Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.21 Vol.06/2003 / Martin Luther King, Jr.

Martin Luther King, Jr.


"Saya mempunyai impian ...." Inilah seorang yang memiliki impian, dan ia telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengejar impiannya dan menyerahkan nyawanya bagi impiannya tersebut.

Namanya ialah Martin Luther King, Jr., dan impiannya adalah bahwa "Keempat anak saya yang masih kecil pada satu hari akan hidup di dalam suatu bangsa, di mana mereka tidak akan dinilai dari warna kulit mereka tetapi dari kandungan karakternya ...." Kata-kata tersebut mengguncang Amerika. Martin Luther King Jr. dikenal sebagai Pembela Hak dan Martabat Manusia (HAM) tanpa kekerasan.

Martin Luther King, Jr., pendeta muda ini, dilahirkan pada tanggal 15 Januari 1929 dalam keluarga pendeta Baptis. Dia dididik di Morehouse College dan Crozer Theological Seminary. Dia meraih gelar Ph.D. dari Boston University. Pada tahun 1954 ia menjadi pendeta Gereja Baptis Dexter Avenue di Montgomery, Alabama.

Satu tahun kemudian, seorang wanita berkulit hitam, Ny. Rosa Parks, mengambil sebuah langkah yang mengubah hidup King. Meskipun orang-orang kulit hitam diharuskan menumpang hanya di bagian belakang bus umum, ia duduk di depan -- semua tempat duduk di belakang telah terisi, dan ia mengambil tempat duduk pertama di bagian depan. Ia ditangkap karena melanggar undang-undang pemisahan (segretation law).

Martin Luther King Jr. mendukungnya dengan memimpin boikot pada sistem bus Montgomery. Sebenarnya orang-orang hitam lah penumpang terbanyak sistem bus tersebut, dan mereka diperlakukan dengan tidak adil. Maka orang-orang kulit hitam pun menolak naik bus selama diskriminasi masih berlanjut. Mereka merasa "lebih terhormat berjalan kaki daripada menumpang bus dengan kehinaan".

Terpengaruh dengan cara-cara tanpa kekerasannya Gandhi, King dan yang lain memprotes. "Kami akan mengimbangi kapasitas Anda yang menyebabkan kesengsaraan ... Perbuatlah kepada kami apa yang Anda inginkan dan kami akan terus-menerus mengasihi Anda," kata King merespons penyerang-penyerangnya. Mengikuti jejak Yesus, ia menyerukan,

"Yesus menegaskan dari kayu salib sebuah hukum yang lebih tinggi. Ia tahu bahwa filsafat kuno -- mata ganti mata -- akan membuat semua orang buta. Ia tidak berupaya mengatasi kejahatan dengan kejahatan. Ia mengatasi kejahatan dengan kebaikan. Meskipun disalibkan karena kebencian, Ia menanggapinya dengan kasih yang agresif."

Dengan diorganisasikannya Southern Christian Leadership Conference (Konferensi Kepemimpinan Kristen Selatan) yang diketuainya, King berkampanye di kota-kota bagian selatan: Jackson, Selma, Meridian, dan Birmingham. Namun, pengaruhnya meluas lebih jauh ketika ia memimpin serangan-serangan terhadap ketidakadilan sosial di kota-kota bagian utara.

Sekelompok pendeta Protestan kulit hitam terdekat, termasuk Jesse Jackson, mendukung King, dan orang-orang kulit putih, Katolik serta Yahudi tidak lama kemudian bergabung dalam barisannya. Metode-metode tanpa kekerasan menghadapi serangan selang, pentungan, anjing dan pemukul. Meskipun banyak orang Kristen mendukungnya, beberapa lawan King yang paling vokal pun menyebut nama Kristus. Pada musim semi 1963, King ditangkap karena memimpin gerakan protes di Birmingham, Alabama. Para rohaniawan di Atlanta mengkritiknya karena meninggalkan gerejanya di Montgomery. "Apa haknya terlibat di tempat lain, di mana dia bukan warganya?" tanya mereka.

Dalam "Surat dari Penjara Birmingham", King memberikan tanggapan bahwa "ketidakadilan di mana pun mengancam keadilan". Bagi mereka yang ada di luar "panah pemisah yang menyengat" dan yang menasihatinya untuk menunggu, ia menjawab: ".... Bila Anda disiksa pada siang hari dan dihantui pada malam hari karena Anda seorang Negro, senantiasa hidup dalam kecemasan, tanpa sepenuhnya mengetahui apa yang harus diharapkan berikutnya; dan jika digerogoti ketakutan di dalam hati dan amarah di luar; jika Anda senantiasa bergumul dengan perasaan yang terus memburuk bahwa Anda 'bukan apa-apa' -- barulah anda akan mengerti mengapa kami tidak sabar menunggu."

Gerakan protes atas Washington pada tahun 1963 merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah perjuangan hak sipil karena pengaruhnya telah berjasa bagi lahirnya Undang-undang Hak Sipil pada tahun 1964 dan Undang-undang Hak Pilih pada tahun 1965. Pada gerakan protes tersebut, Martin Luther King Jr. menampilkan impiannya:

"Saya mempunyai impian bahwa keempat anak saya yang masih kecil pada satu hari akan hidup di dalam suatu bangsa, di mana mereka tidak akan dinilai dari warna kulit mereka tetapi dari kandungan karakternya ... Dengan iman ini kami dapat mengubah suara-suara tidak harmonis di negeri kita menjadi simponi persaudaraan yang indah. Dengan keyakinan ini kita dapat bekerja sama, berdoa bersama dengan kesadaran bahwa kita akan bebas pada suatu hari kelak."

Pada tahun 1964, King menerima hadiah Nobel Perdamaian, suatu penghargaan yang mewujudkan sebagian impian itu.

King pergi ke Memphis, Tennessee, untuk mendukung pemogokan para pekerja pengangkut sampah pada tahun 1968. Pada tanggal 4 April, ketika ia sedang berdiri di lorong lantai dua di motelnya di Mulberry Street, bercakap-cakap dengan rekan-rekannya, ia ditembak seorang pembunuh. Peluru itu merenggut nyawanya, tetapi tidak mengakhiri impiannya yang sedang berlanjut.

Sebagai tanggapan atas keberanian dan kesaksian yang merupakan tekad rohaniawan ini, hari Senin ketiga bulan Januari ditetapkan sebagai Hari Martin Luther King. Dialah satu-satunya rohaniawan Amerika yang namanya dicantumkan pada kalender sebagai penghormatan.

Diedit dari sumber:

Judul Buku : 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen
Judul Artikel: Martin Luther King, Jr., Memimpin Pawai ke Washington
Penulis : A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang, dan Randy Petersen
Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1991
Halaman : 166 - 168

e-JEMMi 21/2003