Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereKesaksian Misi / Menjadikan Tiap Menit Berarti

Menjadikan Tiap Menit Berarti


Pemuda tampan yang berada pada panggung hukuman berpaling kepada pelayannya, lalu menghiburnya. Ia berkata, "Apa yang akan kuderita sebentar lagi, Kawanku yang terkasih, tampak menakutkan dan pahit bagi daging. Tetapi ingatlah, ini merupakan jalan masuk pada kehidupan kekal, yang tidak akan dimiliki seorang pun yang menyangkali Tuhannya."

Patrick Hamilton muda memiliki segala yang diperlukan untuk sebuah keberhasilan. Dilahirkan dalam keluarga bangsawan, ia cerdas dan berbakat, menyenangkan dan lemah lembut. Ketika berada di sekolah, ia memeluk ajaran-ajaran dari Martin Luther. Dengan Luther, ia merasa bahwa Alkitab, bukan maklumat-maklumat dari gereja yang resmi, memiliki dasar yang sebenarnya dari iman Kristen dan hubungan dari masing-masing orang dengan Allah. Pandangan-pandangannya segera menempatkannya dalam masalah dengan pemerintah gereja setempat dan dengan kerajaan, jadi ia kabur ke Jerman.

Di Universitas Marburg, ia mengalami perubahan yang besar. Jika dulunya ia skeptis dan malu-malu, ia kini menjadi berani. Setiap hari ia bertambah dalam pengetahuan, dan membara dengan keilahian, memutuskan untuk kembali ke Skotlandia dan membawa kebenaran serta firman Allah kepada rekan-rekan senegaranya.

Ketika ia kembali ke Skotlandia,ia langsung mengkhotbahkan kebenaran-kebenaran yang telah ia pelajari. Setelah waktu yang singkat, ia diperintahkan untuk hadir di hadapan Uskup Agung. Ia demikan terbakar dengan pesannya sehingga ia tidak ingin menunggu untuk temu janjinya, tetapi ia datang lebih awal di pagi hari.

Walaupun ia berargumentasi dengan kuat, ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Banyak yang berusaha untuk membuat Hamilton mengubah pikirannya, atau setidaknya berusaha meyakinkannya untuk berhenti mengkhotbahkan kepercayaannya dan mengganggu gereja yang resmi. Tetapi ia tidak mundur dari pendiriannya. Bahkan, imannya demikian menular hingga seorang imam yang mengunjungi selnya juga bertobat.

Tiba harinya baginya untuk dijatuhi hukuman mati. Pada hari yang sama, setelah makan malam, ia dibawa untuk dibakar pada tiang pancang.

Ketika para pengeksekusinya mendapat kesulitan untuk menjaga agar api tetap menyala, ia menggunakan kesempatan terakhir untuk berkhotbah kepada mereka yang berdiri di dekatnya. "Berapa lama, ya, Allah," ia berseru, "kegelapan akan menutupi kerajaan ini? Berapa lama lagi akan Kau biarkan tirani dari manusia ini?"

Pada akhirnya, api melahapnya. Saat ia meninggal, ia berseru nyaring, "Tuhan Yesus, terimalah rohku."

Ketika Halminton dibakar pada tiang pancang, seseorang berani berkata kepada para pendakwanya, "Jika kalian hendak membakar orang-orang lainnya, sebaiknya kalian melakukannya di ruangan bawah tanah, karena asap dari pembakaran Halminton telah membuka mata dari beratus-ratus orang."

Para "Jesus Freak" (tergila-gila pada Yesus) membuat yang terbaik dari setiap kesempatan untuk membagikan Yesus. Patrick Halminton berkhotbah di penjara dan di tiang pancang. Apakah Anda membuat kesempatan Anda berarti bagi kekekalan?

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Jesus Freaks
Penulis : dc Talk dan The Voice of the Martyrs
Penerbit : Cipta Olah Pustaka
Halaman : 111 -- 112

Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/menjadikan_tiap_menit_berarti