Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Mengubah Batu Sandungan Menjadi Batu Pijakan Bagi "Saudara Sepupu"

Mengubah Batu Sandungan Menjadi Batu Pijakan Bagi "Saudara Sepupu"


"Mengapa aku harus menggunakan hidupku untuk menjangkau 'saudara sepupu' yang sangat tidak responsif?" Pertanyaan ini mungkin membuat kita bingung. Saya sendiri tidak dapat menjawab dengan cepat masalah yang menjadi pergumulan saya secara rohani selama 20 tahun! Mungkin kita sama seperti Thomas, ragu-ragu. Apakah merupakan hal yang bijaksana mengurbankan waktu bagi "saudara sepupu" yang sama sekali tidak responsif.

Batu-Batu Sandungan Kita

1. Penghalang Psikologis

Batu sandungan pertama yang perlu diatasi dalam melakukan pelayanan di "dunia sepupu" adalah pikiran dan sikap kita, yang merupakan penghalang psikologis. Apakah kita bersedia menyerahkan hidup kita di atas altar? Pernyataan dari Uskup Hill dapat menangkap inti permasalahan: "Perhatikan penyembah berhala yang tidak memiliki Kristus dan Anda akan menemukan sebuah altar ... dan kiranya Allah menolong Anda untuk menjadi korban persembahan." Tetapi siapa yang menginginkan altar seperti itu? Kebanyakan kita lebih memilih untuk mempersembahkan sesuatu yang lain, apa pun selain diri kita sendiri! Pisau itu terkenal keras, tajam, dingin, serta dipakai untuk memotong. Lebih mudah menyanyikan lagu bertemakan "mempersembahkan segalanya di atas altar", selama kita tidak perlu mempersembahkan diri kita di atasnya. Kita seharusnya menceritakan tentang penderitaan Kristus, Allah telah merencanakan/mengatur proses pembuatan buah yang memerlukan pengorbanan. Tetapi banyak orang dengan berbagai cara, mengubah altar menjadi sebuah panggung dan mencari pujian/tepuk tangan.

Kita harus menghadapi pertanyaan ini. Apakah kita terlibat dalam pelayanan Tuhan dengan tujuan untuk bersaing meraih sukses, untuk menunjukkan apa yang dapat kita lakukan, atau untuk membuktikan jati diri kita? Jika kita bersikap demikian, maka melayani "saudara sepupu" merupakan hal yang menakutkan dan membuat frustrasi. Allah lebih menghargai siapa diri kita atau apa yang telah Dia perbuat melalui kita. Karena itu, kita harus bersedia melayani sesuai dengan rencana Allah, meskipun hal itu berarti Allah memberikan akibat-akibat yang kita sukai ataupun yang tidak kita sukai.

2. Mentalitas di Garis Terendah

Penghalang subjektif lainnya, yang mengancam/membahayakan komitmen gereja untuk melayani "saudara sepupu", adalah mentalitas di garis terendah, yang menyatakan bahwa pertumbuhan adalah satu-satunya nilai yang penting. Orang-orang Barat cenderung untuk mengukur, yaitu membuat perbedaan ilmiah berdasarkan observasi dan kalkulasi matematika. Teori pertumbuhan gereja baru-baru ini menekankan pada penuaian, petobat yang dapat dihitung, dan gereja-gereja yang terbentuk. Jadi, misiologi kontemporer memberikan fondasi alkitabiah dan teoritis, yang mencari sukses berdasarkan pertumbuhan yang jelas. Ide pertumbuhan gereja menjadi anugerah terbesar bagi pelayanan misi. Hal ini menjadi koreksi terhadap pelayanan misi terdahulu, yang cenderung khawatir akan adanya panenan besar, dan menganggapnya sebagai bahaya terhadap tata ibadah dan doktrin.

