- 29/09/2008 - 02:20
KUASA INJIL
Submitted by novi on Sen, 14/07/2008 - 02:43.
PENDAHULUAN
Perkataan Allah merupakan ekspresi kehendak Allah, kuasa Allah merupakan penggenapan kehendak-Nya. Dengan perkataan-Nya Allah menyatakan isi hatinya, dan dengan kuasa-Nya dalam hati-Nya. Antara perkataan dan kuasa Allah tidak ada jarak. Namun dalam banyak gereja dewasa ini nyata sekali bahwa kuasa tidak terkandung di dalam perkataan (khotbah) yang disampaikan. Ini disebabkan karena teori kita banyak tetapi tidak menuntut kuasa yang seimbang dengan teori. Saya selalu mengagumi sebagian penginjil yang memiliki kuasa di dalam menghibur pada saat mereka menghibur, memiliki kuasa di dalam menegur pada saat mereka menegur, dan memiliki kuasa di dalam mendidik. Yesus sudah berjanji, "Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu" (Kisah Para Rasul 1:8). Janji ini harus kita terima dengan iman, supaya kita dapat mengalami kuasa itu.
Apa yang kita kabarkan meliputi kebenaran yang terpenting dalam menyelesaikan segala masalah hidup manusia. Sampai dimana kesetiaanmu untuk memberitakannya. Itulah sebabnya kita perlu terlebih dahulu mengerti dengan tepat akan Firman Tuhan, baru kita dapat menyatakannya dengan jelas, bahkan dapat menyatakan kesetiaan kepada kebenaran melalui hidup kita. Dengan demikian kuasa Allah dapat dinyatakan melalui kita, karena Allah hanya dapat setia kepada diri-Nya sendiri. Barang siapa tidak setia kepada-Nya, tidak dapat dipakai Allah sebagai saksi-Nya.
Paulus berkata, "Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat" (2 Korintus 4:7). Sebenarnya berapa pentingnya dan berapa nilainya Firman ini? Sesungguhnya Firman inilah yang menguasai semua makhluk. Filsafat-filsafat di Timur dan Barat meraba-raba secara kabur, ada Firman di dalam alam semesta yang disebut Logos dalam pikiran Yunani, juga disebut Brahma dalam filsafat India, atau di sebut Tao (jalan) dalam filsafat Tiongkok. Tetapi tidak satupun dari mereka dapat menjelaskan secara sempurna apakah Firman itu. Alkitab memberi jawaban, Kristuslah Firman Allah. Jika kita sungguh merasakan bahwa jalan ke surga telah Kristus bukakan bagi kita, maka tak seorangpun dapat merasakan kemiskinan hidup karena mengenal Kristus, dan tidak ada satu pun dapat menjadi mundur karena menerima Kristus. Allah tidak akan membunuh rasio manusia! Berdasarkan pengenalan ini, kita dapat berdiri dengan tegak dan memberitakan Injil dengan berani di hadapan kaum intelektual dan segala macam kebudayaan manusia.
Kita akan menanyakan satu pertanyaan: ketika Firman Allah resmi diberitakan, kuasa apakah yang dinyatakan dalam pemberitaan Injil? Jika kita tinjau dari gejala umum, Injil mempunyai kuasa untuk mengubah dan menyelamatkan manusia. Tetapi bila dipikirkan lebih mendalam, kuasa apakah yang sebenarnya terkandung di dalam Firman Allah? Ketika Injil diberitakan, apakah yang terjadi dalam proses pemberitaan itu, sehingga manusia yang tidak bisa diubah melalui usaha pendidikan selama puluhan tahun, diperbaharui secara total dalam satu hari karena Firman Allah? Kuasa apakah yang tampak dalam pemberitaan Injil.
KUASA MENEMBUS
Injil dapat menerangi segala kenajisan yang terdapat dalam hati manusia. Alkitab bagaikan cermin; ketika kebenaran Allah diberitakan, akan timbul dengan sendirinya kuasa menembus, yang menyatakan keadaan hati manusia. Ini mutlak tidak mungkin dilakukan oleh semua kebudayaan. Perempuan Samaria merasa heran bagaimana Yesus mengetahui segala sesuatu tentang dirinya; itulah kuasa menembus yang tersedia dalam Injil.
