Penginjilan Kepada Saudara Sepupu: Peluang Baru yang Diberikan Allah

Dapatkah Saudara Sepupu Mengalami Pertobatan?

Pria itu sangat percaya diri dan bersikap agresif ketika ia memasuki kantor rumah singgah. Ia datang untuk menyuruh orang Kristen agar menutup tempat itu dan berhenti menyuarakan kebohongan. Ia telah mempelajari agamanya, menghafal Kitab Sucinya, dan meyakini bahwa agamanya adalah satu-satunya yang benar di dunia. Dia bertekad untuk memajukan agamanya, dengan cara mengajak setiap orang agar menganut agamanya. Ia berdebat sengit dengan orang-orang yang bertugas di tempat itu tentang para penipu dengan propaganda kekristenan. Itulah pertemuan pertama yang mengawali banyak pertemuan selanjutnya.

Ia seorang sopir taksi yang sering mampir ke tempat itu untuk berdebat tentang pandangannya. Setelah dua bulan, manajer di tempat itu dengan sabar dan setia, memperkenalkan Kristus secara pribadi kepadanya. Secara bertahap ia mulai bersedia berdiskusi -- alih-alih berdebat. Setelah beberapa minggu melakukan diskusi, tukang debat itu menjadi pendengar yang serius. Sang manajer memberinya beberapa artikel kekristenan dan memberi saran, "Bagaimana kalau Anda membawanya dan merenungkan apa isinya?" Sang manajer merasa pria itu sekarang seorang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran. Ia meminta teman-temannya sesama Kristen mendoakan, agar firman Allah membawa terang ke dalam hati pria itu.

Empat bulan berlalu tanpa petunjuk apa pun tentang pria itu. Manajer Kristen itu berpikir, ia telah membuatnya tersinggung dan kehilangan kontak. Lalu, ia melihatnya di sebuah pusat perbelanjaan dan bertanya, "Mengapa Anda tidak mengunjungi kami lagi?" Pria itu menjawab, "Saya akan datang lagi suatu hari nanti. Saya sedang merenungkan bahan-bahan bacaan yang Anda berikan dulu."

Beberapa bulan kemudian ia mampir ke tempat itu dan bertanya kepada sang manajer, "Tahukah Anda mengapa saya datang hari ini? Karena ini hari yang istimewa." Ia menunjukkan kepada sang manajer, selembar kalender harian yang bertuliskan ayat Alkitab: "Kamu harus lahir baru". Pria itu berkata, "Aku ingin melakukannya. Aku ingin lahir baru." "Apa yang Anda katakan?" tanya orang Kristen itu. "Apakah Anda paham makna lahir baru? Tidak tahukah Anda bahwa hal itu berarti penganiayaan dan masalah besar bagi Anda? Apakah Anda siap menghadapi tantangan?" Pria itu tidak bisa dihalangi. Ia memohon kepada sang manajer untuk membimbingnya bertobat, dan menerima Kristus sebagai Juru Selamatnya. Wajahnya bercahaya selagi berdoa, lalu ia meminta Alkitab.

Ia meninggalkan tempat itu, wilayah yang didominasi oleh para pemilik toko yang beragama lain sambil berteriak dengan keras, "Aku sudah lahir baru! Aku seorang Kristen sekarang." Sang manajer berlari mendekatinya dan memintanya untuk tidak bertingkah konyol. Pria itu menjawab, "Saya tidak memunyai waktu untuk berdiam diri. Saudara Sepupu akan memberi saya waktu tiga hari untuk mengaku salah, atau mereka akan berusaha membunuh saya."

Tak lama kemudian, pemimpin agama mendatanginya dengan ancaman terhadap nyawanya dan rumah singgah itu, jika ia tidak kembali memeluk agama asalnya. Tetapi ia berhasil menghindari ancaman itu, dan mulai menghadiri Persekutuan Arab dengan orang Kristen yang telah membawanya kepada Kristus. Kemudian ia pindah dari daerah itu, namun mengirim pesan kepada sang manajer bahwa ia masih bertumbuh dalam imannya.

Contoh lainnya adalah teman saya yang diasuh Saudara Sepupu di sebuah negara Timur Tengah. Pemuda ini telah mendengar tentang Alkitab, namun belum pernah melihatnya. Ia tahu bahwa ada penjaga toko di kotanya yang memunyai salinan Alkitab. Ia lalu meminjamnya.

Selama beberapa tahun, dengan penuh rasa ingin tahu, ia membaca... membaca... dan membaca. Ia memberi tahu saya bahwa ia membaca seluruh Alkitab 14 kali, dan membaca ulang Perjanjian Baru 13 kali. Akhirnya ia mengerti kebenaran tentang Tuhan Yesus Kristus, dan memercayainya sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Imannya memberinya damai sejahtera dalam hati dan kepastian keselamatan yang telah lama dirindukannya.

