- 20/11/2008 - 08:29
KE LADANG KOTA MENJEMPUT TUAIAN
Submitted by novi on Sen, 08/09/2008 - 03:07.
Empat Langkah Memenangkan Lingkungan Setempat
Bayangkan seorang petani dengan sawahnya yang berwarna kuning tua terhampar luas karena bulir padi yang siap dituai. Si petani lalu memusatkan perhatian dan kemampuannya untuk meluaskan lumbung serta tidak melakukan usaha apa-apa untuk membawa hasil panen ke dalam lumbung.
Tampak aneh bukan? Si petani dengan bodohnya percaya bahwa tangkai padi yang merunduk matang akan memotong bulirnya sendiri, lalu berjalan beriringan ke dalam lumbung dan bulir-bulir itu akan menempatkan diri secara otomatis pada tempat yang disediakan.
Si petani merasa bahwa tanggung jawabnya sebatas menyediakan lumbung yang luas dan berpikir hasil panen akan mengalir sendiri ke dalam lumbung-lumbung tersebut.
Sungguh menggelikan. Secara alamiah kita akui demikian. Tidak seorangpun petani yang berpikir sebodoh itu. Namun itulah yang terjadi dalam gereja kita sekarang.
Gereja seperti halnya petani, perlu meyadari adanya ladang yang sudah menanti untuk dituai. Yesus menggambarkan tuaian dalam jumlah yang amat banyak.
Namun halangan besar untuk menuai adalah ketidakmampuan gereja untuk meyakini bahwa ladang itu ada. Gereja justru bersikeras hanya untuk membangun lumbung lebih luas lagi tanpa mengirim penuai-penuai ke ladang untuk menjemput tuaian.
Yesus berkata: "Tuaian banyak namun pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada yang empunya tuaian untuk mengutus para pekerja masuk ke ladang-Nya." (baca Lukas 10:2) Yesus tahu tidak ada yang salah dengan tuaian namun masalahnya adalah kurangnya para pekerja.
Yesus mengenali masalah yang nyata saat ia menyuruh murid-murid-Nya berdoa pada Tuan yang empunya tuaian untuk mengutus para pekerja masuk keladang-Nya.
Masalahnya bukan pekerjanya sedikit tetapi banyak pekerja yang tidak berada di dalam area ladang-Nya.
Inilah pemecahan yang Yesus berikan: utuslah para pekerja ke dalam ladang yang menguning. Ini mengacu pada Matius 28:19 dan Markus 16:15: Pergilah! Allah tidak bermaksud kita sekedar duduk dan berdoa. Ia mengharapkan kita berdoa saat pergi pada mereka yang terhilang.
Ironisnya, orang Kristen tidak pernah membuat hal itu menjadi prioritas dan akibatnya mereka tidak pernah masuk ke dalam 'ladang' yang ingin mereka tuai.
Dalam lukas 10:3-9, Yesus memberikan arahan langkah-langkah yang harus kita tempuh:
- Memberkati yang terhilang (ayat 5)
- Bersekutu dengan yang terhilang (ayat 7)
- Melayani yang terhilang (ayat 9)
- Menyatakan Kabar Baik (ayat 9)
Memberkati yang Terhilang
Mengapa orang percaya perlu diberitahukan bahwa mereka dapat memberkati tetangga sekeliling? Karena umumnya orang Kristen tidak sadar bahwa mereka cenderung untuk menghakimi.
"Tetanggaku seberang rumah adalah pemabuk. Padahal ia wanita dan ia pasti mati karena kebanyakan minum." Sadar atau tidak komentar semacam itu adalah kutuk.
Kita seharusnya memberkati bukannya mengutuk orang-orang di sekeliling kita. Jika kita melakukan hal ini dan pergi menjumpai mereka dalam sejahterah maka kekuatan kegelapan yang membutakan mereka terhadap terang Kebenaran (2 Korintus 4:3-4) tidak punya pilihan lain selain pergi.
