Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereMELATIH MAHASISWA MENJADI PELAYAN KRISTUS

MELATIH MAHASISWA MENJADI PELAYAN KRISTUS


By novi - Posted on 30 June 2009

Dicari Pemimpin yang Menjadi Pelayan

"Dicari pemimpin yang menjadi pelayan" merupakan judul buku karya Gottfried Osei Mensah tentang kepemimpinan Kristen. Penulis buku itu menggambarkan bahwa dewasa ini sedang terjadi krisis kepemimpinan Kristen. Myron Rush, President dari Management Training Centre, dalam bukunya "The New Leader, " juga mensinyalir adanya krisis kepemimpinan Kristen saat ini. Bentuk krisis itu bila disederhanakan terbagi menjadi dua macam yaitu krisis kuantitas dan krisis kualitas.

  1. Krisis Kuantitas

    Yesus pernah berfirman, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit" (Lukas 10:2). Peter G. Wiwcharuck dalam bukunya "Church Leadership Development and Church Growth" menggambarkan kondisi ini dengan "kurva nornal". Kurva normal dipakai dalam statistik untuk menggambarkan distribusi suatu populasi menjadi tiga kategori. Misalnya, kita ingin menyelidiki tingkat kepandaian murid sekolah dalam satu kelas dengan 50 orang murid, pada umumnya 10% dari jumlah murid adalah orang-orang yang sangat pandai; 10%-nya adalah mereka yang kepandaiannya di bawah rata-rata; sedangkan yang 80% memiliki kepandaian rata-rata. Kalau diterapkan dalam gereja atau persekutuan, pada umumnya 10% anggotanya merupakan aktivis atau pemimpin; 10% merupakan "oposan"; dan yang 80% adalah mereka yang cukup puas hanya sebagai "pengunjung", atau lebih menyedihkan, sebagai "penonton" saja.

  2. Krisis Kualitas

    Eka Darmiputera mengemukakan, "Kita menghadapi krisis kepemimpinan; para pemimpin tidak lagi memimpin tetapi menguasai." Ada perbedaan besar antara "memimpin" dan "menguasai". Memimpin artinya, memotivasi, mengajak atau mengarahkan, untuk itu kepemimpinan mengandalkan visi serta kepercayaan. Sedangkan "menguasai" berarti memaksa, mengancam, memanipulasi. Jadi kekuasaan mengandalkan kekuatan dan ketakutan. Krisis kepemimpinan terjadi ketika pemimpin kehilangan visi untuk ditawarkan, dan berlanjut dengan penggunaan kekuasaan demi mempertahankan kedudukannya sebagai "pemimpin". Banyak gereja kian kehilangan dimensi sebagai "persekutuan rohani", sehingga kian hilang pula kebutuhan akan "kepemimpinan rohani". Bahayanya adalah jika gereja hanya tampil sebagai "organisasi." dan para pemimpinnya hanya mengandalkan "power" (kekuasaan), "performance" (penampilan), atau hal-hal yang "artificial" (palsu) maka akan kehilangan jati dirinya. Padahal jati diri (karakter) pemimpin rohani memiliki daya pikat yang utama: "moral force" dan "spiritual force".

Kepemimpinan Kristen Adalah Fungsi Bukan Posisi

Umumnya orang berpikir bahwa ketua atau pemimpin adalah orang yang memiliki jabatan, kedudukan, dan kekuasaan. Tetapi pemimpin Kristen sangat berbeda dengan konsep pemikiran tersebut. Dalam rangka pembangunan tubuh Kristus, untuk mencapai suatu goal agar jemaat mencapai kedewasaan penuh menjadi serupa dengan Kristus, Tuhan telah memberikan kepada jemaat karunia-karunia. Dengan karunia-karunia itulah setiap anggota tubuh Kristus saling membangun. Kepemimpinan sebagai fungsi berarti, setiap orang yang menjadi pemimpin harus sadar bahwa ia ada dalam tubuh Kristus untuk menjalankan suatu fungsi yang unik, sesuai dengan karunianya, bagi pembangunan tubuh Kristus. Dengan demikian sebenarnya setiap orang Kristen dapat berfungsi sebagai pemimpin bagi sesamanya.

Melalui karunia itu ia dapat memimpin orang lain untuk bertumbuh ke arah Kristus. Tidak pandang siapa mengerjakan apa, apapun posisi atau jabatannya, setiap orang percaya yang dapat memenuhi kebutuhan sesamanya menuju suatu goal yang memuliakan Allah, ia telah memenuhi suatu fungsi kepemimpinan. Karunia-karunia rohani diberikan dalam konteks tubuh Kristus. Oleh karena itu pertumbuhan secara penuh dari setiap anggota, dialami dalam konteks tubuh Kristus pula. "Dari padaNyalah seluruh tubuh, yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota menerima petumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih" (Efesus 4:16). Kepemimpinan sebagai fungsi, berarti bahwa kepemimpinan itu lebih bersifat kolektif dan interdependent daripada bersifat individual, apalagi otoriter.