Kita perlu waspada terhadap mentalitas di garis terendah yang juga dikembangkan sebagai hasil aplikasi dari pelayanan manajerial bisnis modern, metode ilmiah, serta penemuan-penemuan ilmu sosial. Jika diterapkan secara keras, akibatnya adalah pelayanan misi tidak bersedia menginvestasikan uang dan pekerjanya, di mana hasil-hasil yang dapat diukur tidak tersedia dengan cepat. Mentalitas ini tidak dapat memperoleh pembenaran alkitabiah dengan mendebat pernyataan bahwa kita harus siap untuk "mengibaskan debu dari kaki kita", saat mereka menolak pesan yang kita sampaikan. Sehubungan dengan buah yang jelas, harus diakui bahwa di masa lalu, pelayanan misi Kristen kepada "saudara sepupu" mengalami kegagalan di banyak tempat. Salah satu dari kegagalan tersebut adalah kekerasan dalam keyakinan mereka. "Saudara sepupu" mengizinkan penggunaan tekanan legal dan sosial, atau bahkan kekerasan secara fisik, baik dengan tujuan untuk mendapatkan anggota (tingkat pertama) dan untuk menguasai anggotanya (tingkat kedua). "Saudara sepupu" cenderung memilih sarana-sarana perdamaian, tetapi ada banyak kasus tentang penggunaan tekanan dan kekerasan untuk melawan orang-orang yang "mengingkari" mereka. Tetapi, setiap ideologi yang harus menggunakan kekerasan untuk mempertahankan pengikutnya, sedang mengakui kelemahan-kelemahan yang menjadi sifatnya. Membangun Tembok Berlin tidak membuktikan menariknya komunis. "Qur'anic Curtain" (Tirai Qur'anic) tidak membuktikan kekuatan "saudara sepupu".

Mentalitas di garis paling bawah dapat berarti lonceng kematian pelayanan misi untuk "saudara sepupu". Apakah utusan Injil akan memilih pergumulan yang terus-menerus di sepanjang hidupnya, ketika dia bisa mendapat pekerjaan di tempat lain dan dia dapat mengirimkan kisah-kisah suksesnya tentang sejumlah petobat yang ditolongnya kepada gereja-gereja dari tempat asalnya? Jawaban pertama untuk mentalitas di garis paling bawah adalah dengan menyadari bahwa setiap garis batasan yang dibuat manusia bukanlah garis batasan akhir. Batasan akhir sesungguhnya adalah Hari Penghakiman, saat kita berdiri di hadapan Kristus dan dihakimi. Hal ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu membuat batasan sama sekali, tetapi yang terbaik batasan-batasan tersebut hanyalah "batasan sementara". Jadi, marilah kita mengizinkan Allah untuk menggambarkan garis batasan itu. Dengan kekuatan sendiri, kita secara efektif menghalangi setidaknya 1/6 penduduk dunia untuk mendengar Kabar Baik.

Jawaban kedua untuk mengatasi mentalitas di garis terendah adalah mengisi pikiran kita dengan "mentalitas penuaian". Tidak menjadi masalah bagaimana pada masa lalu "saudara sepupu" menentang Kabar Baik, setiap generasi baru adalah kesempatan baru bagi Allah yang tidak menghendaki setiap manusia binasa. Mentalitas penuaian memiliki 2 komponen yang menentukan: pengetahuan bahwa Yesus menyatakan bahwa masa ini adalah masa penuaian, di mana Dia telah mengalahkan setan dan bangkit dari kematian: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai" (Yohanes 4:35) dan iman bahwa Kabar Baik benar-benar merupakan kuasa Allah bagi setiap orang yang percaya. Jika kita ingin mengajak orang untuk beriman, kita harus beriman kepada Allah, tetap setia kepada janji-Nya, membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa di bumi (Wahyu 5:9-10). Setan tidak akan menang dalam membungkam Kabar Baik dari suku-suku di dunia. "Sukses" secara alkitabiah memerlukan ekspansi primer Kabar Baik kepada semua suku sampai ke ujung bumi. Ekspansi sekunder dalam semua suku sehingga setiap orang dimenangkan, bukanlah syarat pemenuhan tugas utusan Injil yang sukses.