Hal ini juga membuat hubungan kita dengan tetangga menjadi akrab karena mereka merasakan kita memiliki sikap yang baik terhadap mereka. Rasa positif yang mereka rasakan saat berjumpa dengan kita akan membawa hubungan kita dengan para tetangga ke arah bersekutu.
Bersekutu Dengan yang Terhilang
Jika kesempatan untuk bersekutu terbuka, jangan sia-siakan. Rencanakan untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan bersama mereka, bahkan jangan datang dengan pendekatan teori-teori. Bersekutu di sini bukanlah persekutuan doa!
Apa yang dilakukan Yesus selama 33 tahun? Ia bergaul dengan orang berdosa sebagai bukti Ia mengasihi mereka. Terlalu sering kita 'berkhotbah' dengan suatu sikap kemarahan dan kepahitan.
Ada kesaksian seorang penderita AIDS menerima keselamatan karena perkara kecil. Seorang gembala jemaat bersedia memenuhi undangan makan bersamanya.
Penderita AIDS ini bercerita bahwa saat ia memeringatkan gembala yang duduk dihadapannya bahwa dirinya terinfeksi AIDS, reaksi yang diduganya tidak terjadi: gembala justru menitikkan air mata dan menjamah tangannya.
Gembala ini memegang nasehat Fransiskus Asisi: "Khotbah Kabar Baik tiap saat. Pakailah kata seperlunya."
Melayani yang Terhilang
Persekutuan yang murni akan membuka pintu bagi kita untuk melayani. Jika kita dapat dipercaya, mereka akan membuka diri untuk berbagi rasa tentang kebutuhan mereka, kita tawarkan dukungan kita dengan mendoakan mereka.
Tidak perlu menjajikan bahwa doa kita akan dijawab. Sama seperti kita, mereka juga akan tersentuh jika mengetahui ada seseorang yang berdoa di tengah krisis kehidupan mereka.
Doa adalah seruan yang paling nyata dari hati manusia untuk menjangkau kekekalan.
Ingatlah bahwa Allah nampaknya memberikan perlakuan istimewa untuk doa yang dipanjatkan bagi jiwa-jiwa yang terhilang, sesuai dengan janji-Nya dalam perumpamaan tentang seekor domba yang hilang dari kumpulan 100 ekor domba.
Menyatakan Kabar Baik
Saat berhadapan dengan kebutuhan mereka yang terhilang kita akan melihat pintu terakhir terbuka: menyatakan Kabar Baik. Hampir seluruh kasus yang terjadi, kita tidak perlu berkhotbah jika kita telah memberkati, bersekutu bersama, dan melayani. Karena hal ini justru membuat mereka secara spontan bertanya tentang Tuhan yang peduli terhadap mereka.
Langkah terakhir ini perlu didukung dengan doa penginjilan yang diterapkan melalui apa yang dinamakan Mercusuar Doa.
Mercusuar Doa adalah sebuah rumah doa di mana di dalamnya terdapat baik individu, pasangan atau kelompok yang bersedia bertanggung jawab atas tetangga mereka yang belum diselamatkan.
Inti doa penginjilan adalah berbicara kepada Tuhan tentang orang-orang terhilang di sekeliling kita sebelum kita berbicara kepada mereka tentang Tuhan.
Cara terbaik melakukan doa penginjilan adalah membuat rumah kita menjadi Mercusuar doa.
Diadaptasi dari Buku: 'You Can Win Your Neighborhood', Charisma April 1999.
Penulis: Ed Silvoso
Diambil dari:
| Judul Majalah | : | Abbalove, Edisi Sahabat Kota Kita, Volume 1 |
| Judul Arikel | : | Keladang Kota Menjemput Tuaian |
| Penulis | : | Tidak dicantumkan |
| Penerbit | : | Abbalove Ministries |
| Halaman | : | 6 -- 7 |


sabda.org