Kepemimpinan Kristen adalah Kepemimpinan Hamba

Perjanjian Baru memberikan tekanan kuat pada prinsip kepemimpinan hamba atau pelayan (doulos). Setiap orang yang percaya Yesus adalah hamba Kristus. "Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran" (Roma 6:18). Dahulu memang kita adalah hamba dosa, tetapi kini kita adalah hamba Allah, kitai telah dibeli dengan darah Anak Domba Allah, Kristus. Kepemimpinan hamba, berarti setiap pemimpin adalah hamba Kristus. Ia adalah orang yang sudah diselamatkan, dan memiliki persekutuan pribadi dengan Tuannya. Ia mengenal Allah-Nya, dan dipimpin oleh-Nya. Ia berusaha menyenangkan Allah, bukan mencari pujian manusia (Galatia 1:10).

Yesus memberikan prinsip kepemimpinan hamba dalam Matius 20:26-27, demikian :"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu." Sepanjang kehadiran-Nya di dunia ini Yesus menunjukkan contoh kehidupan yang melayani, bukan dilayani. Sebagai guru dan tuan, Ia membasuh kaki murid-murid-Nya. Kepemimpinan hamba, adalah kepemimpinan yang melayani, bukan dilayani. Ia melayani untuk kebaikan orang lain, bukan melayani untuk kesenangan atau kepentingan dirinya sendiri. Seperti Rasul Paulus juga pernah bersaksi: "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang" (1 Korintus 9:19).

Kepemimpinan Kristen adalah Kepemimpinan Gembala

Dalam Yohanes 10:10-11, dikatakan bahwa Yesus Kristus adalah Gembala yang Baik, yang memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Yesus menyerahkan seluruh hidup-Nya untuk pelayanan, yang membedakan dengan gembala "upahan". Kepemimpinan Gembala, berarti kepemimpinan yang ditandai dengan penyerahan diri kepada Allah, kesediaan untuk melayani Allah dan sesama dengan sepenuh hati. Kepemimpinan gembala lebih menampilkan diri dalam "kesediaan" daripada "kemampuan" dirinya. Penggembalaan adalah pelayanan kepada pribadi-pribadi, dan pada saat yang sama pemimpin menjalankan fungsi Nabi dan berusaha menyatakan suara Tuhan serta memperkenalkan Gembala Agung kepada yang dipimpin supaya mereka mengenal suara Kristus. Kepemimpinan Gembala, berarti membimbing orang-orang yang dipimpinnya kepada Kristus sendiri. Ia menghindari kebergantungan orang-orang yang dipimpinnya kepada dirinya, sebaliknya mendorong mereka untuk bergantung kepada Kristus. Tujuan penggembalaan ialah menolong sesamanya untuk mencapai kesatuan iman, pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, dan kedewasaan penuh yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4:11-13). Kepemimpinan gembala, ialah kepemimpinan yang bertujuan membawa orang-orang menjadi semakin sesuai dengan rencana Penciptanya, yaitu serupa dengan Kristus.

Kepemimpinan Kristen vs Kepemimpinan Umum

Ted W. Engstrom dan Edward R. Dayton dalam bukunya "The Art of Management for Christian Leaders", mengatakan, hal yang paling mendasar yang membedakan antara Kepemimpinan Kristen dan Kepemimpinan Umum adalah motivasinya. Kepemimpinan Kristen dimotivasi oleh kasih dan ditujukan untuk pelayanan. Kepemimpinan Kristen dikendalikan oleh Kristus dan keteladan-Nya. Stephen Tong, membedakan antara konsep kepemimpinan dunia dan konsep kepemimpinan Kristen (Yesus) demikian: konsep dunia yaitu dengan menjadikan orang lain mengikuti dirinya (pemimpinnya) sendiri. Sedangkan konsep Yesus yaitu "Barangsiapa ingin menjadi besar, ia harus menjadi hamba". B.S. Sidjabat menggambarkan perbedaan penekanan antara Kepemimpinan Kristen dan Kepemimpinan Umum dalam beberapa hal berikut:

Kepemimpinan Kristen:

Kualifikasi Dasar : karakter, karunia
Gelar : pelayan, gembala, pengelola
Tanggungjawab : memperlengkapi, memelihara, mengajar, membimbing, menjadi teladan
Gaya operasi : relasional , anugerah
Relasi : di antara (among)
Komando : melayani
Metode : percontohan

Kepemimpinan Umum:

Kualifikasi Dasar : trampil, training
Gelar : manager, direktur, supervisor
Tanggungjawab : lakukan tugas, rencana, kontrol, evaluasi
Gaya operasi : orientasi hasil, kerja
Relasi : di atas (over)
Komando : demonstrasi otoritas
Metode : beri perintah

