Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereMENGHADAPI TANTANGAN ZAMAN

MENGHADAPI TANTANGAN ZAMAN


By novi - Posted on 23 February 2009

Disadari atau tidak, kita saat ini telah memasuki dunia baru. Dunia baru tersebut dapat dilihat dari adanya fenomena-fenomena berikut:

  1. Adanya era baru yang disebut dengan era globalisasi. Zaman globalisasi ini ditandai dengan dunia yang serba cepat, kompetitif, dan tidak ada proteksi.

  2. Dunia yang banyak mengalami pergeseran terutama pergeseran nilai dan moral. Misalnya dulu orang berkata, jujur bakal mujur, sekarang sementara orang mengatakan jujur bakal hancur, dulu anak taat dan patuh kepada orang tua, sekarang banyak orang tua "takluk" terhadap anaknya, dulu seks menjadi barang yang "sakral", sekarang menjadi barang yang terjual secara "halal".

Permasalahan

Mengamati gejala-gejala diatas apakah kita akan tetap duduk manis sambil bertopang dagu dan berujar, "Biarlah anjing menggonggong kafila tetap berlalu?" Tentu tindakan itu bukan zamannya lagi. Memang ada pepatah mengatakan "Alon-alon waton kelakon", namun pepatah itu perlu dimodifikasi menjadi "Cepat dan selamat". Dengan kata lain kita perlu segera menyingsingkan lengan baju alias berkarya sesuai dengan eksistensi kita.

Alternatif Pemecahan

Menghadapi permasalah yang teramat berat tersebut, kita sebagai orang Kristen dituntut menjadi orang yang rohani sekaligus profesional. Dua hal tersebut harus menjadi satu kesatuan yang utuh. Jangan hanya rohani tetapi tidak profesional. Namun jangan hanya profesional, tetapi tidak rohani. Sebab bila kita rohani tidak profesional, kita akan ketinggalan zaman. Sebaliknya, bila kita profesional tetapi tidak rohani, kita akan menjadi "Kejam". Beberapa indikator apabila seseorang itu rohani adalah:

  1. Ketidaktakutan

    Yesus Kristus mengajarkan kepada kita agar kita tidak takut menghadapi apa saja di dunia ini. Sebab Dia berjanji, bahwa Allah akan menyertai, menolong, dan membawa kita pada kemenangan (Yesaya 41:10).

  2. Tidak Tawar Hati

    Tawar hati tidak perlu hinggap dan menjadi teman sejati, sebab tawar hati akan menimbulkan kecilnya kekuatan (Amsal 24:10). Olah karena itu kita harus tetap tegak berdiri, tidak goyah, dan selalu giat, apalagi dalam pekerjaan Tuhan. Sebab kita tahu, bahwa apa yang kita lakukan dihadapan Tuhan tidak akan sia-sia (1 Korintus 15:58).

  3. Memiliki Pengharapan

    Di dunia ini banyak pengharapan yang tidak dapat diharapkan. Hanya ada satu pengharapan yang pasti, yaitu bila pengharapan tersebut ditujukan pada Tuhan. Tuhan berkata, celaka manusia yang berharap pada manusia. Allah kita menghendaki agar kita hanya berpengharapan kepada Dia, sebab Dialah pengharapan sejati. Seperti ada tertulis, "... Aku datang supaya mereka memunyai hidup, dan memunyainya dalam segala kelimpahan" (Yohanes 10:10). Dengan begitu pengharapan dihadapan Tuhan adalah "Pengharapan yang dapat diharapkan".

  4. Tidak Khawatir

    Sama halnya dengan tidak tawar hati, kekhawatiran tidak perlu kita miliki, apalagi kita simpan menjadi barang berharga. Kita harus sadar, bahwa kekhawatiran dapat membungkukkan orang (Amsal 12:25). Kalau suatu saat muncul kekhawatiran, segeralah datang pada Tuhan untuk menyerahkan kekehawatiran tersebut pada Dia, supaya Tuhan yang bertindak (1 Petrus 5:7).

  5. Iman yang Kokoh

    Iman yang kokoh harus dimiliki. Sebab orang benar akan hidup oleh iman (Roma 1:17). Bukan sekedar kita miliki, tetapi lebih dari itu keyakinan harus dipegang dihadapan Tuhan (Roma 14:22a). Bayangkan saja bila kita hanya memiliki iman sebesar biji sesawi dapat memindahkan gunung, lalu bagaimana halnya bila iman kita lebih besar dari biji sesawi?

