Budhisme dan Konfusiusisme

Submitted by novi on Sel, 15/07/2008 - 07:08.

Chang Lit Sen pernah menjadi penganutnya yang berkobar-kobar semangatnya. Dia adalah pendiri Universitas Kiang Nan yang diharapkan akan menjadi pusat "gerakan kebangkitan kembali agama dan peradaban Timur"; Chang Lit Sen bertobat dengan cara yang heran ketika berada di Jawa. Di International Congress on World Evangelization di Lausanne, Swiss, pada tahun 1974 dia menyajikan laporannya. Dia memperkirakan di dunia ada lebih dari 400 juta penganut agama Budha dan 300 juta penganut Konfusius. Sejak Perang Dunia II Chang menuturkan, telah terjadi kebangkitan Budhisme yang besar. Kalau dulunya Budhisme merupakan kegemaran orang-orang tua, sekarang ini "mengambil hati dan pikiran para pemuda." Dengan gairahnya mereka berusaha memajukan gerakan yang didukungnya, melalui universitas-universitas Asia ke universitas-universitas lain di dunia! Ya, Budhisme telah merubah sifatnya; bukan lagi merupakan sebuah agama yang terikat oleh wihara-wihara dan kuil-kuil, tetapi telah menjadi sebuah gerakan yang agresif dan bersemangat yang berusaha menanamkan pengaruhnya yang kuat di dunia di mana saja mereka berada. Kalau komunis telah mengambilalih daratan Cina, maka Hongkong telah menjadi pusat kebangkitan kembali Konfusiusisme untuk melawan "revolusi kebudayaan di Tiongkok Merah", yang dipromosikan sebagai "renaissance kebudayaan Tiongkok." Kalau Budhisme memberikan diagnosa yang salah untuk dilema manusia dengan menganggap bahwa penderitaan merupakan sumbernya, kekristenan harus menunjukkan bahwa dosalah yang merupakan akarnya yang berbahaya.

Kalau kita mendekati orang-orang Budha dengan Injil, kita harus ingat bahwa seringkali yang merupakan batu sandungan bagi orang Budha adalah sesuatu yang sosio-kulturil. Mereka menganggap bahwa gereja adalah sebuah lembaga Barat dan kekristenan adalah agama Barat! Gereja di Asia masa kini harus menemukan jalan untuk menyesuaikan diri secara kulturil dengan orang-orang Budha, sehingga batu sandungannya bisa disingkirkan. Karena itu akan sangat menolong jika orang-orang Asia sendirilah, terutama orang-orang Budha yang sudah bertobat, yang menjadi pembawa Injil, yang dapat menyaksikan bahwa kekristenan adalah sungguh-sungguh merupakan agama Timur yang didirikan oleh orang Timur. Bijaksanalah tindakan mencapai seluruh keluarga. Pendekatan secara pribadi dengan cara Barat bisa mendatangkan salah mengerti dan menciptakan problema besar untuk orang yang berusaha mengambil keputusan untuk mengikut Kristus sendirian tanpa keluarganya atau struktur kaumnya. Gereja-gereja Asia patut meninjau kembali tantangan gerakan kebangkitan Budhisme sehubungan dengan strategi yang baru dan efektif dengan apa seluruh kelompok pengikut Budha bisa dihadapi dengan Injil, dan mungkin akan berubah menjadi pengikut Kristus semuanya. Orang-orang yang membahas penyajian Injil, menurut pidato Chang, menasehatkan agar Pribadi Kristuslah yang harus menjadi berita utamanya bahwa bahan-bahan bacaan dan alihbasa harus dikembangkan ... "bahwa gereja-gereja nasional harus menyelidiki bentuk-bentuk yang lebih asli daripada pengungkapan iman yang hidup," bahwa orang-orang Kristen harus memelihara hubungan dengan anggota-anggota keluarga yang belum bertobat dan tahu bagaimana caranya hidup di tengah mereka ... untuk berpromosi demi pertobatan keluarga, di mana mungkin. Anggota-anggota kelompok diskusi mewakili negara-negara Thailand/Muang-Thai, Laos, Vietnam, Kamboja, Tibet, Jepang dan Srilangka yakni negara-negara yang rata-rata 90% dari penduduknya beragama Budha.

Jumlah penganut Budha dan Konfusius yang terbesar adalah orang-orang Tionghoa. Kita diingatkan bahwa masyarakat Tionghoa terdiri dari pelbagai kebudayaan cabang, yang masing-masing mempunyai rintangan sendiri, meskipun pintu ke daratan Tiongkok terbuka. Kenyataan bahwa daratan Tiongkok telah diindoktrinasi dan diracuni oleh ideologi komunis total tidaklah menghilangkan akar religius-kulturil orang-orang Tionghoa dalam latar belakang Budha-Konfusius mereka.

Diambil dan diedit Seperlunya dari:

Judul Buku : Merencanakan Misi Lewat Gereja-Gereja Asia
Judul Bab Asli : Tantangan-tantangan yang Sedang Dihadapi Gereja di Asia di Masa Kini
Judul Artikel : Budhisme dan Konfusiusisme
Penulis : David Royal Brougham
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang 2001
Halaman : 80 -- 83

Laporan Masalah/Saran :.
Back to top