Perumpamaan Yesus tentang penabur seharusnya meneguhkan hati kita. Sama seperti dalam perumpamaan, penabur saat ini tidak perlu merasa gagal saat tidak dapat menaburkan benih di seluruh ladang. Kita tidak perlu mengkritik penabur karena menabur benih di tanah berbatu, tanah yang penuh duri, atau di tanah dangkal. Penabur memiliki keinginan untuk menumbuhkan benih itu di atas semua jenis tanah. Dia tidak dapat menulis segala sesuatu, bahkan di tanah berbatu. Dia memiliki iman bahwa benih yang bagus dapat melekat di tanah-tanah yang paling keras dan dapat menghasilkan panenan yang berharga (Matius 13:3-9).

Batu Sandungan "Saudara Sepupu"

1. Inkarnasi

Kita seharusnya dapat bersimpati dengan pembelaan "saudara sepupu" terhadap inkarnasi yang merupakan batu sandungan terbesar. Apakah Allah benar-benar harus menangani semua permasalahan tersebut (seperti yang ditegaskan dalam kekristenan) untuk berurusan dengan "kekurangan" atau kelemahan manusia (penilaian "saudara sepupu" terhadap dosa)? Apakah manusia begitu jahatnya, sehingga Allah harus mengambil rupa manusia dan datang ke bumi untuk memperbaikinya? Apakah perjalanan Yesus sangat penting? Hal ini tidak dapat digambarkan kepada "saudara sepupu" bahwa Allah dapat rendah hati. Penjelasan bahwa Allah telah mengorbankan diri-Nya tidak dapat mereka pahami.

Hanya Roh Kudus yang dapat mengubah batu sandungan ini menjadi batu pijakan. Secara pasti, tidak ada pikiran manusia yang dapat memikirkan skema seperti itu -- dan kemudian kemuliaan di dalamnya serta menjadikannya dasar keselamatan merupakan konsep yang terlalu agung bagi beberapa pengkhotbah untuk dipahami dan diberitakan. Kita juga menyatakan tidak ada bukti bahwa Allah sangat mengasihi manusia, jika pengorbanan dari inkarnasi tersebut adalah salah. Inkarnasi adalah kasih dari Allah yang tidak terbatas. Pada kenyataannya, jika Allah mengasihi dengan sungguh-sungguh, maka kasih-Nya yang berlimpah itu hanya dapat dinyatakan melalui inkarnasi dan puncaknya adalah penyaliban. Cara lain untuk mendorong "saudara sepupu" memercayai inkarnasi adalah dengan mengarahkan pikirannya ke permasalahan yang sama dalam keyakinan mereka, sehingga mereka dapat dengan mudah menerimanya.

2. Wahyu

Konsep "saudara sepupu" tentang wahyu adalah berusaha melindungi firman Allah dari segala pengaruh manusia. Seperti Dewi Diana di Efesus, "Kitab Suci sepupu" dipandang sebagai firman yang datang langsung dari surga, tanpa menggunakan tangan manusia dan diberikan kepada manusia. Pandangan ini tampaknya lebih menghargai wahyu Allah dan hal tersebut menjadikannya sebagai pandangan yang tidak tergoyahkan, guna menghindari kompleksitas dari posisi Kristen, di mana Allah yang menjadi aktif dalam sejarah dan memberikan wahyu itu melalui api serta kesengsaraan dari penderitaan manusia.

