Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.16 Vol.15/2012 / Luput dari Pemenggalan Kepala

Luput dari Pemenggalan Kepala


Jarang sekali seorang pendeta mau ditugaskan melayani di desa M -- Poso meskipun ini adalah desa Kristen. Banyak orang Kristen dibantai secara keji di sekitar daerah itu. JT (30 tahun), tidak takut menggantikan tugas penggembalaan seorang gembala GPdI yang meninggal karena sakit di desa M. JT hanya menggembalakan 2 keluarga karena jemaat lainnya telah mengungsi. JT tidak memiliki kendaraan untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan, dan untuk itu ia meminjam sepeda motor milik orang tuanya di desa P.

Suatu sore -- 23 Desember 2004, JT menghadiri ibadah Natal bersama di desa T. Acara berakhir malam dan kembali ke desanya dalam kegelapan malam adalah berbahaya. Terpaksa ia bermalam di desa orang tuanya. Keesokan harinya, 24 Desember 2004, JT memulangkan istri dan anaknya ke desanya terlebih dahulu, dan kembali lagi untuk mengembalikan motor milik orang tuanya.

Setelah memulangkan istri dan anaknya, ia mengembalikan motor itu ditemani seorang jemaatnya, J (18 tahun). Mereka masing-masing membawa motor melewati jalan di antara perkebunan cokelat. Di tengah perjalanan antara desa M dan P, tampak seorang pria berdiri di pinggir kanan jalan. JT tidak menyadari jika pria itu adalah seorang radikal yang sedang menyembunyikan sebuah parang. JT sempat membunyikan klakson dan terus melintas dalam kecepatan 30 km/jam. Rupanya pria itu berencana mengayunkan parangnya ke bagian leher ketika JT melintas di depan pria itu, sehingga otomatis kepala JT akan terpenggal dan menggelinding ke bawah.

Ketika JT melintas persis di depan pria itu, seketika pria itu mengayunkan senjatanya. Ia kaget dan melakukan gerakan refleks untuk menghindar dengan cara membungkukkan badannya. Leher JT luput dari sebuah penggalan yang mematikan. Namun, parang itu tetap mengenai wajahnya. Mulut JT robek dari bagian pipi kanan ke pipi kiri. Sepuluh giginya bagian atas rontok dan lidahnya teriris. Karena pipinya robek, rahang bagian bawah menggelantung. Ia tidak sanggup mengatupkan mulutnya dan JT melemparkan motornya ke pinggir jalan.

Menyaksikan JT terluka parah dan terancam nyawanya, J melompat dari motornya dan menghampiri pria itu. Mereka pun berduel. Pria itu jatuh. Dari balik semak-semak muncul tiga orang pria lainnya bersenjatakan parang, lalu mengeroyok J. J terluka di bagian pelipis dan sekujur punggungnya. Jari telunjuk kirinya putus. J berlari kembali ke arah desa M dalam kejaran tiga pria tersebut, sementara salah seorang pria itu mengejar JT yang berlari ke arah desa P. JT lari sambil memegangi rahang bagian bawah yang menggelantung sambil terkucur darah segar. Tangan Tuhan menolongnya. Semakin jauh JT dan J berlari, semakin tertinggal pengejarnya.

"Aku menaikkan doa pengampunan saat berlari. Aku berteriak: 'Tuhan beri aku kekuatan! Aku ampuni mereka!' Seketika aku merasakan kekuatan mengalir dari atas, yang memampukan aku berlari makin kencang dan aku merasa badanku ringan sekali ketika lari. Tak terasa 1,5 kilometer telah aku lampaui hingga tiba di desa P. Aku bertemu warga Kristen dan aparat, lalu aku dibawa ke rumah sakit Poso dengan angkutan kota," kata JT. Sementara itu, J berlari terus hingga tiba di desa M dan bertemu aparat di pos keamanan, lalu ia dilarikan ke rumah sakit Poso dengan dibonceng sepeda motor. Di lokasi kejadian, polisi menemukan beberapa parang tajam sepanjang 70 sentimeter yang masih ada darahnya, dan 5 buah karung yang disediakan untuk membungkus kepala JT dan J yang akan dipenggal.

JT merasa bahwa tugas penggembalaan merupakan sebuah panggilan yang kita tidak boleh memilih-milih. "Setelah ini aku tetap kembali melayani Tuhan. Sekarang aku bisa ikut merasakan penderitaan para martir yang mengasihi Allah. Jika waktu itu aku tidak memiliki sukacita dan terlalu berfokus pada penderitaanku, mungkin aku sudah menyangkal Kristus," ungkap JT. Dan lagi, J menambahkan, "Aku ingin para pendeta melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh."

Dengan bantuan sebuah yayasan Kristen, JT mendapatkan bantuan medis lebih lanjut. JT dibuatkan gigi palsu dengan metode implantasi yaitu menanamkan titanium alloy sebagai pengganti akar. Sekarang JT tidak lagi kesulitan mengunyah makanan. Perhatian ini akan mengingatkan orang-orang Kristen teraniaya bahwa mereka tidak sendirian. Tetapi Tuhan bersama mereka melalui saudara seiman yang memberikan doa dan perhatian.

Goresan bekas luka tampak di sepanjang wajah JT. Goresan ini bisa dihilangkan dengan operasi bedah plastik. Namun JT menolak ketika ia ditawari untuk melakukan operasi bedah plastik. JT menjawab, "Saya tidak perlu itu. Tanda ini akan menjadi kenangan dan kesaksian bagi banyak orang. Mereka akan sangat diberkati oleh kesaksian saya." Bagi sebagian orang, tanda bekas luka atau cacat adalah hal yang memalukan, tapi bagi orang yang mengasihi-Nya tanda itu adalah meterai perjanjian kemuliaan dengan Allah.

Pokok Doa:

  1. Bersyukur bahwa Tuhan membuktikan penyertaan-Nya kepada anak-anak-Nya dan tidak membiarkan mereka seorang diri menghadapi penganiayaan.
  2. Berdoa untuk JT dan J, supaya mereka tetap dikuatkan Tuhan dan terus menyaksikan kasih-Nya dalam hidup mereka.
  3. Berdoa agar Tuhan memakai kesaksian ini untuk menguatkan setiap pembaca dalam menghadapi semua tantangan dan masalah.

Diambil dari:

Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Maret - April 2005
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 11

e-JEMMi 16/2012