Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No. 11 Vol.20/2017 / Panggilan Misionaris

Panggilan Misionaris


Tuhan memanggil manusia dengan banyak cara, dan jika kita membaca Alkitab, kita akan menemukan bahwa panggilan itu datang kepada orang-orang yang berbeda dengan cara yang berbeda. Panggilan yang Allah minta untuk saya lakukan mungkin sangat berbeda dari panggilan Dia untuk Anda karena Dia membutuhkan banyak jenis rekan kerja.

Gambar: Membaca Alkitab

Nah, jenis panggilan pertama yang saya temukan di dalam Alkitab adalah bagaimana Allah memanggil manusia keluar dari situasi manusia. Mungkin ada orang yang sangat membutuhkan. Mungkin mereka membutuhkan pertolongan rohani, atau mungkin mereka membutuhkan pesan cinta, atau mungkin mereka membutuhkan koreksi moral. Namun, terlepas dari situasi kebutuhan itu, Allah akan tetap memanggil. Apakah Anda ingat penglihatan yang sampai kepada Paulus dan orang dari Makedonia? Kata-kata orang dari Makedonia itu, "Datanglah ke Makedonia dan tolonglah kami," dan Allah memberinya panggilan melalui situasi kebutuhan di Makedonia (Kisah Para Rasul 16:9). Apakah Anda ingat kisah orang Samaria yang baik hati? Dia adalah seorang pria yang menemukan situasi akan adanya kebutuhan. Seorang Imam lewat dan orang Lewi juga melaluinya, tetapi Allah memanggil orang Samaria untuk mengatasi masalah itu (Lukas 10:33). Terkadang, bahkan sampai hari ini, ada situasi yang membutuhkan di dunia ini dan Allah menunjuk seseorang dan memanggilnya, dan berkata, "Aku mau engkau pergi ke sana dan mengatasi masalah itu."

Nah, ada saat-saat lain ketika panggilan Allah datang dengan cara lain. Saat kita memikirkan sebuah karya di mana Allah menginginkan seseorang untuk membantu Dia. Pikirkan sejenak kata-kata alkitabiah yang Allah gunakan untuk menggambarkan orang-orang yang bekerja dengan-Nya. Kadang-kadang, mereka disebut sebagai hamba-hamba-Nya (Lukas 16:13; Roma 16:1; 1 Korintus 7:22; Filipi 1:1; Kolose 4:12), dan terkadang Dia menyebut para hamba-Nya sebagai penuai (Lukas 10:2; Yohanes 4:35), dan kadang-kadang Dia mengatakan penatalayan-Nya (Lukas 16:1-12; 1 Korintus 4:1-2; 1 Petrus 4:10), dan pada waktu lain mengumandangkan duta-duta besar-Nya (2 Korintus 5:20). Dan, kadang-kadang sebagai rekan kerja atau teman sekerja (2 Korintus 6:1). Nah, ini semua adalah jenis kata yang sama karena menyiratkan bahwa mereka bekerja. Semuanya itu menyiratkan bahwa itu adalah pekerjaan Allah, dan bahwa Allah hendak memakai orang-orang untuk membantu-Nya dalam pekerjaan-Nya. Tugas semacam ini berarti orang-orang yang bersangkutan harus bertanggung jawab. Dia menginginkan hamba yang baik. Tidak ada yang menginginkan seorang hamba yang buruk. Jika Anda memiliki rumah tangga, atau kebun anggur, dan Anda menunjuk seseorang sebagai pelayan atasnya, Anda menginginkan orang yang bisa Anda andalkan. Ketika seorang pemerintah atau seorang raja menunjuk seorang duta besar ke negara lain, dia ingin agar duta besar tersebut menjadi juru bicara sejati baginya. Jadi, terkadang Allah memanggil kita untuk membantu Dia dalam pekerjaan-Nya dan untuk mewakili Dia.

Nah, masih ada cara lain bagaimana Allah memanggil orang dan Dia memanggil orang untuk mewartakan firman-Nya. Setidaknya, ada dua cara bagaimana Dia memanggil kita untuk memberitakan Firman-Nya. Ada saat ketika kita harus berbicara mengenai keadilan sosial, seperti yang Allah minta untuk dilakukan oleh Amos waktu Dia mengirimnya ke Bethel untuk menegur orang-orang di pusat perdagangan mereka yang tidak jujur? (Amos 5:10-12). Kita banyak membahasnya di dalam Perjanjian Lama. Akan tetapi, ada cara lain di mana kita mungkin diutus untuk memberitakan Firman-Nya, dan itu adalah memberi tahu orang-orang tentang Juru Selamat dan jalan keselamatan. Keduanya juga adalah pelayanan kenabian. Mereka bernubuat karena orang yang dipanggil itu berbicara untuk Allah. Sebelum Amos berbicara kepada orang-orang di Betel, dia berkata, "Beginilah firman Tuhan," dan di sinilah proklamasi berbeda dari dialog dan berbeda juga dari saksi.