Banyak "saudara sepupu" tidak menyadari bahwa banyak masalah telah melekat dalam sistem teologia mereka. Dalam semangat mereka untuk menjaga kemurnian dan otoritas firman Allah, mereka memahami wahyu sebagai sejenis "inkarnasi" dari Allah yang tidak terbatas, yaitu perkataan Allah. Karena Allah dan perkataan-Nya adalah kekal, maka "Kitab Suci sepupu" pastilah kekal. Sungguh ironis karena "Kitab Suci sepupu" yang menyangkal inkarnasi Kristus menganggap dirinya sendiri sebagai inkarnasi dari perkataan Allah. Jika Allah dengan kekuatannya dapat memberikan salah satu sifat-Nya dan mengirimkannya ke bumi dalam bentuk sebuah buku, maka tidaklah mustahil bagi Allah untuk menyatakan kepribadian-Nya dalam bentuk manusia yang diutus ke bumi. Ini bukannya kasus gereja membuat manusia menjadi dewa, tetapi karena Allah yang memiliki kuasa untuk menggunakan tubuh manusia yang Dia ciptakan pada mulanya. Yang dapat kita kerjakan untuk mengatasi batu sandungan ini adalah dengan mengubah fokus diskusi kepada pribadi Kristus, daripada memperdebatkan tentang buku atau konsep pewahyuan.

3. Tritunggal

Batu sandungan lain dalam pikiran "saudara sepupu" adalah konsepnya yang mantap tentang ke-Mahaesa-an Allah. Tidak suka dengan istilah Tritunggal, "saudara sepupu" percaya bahwa kita memiliki konsep trinitas. Ini bukan berarti kita menjawab pertanyaan mereka tentang 1+1+1=3 dengan jawaban 1x1x1=1. Jawaban yang lebih baik adalah dengan menggunakan simbol (- + - + - = -), tetapi jawaban ini lebih cenderung filosofis dan tidak alkitabiah. Permasalahan dasar dalam pemikiran "saudara sepupu" adalah mereka lebih memercayai keesaan secara matematis daripada keesaan kehidupan organis; keesaan yang abstrak daripada susunan keesaan kepribadian; Allah yang dingin dan jauh daripada Bapa yang ramah dan mengasihi.

Dalam usaha mereka untuk melawan politeisme, "saudara sepupu" mengungkapkan misteri yang menakutkan itu dengan istilah "Allah yang tidak dikenal". Bagi orang Kristen, untuk mengatasi batu sandungan ini, dia harus lebih memahami karakter Allah. Kita tidak menyembah "Allah" yang ditulis dengan huruf besar; kita secara pribadi perlu mengenal Bapa yang menjalin hubungan dengan manusia. Meskipun Tritunggal adalah unik, sehingga setiap ilustrasi yang dipakai untuk menggambarkannya selalu memiliki kekurangan, kita dapat menyatakan ciptaan Allah sebagai seseorang yang naik dari tingkat yang paling bawah dalam kehidupan ke tingkat yang lebih tinggi, dan kita menemukan kemajuan dari keesaan yang tunggal menjadi kesatuan dari kompleksitas. Setiap manusia adalah satu, tetapi dia memiliki kesatuan sel yang lebih kompleks. Apakah hal ini memuliakan Tuhan, yaitu dengan menganggap keesaan yang dimilikinya sama seperti sel tubuh? Jika keesaan manusia melibatkan aspek rohani dan juga jasmani, pastilah keesaan Allah tidak akan berkurang dengan memandang kompleksitas dengan cara demikian. Pikiran manusia dapat menerima kemungkinan tentang Allah yang kompleks sebagai satu kesatuan; hati manusia yang menyatakan kebutuhannya. "Saudara sepupu" percaya kepada "Kitab Suci sepupu" dan orang Kristen percaya kepada Yesus, menunjukkan bahwa mereka setuju akan pentingnya jembatan yang memisahkan antara Allah dan manusia. Kita mungkin dapat menyatakan jika Allah adalah manusia, maka hanya manusia yang mampu menyatakannya. Jika kita hanya memiliki buku, maka kita hanya dapat mengetahui tentang Allah, tetapi pribadi Allah tetap tidak kita kenal. Meskipun permasalahan teologi seperti Tritunggal dan ketuhanan Kristus tidak dapat dihindari, maka lebih baik tidak membicarakan hal tersebut di awal pertemuan, lebih baik mengawalinya dengan pembahasan dasar: bagaimana manusia dapat diselamatkan?

