yang tersembunyi itu ia dapat mengintip apa yang hendak dilakukan di pejagalan.

Ternyata mahaguru sinting itu membawa serta sebuah kantung kain. Ia mengeluarkan sebuah buku notes, sebatang pena panjang yang terbuat dari bulu angsa, sebuah botol tinta, dan sebuah kotak berisi pasir. Ini semua diletakkannya di atas meja; lalu ia duduk di belakangnya.

Pekerjaan menyembelh itu dimulai. Dari tempat persembunyiannya, anak laki-laki itu dapat melihat muka sang mahaguru sinting mengernyit pada saat si domba mengembik denagan suara keras, lalu mati berlumuran darah. Terus jagal yang cekatan itu menguliti bangkainya dan memotong-motongnya.

Mahaguru sinting itu mengamat-amati semuanya. Lalu tiba-tiba ia bertanya, sehingga anak laki-laki itu terkejut: "Itu apa namanya Pak?"

Tentu saja mahaguru ini sinting! Demikianlah jalan pikiran pembantu cilik yang bersembunyi di belakang pintu itu. Anak laki-laki siapakah di jalanan kota Wittenberg yang tidak tahu apa namanya benda itu? Tentu saja itu namanya ginjal domba!

Tukang bantai itu terus bekerja, walau sering diganggu oleh pertanyaan-pertanyaan yang dungu. Sudah jelas, mahaguru itu tidak tahu bedanya antara hati dan jantung, antara paru-paru dan empedu . . . walau jika dilihat dari pakaiannya, dia itu seorng sarjana dari universitas!

Sewaktu-waktu terdengar dering giring-giring. Lonceng kecil itu tergantung pada pintu muka, untuk memberitahukan kedatangan calon pembeli. Maka setiap kali giring-giring mendering, secara ogah-ogahan anak laki-laki itu meninggalkan posnya di belakang pintu dan pergi melayani langganan toko daging. Ia tidak sabar untuk kembali lagi menyaksikan apa yang sedang terjadi di pejagalan.

Ternyata tukang bantai tidak lagi bersikap takut-takut terhadap sang mahaguru sinting. Seolah-olah mahguru itu adalah seorang pembantunya yang masih baru, ia menjelaskan bagaimana meja jagal harus dibersihkan, bagaimana pisau harus diasah, bagaimana tombak kecil harus dipakai untuk menikam tubuh seekor binatang sembelihan.

Sang mahaguru mencatat semuanya itu pada buku notesnya. Tangannya bergerak bolak balik dengan cekatan di atas halaman putih itu. Setiap kata ditulis dengan penanya, kemudian ditaburi sedikit pasir agar tinta hitamnya cepat kering.

Rupa-rupanya semua catatan itu sudah selesai. Sang mahaguru menyimpan kembali barang-barang miliknya ke dalam kantong kainnya. Ia membayar tukang bantai, lalu melangkah menuju jalan keluar. "Berilah daging domba itu kepada orang-orang miskin," katanya seraya membuka pintu depan. Giring-giring mendering pada saat pintu dibanting, dan derap kaki yang berat itu makin lama makin redam.

Anak laki-laki itu memandang pada tukang bantai. "Pak, kenapa dia banyak bertanya seperti itu? Apa dia betul-betul sinting?"

"O, memang dia orang sinting," jawab jagal itu. "Tetapi bukan seperti orang gila yang matanya liar dan tangannya usil. Bukan, kegilaannya itu di dalam hati. Ia sedang mengerjakan sesuatu yang sangat jahat: Ia mau menerjemahkan Kitab Suci ke dalam bahas Jerman! Maksudnya datang kemari ialah, agar istilah-istilah untuk pengorbanan binatang pada zaman Perjanjian Lama itu tepat semua."

Lalu suara jagal itu menggeledek: "Hujat! Itu namanya untuk pekerjaan yang begitu jahat! Semua orang tahu bahwa Alkitab itu tertulis dalam bahasa Latin yang suci. Kalau menyalinnya ke dalam bahasa lain, itu hujat namanya!"

Anak laki-laki itu menggigil. "Apakah sang mahaguru sinting itu orang sini?"

"Aku kurang tahu," jawab tukang bantai. "Tempo hari pada waktu ia memesan domba, rasanya ia memakai nama yang biasa saja. Rasanya pernah kudengar orang mempercakapkan nama itu di kedai minuman keras." Ia mengusap kumisnya sambil berpikir sejenak. "Nak, pernahkah kaudengar nama Dr. Martin Luther? . . ."