Oswald Sanders dalam bukunya "Kepemimpian Rohani", berkata Kepemimpinan alamiah (umum) dan kepemimpinan rohani (Kristen) memunyai banyak segi persamaan, tetapi dalam beberapa hal nampak ada pertentangan. Ini dapat dilihat, apabila kita membandingkan sifat-sifatnya yang menonjol

Kepemimpinan Alamiah:

  1. Percaya kepada diri sendiri
  2. Mengenal orang
  3. Mengambil keputusan sendiri
  4. Ambisius
  5. Menciptakan cara-caranya sendiri
  6. Suka menyuruh orang lain
  7. Didorong Pertimbangan pribadi
  8. Berdiri sendiri

Kepemimpinan Rohani:

  1. Percaya kepada Allah
  2. Juga mengenal Allah
  3. Mencari kehendak Allah
  4. Tidak menonjolkan diri sendiri
  5. Cari dan mengikuti cara Allah
  6. Suka mentaati Allah
  7. Didorong kasih kepada Allah dan sesama
  8. Bergantung pada Allah

Pemimpin yang Memiliki Visi, Misi, dan Komitmen

Pemimpin hadir dengan visi dan misi yang jelas. Setiap pemimpin atau pelayan yang melayani perlu menangkap visi dan misi tersebut. Jangan sampai setiap terjadi pergantian pemimpin terjadi pula pergeseran visi dan misi pelayanan. Pemimpin yang memiliki visi melihat rencana Allah bagi manusia dan mengerti bagaimana ia harus terlibat dalam ladang pelayanan yang telah ditunjukkan Tuhan baginya. Dengan demikian, pemimpin akan mengarahkan pelayanannya untuk mencapai visi dan misi pelayanan mahasiswa yaitu: membawa mahasiswa kepada Kristus, menolong mahasiswa bertumbuh ke arah Kristus, melatih mahasiswa menjadi pelayan Kristus dan mengutus mahasiswa bagi Kristus di manapun mereka berada. Proses ini berlangsung secara simultan. Artinya, setiap mahasiswa yang menjadi pemimpin, yaitu menjadi pekerja Kristus adalah mahasiswa yang sudah percaya Yesus, yang sedang bertumbuh, sedang dilatih, namun ia juga terlibat dalam pembinaan dan melatih mahasiswa lain menjadi pekerja-pekerja Kristus.

Pemimpin yang melayani perlu memiliki komitmen yang teguh bagi pelayanan. Ia tidak menganggap bahwa pelayanan di persekutuan hanyalah salah satu kegiatan dari sekian banyak kegiatan lain yang diikutinya, yang akan dikerjakan secara "sambilan" atau "sukarela" (kalau suka ya rela, kalau tidak suka ya tidak rela). Ia sadar bahwa pelayanan adalah komitmennya kepada Yesus Kristus, Tuannya, yang akan dilakukannya dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak terpaksa; penuh resiko, tetapi tetap sukacita. Pemimpin yang memiliki komitmen, akan bertindak sesuai dengan visi yang dilihatnya, dan misi yang diembannya. Hal itu setidaknya ditunjukkannya, dengan seberapa banyak tenaga dan pikirannya ditujukan bagi pelayanan, seberapa banyak waktu yang digunakan untuk melayani, seberapa besar harta yang ia relakan bagi pelayanannya itu. Ia tahu bahwa untuk taat kepada Tuan-Nya, ada harga yang harus dibayar. Mungkin ia harus meninggalkan banyak hal yang merupakan kesenangannya sendiri karena ia berusaha menyenangkan Tuannya. Tetapi ia juga mengerti, bahwa itulah yang terbaik dalam hidupnya. Pandangannya jauh melampaui apa yang biasanya orang lain melihat. Ia melihat segala sesuatu dalam perspektif kekekalan.

Pemimpin yang Melayani Sesuai Konteks

Ladang pelayanan mahasiswa merupakan kondisi sosio-geografis yang unik. Dari segi usia, mahasiswa merupakan golongan dewasa muda, artinya mereka bukan anak-anak lagi. Dari segi akademik, mahasiswa memiliki kapasitas sebagai cendekiawan atau calon cendekiawan, artinya bukan orang-orang yang dengan mudah dapat didikte. Dari segi potensi, mahasiswa adalah "student today, leader tomorrow", artinya mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan, baik untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, maupun gereja. Implikasinya adalah, pemimpin-pemimpin dalam pelayanan mahasiswa perlu melayani dengan pendekatan yang kontekstual. Ia tidak mencoba memaksakan suatu bentuk atau metode pelayanan yang mungkin cocok untuk suatu kondisi tertentu, tetapi belum tentu tepat diterapkan untuk mahasiswa. Apalagi kalau disertai dengan anggapan bahwa metodenya itulah yang terbaik. Karena sebenarnya tidak ada satu pun metode yang paling baik dan tepat untuk semua orang, di segala tempat, pada segala masa. Metode hanyalah alat, alat untuk mencapai tujuan. Dengan memperhatikan konteks mahasiswa tersebut, maka perlu dipertimbangkan lagi kepemimpinan yang menerapkan pembinaan yang bersifat indoktrinasi dan berorientasi pemimpin. Sebaliknya, perlu mengembangkan model kepemimpinan yang partisipatif, di mana setiap orang yang terlibat diberi kesempatan untuk berkembang secara kreatif, bertumbuh sebagaimana dia ada seperti yang Tuhan inginkan.