Imannya juga membawa masalah besar baginya. Keluarganya menarik undian tentang siapa yang akan membunuhnya, atas kemurtadan yang tak terampuni karena meninggalkan agama asalnya. Dia menunjukkan bekas luka di lehernya karena upaya pembunuhan oleh pamannya. Teman saya dan istrinya kini memunyai pelayanan efektif dalam penginjilan Saudara Sepupu di Timur Tengah.

Saudara Sepupu akan mau beriman kepada Kristus walaupun selalu membutuhkan waktu lama. Penting bagi mereka untuk mendalami Alkitab sebagai pintu masuk cahaya rohani ke dalam hati dan pikiran mereka. Kesaksian Saudara Sepupu yang bertobat, selalu ditandai dengan pergumulan panjang akan kebenaran Alkitab. Terkadang, pengalaman rohani mereka diawali dengan suatu mimpi atau penglihatan, namun selalu berpuncak dalam pergumulan atas pernyataan Alkitab tentang Tuhan Yesus Kristus.

Tantangannya

Migrasi Saudara Sepupu dari daerah yang tertutup ke negara-negara Barat dalam beberapa tahun belakangan adalah fenomena unik. Tidak ada yang bisa meramalkan perubahan yang dibawa oleh imigrasi bagi negara-negara tersebut. Kelompok-kelompok orang yang sebelumnya tak terlintas dalam pikiran kami, kini tinggal di sebelah rumah kami, belajar di sekolah-sekolah dan universitas-universitas kami, bekerja dengan kami, dan anak-anak mereka bermain bersama putra-putri kami. Kehadiran mereka tidak selalu disambut baik dan menimbulkan kebencian dan kemarahan, khususnya saat mereka mencari kedudukan politis dan pengaruh untuk mengenalkan agama mereka. Mereka juga membawa permusuhan tradisional dari Timur Tengah.

Bagaimana sebaiknya reaksi orang-orang Kristen terhadap perubahan ini? Pengalaman saya dalam menghadapi masalah-masalah ini, muncul dari keterlibatan dengan kelompok sukarelawan yang pergi ke jalanan dan taman setiap Minggu sore dan malam. Kami mengabarkan Kabar Baik dengan berkhotbah di ruang terbuka. Setelah acara berakhir, kami selalu mendatangi orang-orang yang berhenti untuk mendengarkan. Kami berbagi cerita secara pribadi dan memberi bacaan-bacaan Alkitab untuk dibawa pulang.

Saya tidak akan lupa salah satu perjumpaan yang berdampak sangat dalam terhadap kehidupan saya. Pria itu berdiri sambil mendengarkan khotbah cukup lama. Saat dia berjalan pergi, saya menghentikannya dan dengan ramah menawarkan Injil Yohanes. Ia segera membaca judulnya, menyodorkan kembali kepada saya, dan berkata, "Tidak, terima kasih. Saya non-Kristen." Saya benar-benar bingung. Kata-kata terakhir dan tindakannya itu membuat saya merasa benar-benar dikalahkan. Saya tidak tahu harus berkata apa. Saat saya melihatnya berjalan pergi, saya merasa sungguh-sungguh tak berdaya. Melalui peristiwa ini saya mulai belajar.

Pandangan Allah terhadap Migrasi Saudara Sepupu

Gereja Kristen memunyai catatan buruk dalam upaya penginjilan kepada Saudara Sepupu. Gereja menganggap mereka "terlalu keras", sehingga beralih kepada kelompok lain. Ada lebih banyak penginjil yang berusaha memenangkan setengah juta jiwa di Alaska, daripada yang berusaha menjangkau satu miliar Saudara Sepupu di dunia. Ada satu penginjil Kristen untuk setiap satu juta orang di Timur Tengah. Ketika kami membandingkan data ini dengan sekian banyak rohaniwan dan pengerja Kristen di Barat, kami mulai memahami kesenjangan yang luar biasa dalam prioritas kami.

