Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Lagu Natal Bala Tentara Surga

Lagu Natal Bala Tentara Surga


Kebanyakan orang Kristen mungkin menyangka bahwa setiap nyanyian rohani yang menjadi lagu pilihan umat Kristen pada zaman sekarang sudah menjadi lagu pilihan umat Kristen sejak nyanyian itu diciptakan. Memang ada nyanyian rohani yang tetap populer sejak diciptakan hingga kini, tetapi tidak demikian halnya dengan "Lagu Natal Bala Tentara Surga".

Pengarang yang Pandai

Syair untuk lagu Natal pilihan ini dikarang oleh Charles Wesley, salah seorang penulis nyanyian rohani terbesar sepanjang abad. Bersama kakaknya, John Wesley, ia menjadi pembina aliran Kristen yang kemudian dikenal sebagai aliran Gereja Metodis. Pada masa hidupnya, dari tahun 1707 sampai tahun 1788, ia menciptakan tidak kurang dari 6.500 lagu.

Charles Wesley biasa menulis dengan sangat cepat ketika ia mengarang lagu baru. Lagipula, ia jarang meredaksikan karangannya. Orang lainlah yang meredaksikannya, terutama kakaknya, John. John menjadi redaktur kumpulan nyanyian rohani yang jumlahnya mencapai 56 jilid.

Syair "Lagu Natal Bala Tentara Surga" ini dikarang oleh Charles Wesley pada tahun 1738. Pada tahun itu juga, sebelum ia mengarang syair lagu itu, Charles Wesley mengalami pertobatan sungguh-sungguh sesudah bertahun-tahun menjadi "orang Kristen KTP". Ia sempat menjelaskan dalam bentuk puisi, apa arti kelahiran Kristus.

Anehnya, dalam syair karangannya itu, ia tidak menyinggung-nyinggung kelahiran Yesus. Bayi Kudus di palungan, kandang, binatang, gembala di padang -- semua hal itu tidak disebut-sebut. Bahkan, baris-baris pertama tentang "lagu yang merdu" dan "malaikat yang berseru" itu ditambahkan kemudian hari oleh orang lain, bukan oleh Charles Wesley. Artinya, Charles Wesley memulai syairnya kira-kira demikian:

"Cakrawala bergema: Mulia Sang Maharaja!"

Pengarang yang selalu tergesa-gesa sewaktu menciptakan syair itu tidak memberi judul apa pun pada hasil karyanya. Di sebelah kertas itu hanya ada catatan: "Lagu Rohani untuk Hari Natal".

Proses Perubahan yang Rumit

Syair karangan Charles Wesley itu mula-mula diterbitkan pada tahun 1739. Tetapi banyak orang Kristen merasa kata-kata syair itu kurang pas. Misalnya, kata dalam bahasa Inggris pada baris pertama yang berarti "cakrawala" sudah dianggap kuno. Ada berbagai perubahan yang diusulkan. Kedua baris pertama pernah diubah menjadi:

"Jagat raya proklamir: Kristus kini t'lah lahir!"

Namun, usul peredaksian yang ini pun tidak berkenan di hati kebanyakan orang Kristen.

Kemudian seorang penyunting kumpulan lagu pilihan mencoba mengubahnya lagi. Dari karangan aslinya yang terdiri dari sepuluh bait, dan yang setiap baitnya terdiri dari empat baris, ia membuang empat bait. Sisanya yang enam bait digabung menjadi tiga bait saja; masing-masing terdiri dari delapan baris. Kedua baris pertama, yaitu kalimat tentang bala tentara surga (yang rupanya dibubuhkan oleh redaktur musik itu sendiri), diolahnya menjadi semacam refrein yang diulangi di belakang setiap bait.

Melalui berbagai perubahan itu, kata-kata "Lagu Natal Bala Tentara Surga" akhirnya memperoleh bentuk seperti yang biasa kita nyanyikan pada bulan Desember. Tak dapat dipastikan, siapa redaktur yang membuat saduran itu.