Gambar: Microphone

Orang yang memproklamasikan sesuatu itu seperti seorang pemberita, seorang penyiar, dia mengatakan sesuatu yang telah diperintahkan kepadanya untuk disampaikan secara luas. Dia menerima instruksinya dari seorang kerabat atau pemimpin, atau atasannya. Dia menerima berita dari seseorang di atasnya. Akan tetapi, ketika Allah memanggil saya untuk menjadi saksi, Dia memanggil saya untuk mengatakan apa yang saya ketahui sendiri dan apa yang saya ketahui sebagai kebenaran tentang Dia. Anda ingat pria dalam kisah Injil yang disembuhkan dari semua roh jahat, dan Yesus berkata kepadanya sesudah itu, "Pulanglah kepada sanak saudaramu. Ceritakan kepada mereka semua hal yang telah Tuhan lakukan kepadamu dan bahwa Tuhan berbelas kasihan kepadamu" (Markus 5:19). Nah, dia dipanggil untuk bersaksi karena dia menceritakan pengalamannya sendiri tentang Tuhan kepada sanak saudara di rumah. Akan tetapi, ketika pengkhotbah tersebut memberitakan firman, dia tidak hanya mengatakan sesuatu yang dia tahu, dia mengatakan sebuah firman yang dia terima dari Tuhan yang di atas. Jadi, jika saya berbicara dengan seorang Hindu dan saya ingin mendiskusikan agama dengannya, saya mengajaknya berdialog, jadi kita bisa memberikan pendapat bersama. Itu adalah salah satu cara. Namun, proklamasi berbeda dengan ini. Itu adalah berita dari raja yang diumumkan oleh bentaranya, dan Anda tidak dapat mengubahnya. Anda tidak bisa memperdebatkannya. Jadi, terkadang Allah memanggil kita untuk berdialog, dan terkadang Dia memanggil kita untuk bersaksi, dan terkadang Dia memanggil kita untuk memberitakan Firman-Nya. Namun, Allahlah yang memanggil dan kita harus taat.

Saat Tuhan memanggil seseorang, Dia juga memperlengkapinya. (1 Korintus 12:4; Roma 12:6-8). Allah tidak meminta saya untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin saya lakukan. Dia memberi saya karunia. Semua karunia yang saya miliki berasal dari Dia, dan Dia berkata kepada saya, "Aku ingin kamu menggunakan karunia-karunia ini yang telah Kuberikan untuk pekerjaan-Ku." Dan, jika Dia telah memperlengkapi saya dengan karunia, dan telah memanggil saya untuk pergi dan menggunakan karunia itu, saya tidak berani mengatakan "Tidak". Ketika kita bekerja seperti ini, kita adalah pewaris janji (Galatia 3:29; Ibrani 6:17; 11:9), dan kita adalah penerima karunia-Nya (1 Korintus 12-13). Itu membuat kita dua kali bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan.

Dengan cara ini, kita terlibat dalam cara Allah. Allah berbicara kepada manusia melalui manusia. Jadi, Allah telah menetapkan demikian sehingga Dia siap dan mau bergantung kepada kita untuk setia, dan melakukan pekerjaan-Nya. Dia memberi kita Injil sehingga kita dapat memberikannya kepada orang lain, dan inilah mengapa Paulus dapat berkata, "Injilku" (Roma 2:16; 16:25). Tentu saja itu adalah "Injil Allah", tetapi dia bisa menyebutnya "injilku", karena telah diberikan kepadanya dengan instruksi bahwa dia harus menyebarkannya kepada orang lain.

Semua hal ini ada dalam "panggilan". Allah memanggil kita. Dia memberi kita karunia yang kita butuhkan. Dia mengharapkan kita untuk menggunakannya dan melakukannya bagi kemuliaan-Nya. Dalam buku kecil ini, kami berkonsentrasi terutama pada salah satunya, yaitu panggilan untuk pergi, dan untuk memproklamasikan berita keselamatan. Terkadang, panggilan itu ditujukan ke gereja atau jemaat, dan jemaat mengirim salah satu anggotanya sebagai misionaris dalam Roh (Kisah Para Rasul 13:1-4).

Gambar: Misionaris

Terkadang, panggilan itu ditujukan langsung kepada seseorang, dan di bawah desakan Roh Kudus, dan individu itu pun pergi. Itu adalah kata-kata yang penting, gereja mengutus dan misionaris pergi (Matius 28:18-20). Dan, itulah fondasi teologis yang membuat saya menyusun buku ini. Sekarang, kita harus mengajukan beberapa pertanyaan historis dan menjawabnya. (t/Jing-Jing)

Diambil sebagian dan diterjemahkan dari:
Nama buku : The Deep Sea Canoe
Judul asli artikel : The Missionary Call
Penulis : Alan R. Tippet
Penerbit : William Carey Library, California, 2006
Halaman : 14 - 17