Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Misi dan Pergumulan Bangsa

Misi dan Pergumulan Bangsa


Hakikat gereja yang misioner menegaskan bahwa gereja dan misi adalah integral. Kesatuan gereja dan misi ini menempatkan gereja pada posisi "harus" (wajib), dan ini menjadikan misi sebagai jantung gereja dan tugas gereja yang harus diwujudkan di mana pun gereja berada. Gereja hidup oleh misi dan harus dilakukan sebagai bagian dari hidup gereja. Misi adalah "jantung dan hidup" gereja. Oleh karena itu, gereja tidak dapat hidup tanpa misi. Pada sisi lain, gereja memiliki tanggung jawab utuh untuk turut serta dalam melakukan tugas misi. Gereja bertanggung jawab penuh melakukan tugas misi yang dilakukan secara penuh pula dari segala aspek. Pada sisi inilah, gereja dihadapkan dengan objek dan konteks pelayanan yang menuntut perlunya kearifan dalam melakukan tugas misi tersebut. Mengulas pokok bahasan seputar "Misi dan Pergumulan Bangsa" mempertegas premis di atas yang sekaligus menjawab pertanyaan tentang bagaimana sepatutnya gereja menempatkan diri serta bagaimana menyikapi pergumulan bangsa sebagai bagian dari kehidupannya.

Misi Sebagai Jawaban Bagi Pergumulan Bangsa

Secara umum, kebanyakan orang melihat bahwa pergumulan, kemelut, krisis, bahkan kehancuran hidup dari seorang atau beberapa individu, kelompok (kecil/besar), maupun suatu bangsa disebabkan oleh faktor sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Asumsi ini menyebabkan orang berupaya untuk menghadapi setiap pergumulan dengan pendekatan yang berbasis sosial, budaya, ekonomi, maupun politik untuk menyelesaikan pergumulan bangsa sebagai komunitas makro. Perlulah disadari bahwa adalah naif untuk mengatakan bahwa pendekatan apa pun yang dipakai tidak akan menyelesaikan persoalan dengan menyederhanakan jawaban dari sudut "rohani" belaka. Alasan kuat untuk menolak sikap naif ini adalah bahwa setiap hal yang digumuli (apa pun bentuk dan namanya) memiliki keterkaitan integral dengan aspek sosial, budaya, ekonomi, politik, dsb.., dan aspek-aspek tersebut harus disentuh guna mencari solusi yang menyeluruh pula.

Pada sisi lain, dapat dikatakan bahwa setiap hal yang digumuli itu berkaitan erat dengan aspek "rohani" yang menjadi dasar bagi tatanan nilai, baik pribadi maupun masyarakat, yang dari padanya seorang individu atau sebuah kelompok menyikapi apa pun yang dihadapinya. Dinamika rohani pun memiliki daya serap yang kuat terhadap aspek-aspek lain dari kehidupan. Sangat sering terlihat bahwa sikap seseorang mencerminkan apa yang dipercayainya (yang dianggap sebagai prinsip dengan tatanan nilai -- yang primer, sekunder, maupun tersier). Dapat dikatakan bahwa dinamika rohani inilah yang mewarnai seluruh aspek kehidupan, namun akar dari persoalan apa pun harus dicari pada sumber asalnya yang menyediakan jalan kepada penyelesaian yang proporsional yang memperhitungkan faktor rohani sebagai jawaban menyeluruh.

Apa yang diulas terakhir di atas dapat dilihat sebagai presumsi yang menempatkan misi sebagai "jawaban penentu" bagi pergumulan bangsa. Dasar premisnya adalah sebagai berikut.

  1. Alkitab melihat dosa sebagai akar utama yang menghancurkan serta mempengaruhi. Hal tersebut yang menjadi dasar bagi masalah manusia.

  2. Alkitab menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah "jawaban final/penentu" atas dosa umat manusia.

  3. Alkitab menegaskan bahwa Injil Yesus Kristus adalah kunci untuk menjawab masalah manusia (secara individu maupun kelompok) yang harus diwujudnyatakan gereja dalam misi.

Dari penguraian Alkitab di atas, dapat ditegaskan bahwa misi adalah jawaban Allah bagi masalah dan pergumulan umat manusia yang pada sisi lain menempatkan gereja sebagai "penanda jawaban" Allah. Di sini gereja hanya dapat berperan sebagai "penanda jawaban", yaitu apabila gereja menyadari bahwa ia ada dan hidup oleh misi, maka ia harus hidup dari, oleh, dan bagi misi.

