- 03/12/2008 - 08:32
Imigran yang Jadi Penguasa
Submitted by novi on Sen, 25/08/2008 - 02:53.
Kita semua telah mendengar dan mengetahui kisah Yusuf. Ia adalah seorang imigran tapi tak ada seorang pun yang menolak atau menyangsikan kemampuannya jadi pemimpin. Bahkan Firaun pun kagum dan berkata, "Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah". (Kejadian 41:38) Kita pun setuju jika semua orang memuji dan ingin sepertinya. Mengapa? Karena Yusuf memang layak dan pantas mendapatkan semua itu. Dan perbedaannya dengan Firaun hanyalah tahta kerajaan Mesir (Kejadian 41:40b). Tapi satu hal yang pasti, ia tidak mendapatkannya secara instan, yang tiba-tiba. Ujian dan halangan demi halangan itulah yang membentuknya jadi pemimpin. Dan caranya menghadapi semua itulah yang membedakan serta membuktikannya sebagai pemimpin tulen. Nah, bukankah kita mau jadi seperti Yusuf.
Seorang pemimpin tidak dilahirkan melainkan dibentuk. Demikian pula Yusuf. Ia menjadi seorang pemimpin karena ia mau dibentuk dan melakukan segala sesuatunya dengan sungguh-sungguh tanpa memikirkan untung ruginya.
Sejak awal Yusuf telah mengalami penolakan dari saudara-saudaranya, yang membencinya hanya karena ayah mereka lebih mengasihinya. Bahkan mereka berikhtiar untuk membunuh Yusuf karena kepolosannya dalam menceritakan mimpi yang didapatinya. Pikirkan, apakah Yusuf menjadi orang yang minder dan tertolak? Ternyata tidak. Yusuf tidak membiarkan rasa mengasihani diri sendiri itu menguasainya, dan lebih dari itu Yusuf bahkan mengampuni dan merindukan saudara-saudaranya (Kejadian 41:51). Bayangkan, masihkah ada pelajar seperti Yusuf sekarang ini? Mungkin Anda adalah orangnya.
Yusuf adalah seorang anak kesayangan ayahnya tetapi tanpa disangka-sangka tiba-tiba ia menjadi seorang budak belian tanpa ia tahu alasannya. Menjadi orang asing dan sendirian tanpa ada saudara ataupun teman. Tapi apa yang terjadi? Yusuf tidak mengeluh dan ia pun tidak meninggalkan Tuhan melainkan bahkan dikasihi Tuhan, yang menyatakan hubungannya yang intim dengan Tuhan, waupun sendirian di negeri orang. Bagaimana dengan kita? Saat kita sendirian dan tanpa teman apakah kita tetap berani membawa nama Yesus dan status Kristen pada lingkungan kita? Jadilah seperti Yusuf.
Di Mesir Yusuf menjadi seorang budak yang dikasihi tuannya namun sekali lagi karena dedikasi dan integritasnnya yang takut akan Tuhan, ia menjadi narapidana tanpa ada pembelaan atau penghargaan karena sikapnya itu. Apakah Yususf marah? Sayangnya tidak. Ia tidak marah, pada Tuhan sekalipun. Apakah Yusuf tergoda akan rayuan istri Potifar? Yang terjadi adalah Yusuf lari dan tidak membiarkan dirinya melakukan dasa tersebut karena ia tidak mau mengambil keuntungan dari situasi saat itu. Inilah sikap yang harus ada pada kita yang walaupun digoda beratus-ratus istri Potifar lewat pacaran, VCD, majalah atau bahkan tempat pelacuran, tetap memilih untuk lari dan tidak membiarkan diri kita malakukan dosa. Kitalah pelajar yang berani membela nama Tuhan dengan mengambil sikap bersih hati dan murni tangan di hadapan Tuhan. Ya, kitalah angkatan itu. Kembali, Yusuf yang menjadi seorang narapidana dan menafsiran mimpi juru minuman dan juru roti, tidak biarkan dirinya dikecewakan oleh orang yang telah diselamatkannya. Walaupun dua tahun telah berlalu, Yusuf tetap percaya akan waktu Tuhan yang paling tepat baginya. Dan saat Tuhan itulah yang menjadikan Yusuf, tidak hanya sebagai mangkubumi di Mesir tetapi juga pemelihara kehidupan suatu bangsa yang besar (Kejadian 50:20). Indah bukan?
Ya, Tuhan tidak hanya membentuk Yusuf menjadi seorang yang rendah hati tetapi juga orang yang bergantung penuh pada Tuhan. Ini baru pemimpin! Yuk belajar dari Yusuf.
Diambil dari:
| Judul Majalah | : | Abbalove, Edisi 6, Bulan 9, Tahun 1999 |
| Judul Arikel | : | Imigran yang Jadi Penguasa |
| Penulis | : | Tidak dicantumkan |
| Penerbit | : | Abbalove Ministries |
| Halaman | : | 3 -- 5 |


sabda.org