Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.08 Vol.14/2011 / Mengapa Orang Saleh Menderita?

Mengapa Orang Saleh Menderita?


Mengapa? Mengapa Tuhan? Mengapa saya harus mengalami semua ini? Apa dosa saya? Pertanyaan serupa sering kita dengar, bahkan mungkin keluar dari mulut kita sendiri, ketika seseorang atau kita mengalami sesuatu yang tidak mengenakkan dalam hidup -- sakit yang tak kunjung sembuh, masalah yang datang bertubi-tubi, gagal dalam pekerjaan, ditinggal orang yang dikasihi, dan sebagainya.

Benarkah setiap penderitaan merupakan akibat dari dosa? Jawabannya, tentu tidak. Memang, dosa pasti akan menghasilkan kesengsaraan, tetapi penderitaan yang dialami seseorang belum tentu karena ia telah berbuat dosa. Ayub adalah contoh nyata bahwa orang saleh pun bisa menderita. Tentang Ayub, Allah berfirman, "...Sebab tiada seorangpun di bumi ini seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan" (Ayub 1:8b). Namun, apa yang terjadi pada Ayub? Dalam sekejap ia kehilangan segala-galanya -- harta benda, kesepuluh anaknya, dan kesehatannya.

Mengapa Ayub yang saleh harus menderita sedahsyat itu? Ada beberapa jawaban tentang tujuan penderitaan dalam kitab Ayub. Menurut Iblis, penderitaan merupakan alat untuk memaksa manusia menyangkal Allah. Iblis beranggapan bahwa kesalehan Ayub selama ini karena Tuhan selalu memberkatinya. Oleh karena itu, Iblis mencobai Ayub melalui berbagai penderitaan dengan tujuan meruntuhkan iman Ayub kepada Allah. Menurut ketiga teman Ayub (Elifas, Bildad, Zofar), penderitaan selalu merupakan hukuman karena dosa. Pendapat ini tidak dibenarkan oleh Allah (Ayub 4:7-8).

Menurut Ayub, pada mulanya, penderitaan adalah untuk orang jahat, bukan orang benar. Kemudian, Ayub berpendapat bahwa penderitaan merupakan proses Allah untuk menghasilkan seorang yang bersifat emas (Ayub 23:10). Ayub sendiri kemudian mengaku, "Hanya dari kata orang saja aku mengenal Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau" (Ayub 42:5). Ternyata, justru melalui penderitaan yang dialami, Ayub mengenal Allah lebih dalam lagi (Knowing God better through adversity).

Bagaimana menurut Allah? Tuhan sendiri bukan sebagai penyebab Ayub menderita, tetapi Ia mengizinkannya terjadi. Agak aneh ketika Allah menjawab Ayub, Ia tidak menyinggung masalah penderitaan Ayub. Yang penting adalah respons Ayub, bukan sebab mengapa Ayub menderita. Ayub bukan menderita karena dosanya, tetapi janganlah Ayub berdosa dalam penderitaannya. Penderitaan adalah panggilan untuk tetap percaya dan berserah meskipun kita tidak mengerti. Allah adalah adil, berdaulat, dan setia -- apa pun yang terjadi.

Ketika penderitaan datang, bersikaplah benar. Jika ada dosa, akuilah. Milikilah perspektif yang benar. Allah tidak pernah mencobai (menginginkan kita jatuh), Ia menguji supaya iman kita bertumbuh. Tetaplah beriman dan berbahagialah!

Diambil dari:

Judul Buletin : Suara Alumnus, Edisi Warta Agustus - September 2000
Judul Artikel : Mengapa Orang Saleh Menderita
Penulis : Snd
Penerbit : Persekutuan Alumnus Gamaliel, Surakarta
Halaman : 1

e-JEMMi 08/2011