Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.08 Vol.15/2012 / Maroko: Putra Seorang Imam Bertemu Anak Allah

Maroko: Putra Seorang Imam Bertemu Anak Allah


Majdy (bukan nama sebenarnya) terlihat menikmati obrolan malamnya di internet dengan seorang gadis Kristen Suriah yang bernama Rut (bukan nama sebenarnya). Ia berharap membawa gadis itu menjadi pemeluk agamanya. Tetapi dalam berjalannya waktu, ia dan Rut menghabiskan banyak waktu mereka berdiskusi tentang kekristenan.

"Saya berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan di banyak kesempatan, tetapi ia tidak pernah setuju," kata Majdy. "Saya menemukan diri saya tertarik dengan ayat-ayat Alkitab yang ia kirimkan, karena di Alkitab saya menemukan hikmat yang saya tidak temukan di dalam kitabku.

Pada suatu malam, Rut mengatakan kepada Majdy, bahwa dari 100 nama yang ditujukan untuk Allah di dalam agamanya, tidak ada satu pun kata yang menghubungkan Allah sebagai kasih. Tidak pernah terpikirkan oleh Majdy mengenai itu. Ia adalah putra seorang imam dan dibesarkan dalam keluarga yang sangat patuh pada agamanya. Ia diajarkan untuk tidak mempertanyakan kitabnya sendiri. Majdy terkesima oleh pemikiran mengenai Allah yang mengasihinya. Ia membuka website-website pengajaran Kristen, bahkan mulai menonton acara kekristenan di televisi melalui satelit.

"Setelah beberapa waktu, satu hal yang terpenting yang ingin saya lakukan adalah berdiskusi tentang kekristenan. Ke mana pun saya pergi, saya selalu berpikir tentang Isa Almasih."

Majdy menerima Kristus. Ia berhenti beribadah dan berhenti melafalkan ayat-ayat doa agamanya -- keputusan yang tidak terduga diambil oleh putra seorang imam.

Ia berusaha menyembunyikan iman barunya -- khususnya dari ayahnya. Ia sadar, mengungkapkannya akan berbahaya dan akan membawa aib dan rasa malu kepada keluarganya. Tetapi terang kekristenan tidak dapat disembunyikan. Terang mengatasi kegelapan.

Yesus mengatakan kepada kita, "Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu." (Matius 5:15)

Pada suatu malam, ayah Majdy meminta penjelasan untuk mengetahui alasan mengapa anaknya sekali lagi tidak mengikuti ibadah agamanya. Majdy berkata kepada ayahnya bahwa dia sudah tidak memeluk agamanya lagi. Ayahnya mengambil benda apa pun yang bisa dia raih dan melemparkannya kepadanya.

"Ia mengambil alat elektronik radio-tape saya dan memukul saya dengan itu, dan ia berteriak pada ibu saya, 'Kemari dan lihat putra kafirmu! Kekhawatiran saya terbukti, bahwa internet ini akan mengubahnya!'"

Majdy meninggalkan rumah. Keesokan harinya, ibu Majdy mengatakan kepada salah seorang teman Majdy bahwa ayahnya mau membunuhnya jika ia tidak meninggalkan kota. Sampai hari ini, Majdy masih dalam pelariannya. Ayahnya masih menginginkan kematiannya karena ia tidak mengerti ketertarikan Majdy kepada Terang itu. Pelita Majdy bercahaya di dalam kegelapan, tetapi kegelapan tidak dapat menguasainya (Yohanes 1:5).

Majdy berdoa untuk keluarganya dan yakin suatu saat mereka akan menjadi orang percaya dan menyalakan pelita mereka sendiri. Ia berkata bahwa suatu saat ia akan belajar Alkitab di seminari.

Diambil dari:

Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Mei - Juni 2008
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 6 -- 7

Pokok doa:

  1. Berdoalah agar Majdy tetap bertahan dalam rencana Tuhan, sekalipun ia adalah satu-satunya anggota keluarga ayahnya yang percaya.

  2. Berdoalah agar keluarga Majdy juga memperoleh kesempatan untuk mengenal Tuhan Yesus, walaupun mereka adalah keluarga imam.

  3. Doakan agar Majdy memperoleh komunitas yang mendukungnya dalam hidup baru yang diberikan Tuhan kepadanya. Doakan juga kerinduannya untuk mempelajari Alkitab di seminari.

e-JEMMi 08/2012