Pemimpin yang Mengkader

Peter Wiwcharuck dalam bukunya tentang pengembangan kepemimpinan gereja menyatakan, bahwa salah satu sebab adanya krisis dalam kepemimpinan adalah adanya filosofi yang salah dalam gaya kepemimpinan. Filosofi yang salah itu hanya menekankan bahwa pemimpin harus berkata kepada pengikutnya: "Ikutlah aku!" Akibatnya orang-orang yang ada hanya menjadi pengikut-pengikut setia sang pemimpin, yang tanpa "reserve" selalu mengikuti ke manapun pemimpinannya pergi. Tetapi Yesus tidak berhenti pada Ikutlah Aku!" (memanggil). Ia juga berkata "Kamu akan Kujadikan penjala manusia" (Matius 4:19) yaitu "mempersiapkan" dan "Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, ...." (Matius 28:19-20) ialah "mengutus". Pemimpin harus terlibat dalam proses pengkaderan, yaitu mempersiapkan orang lain untuk juga menjadi pemimpin atau pekerja Kristus;

Pemimpin yang Sadar akan Bahaya

Banyak bahaya yang bisa membuat pemimpin jatuh. Diantaranya yang menonjol adalah: ambisi, kesombongan, dan popularitas. A. W. Tozer, seperti dikutip oleh Oswald Sanders, berkata "Umumnya orang yang ambisius untuk memimpin biasanya tidak memenuhi syarat menjadi pemimpin." Pemimpin sejati tidak memunyai keinginan untuk berkuasa atas milik Allah, melainkan ia akan rendah hati, lembut, penuh pengorbanan, dan bersedia memimpin, dan apabila Roh Kudus menyatakan dengan jelas bahwa ada orang yang lebih bijaksana dan berbakat daripada dirinya sendiri, ia juga rela untuk menjadi pengikut." Pemimpin yang ambisius akan bergeser perhatiannya, dari serrata-mata untuk kemuliaan Allah, menjadi bagaimana ia mencapai keinginannya dan membesarkan dirinya sendiri. Kenyataannya jika seseorang telah naik sampai pada kedudukan pemimpin dan menjadi terkemuka, menyebabkan timbulnya rasa puas akan diri sendiri dan kebanggaan yang terselubung. Jika hal ini tidak dibendung, akan menghalangi perkembangan selanjutnya dalam pelayanan, karena "setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN " (Amsal 16:5). Kesombongan pada dasarnya akan menggeser Allah dari tahta kehidupan dan menempatkan-diri sendiri di atasnya.

Uskup Stephen Neil pernah berkata : "Popularitas adalah keadaan rohani yang paling berbahaya yang dapat dibayangkan, oleh karena dengan mudah membawa pada kesombongan rohani yang akan menyeret orang ke dalam kehancuran." Memberi hormat secara berlebihan kepada para pemimpin merupakan ciri ketidakmatangan rohani dan kedagingan. Pemimpin yang menerima penghormatan seperti itu menunjukkan kelemahan yang sama. "... Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayanpelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.... Karena kami adalah kawan sekerja Allah", demikian tulis Rasul Paulus dalam 1 Korintus 3:6-9.

Hal yang Perlu Dijawab

Kepada murid-murid-Nya, Yesus pernah berfirman :"Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu" (Matius 9:37-38). Untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin baru di yang memenuhi kualifikasi kepemimpinan Kristen, maka perlu melakukan training-training antara lain training Kepemimpinan dengan pokok-pokok materi antara lain eposisi Nehemia, Yosua, bagaimana pola-pola regenerasi, managemen, memimpin PA dan KTB Kontekstual, konsep diri seorang pemimpin dan Strategi Hidup Kristen, memahami karunia, talenta dan lainnya.

Diambil dari:

Judul jurnal : Aletheia, Edisi 02, Tahun II
Judul artikel : Melatih Mahasiswa Menjadi Pelayan Kristus
Penulis : Ir. Santoso Nugraha Djati
Penerbit : Persekutuan Mahasiswa Kristen Surakarta
Halaman : 40 -- 51