Keberadaan Gereja sebagai Katalisator Misi

Telah diuraikan di depan bahwa gereja dan misi adalah integral. Kebenaran ini menegaskan bahwa gereja yang hidup dari dan oleh misi itu hanya dapat hidup karena misi, dan oleh sebab itu ia harus bermisi sebagai bagian dari hidupnya. Pertanyaan penting yang harus dijawab ialah, "bagaimana sepatutnya (seharusnya) gereja itu hidup yang mewujud-nyatakan misi sebagai bagian dari tanggung jawabnya menjawab pergumulan bangsa di tempat Tuhan menempatkannya?" Jawaban untuk pertanyaan ini dapat diuraikan berikut ini.

  1. Keberadaan ("esse") dan kesejahteraan ("bene esse") gereja sebagai "tanda" misi, harus dihidupi secara ideal-nyata di bumi tempat kita tinggal. Kebenaran ini harus dihidupi gereja secara nyata di mana pun gereja berada. Hal ini menuntut dari gereja kesadaran dan penyadaran diri yang "ajek" serta bertanggung jawab dalam penandaan keberadaan/hakikat dirinya ("esse") yang misioner -- dengan kesejahteraan ("bene esse") yang berkebenaran, berkeadilan dan berkedamaian di tengah dunia.

  2. Gereja sebagai komunitas ilahi harus menandakan keberadaan kehadirannya sebagai partikel sosial guna mewujudkan diri dan tanggung jawab misinya dalam lingkup berikut:

    1. Gereja harus hidup sebagai komunitas iman yang suci di tengah dunia yang tidak suci. Di sini gereja harus mewujud-nyatakan iman (yang ideal) dalam etika-moralitas yang benar, baik, adil, dan indah di tengah masyarakat, sebagai kesaksian Kristus di tengah dunia.

    2. Gereja harus melihat pergumulan bangsa sebagai ujian iman yang kritis dan tanggung jawab iman yang harus dihidupi serta direspons secara bertanggung jawab dalam segala bidang kehidupan, baik itu pribadi, kelompok, sosial, budaya, ekonomi, politik, hukum, HAM, pendidikan, keluarga, pemerintahan, dsb.

  3. Gereja harus melihat dirinya sebagai agen misi Allah dengan tanggung jawab misi yang harus ditatalaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Di sini, gereja haruslah dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab melayankan Injil yang holistik melalui pelayanan holistik kepada manusia/masyarakat dengan pendekatan holistik guna membawa sejahtera (shalom). Sebagai agen misi, gereja harus menatalayani hidup dan kerja dengan penuh tanggung jawab -- yang menghadirkan kesaksian Kristus -- di tengah masyarakat yang menghasilkan -- lebih banyak penyerahan diri dan pengakuan akan Yesus Kristus, junjungan kita, TUHAN semesta alam.

Guna mewujudkan tugas misioner ini, gereja harus hadir "di tengah masyarakat -- bangsa dengan pendekatan yang bertanggung jawab dengan sinergi dan harmonisasi tinggi guna mewujudkan dampak yang berimbang dan memberikan solusi. Gereja dengan kesadaran diri sebagai misionaris Allah yang mengembangkan pendekatan bertanggung jawab dalam bermisi akan mewujudkan ekuilibrium tinggi dalam masyarakat di mana ia hadir sebagai komunitas ilahi yang dihadirkan Allah bagi kemuliaan nama-Nya.

Kesimpulan

Gereja sebagai bagian dari masyarakat manusia/dunia (societas homo) yang adalah juga masyarakat ilahi/Allah (societas Deo) memiliki tanggung jawab integral dalam pergumulan bangsa. Tanggung jawab integral ini menuntut gereja menempatkan diri secara proporsional sebagai agen misi Allah dengan pendekatan dan kinerja yang berimbang guna menjawab tuntutan pergumulan bangsa. Gereja yang dengan kesadaran penuh bahwa Yesus Kristus adalah solusi bagi pergumulan bangsa bertanggung jawab pula untuk tidak menyederhanakan tanggung jawab dalam upaya membangun pendekatan guna mewujudkan tanggung jawab misioner ini. Pada akhirnya, apabila gereja menghadirkan Shalom yang berkebenaran, berkeadilan, berkebaikan, dan berkesejahteraan oleh Kristus, yang diamalkan dalam segala bidang kehidupan maka dapat dipastikan bahwa gereja telah mewujudkan tanggung jawab dengan andil besar yang menjawab pergumulan bangsa, yang akan membawa kemuliaan bagi Allah dan mendatangkan keselamatan bagi banyak orang.

Diambil dan disunting dari:

Nama makalah : Makalah Simposium Teologi XI -- Persekutuan Antar
Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia, September 2001
Penulis : Pdt. Dr. Yakob Tomatala

e-JEMMi 29/2010