Ada satu hal yang aneh: ketika orang yang belum percaya kepada Kristus mendengarkan Firman Tuhan dan menyadari bahwa dirinya adalah orang berdosa, maka selain ia mencucurkan air mata dan bertobat, ia dapat merasa berterima kasih kepada penginjil yang memberitakan Firman Tuhan kepadanya. Tetapi sebaliknya, orang Kristen yang sudah lama percaya Tuhan, ketika mendengar pendeta menegur dosanya dalam khotbah, akan marah sekali dan membenci pendeta itu. Kebenaran apakah ini? Masakan orang yang tidak percaya Tuhan lebih rohani daripada orang Kristen? Tidak. Kenyataan ini membuktikan bahwa keselamatan kita bukan berdasarkan kuasa Allah. Allahlah yang telah menelanjangi manusia di bawah terang-Nya, sehingga manusia tidak dapat melarikan diri. Apakah waktu kita memberitakan Injil kita dapat melihat kuasa itu? Orang Kristen mula-mula yang bertobat pada zaman rasul-rasul berteriak dengan suara nyaring: apakah yang dapat kami perbuat supaya beroleh selamat? Karena semua kebobrokan sifat mereka telah dinyatakan oleh terang, mereka membutuhkan kesembuhan dari Tuhan.
KUASA MEROBOHKAN
Sebelum Allah membangun, Allah pasti merobohkan dan membongkar hal-hal yang tidak berkenan kepada-Nya. Inilah prinsip pekerjaan Allah yang penting. Tanpa merobohkan yang lama tidak dapat dibangun yang baru. Sebab itu, ketika Injil diberitakan, manusia merasa terancam, karena menerima Injil berarti hal-hal yang ia miliki sebelumnya harus dirobohkan. Inilah perbedaan Injil dengan agama pada umumnya, dan salah satu penyebab mengapa Injil sulit diterima oleh manusia. Setelah Adam dan Hawa berdoa, Allah harus menutupi keaiban mereka dengan pakaian yang berbuat dari kulit binatang. Ini berarti bahwa yang terlebih dahulu mati bukanlah manusia. Upah dosa adalah maut, namun bukan adam yang terlebih dahulu,mati, melainkan binatang. Sebelum mengenakan pakaian kulit, bukankah Adam harus terlebih dahulu menanggalkaan daun-daun penutup tubuhnya yang sudah mengering dan menguning, yang melambangkan kebudayaan manusia yang tidak mungkin menutupi keaiban ini? Ini tidak berarti saya menghina kebudayaan. Kebudayaan sama sekali tidak dapat menyelamatkan manusia, kebudayaan hanya bisa menutupi untuk sementara, tetapi sama sekali tidak menolong. Sebab itu Allah menuntut ditanggalkannya semua ini terlebih dahulu. Jika tidak, jubah kebenaran tak dapat dikenakan.
Salah satu sebab mengapa kebanyakan orang membenci Injil ialah karena Injil merupakan ancaman bagi kebudayaan mereka. Richard Niebuhr dalam bukunya Kristus dan kebudayaan berkata, "Mengapa orang Yahudi harus menyalibkan Yesus? Karena jika Kristus ada, maka kebudayaan yahudi akan dimusnahkan; sebaliknya jika kebudayaan Yahudi harus ada, maka Kristus pasti harus dienyahkan." Ucapan tersebut telah menyebutkan titik beratnya. Saya tidak mengatakan bahwa di mana ada kekristenan maka kebudayaan setempat harus dimusnahkan, tetapi hal-hal dalam kebudayaan yang berlawanan dengan Injil harus ditinggalkan.
Saya percaya bahwa di dalam kebudayaan ada bagian-bagian yang tidak berlawanan dengan Injil, karena kristalisasi kebijaksanaan kebudayaan merupakan salah satu akibat dari wahyu umum. Meskipun demikian kita tidak boleh lupa bahwa setelah manusia jatuh ke dalam dosa, sudah tidak ada cara bagi kita menghasilkan kebudayaan yang sempurna tanpa cacat cela. Sebab itu ketika kebenaran Kristus bercahaya, ia akan menerangi dan membersihkan kebudayaan, dan membawa kebudayaan lebih dekat kepada Firman Tuhan.