Lagu yang Telantar

"Lagu Natal Bala Tentara Surga" tidak hanya mengalami berbagai perubahan dalam susunan katanya, tetapi juga hampir terlupakan oleh umat Kristen pada masa penciptaannya. Seandainya sesuatu yang tak terduga ini tidak terjadi, nyanyian itu mungkin sudah lenyap sama sekali dari peredaran. Kejadian apakah yang tak terduga itu?

Seorang tukang cetak sedang mengerjakan sebuah buku liturgi dan doa -- bukan untuk aliran Metodis, tetapi untuk Gereja Inggris, yaitu Gereja Negara yang resmi. Kebetulan ada satu halaman kosong dalam buku itu. Untuk mengisi halaman kosong itu, tukang cetak tersebut mencetak syair Natal karangan Charles Wesley.

Sesudah dicetak, para pembesar Gereja Inggris baru menyadari bahwa syair itu karangan seseorang yang mereka anggap pemimpin bidat. Tak pelak lagi, mereka mengusulkan supaya syair tersebut jangan dimuat lagi pada edisi berikutnya. Tetapi telanjur. Ada sejumlah anggota Gereja Negara yang menyukai lagu Natal itu. Jadi syair itu tidak dicabut.

Pada zaman itu, syair Natal karangan Charles Wesley sudah diterapkan dengan berbagai melodi. Ada yang cocok, ada yang kurang cocok. Maka dari itu, "Lagu Natal Bala Tentara Surga" tidak kunjung populer untuk jangka waktu yang lama.

Siapakah yang akhirnya mengarang not-not yang riang itu, yang selalu mengalun pada setiap bulan Desember? Untuk menyelidiki ceritanya, mari kita melintasi samudera raya ke negeri Jerman.

Musikus yang Berbakat

Felix Mendelssohn adalah salah seorang komponis musik barat terbesar pada abad sembilan belas. Ia lahir di kota Hamburg pada tahun 1809. Keluarganya adalah pemodal dan sarjana bangsa Jerman yang kaya raya. Menurut garis keturunan, mereka orang Yahudi. Tetapi menurut agama, mereka orang Kristen yang setia. Felix dibesarkan dalam lingkungan yang serba nyaman -- jasmani dan rohani.

Pada umur yang masih sangat muda, anak laki-laki itu sudah terlihat memiliki bakat musik yang brilian. Ketika ia baru berusia sembilan tahun, ia, sebagai pianis, mempersembahkan konser perdananya. Pada tahun yang sama, ia juga mulai mengarang musik. Musik gubahannya diciptakan pada usia belasan tahun, ada yang masih tetap dimainkan sampai sekarang oleh orkes-orkes simfoni besar.

Sebagai seorang musikus, karier Felix Mendelssohn mencapai prestasi gemilang yang tiada taranya. Sebagai komponis, dirigen, pemain piano, pemain biola, orgel, dan sebagai pembina sekolah tinggi musik, ia dihormati dan dikagumi di mana-mana. Berkali-kali ia melawat ke negeri lain, menggelar konser yang disambut hangat oleh khalayak ramai.

Di tengah-tengah segala kesemarakannya, Felix Mendelssohn tidak melupakan imannya kepada Kristus. Beberapa gubahannya yang paling anggun bersumberkan Alkitab; dua di antaranya Nabi Elia dan Rasul Paulus. Kedua oratorium itu hingga kini masih sering dinyanyikan di Indonesia.

Penyanyi yang Masih Muda

Pada musim semi tahun 1847, Felix Mendelssohn mengunjungi negeri Inggris untuk kesepuluh kalinya. Di sana, ia memimpin orkes dan paduan suara besar yang mementaskan hasil karyanya sendiri, yaitu oratorium Nabi Elia. Dalam acara itu, ada seorang penyanyi koor gabungan yang masih remaja, namanya William H. Cummings. Meski baru berumur 15 tahun, ia sudah 8 tahun menjadi anggota kor di sebuah katedral besar Gereja Inggris. Ia baru saja diangkat menjadi pemain orgel di gereja itu.