Namun, Allah memberi kesempatan lain kepada gereja di wilayah kami dengan mengirim para imigran dan pelajar ke negara kami. Kami berusaha mengejar peluang baru ini untuk mengabarkan Kabar Baik kepada mereka. Saya ingat seorang pemuda dari Afganistan, yang dikirim oleh pemerintahnya untuk belajar bahasa Inggris di negara kami. Kelompok penginjilan kami telah berjumpa dengannya di jalanan. Kami mengundangnya untuk mampir dan bersantap malam. Dalam kelanjutan acara, kami menceritakan tentang kedahsyatan Tuhan Yesus Kristus dan apa yang telah diperbuat-Nya bagi kami. Ini pertama kalinya dia mendengar kesaksian seperti itu, dan dia terpesona selagi mendengar. Matanya berlinang air mata dan wajahnya mencerminkan pergulatan pikirannya, "Benarkah ini? Apakah benar ada seorang Juru Selamat yang murah hati?" Dengan antusias ia menerima Alkitab. Ia berkata kepada kami, "Saya ingin belajar lebih lagi tentang hal ini, dan memberi tahu rakyat saya ketika saya kembali ke Afganistan."

Peran penting saksi Injil semacam itu biasanya tidak diketahui seketika. Kebanyakan pelajar yang datang ke negara kami, menempati jabatan yang berpengaruh ketika mereka kembali ke negara asal. Contohnya, seorang pemuda lain menikmati keramahan di rumah saya, mendengar Kabar Baik, lalu membawa pulang Alkitab. Sekarang dia menjadi raja suatu wilayah otonom di India.

Hak Istimewa Membawa Tanggung Jawab Istimewa

Mengapa banyak orang mendengar Kabar Baik berulang kali sementara jutaan lainnya di dunia ini belum pernah sekalipun mendengarnya? Secara umum, kita tidak bisa memilih hak istimewa untuk tinggal di negara di mana Kabar Baik bebas diberitakan dan Alkitab tersedia dengan mudah. Namun, jangan lupa bahwa hak istimewa juga berarti tanggung jawab istimewa.

Pernahkah Anda berpikir Anda berada di bagian mana jika situasinya dibalik dan Anda Saudara Sepupu? Anggaplah bahwa Anda lahir di suatu desa terpencil di Turki, Iran, atau Arab Saudi. Berapa besar Anda berharap dapat mengenal Tuhan Yesus Kristus? Barangkali, Anda hanya akan sedikit sekali mengenalnya. Mengapa? Karena, seperti di negara kami, ada banyak orang Kristen hidup dalam "kehidupan yang menyenangkan", kemajuan karier, kesuksesan finansial, dan ketersediaan tabungan hari tua. Mereka hidup seolah-olah dunia materi adalah dunia nyata, sehingga gagal mengumpulkan harta di surga. Mari bertobat dan taat kepada perintah Tuhan Yesus Kristus, untuk mengabarkan Kabar Baik kepada semua orang, termasuk satu miliar Saudara Sepupu.

Cara paling efektif bagi umat Kristen untuk mengabarkan Kabar Baik adalah, dengan menjadikan kebutuhan spiritual Saudara Sepupu sebagai titik awal yang utama. Kebutuhan spiritual ini selanjutnya dapat digunakan sebagai sarana, untuk membawa kepada penjelasan tentang pribadi Tuhan Yesus Kristus dan karya-Nya.

Saya menemukan bahwa konsep kebutuhan spiritual ini adalah tema yang penting dalam pemberitaan Kabar Baik. Inilah titik persamaan umum bagi semua orang di mana saja. Pengkhotbah 3:11a mengatakan "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka." Unsur kekal dalam kodrat manusia ini mencerminkan kesadaran akan kebutuhan batin yang diungkapkan dalam berbagai cara di beragam budaya.

Di dunia Barat, kebutuhan spiritual mungkin dinyatakan sebagai berikut:

  1. Rasa kekosongan dan ketidakpuasan batin.
  2. Pencarian jati diri dan tujuan hidup. Siapa saya? Dari mana saya berasal? Mengapa saya berada di sini? Kemana saya akan pergi?
  3. Apakah Allah itu ada? Dapatkah Ia dikenali?

Sayangnya, kemakmuran materi, kegemaran berhura-hura, dan kemajuan teknologi di dunia Barat, tampaknya mematikan hasrat untuk menemukan jawaban akan kebutuhan-kebutuhan spiritual.

Di dunia Saudara Sepupu, ada kesadaran universal akan hal-hal rohani. Keberadaan dan kuasa Allah diterima oleh semua. Akan tetapi, ada kegelisahan batin yang tidak mampu dijawab Saudara Sepupu. Inilah contoh-contoh kebutuhan spiritual itu:

  1. Pencarian akan pengampunan dari Allah.
  2. Kerinduan akan kepastian masuk surga.
  3. Rasa takut akan maut dan penghakiman oleh Allah.
  4. Rasa takut akan kuasa setan atas mereka dan kecenderungan untuk berbuat jahat.
  5. Keterikatan dengan kuasa jahat dan praktik okultisme.
  6. Tidak merasakan adanya pemeliharaan kasih Allah atau bahwa Ia akan menjawab doa.