Di bawah kuasa Injil akan roboh segala hal yang didirikan oleh manusia, yang tidak sanggup menyelamatkan manusia keluar dari kuasa dosa. Di bawah kuasa Injil robohlah agama yang palsu, robohlah jasa yang didirikan oleh manusia yang berdosa, robohlah impian kosong di dalam kebudayaan. Injil mengandung kuasa merobohkan ini karena Injil mengandung unsur yang melampaui segala hal yang didirikan oleh manusia yang berdosa; ia menerangi manusia dalam perasaan membutuhkan Allah yang sesungguhnya, sehingga manusia berdasarkan hanya kepada Allah.
KUASA MENGHAKIMI
Tuhan Yesus berkata bahwa pada waktu Roh Kudus datang Ia akan menerangi manusia tentang dosa, kebenaran dan penghakiman. DalaMm terjemahan Alkitab yang lain dikatakan bahwa Roh Kudus datang untuk mengakibatkan manusia menegur diri di dalam dosa, keadilan dan penghakiman. Di sini kita melihat bahwa penginjilan yang disertai Roh Kudus memiliki kuasa penghakiman, sehingga yang mendengar Injil merasa dirinya dipaparkan dihadapan penghakiman yang besar. Konsepnya tentang dosa, tentang kebenaran dan hak pelaksanaan penghakiman yang tidak normal dihakimi dan ditegur oleh Roh Kudus sehingga orang berdosa itu menjadi malu dan menegur diri. Inilah akibat pekerjaan Roh Kudus yang besar pada saat Injil diberitakan. Dalam penginjilan jika hanya kita yang menegur orang berdosa pasti tidak timbul hasil apa-apa, bahkan mengakibatkan kebencian mereka terhadap kita. Sebaliknya jika pemberitaan kita disertai dengan kuasa penghakiman dari Roh Kudus, maka akan mengakibatkan pertobatan dari orang berdosa itu. Pada saat kuasa penghakiman itu tiba manusia bukan saja berubah konsep tetapi juga mulai berpaling kepada Tuhan. Puji syukur kepada Allah karena Dia yang menunjukkan pikiran-Nya dan jalan-Nya kepada manusia telah menolong manusia untuk mengadili diri dan meninggalkan jalan yang salah serta kembali kepada-Nya.
KUASA MENANTANG
Setelah Roh Kudus menyatakan kuasa penghakiman yang mengakibatkan manusia berubah konsep dan sadar akan kebutuhannya akan Allah maka Injil yang sudah digenapi oleh Kristus menjadi tantangan bagi pendengar melalui kuasa Roh Kudus. Roh Kudus akan mendesak manusia dengan tantangan yang dahsyat untuk mengambil keputusan. Kuasa Injil ini mengakibatkan pemberita yang mengertinya dan menaati Roh Kudus diberanikan untuk menjadi penantang pula. Setelah kita memberitakan Injil kita berhak mendesak, menantang pendengar kita apakah mereka mau menerima Yesus, apakah mereka mau bertobat. Sifat ini juga mengubah seluruh pelayanan kristiani dari sifat negatif menjadi positif, sifat defensif menjadi ofensif. Dengan demikian orang Kristen tidak seharusnya hanya menerima tantangan jaman, tantangan dunia, tantangan kebutuhan manusia, melainkan menantang, mereka untuk kembali kepada rencana dan kehendak Allah. Mari kita memberanikan diri menantang kebudayaan, politik sistem pikiran manusia dan jaman kita.
KUASA MENGUTUBKAN
Kuasa menantang dari Injil mengharuskan mereka yang pernah mendengar Injil mengalami krisis yang bersifat eksistensial, sehingga respon mereka mengakibatkan suatu pengutuban. Mereka yang sudah mendengar Injil harus bertanggungjawab kepada Injil yang sudah diberitakan kepadanya. Mereka tidak mungkin melarikan diri dari tanggung jawab yang besar ini. Alkitab berkata, "Bagaimana kita akan luput, jika kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu" (Ibrani 2:3). Lebih celakalah mereka yang sudah mendengar dan menolak dari pada mereka yang belum pernah mendengarnya. Tetapi adalah bahagia yang besar bagi mereka yang menanti Roh Kudus dan menerima Injil, karena merekalah yang akan memiliki dan mengalami segala berkat surgawi yang dijanjikan dan digenapkan Allah di dalam Kristus. Kedua macam respon ini sangat bersifat mengkutub. Dan ini merupakan hasil dari kuasa Injil itu sendiri, sehingga hanya ada dua alternatif: binasa atau hidup kekal. Mungkinkah kita mengabarkan Injil dengan hasil semua orang menerima dan menjadi senang? Itu tidak mungkin! Karena pada saat Injil diberitakan sekaligus kuasa Injil mengkutubkan itu berlaku oleh pekerjaan Roh Kudus. Sebagaimana Anak Allah yang digantung di atas kayu salib memisahkan manusia menjadi dua kelompok, demikian juga waktu pemberitaan Injil dilaksanakan banyak yang akan dibangkitkan, juga banyak yang akan dijatuhkan. Keharuman Kristus ini menjadi keharuman yang menghidupkan, juga menjadi keharuman yang mematikan. Inilah kuasa Injil yang mengkutubkan.