William Cummings senang memadukan suara tenornya yang bagus dengan puluhan suara lainnya, terutama karena yang memimpin acara musik itu komponisnya sendiri, sang tamu agung dari negeri Jerman. Tetapi betapa menyedihkan, 6 bulan kemudian William mendengar kabar bahwa Felix Mendelssohn -- komponis ternama itu -- meninggal pada usia 38 tahun.

Selang beberapa tahun, William Cummings membolak-balik halaman sebuah buku musik karangan Alm. Felix Mendelssohn. Buku musik itu berjudul "Festgesang" (Nyanyian Perayaan), dikarang pada tahun 1840 dalam rangka perayaan hari Ulang Tahun penemuan seni cetak yang ke-300. Tiba-tiba Cummings mulai menimbang-nimbang, apakah lagu kedua dari buku musik karangan Mendelssohn itu dapat dipasangkan dengan syair "Lagu Natal Bala Tentara Surga", yang sudah lebih dari satu abad menunggu melodi yang benar-benar cocok?

Lagu kedua itu berjudul "Tuhanlah Terang". Mendelssohn menggubahnya untuk paduan suara pria dan alat-alat musik tiup. Anehnya, komponis besar itu pernah menulis yang berikut ini tentang "Tuhanlah Terang", "Saya yakin, lagu ini akan disenangi oleh para penyanyi dan pendengar. Tetapi lagu ini sama sekali tidak cocok untuk syair rohani. Seharusnya sajaknya bertemakan kebangsaan atau sesuatu yang bersifat riang dan ringan, sesuai dengan nada musik itu sendiri."

Akhirnya Ditemukan Aransemen yang Cocok

Musik karangan Felix Mendelssohn itu memang "bersifat riang dan ringan". Tetapi ia tidak menduga bahwa melodi seperti itu cocok dengan sukacita umat manusia atas kelahiran Tuhan Yesus!

William Cummings menggubah kembali lagu karangan Mendelssohn itu pada tahun 1855. Ternyata not-notnya cocok sekali dengan syair Natal karangan Charles Wesley. Dengan demikian, terciptalah musik yang baru. "Lagu Natal Bala Tentara Surga" terbit pada tahun 1856. Akhirnya nyanyian rohani itu lambat laun menjadi lagu pilihan umat Kristen di seluruh dunia.

William Cummings lahir pada tahun 1831 dan hidup sampai tahun 1915. Ia menjadi seorang mahaguru dan penceramah di bidang musik, juga seorang pengarang musik, penulis sejarah musik, dan pembina sekolah tinggi musik. Ia mengadakan tur keliling ke negeri-negeri lain untuk menggelar banyak konser vokalia. Meski demikian, nama William H. Cummings masih diingat sampai sekarang karena satu hal itu. Apakah itu? Pada umur 24 tahun, ia menemukan melodi yang paling cocok untuk syair "Lagu Natal Bala Tentara Surga" karangan Charles Wesley!

Dahulu kala di kota Zanzibar, di pantai timur benua Afrika, ada sebuah pasar dan penjara besar untuk para budak belian. Setelah perdagangan manusia dihapus, seorang pengabar Injil mengusulkan supaya pasar dan penjara itu dirobohkan. Sebuah gedung gereja yang agung didirikan di situ. Ketika gereja itu selesai dibangun, umat Kristen di kota Zanzibar berkumpul untuk meresmikannya pada malam Natal. Di tempat yang dulu sarat kesengsaraan dan kejahatan, terdengarlah alunan suara riang yang melantunkan "Lagu Natal Bala Tentara Surga"!

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Kisah Nyata di Balik Lagu Pilihan
Penyusun : Andreas Sudarsono dan Doreen Widjana
Penerbit : Lembaga Literatur Babtis, Bandung 2007
Halaman : 266 -- 271

e-JEMMi 51/2008