Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.50 Vol.15/2012 / Kubur yang Hilang

Kubur yang Hilang


Ditinggal mati oleh seorang ayah atau suami dengan cara yang sangat mengenaskan, bukanlah suatu perkara yang gampang untuk diterima. Tetapi, itulah yang menjadi kenyataan pahit bagi R dan ibunya, D, di Akedobu, Pulau Bacan, Halmahera. YP adalah pendeta di desa Akedobu dengan jemaat lebih dari 100 orang.

Pada suatu Minggu pagi, tepatnya pukul 08.00, desa mereka diserang dan sebagian besar penduduknya lari ke hutan. Akibat serangan itu, 10 orang laki-laki meninggal. Lalu, kepala kampung mencari-cari dan menemukan mereka yang lari ke hutan, dan memberi tahu YP untuk melarikan diri ke desa lain, yaitu desa Bokimaki yang jauhnya kurang lebih 1 jam perjalanan menggunakan kapal karena ia menjadi target orang "agama lain" yang menyerang desa. Kemudian, pergilah YP bersama 4 orang diaken ke desa Bokimaki. Namun, di sana pun mereka berhasil ditemukan dan ditangkap. YP dipisahkan dari 4 orang diaken tersebut.

Tangan YP diikat dan matanya ditutup, lalu dipukuli. Setelah itu, ia dibawa ke "tempat ibadah agama lain", di sana arloji dan barang-barangnya dirampas. Dari situ, ia dibawa ke Tanjung Cinga-Cinga, di sana kepalanya dipenggal dan dikubur terpisah. Peristiwa ini diceritakan kepada ibu R oleh warga Bokimaki yang "beragama lain", yang menjadi saksi kekejaman tersebut.

Sebulan setelah berpisah dengan YP, R dan D mengungsi ke desa-desa lain. Perasaan sedih dan marah memenuhi hati mereka. Mereka berpikir bahwa Tuhan yang akan menghukum mereka. Namun, suatu hari mereka mendengar bahwa salah seorang "beragama lain" yang ikut membunuh ayahnya, meninggal. Perasaan R dan D berbalik. Mereka berdoa, "Tuhan, ampunilah mereka. Jangan hukum mereka." Jadi, mereka telah mengampuni semua orang "beragama lain" yang telah berbuat kejam terhadap ayah R. Firman Tuhanlah yang membuat R dan D tetap kuat menghadapi pergumulan berat ini.

R dan ibunya ingin mencari mayat YP supaya dapat dikuburkan di kampungnya. Ibunya pergi ke rumah kepala kampung sebelah dengan membawa sekop dan karung, menanyakan di mana YP dikuburkan, tetapi mereka tidak mau menjawab.

Dengan penuh harap, R dan ibunya berdoa agar dapat menemukan mayat YP. Berhari-hari ibu R berkeliling untuk mencari tahu. Ada seorang "beragama lain" yang tahu di mana mayat YP dikubur. Ia berkata, "Kalau kamu berani, saya tunjukkan tempatnya." Ibu R berkata, "Saya tidak takut." Lalu, pergilah mereka naik perahu dayung dan setelah satu setengah jam, sampailah mereka di Tanjung Cinga-Cinga. Namun, setibanya di tempat itu, orang ini mengajak ibu R pulang karena kondisinya tidak memungkinkan. Orang ini takut diketahui oleh orang-orang "beragama lain" yang juga bisa membunuhnya karena dianggap berkhianat. Pupuslah harapan R dan D menemukan mayat YP. Hingga kini, mereka tidak berhasil menemukan kubur itu.

Diambil dari:

Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi November - Desember 2003
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 11

e-JEMMi 50/2012