KUASA MEMBANGUN KEMBALI
Prinsip keselamatan Allah bagi orang berdosa adalah merobohkan lebih dahulu, baru membangun kembali. Allah tidak pernah melaksanakan sesuatu yang tidak sempurna. Di dalam keselamatan Injil bukan hanya merobohkan segala benteng yang salah, tetapi juga akan membangun kembali iman yang sejati di dalam hidup setiap orang yang menerima Injil. Kuasa membangun kembali ini adalah kuasa Roh Kudus yang memperanakkan manusia dan membawa manusia kepada pengharapan yang baru, pembentukan karakter yang baru, pengenalan konsep yang baru dan pembangunan moral yang baru. Sebagaimana ciptaan lama sudah dirusakkan oleh dosa, maka ciptaan baru sudah dibangkitkan oleh kuasa Roh Kudus. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya" (2 Korintus 5:17-18). Kita disebut ciptaan baru, sehingga Paulus berkata, "Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya" (Efesus 2:10).
Melalui pribadi-pribadi sebagai ciptaan baru gereja menjadi saksi kuasa Allah untuk menciptakan lingkungan yang baru pula, membangun kembali masyarakat, kebudayaan, sistem pemikiran manusia yang pernah dicemarkan oleh dosa.
KUASA MEMBERITAKAN INJIL
Orang telah dibangun kembali akan mengalami juga kepenuhan Roh kudus yang menjadi sumber kuasa kasih Allah akan dipenuhi oleh kasih itu sendiri dan menjadi sumber kasih baru yang kecil untuk memberitakan Injil dengan berani kepada orang lain. Barangsiapa pernah mengalami kuasa Injil akan memperoleh juga keberanian yang besar untuk menginjili jiwa-jiwa yang memerlukan Injil. Segala perbedaan konsep, segala hambatan kebudayaan, segala batasan agama, tidak akan menghentikan mereka dari keberanian menginjili ini. Kuasa Roh Kudus yang ada pada mereka akan memenuhi mereka sehingga mereka berani menghadapi segala kesulitan di dalam penginjilan. Ini disebabkan cinta Allah telah mencengkeram mereka demikian rupa sehingga mereka mengalami kebenaran "di dalam kasih tidak ada ketakutan kasih belum sempurna" (1 Yohanes 4:18). Orang semacam inilah yang selalu mendekati manusia dan memberikan kehangatan kepada manusia lain serta efisien dalam pemberitaan Injil.
PENUTUP
Tuhan Yesus menyuruh murid-murid-Nya menunggu di Yerusalem sampai mereka memperoleh kuasa dari atas. "Kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem... sampai ke ujung bumi."
Apakah kita masih menunggu kedatangan Roh Kudus yang akan turun kepada kita? Tidak! Roh Kudus sudah turun sejak hari Pentakosta. Itulah sebabnya kita harus selalu setia dan taat kepada-Nya, sehingga kita senantiasa dipenuhi oleh kuasa-Nya. Kiranya kuasa Roh Kudus menguatkan kita untuk menjadi saksi-Nya sampai Kristus datang kembali.
Bahan diambil dari:
| Judul seminar | : | Konsultasi Pelayanan |
| Judul artikel | : | Kuasa Injil |
| Penulis | : | Pdt.DR. Stephen Tong |
| Halaman | : | 32 -- 36 |
| Penyelenggara | : | Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia dan Gereja-gereja Mitra, Bandung 28 - 31 Maret 1995 |

sabda.org