Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.43 Vol.05/2002 / Misi Ke Afrika: Kenya

Misi Ke Afrika: Kenya


Pada bulan September 1998, saya diberi kesempatan untuk mengikuti program sukarela yang mengijinkan para muda-mudi gereja untuk berpartisipasi dalam pelayanan Kristen di luar negeri. Setiap tahun Majelis Internasional (IA) Gereja Yesus Sejati mengirimkan tiga atau empat tim pekerja ke Afrika untuk tugas penginjilan dan penggembalaan. Saya ditugaskan pada salah satu tim misi ini bersama Penatua Chen Heng Tao (Taiwan, Ketua IA), Pendeta Joseph Shek (Inggris) dan Saudara Chin T.K. (Inggris). Pekerjaan utama saya dalam tim ini adalah sebagai penerjemah Penatua Chen, yang hanya bisa berbahasa Mandarin.

Kami mendapat tugas untuk mengunjungi Kenya, Afrika Selatan, dan Ghana selama 1 bulan. Karena sulit bagi saya untuk membagi semua pengalaman yang saya alami, saya akan memfokuskan pada beberapa pengamatan yang menarik dan pelajaran berharga yang saya pelajari di Kenya.

Kenya terletak di pesisir timur Afrika dan berbatasan dengan Uganda Ethiopia, Tanzania, dan Samudra Hindia. Kenya terletak di garis khatulistiwa, karena itu sepanjang tahun cuaca di sana sangat panas.

Kesan pertama saya tentang Afrika adalah rakyatnya sangat miskin. Kebutuhan pokok sangatlah kurang. Kebanyakan jemaat kita di sana tinggal di pedalaman, tidak ada listrik ataupun air bersih. Orang- orang bekerja keras sepanjang hidupnya semata-mata untuk mencari sesuap nasi bagi diri mereka.

Beberapa orangtua terpaksa harus memberikan anaknya kepada orang lain karena mereka tidak dapat memberi makan anak-anaknya. Juga, Anak-anak perempuan sekitar umur lima belas atau enam belas tahun kadang-kadang menikah dengan laki-laki yang jauh lebih tua hanya agar mereka bisa makan. Anak-anak sering tidak makan selama beberapa hari sehingga tubuh mereka sangat kurus karena kekurangan gizi.

Hari pertama di Kenya, kami menyewa sebuah van yang mengantar kami ke gereja yang terletak di pinggir kota, kira-kira 8 jam perjalanan lamanya. Sebelum memulai perjalanan, kami berhenti di warung kecil untuk membeli air mineral. Pdt. Shek dan pendeta-pendeta setempat masuk ke dalam untuk membeli air sementara saya tetap di dalam van. Ketika sedang menunggu, beberapa orang mendekati van melihat ke dalam. Setiap orang menginginkan sesuatu dari kami ....

Yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika seorang anak laki-laki berumur tiga belas tahun datang mendekat ke jendela van. Sekitar tiga puluh detik sesudah itu anak laki-laki itu mengulurkan tangannya ke dalam jendela dan bertanya, "Bolehkah saya memiliki jam tangan Anda? Bolehkah saya memiliki jaket Anda? Bolehkah saya memiliki pen Anda?"

Saya tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian saya menyadari bahwa waktu menunjukkan sekitar tengah hari dan hari itu adalah hari Rabu. Saya merasa aneh bahwa anak ini tidak berada di sekolah, jadi saya bertanya, "Kamu tidak sekolah?"

"Ya, saya sekolah di Jesus Mission School," dia menjawab.

"Jadi kamu tahu tentang Yesus?" saya bertanya.

"Ya, saya tahu Yesus," dia berkata. "Yesus adalah Anak Allah."

"Kalau begitu, mengapa kamu tidak meminta Yesus tapi meminta uang?" saya bertanya.

Dia berkata, "Kalau saya meminta uang. Anda bisa memberi saya uang, tapi kalau saya meminta Yesus, Anda tidak dapat memberi saya Yesus."