Adegan yang aneh di pejagalan tadi, sesungguhnya hanya merupakan satu dari sekian banyak adegan luar biasa yang benar-benar terjadi selama Martin Luther, sang pendekar gerakan pembaharuan gereja itu, sedang mengerjakan terjemahannya.

Pernah penerjemah yang sangat hati-hati itu meminjam beberapa batu permata dari kaum bangsawan. Ia ingin supaya nama-nama batu permata yang dijelaskan dalam Kitab Wahyu itu disebut dengan tepat dalam bahasa Jerman.

Pernah ia pun mendatangi para sarjana bangsa Yahudi dan bertanya-tanya tentang mata uang dan satuan ukuran yang berlaku dahulu kala pada zaman Perjanjian Lama. Lalu ia pergi juga ke pasar dan mencari istilah-istilah yang sepadan dalam bahasa Jerman sehari-hari.

Dulu Martin Luther menjadi seorang pastor Gereja Katolik, yang sudah biasa mendengar pengakuan dosa rakyat kecil. Ia masih ingat kata-kata kasar yang pernah dicetuskan oleh mereka kata-kata tentang pencobaan, kata-kata tentang rasa sepi dan rasa bersalah.

Mahaguru itu pun suka pergi bermain dengan anak-anak di jalanan kota, suka mengobrol pula dengan para petani yang membajak di ladang. Tahulah dia bahwa pikiran-pikiran umat Tuhan dahulu kala itu tidak akan mengena dalam hati rakyat biasa di negeri Jerman, jika hal itu dibahasakan dalam istilah-istilah tinggi dari dunia universitas.

Semua adegan aneh ini terjadi beberapa tahun setelah Martin Luther dikeluarkan dari Gereja Katolik, dan setelah ia diancam akan dibunuh oleh karena kepercayaannya. Luther hidup pada masa peralihan dari Abad Pertengahan beranjak ke dunia modern. Di seluruh Eropa, orang-orang sedang menggarap hasil kesarjanaan. Di negeri Jerman, Yohanes Gutenberg telah melancarkan perkembangan ilmu pengetahuan itu, melalui mesin cetaknya dengan huruf yang dapat dipindah-pindahkan. Kitab yang mula-mula dicetaknya ialah, Alkitab dalam bahasa Latin.

Ada juga gerakan pembaharuan di bidang keagamaan, yakni: Reformasi Protestan. Dr. Martin Lutherlah yang memimpin gerakan itu. Ia menekankan bahwa: "Orang biasa berhak mengetahui sendiri isi Alkitab. Orang biasa berhak diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan Allah, dengan jalan percaya kepada Yesus Kristus.

Para pemimpin gereja menuduh: "Hujat! Hujat!" Maka Martin Luther diadili di hadapan sang kaisar. Kata-kata pembelaannya yang terkenal itu ialah: "Aku terikat oleh Kitab Suci. Suara hatiku terlambat oleh Firman Allah. Kecuali aku diyakinkan oleh isi Alkitab serta penjelasannya yang terang, aku tidak akan, aku tidak dapat mengingkari kepercayaanku!"

Tidak ada seorang pun yang sanggup memberi penjelasan Alkitab yang terang, sehingga tidak seorang pun berhasil meyakinkan Martin Luther bahwa kepercayaannya itu salah. Maka ia tidak pernah ingkar; ia tetap menekankan bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan Allah.

Walau Martin Luther tidak pernah ingkar, ia menyembunyikan diri dalam Benteng Wartburg karena nyawanya terancam. Di situ, pada tahun 1521, mulailah ia menerjemahkan Kitab Perjanjian Baru dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Jerman. Di dalam benteng yang sepi itu, dengan lampu yang berkedip-kedip dan dengan pena bulu angsa yang sering rusak, tanpa bantuan seorang penulis, Martin Luther mengerjakan semuanya sendirian. Edisi pertama dari Perjanjian Baru hasil terjemahannya itu diterbitkan pada bulan September tahun 1522.

Hebat sekali reaksinya! Banyak orang Jerman menjadi sangat gempar ketika untuk pertama kalinya mereka dapat membaca Alkitab dalam bahasa ibu mereka. Bahkan ada yang tidak lagi dapat menguasai luapan perasaannya sehingga mereka mulai merusak gedung-gedung ibadat milik aliran gereja yang sudah lama mencegah mereka mempunyai Firman Tuhan.