Minat mereka timbul ketika kita dengan rendah hati mampu menunjukkan bahwa Tuhan kita Yesus Kristus, oleh kematian dan kebangkitan-Nya, menjawab semua kebutuhan ini. Pendekatan kepada Saudara Sepupu adalah seperti "menggaruk di tempat mereka merasa gatal" dan menghindari diskusi kontroversial tentang mereka. Kita tidak perlu menjadi pakar agama mereka untuk menggunakan metode kesaksian ini secara efektif.

Saya belajar berbagi hidup dengan Saudara Sepupu dengan mendatangi mereka dan melakukannya, lalu secara bertahap mendapat pemahaman yang lebih. Anda juga dapat belajar dengan cara yang sama, entah Anda merasa mampu atau tidak. Saya seorang insinyur kimia yang menghabiskan hidup bekerja di bidang bisnis. Pemahaman saya tentang firman Allah diperoleh dari membaca Alkitab dari awal sampai akhir, setidaknya setahun sekali dalam hidup kekristenan saya. Saya jemaat aktif di gereja lokal, tetapi rindu untuk melakukan pelayanan lainnya.

Rencana yang disarankan untuk menjangkau Saudara Sepupu dapat saya ringkas sebagai berikut.

  1. Bangunlah rasa saling percaya antarsesama melalui persahabatan.
  2. Beritakan Kabar Baik tentang Tuhan kita Yesus Kristus.
  3. Ceritakan awal mula Anda percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, sehingga kini memiliki kepastian keselamatan.
  4. Bagikan beberapa cuplikan firman Allah kepada Saudara Sepupu Anda.

Keyakinan akan Perkataan Allah

Apakah peluang mengabarkan Kabar Baik kepada Saudara Sepupu tampak menakutkan? Apakah hal itu membuat Anda merasa takut dan gentar (1 Korintus 2:3)? Apakah Anda merasa sangat membutuhkan keberanian (Efesus 6:19)? Apakah Anda merasa lemah untuk melakukan tugas itu (2 Korintus 12:9-10)? Jika Anda merasakan hal-hal tersebut, yakinlah bahwa Anda tidak seorang diri. Rasul Paulus pernah mengalami hal yang sama. Kenyataannya, inilah yang biasa dialami semua orang yang berani terlibat dalam peperangan rohani bagi jiwa-jiwa yang terhilang.

Pikirkan dasar keyakinan untuk mengabarkan Kabar Baik kepada Saudara Sepupu yaitu Alkitab -- Perkataan Allah yang penuh kuasa dan tidak pernah berubah. Firman Allah adalah kebenaran (Yohanes 17:17) yang hidup, berkuasa, dan dinamis (Ibrani 4:12). Secara ajaib Tuhan Yesus Kristus, firman Allah yang Hidup (Yohanes 1:1-3) identik dengan Alkitab, tulisan Perkataan Allah (1 Petrus 1:23). Perkataan yang penuh kuasa ini diilhami oleh Allah Roh Kudus (1 Yohanes 5:6). Injil adalah kekuatan Allah yang luar biasa, yang melekat dalam karya penyelamatan (Roma 1:16). Injil memberikan buktinya sendiri; yaitu apa yang dilakukannya bagi jiwa-jiwa yang terhilang yang menerimanya. Kami mengakui kebenaran bukti ini dengan menceritakan apa yang telah Tuhan Yesus Kristus lakukan bagi kami.

Milikilah keyakinan penuh akan Alkitab. Tanggung jawab kita adalah menyatakan pesannya, sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi di masa lalu. Mereka berkata, "Demikianlah Tuhan berfirman," dan kita harus melakukan hal yang sama (2 Petrus 1:20-21). Jangan pernah merasa terpaksa membela firman Allah. Jika seekor singa diserang, adakah orang akan cukup bodoh mengambil sebuah tongkat dan membela singa itu? Tidak mungkin! Biarkan saja dan singa itu akan membela dirinya sendiri. Demikian juga dengan firman Allah.

Penting bagi kita untuk tidak mengabaikan keistimewaan Injil. Semua agama, termasuk Saudara Sepupu, memiliki tema yang sama, "manusia mencari Allah". Namun, dalam Injil Yesus Kristus, Tuhan kita, temanya adalah "Allah mencari manusia". (t/Dicky)

Download Audio

Diterjemahkan dari:

Judul asli buku : Sharing the Good News with Muslims
Judul asli artikel : A God Given Opportunity
Penulis : Bill Dennett
Penerbit : Anzea, New South Wales Australia, 1992
Halaman : 3 -- 15

e-JEMMi 33/2011