Jawabannya sungguh mengusik hati saya karena saya tidak punya jawaban untuknya. Pada dasarnya dia mengatakan bahwa jika dia meminta uang, itu dapat mengobati rasa laparnya, tetapi jika dia meminta Yesus, dia akan tetap lapar.

Saya duduk di situ sambil berpikir, bagaimana kami dapat berkhotbah kepada mereka tentang suatu kebutuhan abstrak pada saat mereka lebih membutuhkan sesuatu untuk dapat memenuhi kebutuhan perut mereka? Apakah akan membawa perbedaan jika saya bercerita tentang Yesus kepada mereka?

Mungkin ini adalah halangan terbesar bagi pekerjaan misi kita sekarang ini, bukan hanya di Afrika tapi di seluruh dunia. Yaitu, apa yang dapat Yesus lakukan untuk manusia? Jika seseorang bertanya kepada saya, "Dapatkah Anda memberi saya Yesus?" Bagaimana saya menjawabnya? Dapatkah saya memberikan Yesus kepadanya?

Alkitab mencatat bahwa suatu hari Petrus dan Yohanes pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Ada seorang laki-laki yang pincang sejak lahir sedang meminta-minta sedekah. Intinya, pengemis ini juga menginginkan "uang untuk roti."

Petrus berkata kepadanya,

"Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kisah Para Rasul 3:6).

Oleh iman dan kekuatan Yesus, Petrus menyembuhkan orang pincang itu. Orang ini menerima sesuatu yang melampaui apa yang dimintanya.

Jika Yesus bisa memberi makan lima ribu orang. Dia juga bisa memberi makan anak laki-laki lapar di Kenya itu. Jika Yesus dapat menyembuhkan orang pincang melalui tangan Petrus, Dia juga dapat memberi makan mereka yang kelaparan melalui tangan kita.

Kita semua haruslah bertanya pada diri kita sendiri, siapakah yang kita anggap paling kecil dalam hidup kita? Apakah anak laki-laki yang berdiri sendirian di jalan, yang tidak seorang pun mau berbicara kepadanya? Ataukah gelandangan yang tidur di luar supermarket? Bagaimana kita memberikan air sejuk?

Jika kita melihat cukup dekat, kita akan menemukan orang-orang yang paling kecil dalam hidup kita sendiri. Kita tidak perlu kaya; kenyataannya, kita bahkan bisa saja miskin, sepanjang kita bersedia mengasihi dan memberi. Tuhan Yesus mengatakan, kita tidak akan kehilangan upah kita.

Karena kemiskinan, penyakit, dan kematian, banyak anak Afrika menjadi yatim piatu. Orangtua mereka biasanya meninggal tanpa tanda- tanda terlebih dahulu. Di lain pihak, kita semua juga seperti yatim piatu. Orangtua kita tidak dapat bersama kita selamanya.

Suami, istri, anak-anak, dan orang-orang yang kita cintai tidak akan selalu bersama dengan kita. Tetapi Tuhan Yesus berjanji bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Dia adalah Bapa surgawi kita.

Pada akhir perjalanan, saya sangat senang karena akan segera pulang. Namun pada waktu yang bersamaan, saya sangat sedih karena harus meninggalkan Afrika. Melihat ke belakang, sedetik pun saya tidak menyesali perjalanan ini. Jika saya punya kesempatan, saya akan kembali ke sana. Saya mendorong setiap orang untuk pergi dan mengalaminya sendiri.

Kadang-kadang, ketika sedang tidur, saya bermimpi tentang saudara/i seiman kita di Afrika. Ketika menaikkan pujian di sini, saya menutup mata dan saya dapat melihat bagaimana mereka bernyanyi dengan menjalani rutinitas hidup. Saya kembali mengingat pelajaran berharga yang telah saya pelajari.

Sumber: Warta Sejati, Edisi 28/Jan-Feb 2002

==> http://www.gys.or.id

e-JEMMi 43/2002