Walau nyawanya terancam, Luther kembali ke kota Wittenberg, tempat kerusuhan itu. Ia berkhotbah bahwa gerakan pembaharuan itu dimaksudkan untuk membangun, bukan untuk merusak. Ia mengingatkan para pengikutnya bahwa ia memang berani melawan ajaran-ajaran palsu, namun ia tidak memakai kekerasan. Dan ia pun memulai suatu sistem ibadah yang baru. Dalam kebaktian umum itu, yang dibacakan bukan lagi Alkitab bahasa Latin, melainkan Alkitab bahasa Jerman.

Selama beberapa hari saja Luther berkhotbah dan mengajar di kota Wittenberg. Lalu ia mengungsi lagi ke Benteng Wartburg. Tetapi tidak lama kemudian berkobarlah perang di negeri Jerman. Luther merasa bahwa ia seharusnya melayani di tengah-tengah masyarakat yang sedang menderita.

Dengan tekad hati yang baru, Dr. Martin Luther kembali lagi ke kota Witthenberg. Ia mulai lagi membawakan kuliah keagamaan di universitas. Ia menikah dan membina rumah tangganya. Dan ia pun mulai menerjemahkan Kitab Perjanjian Lama.

Pekerjaan terjemahan itulah yang menimbulkan adegan-adegan aneh yang digambarkan tadi: di pejagalan, di perbendaharaan batu permata, di pasar, di ladang. Selama sebelas tahun Martin Luther membanting tulang, mencari kata-kata bahasa Jerman yang paling tepat. Baru pada tahun 1534 terjemahan Alkitabnya yang lengkap itu diedarkan.

Dr. Martin Luther mengajak beberapa mahasiswanya dan rekan-rekan sekerjanya untuk mendirikan suatu Perkumpulan Alkitab: Minggu demi minggu mereka bertemu, dan sering "sang mahaguru sinting" membuat mereka semua tertawa mendengar penjelasannya tentang masalah-masalah yang sedang dihadapinya dalam tugasnya yang mulia itu.

"Wah, sulit sekali memaksakan para nabi berbicara dalam bahasa Jerman!" kata Dr. Luther. "Mereka melawan terus segala usahaku. Mereka tidak mau meninggalkan bahasa Ibrani mereka yang indah, sama seperti seekor burung bulbul tidak mau meninggalkan kicauannya yang merdu dan mulai mengaok seperti seekor burung gagak!"

Pada kesempatan yang lain, ketika ia sedang menerjemahkan Kitab Ayub, Martin Luther menyatakan: "Aduh, si Ayub bersikeras mau duduk terus dalam debu dan abu."

Para anggota Perkumpulan Alkitab itu sering mengadakan penyelidikan dan surat-menyurat, agar dapat menolong rekan mereka dalam usahanya mencari kata-kata bahasa Jerman yang paling tepat. Istilah-istilah terjemahan itu dibahas panjang lebar dalam pertemuan-pertemuan mingguan; setiap orang memperbincangkannya dari sudut keahliannya masing-masing. Begitu teliti penyelidikan mereka sehingga Dr. Luther mengomel: "Kadang-kadang dengan susah payah kami hanya dapat menerjemahkan tiga baris dalam empat hari."

Alkitab itu yang disusun berdasarkan bahasa sehari-hari yang dipakai oleh jagal dan petani, oleh anak di sekolah dan pedagang di pasar ternyata menjadi buku pegangan untuk bahasa Jerman modern. Banyak sekali orang Jerman yang belajar membaca dengan berpedomankan Alkitab terjemahan Martin Luther. Kitab Suci dalam bahasa Jerman itu pun menjadi titik tolak untuk suatu gerakan persatuan bangsa dan bahasa.

Mula-mula Alkitab terjemahan Luther itu dijual dengan harga setengah juta rupiah sebuah. Namun begitu banyak eksemplarnya yang laku sehingga para tukang cetak dengan cepat harus mengeluarkan edisi-edisinya lebih banyak lagi. Lambat laun harganya ditekan, sampai rakyat miskin pun dapat membelinya. Maka terjemahan Alkitab hasil karya "sang mahaguru sinting" itu menjadi batu penjuru untuk suatu pola kehidupan dan kepercayaan yang baru di negeri Jerman.

TAMAT