HIDUP YANG BERKELIMPAHAN

Submitted by novi on Sen, 06/10/2008 - 02:47.

"Aku datang supaya mereka memunyai hidup dan memunyainya dalam segala kelimpahan" (Yohanes 10:10b)

Kelimpahan, kata yang digemari banyak orang, tidak pandang yang menamakan dirinya Kristen atau bukan. Karena kata ini biasanya lebih dikonotasikan kepada kehidupan yang berlimpah dengan materi maupun fasilitas. Apakah demikian maksud Yohanes 10:10 itu?

Di zaman yang sedang menuju era materialisme, ayat di atas mudah sekali ditafsirkan lain. Orang yang kurang dalam hal materi maupun fasilitas, secara frontal maupun halus, sering dicap sebagai orang yang tidak diberkati atau tidak mengimani janji Yesus di atas. Bahkan jika kita jauh dari kecukupan materi ataupun sangat terbatas dalam fasilitas, kita merasa jauh dari kelimpahan yang Yesus maksudkan.

Kelimpahan berasal dari kata dasar limpah, yang secara sederhana berarti luber atau tumpah. Dalam kamus bahasa Indonesia, kelimpahan berarti tumpah banyak. Konsekuensinya, orang yang hidup berkelimpahan haruslah orang yang kehidupannya tertumpah banyak, meluber ke mana-mana merasuk kekehidupan orang lain.

Tujuan kedatangan Yesus supaya kita memunyai hidup dan memunyainya dalam segala kelimpahan, tidaklah pandang bulu, baik kaya maupun miskin, yang muda maupun yang tua, laki-laki maupun perempuan. Kita semua berhak menikmati kehidupan yang berkelimpahan, yaitu kehidupan yang memberi, meluber, dan tertumpah kepada orang lain sehingga orang lainpun dapat menikmati hidup yang berkelimpahan yang bersumber dalam pribadi Yesus.

TIGA TIPE KEHIDUPAN

Kita dapat melihat tiga tipe kehidupan orang percaya dari kacamata hidup yang berkelimpahan.

    1. Orang yang Merasa Tidak Cukup
  • Tipe ini merasa dirinya selalu kurang, selalu merasa harus diperhatikan, minta untuk dibelaskasihani. Kata memberi, menumpahkan, meluberkan kehidupan untuk orang lain merupakan hal yang asing bagi tipe ini dan menjadi momok baginya.

    1. Orang yang Merasa Cukup Dengan Dirinya Sendiri.
  • Tipe orang semacam ini, karena merasa cukup dengan dirinya, dia tidak memerlukan ataupun membutuhkan orang lain. Tipe ini cuek, acuh tak acuh, tidak peka karena mottonya "Jangan mengganggu aku, karena aku pun tidak mengganggu kamu; Jangan minta tolong apapun kepadaku, karena aku juga tidak minta tolong kepadamu". Tipe ini merasa alergi dengan kata memberi, menumpahkan, meluberkan dirinya bagi orang lain karena akan mengganggu kemapanan, kenyamanan, maupun privacy kehidupannya.

    1. Orang yang Berkelimpahan.
  • Tipe ini menjadikan dirinya sebagai saluran dan Yesus adalah sumbernya (Yohanes 4:14). Orang ini berusaha untuk memancarkan, meluberkan berkat-berkat, karunia-karunia dan hidupnya sendiri bagi orang lain. Orang ini sedang dan terus menerus menghidupi kehidupan yang memberi, meluberkan, melimpahkan kepada orang lain apa yang diterimanya, sementara ia sendiri terus bergantung pada sumber yang tidak pernah habis, yaitu Yesus Kristus.

    Kehidupan yang bagaimanakah yang sedang kita hidupi?

    HALANGAN HIDUP BERKELIMPAHAN

    Salah satu halangan untuk menikmati hidup yang berkelimpahan adalah latar belakang/masa lalu:

    1. Yang minim dengan materi dan fasilitas dapat membuatnya selalu merasa kekurangan.

    1. Yang datang dari keluarga mampu dan mapan dapat membuatnya merasa cukup dengan dirinya, bahkan seringkali dipenuhi kekuatiran untuk terus menerus dapat memertahankan kemapanan dan kecukupan materi yang dinikmatinya, sehingga tidak dapat menikmati kehidupan berkelimpahan yang sesungguhnya.

    1. Yang diliputi dengan kepahitan dapat menghambat kelimpahan sukacita maupun pengampunan.

    1. Yang dicekam kemarahan dapat menghalangi kelimpahan ucapan syukur dan kesabaran.

    1. Yang hidupnya selalu menuntut keadilan dan berusaha membalas setiap respon terhadap dirinya, dapat menyumbat kelimpahan kasih.
  • Dan masih banyak lagi hal-hal yang dapatmenjadi penyumbat, penghambat, dan penghalang bagi kita untuk menikmati hidup yang berkelimpahan di dalam Kristus, sehingga kita tidak dapat menikmati kelimpahan kasih karunia-Nya, kelimpahan pemeliharan-Nya, kelimpahan kasih-Nya, kelimpahan sukacita-Nya, oleh karena kita belum menyelesaikan dan berdamai dengan masa lalu kita.

    Adakah masa lalu yang harus dibereskan? Apakah ayat di atas sedang berlaku di dalam kehidupan kita atau kita sedang menghidupi kehidupan yang lain?

    Diambil dari:

    Judul Jurnal : Navigator, Volume 7, No. 2 - April 1996
    Judul Arikel : Hidup yang Berkelimpahan
    Penulis : Drs. Hari Widodo
    Penerbit : Navigator, Bandung 1996
    Halaman : 1

    Laporan Masalah/Saran :.
    Back to top