4. Salib

"Saudara sepupu" tidak memahami arti keselamatan dengan jelas. Jawaban beragam dapat diberikan untuk pertanyaan, "Bagaimana manusia diselamatkan?" Orang yang lebih liberal pasti menjawab selama seseorang memercayai satu Allah, maka dia dapat mengharap akan memperoleh keselamatan. Orang tradisional kemungkinan akan menjawab seseorang memercayai nabi-Nya dan percaya kepada satu Allah untuk mendapatkan keselamatan. Orang aliran keras akan mengatakan hidup kudus sebagai tambahan setelah memercayai Allah dan nabi-Nya dengan sungguh-sungguh. Orang fatalis menganggap bahwa seseorang tidak dapat merasa pasti akan keselamatannya, sementara itu ada juga orang yang membawa api penyucian untuk membayar dosa mereka.

Pribadi Kristus merupakan alat yang paling menarik untuk mengubah batu sandungan ini menjadi batu pijakan. Kasih Allah dinyatakan melalui ide pengorbanan yang juga dilakukan oleh "saudara sepupu" saat mengadakan festival tahunan, di mana seekor binatang dipersembahkan sebagai korban bakaran. Kita dapat menunjukkan dari kitab-kitab Musa bahwa sejak awal, para nabi mengetahui bahwa pengorbanan merupakan perintah Allah sebagai cara untuk memperbaiki hubungan dengan-Nya. Sejak zaman Adam dan Nuh, kita melihat bahwa Allah menerima pengorbanan persembahan. Abraham bersedia mempersembahkan anaknya untuk menaati perintah Allah menunjukkan betapa pentingnya arti persembahan. Jika "saudara sepupu" menegaskan bahwa anak Abraham yang akan dipersembahkan itu Ismael dan bukannya Ishak, maka kita perlu menghindari perdebatan itu dengan mengatakan bahwa siapa pun yang dikorbankan, prinsip pengorbanan merupakan suatu hal yang tidak dapat diingkari. Hal ini menyatukan tiga ide tentang keselamatan, pengorbanan, dan Yesus sebagai fokus diskusi kita, daripada kita membahas tentang beberapa teologia abstrak. Hal ini juga membawa kita kepada batu sandungan berikutnya -- Salib, di mana dalam beberapa cara, karakternya akan selalu dianggap sebagai batu sandungan, bahkan bagi orang Kristen, dan pada waktu yang bersamaan, Salib juga merupakan batu pijakan kepada keselamatan.

Kita telah menyadari hanya sedikit perangkap teologi yang ditanam Setan dalam "saudara sepupu". Kesaksian orang Kristen yang bijaksana akan mempelajari bagaimana menangkal setiap senjata "saudara sepupu", sehingga setiap kritikan yang dilontarkan dapat diubah menjadi hal yang positif bagi orang Kristen dan karya keselamatan-Nya. Dengan taktik ini, kita bekerja sama dengan Allah yang dengan senang hati akan mengubah senjata kematian dari Setan menjadi senjata yang membawa kehidupan. Senjata Allah adalah salib, kubur kosong, dan kesediaan untuk bersaksi.

Tetapi para utusan Injil dapat juga menyangkal salib dengan cara mereka sendiri. Jika kita mengkhotbahkan ajaran tentang keselamatan, namun kita memiliki gaya hidup yang menyangkal pengorbanan, maka kita telah mengingkari ajaran yang kita sampaikan itu. Jika kita mengajarkan tentang kasih dengan cara yang tidak mengasihi, maka para pendengar akan bertanya-tanya, apakah kita memercayai apa yang kita ajarkan tersebut. Dengan cara itu, kita mengubah kembali batu pijakan menjadi batu sandungan.

Sumber: On Touring Muslim Stumbling Blocks into Stepping Stones, Warren Chastain in Perspectives on the World Christian Movement, Page 650 -- 654. Third Edition, William Carey Library, 1999

e-JEMMi 27/2012