  6. Sukacita

    Salah satu ciri khas orang Kristen adalah memiliki sukacita di mana pun, kapan pun, dan dalam kondisi bagaimanapun. Kita harus bersukacita, sebab Allah adalah sumber sukacita dan damai sejahterah. Paulus berkata, bahwa hidupnya bukan Paulus lagi, tetapi Yesus yang hidup di dalamnya, sehingga hidupnya mencerminkan Kristus. Kalau Yesus Raja Damai, sudah dapat dipastikan Paulus pun memiliki damai. Demikian pula kita yang memiliki Kristus, kita adalah surat-surat Kristus yang dibaca banyak orang (2 Korintus 3:2). Agar sukacita senantiasa menjadi satu dengan kita, maka kita perlu mengucap syukur dalam segala hal, karena itulah yang dikehendaki Tuhan (1 Tesalonika 5:16).

Secara umum profesionalisme dapat diartikan, melakukan aktivitas sebaik-baiknya menurut norman profesi tertentu. Indikator orang yang dikatakan profesional (menurut Billy Sindoro) yaitu:

  1. Vission

    Seseorang hidup di dunia ini perlu memiliki tujuan. Tanpa tujuan ibarat kapal berlayar tanpa arah. Hein Watuseka pernah berkata, "Dorongan atau visi firman Tuhan merupakan kunci penting, di mana tidak ada visi rakyat binasa (BAHANA, November 1992). Dengan demikian, bila kita telah memiliki tujuan hidup, niscaya kita akan berjuang agar dapat meraihya, minimal dapat mendekatinya.

  2. Drive

    Drive adalah semangat. Kita perlu bersemangat dalam menghadapi hidup. Tanpa semangat kita tidak akan memperoleh hasil yang optimal. Ingat, bahwa tuan yang selalu mengawasi aktivitas kita adalah Tuhan sendiri. Oleh sebab itu kita perlu melakukan segala sesuatu untuk Tuhan, sehingga dengan itu, di dunia ini kita akan terus berkarya dengan sebaik-baiknya.

  3. Knowledge

    Kita sepakat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin hari semakin berkembang. Untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu penngetahuan dan teknologi kita harus berpengetahuan. Caranya adalah dengan menuntut ilmu semaksimal mungkin, baik melalui lembaga forman maupun non formal, melalui media yang kian menjamur. Menuntut ilmu tidak bertentangan dengan firman Tuhan, bahkan sebalinya diwajibkan. Firman Tuhan mengatakan, orang bijaksana menambah ilmu (Amsal 1:5), sebab pengetahuan itu sangat berharga (Amsal 8:10), bahkan orang miskin, tetapi pandai akan lebih baik (Pengkhotbah 4:13). Sebaliknya jika kita tidak berpengetahuan, kita akan dibunuh oleh keengganan kita (Amsal 1:23).

  4. Commonsense

    Akal sehat sangat dibutuhkan dalam memecahkan masalah. Sangat berbahaya jika kita menghadapi masalah dengan perasaan, apalagi dengan emosi. Sebaliknya bila didasari akal sehat, sangat dimungkinkan setiap masalah yang menghadang segera dapat teratasi.

  5. Skill

    Disamping kita dituntut untuk berpengetahuan, variabel penting yang tidak bisa kita tinggalkan adalah skill. Kembangkan skill sesuai dengan apa yang ada pada kita, supaya kita tidak canggung lagi bila hendak terjun ke dunia kerja/masyarakat yang lebih luas. Sebab tidak bisa dielakkan, bahwa dunia saat ini membutuhkan orang-orang yang berkualitas. Jadi, jika kita tidak memiliki kualifikasi tertentu sesuai permintaan masyarakat, jelas akan tertendang, sehingga menjadi yang terbelakang. Berkualitas bukan sekedar pintar secara teoritis, namun sekaligus memiliki keahlian yang handal dan keterampilan yang memadai.

  6. Decisiveness

    Kemampuan mengambil keputusan bukanlah memonopoli seorang birokrat atau manajer, namun semua orang berhak memiliki kemampuan mengambil keputusan. Perkara penting dalam menghadapi masalah adalah kemampuan untuk mengambil keputusan, yang tentu saja telah dipikirkan plus minusnya pengambilan keputusan itu. Pengambilan keputusan akan semakin tepat bila kita cukup informasi dan pengetahuan. Akhirnya jangan takut mengambil keputusan sekalipun ada saja risikonya. Orang pandai pernah berkata, "Sesuatu yang berharga adalah sesuatu yang penuh resiko."

Dari uraian di atas, kita bisa menghadapi tantangan yang menghadang saat ini dengan dua dasar yaitu rohani dan profesional. Rohani dimaksudkan untuk menghadapi berbagai pergeseran terutama pergeseran nilai dan moral. Sebaliknya profesional untuk menjawab era globalisasi, kemajuan IPTEK yang pesat, serta dunia persaingan.

Diambil dari:

Judul majalah : BAHANA, No. 07, Tahun. V, Volume. 45, 7 Januari 1995
Judul artikel : Menghadapi Tantangan Zaman
Penulis : Purwanto
Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta
Halaman : 70 -- 71